Cinta di dalam Persahabatan [Bunga di atas Batu by Aesna]

bunga di atas batu

Judul: Bunga di atas Batu

Penulis: Aesna

Penerbit: Moka Media

Genre: Remaja, romance, drama, persahabatan

Tebal: 132 halaman

Terbit: Juni 2014

Cara dapat: buntelan dari penerbit

Harga normal: Rp29.000,00

Bara dan Iris bersahabat. Ada satu hal yang membuat mereka menjadi senasib sepenanggungan, yaitu sama-sama tidak mendapatkan perhatian dari orangtua karena sering ditinggal ke luar kota dan luar negeri untuk urusan pekerjaan. Mereka sering pergi bersama-sama, sekolah di SMA yang sama tetapi di kelas yang berbeda, dan memiliki satu tempat nyaman bersama yaitu rumah pohon. Rupanya, kebersamaan ini menimbulkan rasa cinta di satu pihak, yaitu Bara. Sayangnya cinta yang tumbuh di dalam hubungan persahabatan ini tidak begitu saja mudah untuk ditumbuhkan, karena Bara tak berani untuk mengungkapkannya. Dia begitu takut kalau-kalau perasaan dan pengakuannya malah akan membuat Iris menjauh darinya, merusak persahabatan yang selama ini ada. Namun, ketika suatu kesempatan tiba dan berpotensi untuk menjauhkan mereka. mau tak mau Bara harus mengatur strategi untuk perasaannya ini.

Pertama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Moka Media, terutama Mbak Dyah Rinni yang telah memberi paket dua novel untuk diulas, salah satunya adalah novel ini. Saya teringat ketika menawari siapa pun yang ingin mengulas novel Moka, maka mereka dipersilakan untuk mengulas dengan jujur. Maka, saya akan mencoba untuk mengungkapkan pendapat jujur saya tentang novel ini namun tetap dengan (berusaha) santun.🙂 Jika diminta memberi kesan keseluruhan setelah membaca kisah Bara dan Iris, terus terang, saya bingung. Saya tidak merasakan apa-apa alias hambar.🙂 Jadi, premis utama yang saya dapat di sini adalah tentang cinta dalam persahabatan, bukan tema yang terlalu unik tetapi tak mengapa. Buat saya, bukan masalah tema yang terlalu umum yang membuat suatu novel tidak menarik, tetapi bagaimana cara mengolahnya? Di sini, disuguhkan tentang kehidupan dua sahabat sedari kecil yang kini sudah tumbuh remaja menjelang dewasa. Ada adegan Bara dan Iris berangkat dan pulang sekolah bareng, adegan Iris bertengkar dengan teman sekolahnya, Bara yang pintar sehingga memenangi Olimpiade Matematika, juga Iris yang akhirnya jadian dengan seorang playboy bernama Hilman.

Banyak hal yang ingin saya tanyakan kepada penulis perihal kesatuan ceritanya yang terasa seperti penggalan-penggalan adegan yang sekadar disatukan saja. Mengapa saya tidak bisa terlalu merasakan kedekatan Bara dan Iris? Kenapa Hilman yang awalnya menyatakan ketidaksukaannya kepada Iris karena emosi cewek itu, lantas begitu saja mendekati dan menyatakan cinta kepada Iris? Oh sebenarnya perihal sikap Hilman yang aneh ini akhirnya terjawab kok menjelang akhir, tetapi tetap saja buat saya perubahan sikapnya kepada Iris terlalu terburu-buru. Lalu, novel ini sebenarnya tipis, untuk ceritanya sendiri hanya sekitar 120-an halaman. Tetapi buat saya novel ini seperti sebuah buku yang tipis sekaligus “diberati”. Yang menjadi pemberatnya adalah hal-hal sastra yang ditempelkan di sana-sini oleh penulis. Saya ingin bertanya lebih banyak kepada penulis, sebenarnya apa sih yang diharapkannya dari novel ini? Cerita remaja yang ringan, atau cerita remaja yang nyastra? Tentu tidak masalah memasukkan kutipan puisi atau sajak ke dalam cerita, asal tepat sesuai konteksnya. Namun di sini, hanya dikesankan kedua tokohnya suka membaca puisi saking hafalnya, sehingga ketika ada adegan yang sendu maka penggalan puisi akan muncul di kepala mereka. Sayangnya, potongan-potongan puisi itu tidak padu dengan adegan yang bersangkutan.

Pertanyaan selanjutnya sungguh ingin saya sampaikan kepada redaksi Moka Media, yaitu mengenai masih terlalu banyaknya kesalahan ejaan. Maksud saya, banyak kata-kata yang penulisannya tidak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Saya tidak akan terlalu merinci di sini, sebut saja beberapa di antaranya: pengen, nafas, sembab, menghadang. Sungguh sangat disayangkan bagi penerbit baru seperti Moka Media.🙂

Apakah novel ini tidak ada sisi baiknya? Tentulah ada. Tokoh favorit saya di sini adalah Bara yang pintar dan begitu sayang kepada Iris, meski cara menunjukkan rasa sayangnya sering tak terduga. Saya juga suka dengan bagian surat perpisahan yang ditulis Bara kepada Iris, yang penggalannya dijadikan blurb di bagian belakang buku. Surat yang disusun dengan rapi dan penuh perasaan itu oleh Bara, bagi saya menyelamatkan kebingungan dan lubang logika yang ada di sebagian besar novel. Konflik-konflik yang ada dalam novel ini sebenarnya berpotensi membuat pembaca menjadi larut dalam emosi, jika dapat digali dengan baik dan rapi, dan tak terburu-buru.🙂

Jadi karena bagi saya novel ini tidak sampai membuat saya menyematkan kata “suka”, maka bintang yang saya sematkan cukup 2 dari 5 bintang ya.🙂

Diikutkan pada Indonesian Romance Reading Challenge 2014

One thought on “Cinta di dalam Persahabatan [Bunga di atas Batu by Aesna]

  1. Pingback: Joining Indonesian Romance Reading Challenge 2014 (!!) | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s