Happy Should be Happy! [Before Happiness by Abbas Aditya]

BeforeHappiness

Judul: Before Happiness

Penulis: Abbas Aditya

Penerbit: Moka Media

Genre: Romance, drama, dewasa muda, persahabatan

Tebal: 210 halaman

Terbit: Juni 2014

Cara dapat: buntelan dari penerbit

Harga normal: Rp39.000,00

Memendam cinta dalam diam. Siapa sih yang tahan untuk melakukannya sedemikian lama? Terlebih, orang yang dicintai adalah sahabat sejak kecil yang sering bertemu. Sahabat yang saking dekatnya, bahkan keduanya saling memanggil “prince” dan “princess”. Sahabat yang… sayangnya lebih memilih untuk mencintai orang lain. Buat kamu yang pernah merasakan cinta bertepuk sebelah tangan kepada sahabat sendiri, pasti kamu tahu perasaan yang saya maksud. Perasaan yang tentunya nggak bikin seorang Happy menjadi happy. Yup, Happy adalah seorang cewek yang terjebak akan rasa cinta kepada Sadha, sahabat masa kecil yang tumbuh dewasa bersama. Novel ini akan menggambarkan gejolak perasaan Happy ketika harus memendam cintanya itu.

Novel ini dibuka dengan prolog yang menceritakan momen spesial ketika seorang pria melamar kekasihnya. Happy melihat itu semua, namun sayangnya dia bukan berada di posisi sebagai kekasih yang dilamar. Dia harus melihat semua itu sambil memendam rasa pedih. Terlebih, Happy bukan hanya sebagai penonton, akan tetapi dia ikut juga sebagai pendukung acara lamaran itu. Sadha, sahabat masa kecilnya, memintanya untuk menyanyikan lagu cinta sebagai pengantar lamarannya kepada Yuna, kekasihnya yang juga seorang teman bagi Happy. Happy harus menyanggupi permintaan Sadha, dan menyaksikan momen romantis itu dalam pedih, karena… di dalam lubuk hatinya dia menyimpan rasa cinta kepada Sadha. Dan ketika Sadha tinggal selangkah lagi dimiliki seutuhnya oleh Yuna, Happy sadar bahwa dia harus move on. Seperti namanya, Happy sadar dia harus mencari bahagianya sendiri, dan lepas dari belenggu rasa cintanya pada Sadha. Tapi apa bisa, ketika Sadha selalu berada di dekatnya untuk meminta pertimbangan-pertimbangan akan keputusan besarnya?

Premis cinta dalam persahabatan, premis yang sama dengan yang saya baca di “Bunga di Atas Batu”, novel dari Moka juga yang dibuntelkan kepada saya bersama novel ini. Bedanya kalau di sana cowoknya yang cinta, di sini ceweknya, dan harus rela melihat sang sahabat menjalin cinta dengan cewek lain. Secara cerita, menggunakan POV 1 sebenarnya berpotensi untuk membuat saya sebagai pembaca larut dalam penuturan si Happy. Tapi kok cara berceritanya kayak mendongeng, terlalu banyak ngasih tahu (telling) alih-alih menunjukkan (showing) jadinya flat. Saya nggak dapat gejolak galaunya Happy yang terlalu jelas disimpulkan olehnya.

Dari awal cerita saya sudah merasa aneh akan panggilan prince dan princess antara Happy dan Sadha. Gimana ya, meski sudah diceritakan setidaknya dua kali asal-usul panggilan ini saat masih kecil, tetapi kok aneh sih dengarnya. Panggilan ini terlalu romantis hanya untuk ditujukan kepada sahabatnya. Terlebih, Sadha sudah punya kekasih dan bahkan ketika Yuna sudah menjadi tunangannya, Sadha tetap mempertahankan panggilan itu dan Happy juga masih memanggil cowok itu dengan sebutan prince. Oh please, don’t be that naive, kalau saya jadi Yuna jelas saya cemburu berat.

Dan ini adalah beberapa catatan saya saat membaca yang tertuang di Goodreads:

  • Aku suka flashback Happy mengingat kebersamaannya bersama Sadha di Malang–dengan Dio, sepupunya. Tapi sekali lagi, terlalu banyak telling. Seharusnya biarkan saja seperti adegan yang diputar ulang, bukan diceritakan ulang. Btw suka dengan kalimat “guyuran tangis dari langit” sebagai analogi untuk hujan (hal. 61).🙂
  • Hal. 65: Eh, tunggu, kenapa aku harus membandingkan Sadha dengan Gerald?

    Padahal dengan jelas di atasnya ditulis dia lagi bareng Dio yang bisa aja bikin ketawa dan juga ditulis “sampai-sampai aku sibuk membandingkannya dg Gerald”.
    Jadi dua manusia yg dibandingkan adalah Dio (bukan Sadha) dan Gerald, kan? -_-

  • Perubahan Yuna terlalu frontal dan terlalu tiba-tiba. Aneh.–> Ini adalah saat Yuna tahu-tahu marah kepada  Happy dan menganggap dia terlalu ikut campur dalam hubungan Yuna dan Sadha. Sebenarnya, wajar banget kok kalau Yuna cemburu dengan kedekatan Happy dan Sadha, tapi, bukankah Yuna yang awalnya meminta Happy mencomblangkannya dengan Sadha? Lalu Yuna juga memintanya untuk menjadi pengiring pengantin, dan ikut membantu persiapan pernikahan. Menurutku, perlu ditambahi sedikit bagian yang menceritakan Yuna, apa yang dipikirkannya sebenarnya, biar nggak terlalu tiba-tiba berubah begitu.
  • “Lu pasti akan selalu jadi Princess gue kan?”
    Diucapkan oleh Sadha kepada Happy rasanya sungguh nggak banget, karena pria itu toh akan menikah dengan Yuna.😐
  • Gerald dan Happy lagi di Bangkok, pas menuju SFD di hal. 192 sudah dibilang mereka naik mobil sewaan. Tapi di alinea berikutnya Happy bilang “tak henti mengalungkan tanganku di perut Gerald. Aku jg menyandarkan kepalaku di bahunya…”  Lho ini naik mobil apa motor sih?? Masa iya orang lagi nyetir mobil bisa digelendotin.

Nah itu beberapa catatan saya yang membuat saya kurang bisa menikmati novel ini, meski sebenarnya alurnya rapi. Oh ya, di catatan terakhir saya menyebut Gerald. Dia adalah tokoh favorit saya di novel ini. Gerald adalah sepupu Sadha yang naksir Happy sejak lama tetapi diabaikan, karena Gerald pernah mempermalukan Happy saat di kampus dulu. Saya suka perjuangan Gerald menaklukkan hati Happy. Kasarannya, Gerald bahkan mau menjadi pelampiasan Happy yang patah hati karena Sadha, sembari Gerald terus menunjukkan bahwa perasaannya tulus kepada Happy. Gerald membantu Happy untuk kembali happy. 🙂

Dan terakhir, lagi-lagi saya ingin menegur tim redaksi Moka karena banyak salah penulisan yang masih lolos di novel ini, baik ejaan tidak sesuai KBBI maupun typo. Oke, tidak akan saya rincikan semuanya tapi contoh salahnya beberapa adalah: apapun, komplit, memerhatikan, kaos, lagipula, menghembuskan, dan nafas. Sudah dua novel menemukan banyak salah, semoga deh kalau lain kali baca novel terbitan Moka lagi nggak kejadian kayak begini.🙂

Stars: 2.5 of 5

Note: Diikutkan pada Indonesian Romance Reading Challenge 2014.

 

2 thoughts on “Happy Should be Happy! [Before Happiness by Abbas Aditya]

  1. Pingback: Joining Indonesian Romance Reading Challenge 2014 (!!) | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s