The Ho[s]tel by Ariy & Sony

The Hostel

Judul: The Ho[s]tel

Penulis: Ariy & Sony

Penerbit: B-First (Bentang Pustaka)

Genre: Nonfiksi, Traveling, Antologi cerita

Tebal: 190 Halaman

Terbit: September 2013

Harga normal: Rp39.000,00

Setuju nggak kalau pengalaman adalah guru yang sangat berharga? Bahwa cerita dari teman-teman yang telah mengalami sesuatu terlebih dulu pastinya akan lebih mudah dipercaya daripada sebuah ulasan di media yang cenderung bersifat ngiklan? Misalnya, saya sering tanya nih sama teman, “Buku itu bagus nggak sih kamu baca?”. Ya, meskipun selera orang pasti berbeda dalam membaca, tapi biasanya si teman akan memberi ulasannya perihal buku tersebut, jadi saya akan memutuskan sendiri bakalan membaca buku itu atau tidak. Ariy dan Sony di buku ini bagi saya layaknya teman yang bercerita secara jujur kepada saya mengenai pengalaman-pengalamannya kala traveling, terutama mengenai penginapan; baik yang bersifat privat dengan harga tinggi, sampai bersifat meriah dengan harga terjangkau. Pengalaman itu dituangkan dalam The Ho[s]tel dengan enak, sederhana, tapi sekaligus menuangkan kesan yang dapat membuat kewaspadaan kita bertambah.๐Ÿ™‚

Beberapa hari lalu, tiba-tiba saja saya ingin membeli buku ini waktu main-main di Gunung Agung. Kenapa saya bilang tiba-tiba? Karena saya sudah tahu lama tentang keberadaan buku ini, tapi belum tertarik membelinya. Masih ragu, dan masih lebih memilih membeli cerita fiksi. Tapi saat itu tiba-tiba saja pengin membaca pengalaman yang diceritakan kedua penulis. Sampai di rumah, buku itu juga nggak langsung saya baca, karena masih ada novel lain yang merengek untuk dituntaskan, dan juga kerjaan yang menuntut diselesaikan. Hehe, sudah ah, prolognya kelamaan. Intinya saya akhirnya membaca buku ini dari tanggal 03 sampai 06 Maret 2014 dan saya suka banget, karena penuturannya enak, cerita-ceritanya seru dan informatif.

Cerita-cerita dalam buku ini dibagi dalam 3 bagian cerita menurut latar tempatnya: The Hotel yang menceritakan pengalaman Ariy & Sony menginap di penginapan berlabel “hotel”, The Hostel yang berisi penuturan mereka di penginapan murah berlabel “hostel”, juga “The Hotel” yang hanya berisi dua cerita pendek tentang pengalaman mereka tidur bukan di keduanya. Karena ini adalah antologi, di mana masing-masing penulis bergantian menyajikan cerita pendeknya secara bergantian di berbagai kota dan negara, maka saya akan coba ambil cerita-cerita yang mewakili di masing-masing bagian, ya…

The Hotel.

Kena PHP di Eropa” yang diceritakan Sony bikin ngerasa kasihan dan jengkel sekaligus. Kasihan sama Pak Sony (ehm, dia dosen saya dulu di Unair :D) karena udah ‘dikerjain’ info yang nggak bener di web si hotel tentang lokasinya yang mudah dijangkau. Nyatanya, lokasinya ternyata jauuh sekali dari patokannya yaitu stasiun kereta, dan memerlukan naik bus melalui jalan tol segala untuk mencapainya. Jengkelnya ya sama pihak hotel yang ngasih info salah. Karena saya juga beberapa kali traveling sendirian dan berbekal petunjuk dari web penginapan yang bersangkutan untuk mencapainya. Tapi ada rasa ‘puas’ juga kala di akhir ceritanya Pak Sony dengan tegas bilang membatalkan booking-annya untuk beberapa hari ke depan karena merasa sudah dibohongi. Phew, rasain tuh!

Lalu “Semalam di Hotel Krusek” menceritakan pengalaman Mas Ariy ketika menginap di salah satu hotel di Pacitan. Krusek itu maksudnya… ehm, temukan sendiri deh di buku, hehe! Nah saya senang dengan gaya bercerita Ariy yang apa adanya, dimulai dengan curhatnya tentang akhirnya bisa membeli motor dari hasil kerjanya, yang lalu dirayakan dengan touring bersama kawannya. Cerita intinya sendiri adalah tentang apa yang ada di dalam hotel itu jauh dari kata layak, tapi penuturan Ariy yang suka menyelipkan banyolan sederhana cenderung satir juga bikin saya yang baca cengar-cengir sendiri, hehe. Kalau saya yang mengalaminya sendiri mungkin bakal jengkel setengah mati, tapi baca pengalaman Ariy dan reaksinya kok ya agak lucu.๐Ÿ˜€

The Hostel.

Di bagian kedua tentang penginapan murah meriah ini, saya merasa ceritanya lebih seru lagi. Ya maklumlah ya, semakin murah, semakin meriah, semakin banyak ceritanya. Hampir semuanya seru banget, tapi yang saya pilih dari ceritanya Ariy adalah ” Misteri Pencurian di Kamar Lantai 3″. Miris, ya, demi mendapatkan penginapan yang murah di Singapura, berimbas pada hilangnya beberapa barang berharga.๐Ÿ˜ฆ Nggak bisa juga sih mengaitkan kalau murah berarti ya harus terima “apa adanya” yang terjadi, tapi ini juga membuat saya sadar pentingnya mempelajari baik-baik review traveler lain akan suatu hostel. Saya sendiri kayaknya hampir nggak pernah ninggalin feedback di web booking-an hostel online, toh nggak ada pengalaman aneh-aneh juga selama tinggal di hostel. Namun karena baca cerita ini, saya jadi sadar pentingnya info keamanan seperti ini, untuk membantu traveler lain yang sedang browsing penginapan. Ceritanya juga nggak berakhir bahagia, karena barang dari teman-teman Mas Ariy raib, penyelesaiannya pun nggak bisa tuntas karena mereka harus kembali ke Indonesia.๐Ÿ˜ฆ

Dari Pak Sony, saya ambil cerita “Serunya Mandi di Piccadilly”. Ya gimana nggak, kalau ternyata kamar mandi yang disediakan tuh shower berderet-deret untuk rame-rame dan terbuka! Hehe, sedangkan Pak Sony sama sekali nggak nyaman dengan situasi ini. Jadilah dia mencari akal dengan mandi di tempat alat-alat kebersihan yang ada tirainya sambil cepat-cepat, sebelum ada pengunjung lain masuk untuk mandi! Hihihi. Bisa membayangkan pas kejadian pasti deg-degan dan cemas bercampur malu, tapi kalau tinggal baca jadinya ya… nyengir!๐Ÿ˜€ Ini jadi masukan buat kita juga untuk selalu mencermati baik-baik review suatu hostel termasuk penampakan kamar mandinya di foto dalam web.

Lalu di bagian “The Hotel” karena ceritanya cuma dua, saya pilih yang paling menarik adalah cerita dari Pak Sony: “Petaka dari Si Nenek”. Di ceritanya menaiki kereta malam dari Berlin menuju Malmo, di sebuah sleeping train, Pak Sony harus mengalami yang namanya, ehm, diraba-raba oleh, ehm… seorang wanita tua. Dan nggak cukup sekali, tapi, ehm… sampai tiga kali! Bahkan Pak Sony sampai perlu mengeluarkan kata-kata kasar segala kepada nenek-nenek tua itu! Penasaran kan kok bisa kayak gitu? Dibaca langsung ya di bukunya! Hehehe.

Setiap cerita dituliskan dengan ringkas nan asyik, nggak bertele-tele. Selipan jokes-nya nggak maksa, tiap emosi pun dipaparkan hingga saya ikut mengerti keadaan saat itu. Lalu di tiap akhir cerita juga selalu ada tips yang amat berguna bagi traveler. Oh ya, ilustrasi gambarnya juga oke. Banyak cerita yang seru, beberapa ada juga yang sepertinya pengalaman sederhana, tapi dibungkus dengan penceritaan yang asyik. Dan asyiknya lagi, gara-gara baca buku ini saya jadi menggali-gali sendiri lho pengalaman seru saya di hostel. Hingga akhirnya timbullah tulisan ini, ditulis saat saya sedang di pertengahan membaca The Ho[s]tel: http://travelerwannabe04.blogspot.com/2014/03/tamu-vip-kisah-semalam-di-buoy-hostel.html. Hehehe.

Oh ya, beberapa bulan lalu juga ada kompetisi The Ho[s]tel 2 dan katanya hasilnya sebentar lagi akan terbit, yaitu buku yang berisi pengalaman banyak traveler sebagai pemenang kompetisi itu! Wuah, nggak sabar deh mau baca, semoga pada seru ya ceritanya!๐Ÿ˜€

Stars: 4 o 5

6 thoughts on “The Ho[s]tel by Ariy & Sony

  1. wah aku malah belum baca sampe abis lho buku ini๐Ÿ˜„ dulu beli gara2 mau ikut lombanya hihi…jadi penasaran juga baca reviewmu…semoga yang ke 2 nggak mengecewakan ya๐Ÿ˜€

  2. Pingback: Calling for guest post! :D [Travel Book Review] | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s