Once Upon a Love by Aditia Yudis

Once Upon

Judul: Once Upon a Love

Penulis: Aditia Yudis

Penerbit: Gagas Media

Genre: Roman, Drama

Tebal: 190 Halaman

Terbit: November 2011

Peringatan: maaf kalau sebenernya ini nggak terlalu niat meresensi, tapi pas tadi ngisi di Goodreads udah lumayan cerewet, jadi ya terpikir sekalian saja diposting di blog. Overall, saya nggak merasa suka sama novel ini, karena….

Hmm… ini novel, kan? Atau kumpulan puisi? Lebih tepatnya, puisi yang diparagrafkan?? Nggak terlalu cocok buatku, ya bisa dibilang pemilihan katanya baik… tapi terlalu mendayu-dayu. Penulis seolah menciptakan kumpulan kata-kata indah, yang dirangkai dalam paragraf lalu disisipi dialog. Too much poetic and melancholic words, tapi konfliknya sendiri nggak diolah dengan baik. Seperti ini:

Lolita: penulis. Aku nggak tahu seberapa larisnya novel-novelnya hingga royaltinya bisa dibuat beli mobil. Lolita jatuh cinta pada Ferio sejak lama dan memilih menyatakan perasaannya lewat kata pengantar novelnya. Bego aja sih, pacar bukan, tapi dikasi pernyataan cinta secara gamblang di buku sedangkan (lanjut di bawah)

Ferio: Cowok yang udah jelas-jelas cinta mati pada Dru, sahabatnya. Konfliknya sih sebenernya dia nggak akan pernah bisa jadian sama Dru karena mereka beda agama. Tapi penulis menyamarkan hal ini, nggak mengatakan secara gamblang lewat dialog mereka, tapi lewat deskripsi. Ferio pernah jadi paduan suara di gereja, sedangkan ditunjukkan pula adegan Dru yang sholat. Buatku, alasan mereka nggak bisa jadi sepasang kekasih ini pun jadi terkesan muter-muter, nggak mau digamblangkan perbedaan keyakinan gitu. Dru menolak Ferio, menyarankannya untuk bersama Lolita, tapi cowok itu nggak mau.

Sayang aja, alih-alih memilih mengolah konflik dengan baik, Aditia Yudis lebih memilih untuk mengeksplor pada kata-kata puitis yang menggambarkan kesenduan novel ini. Belum lagi dialog antara Ferio dan Dru yang rasanya susah diaplikasikan ke sehari-hari saking beberapa kayak pujangga banget.😦 Udah gitu, novel ini tipis, 190 halaman saja. Typo sebenernya nggak apa asal nggak terlalu banyak, tapi untuk novel setipis ini menurut saya typonya kebanyakan deh.😦

Saat baca novel ini saya jadi ingat Kata Hati-nya Bernard Batubara yang juga melankoli dan bermain-main pada kata-kata puitis. Aduh saya jadi bayangin kalau mereka duet nulis novel segalau ini. Mabuk deh bacanya.πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s