Kata Hati by Bernard Batubara

katahati

Judul: Kata Hati

Penulis: Bernard Batubara

Penerbit: Bukune

Genre: Roman, Drama

Terbit: Juli 2012

Tebal: 204 halaman

Harga: Rp 39.000

Randi patah hati, semenjak ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Dera, cewek yang telah dipacarinya selama 5 tahun. Cewek yang begitu menyayanginya, namun sekaligus juga menorehkan luka teramat dalam di hati karena perselingkuhan. Dera sendiri tidak serta merta dapat meninggalkan Randi, karena ia masih berusaha terus mendekati Randi dan kembali. Sayangnya, Randi sudah dekat dengan cewek lain, Fila. Fila yang membuat Randi nyaman dan tenang, yang sedikit banyak juga mengingatkan Randi kepada Dera. Namun jika kata hati boleh berkata jujur dan dituruti, siapakah yang akan dipilih Randi: Dera yang sudah teramat mengenalnya, atau Fila yang akhir-akhir ini mampu membuatnya tenang?

Sebelum mulai mengulas, saya mau bilang dulu alasan saya beli buku ini, alasan yang menurut saya sendiri cukup nyeleneh. Iya, saya membeli buku ini karena banyak kritik pedas di goodreads, yang biasanya karena kritik tersebut orang jadi malas baca bukunya kan? Tapi mengingat novel ini best seller dan malah difilm-kan, saya jadi penasaran. Sempat jadi-enggak jadi beli, akhirnya saya beli juga buku ini lewat toko buku online.🙂 Oke, mari mulai meresensi ..

Saya akhirnya jadi belajar banyak dari novel ini, dan mulai paham dengan kritik-kritik yang bertebaran di goodreads. Menurut saya, unsur-unsur pembentuk sebuah novel agar menarik bagi pembaca selain ide ceritanya itu sendiri, masih ada hal-hal lain seperti gaya bahasa, alur, pewatakan tokoh, kelogisan dan kekonsistenan. Cerita diawali dengan Randi yang duduk di sebuah kafe yang dulu ia biasa datangi bersama Dera. Tempat yang membekaskan banyak kenangan baginya. Lalu tiba-tiba dia harus pergi karena mendengar kakaknya kecelakaan. Tapi menurut saya perihal kecelakaan ini ternyata semacam tanggung, hanya kecelakaan ringan yang langsung boleh pulang, bukan pemicu untuk cerita lain yang lebih seru. Dan ada beberapa hal lain yang menurut saya tidak pas, ah bagaimana kalau saya buatkan bullet point saja?

  1. Tokoh Randi digambarkan terlalu menye-menye dalam mengingat luka dan masa lalunya. Penulis terlalu banyak memberitahu dan menulis dengan gamblang tentang Randi yang mengalami luka hati. Menurut saya jatuhnya malah garing, bukannya membuat saya prihatin.
  2. Latar belakang penulis sangat memengaruhi cara penulisannya, terbukti banget Bara sebagai penyair banyak melakukan deskripsi cerita dengan tulisan yang sendu, melankolis, mendayu-dayu, yang sayangnya menurut saya tidak tepat proporsinya untuk alur ceritanya. Balik ke poin nomor 1, saat menggambarkan Randi pembaca seolah diajak untuk larut dalam kesedihannya, tapi terkesan memaksa.
  3. Penggunaan kata ganti yang menurut saya tidak tepat juga. Dialog-dialog Randi dengan Irfan selalu menggunakan ‘lo-gue’ padahal settingnya di Yogyakarta. Mungkin itu bentuk keakraban, tapi tidak tepat saja, karena toh ada selipan bahasa jawanya juga sedikit. Saya jadi membayangkan penyebutan ‘lo-gue’ yang medok oleh mereka berdua.😀
  4. ‘Pukul segini? Ngapain?’ Masih berkaitan dengan poin 3. Itu tadi adalah cuplikan dialog Randi kepada Irfan. Setelah masih ber ‘lo-gue’ kok aneh ngomong ‘pukul’ alih-alih ‘jam’. Sebenarnya ini mau dibawa seperti apa sih gaya bahasanya?🙂
  5. Detail tentang 1 tempat yang sama harusnya cukup disebut sekali. Di halaman awal sudah dijelaskan tentang Djendelo kafe yang terletak di lantai atas Toga Mas, tetapi di halaman pertengahan detail tersebut dijelaskan lagi. Kalau hanya untuk selingan, harusnya sih bisa kreatif dengan kata lain, seperti: Randi bergegas menaiki tangga menuju Djendelo kafe.
  6. Penggambaran setting: 2 piring, 2 botol air mineral tertata di atas meja. Tapi terus 2 tokohnya minum jus dan kopi. Lhaa? Ya memang akhirnya saya tahu selain minum air mineral, mereka juga pesan jus dan kopi. Tapi seharusnya kalau memang mau memberi gambaran setting, ya sekalian saja sebut semua bendanya, jangan setengah-setengah.🙂

Ya itu sih poin-poin yang menurut saya membuat novel tipis ini terkesan benar-benar ‘tipis’ alias tidak menarik😦 Sayang sekali padahal ide ceritanya menarik jika dapat diolah dengan apik. Ada kok beberapa bagian dan dialog yang menarik, ada. Kalimat-kalimat seperti: ‘..menahan serbuan adegan-adegan kenangan yg sejak tadi menyerang benaknya’ atau ‘Kamu bakal kerepotan membereskan ruang berantakan yang pernah kamu tinggal pergi.’ Buat saya itu menarik dan pas untuk konfliknya saat itu, ketika Dera memaksa untuk kembali masuk ke dalam kehidupan Randi. Saya juga malah suka dengan adegan Fila mengingat masa lalunya bersama Andre di Pantai Swaradan, Yogyakarta. Bagian itu malah lebih menyentuh hati buat saya, meski sebentar dan tidak terlalu lama mendayu-dayu seperti saat menjabarkan luka hatinya Randi.

Hm well anyway, saya tetap salut karena Bara telah berani mencoba menyelesaikan satu cerita utuh, berkembang dari dirinya yang sebelum ini rajin menulis puisi dan cerpen. Bara telah berhasil menyelesaikan tantangan membuat sebuah novel. Perkara banyak kekurangan menurut sebagian orang, tapi disukai pula oleh sebagian yang lain, itu sih masalah selera. Saya sendiri belajar dari novel itu, untuk tidak melakukan kekurangan-kekurangan yang telah saya sebutkan tadi.🙂

One thought on “Kata Hati by Bernard Batubara

  1. Pingback: Once Upon a Love by Aditia Yudis | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s