Benang Merah Pengikat Cinta [Endless Love by Wu Xiao Yue]

endlesslove

Judul: Endless Love

Penulis: Wu Xiao Yue

Penerbit: Haru

Genre: Novel Mandarin terjemahan, drama, romance, keluarga

Terbit: Februari 2015

Tebal: 278 halaman

Harga normal: Rp55.000,00

Konon, benang merah adalah benang pengikat jodoh kedua insan. Namun, ketika Jing Hao dan Rui En pertama kali bertemu dan langsung terikat oleh seutas benang merah, mengapa mereka harus mengalami perpisahan selama tiga tahun? Dan ketika bertemu kembali, mereka berdua layaknya orang asing yang tak saling dekat. Ada perasaan ingin saling menjangkau, tetapi ada penghalang tak kasatmata yang membuat mereka tak mampu melakukannya. Masa lalu. Ikatan pada keluarga masing-masing. Juga kehadiran orang lain. Perlahan hal-hal itu memisahkan mereka semakin jauh. Apakah kenangan benang merah itu benar-benar pupus?

Selamat merayakan Imlek! Saat menulis resensi ini, pas sekali bertepatan dengan libur memperingati tahun baru Cina alias Imlek. Dan pas juga semalam saya menyelesaikan membaca novel Endless Love, novel Mandarin terjemahan terbaru dari Penerbit Haru. Saya membaca novel ini dalam waktu seminggu, tapi seandainya saja saya tidak punya banyak pekerjaan yang harus didahulukan, rasanya saya bisa lebih cepat dari itu. Terjemahannya enak dan mengalir lancar dibaca, untuk ini lagi-lagi saya mengacungkan jempol pada Penerbit Haru untuk urusan terjemahan. Penampilan luarnya juga enak banget dipandang, saya suka penampilan kovernya yang penuh warna dengan warna-warna pastel–tidak mencolok jadi betah dipandangi.

Endless Love diceritakan dengan alur flash back, di mana sang tokoh utama mengingat masa lalunya yang membuat kisah cintanya menjadi kelam. Jing Hao dulu adalah seorang pedagang pakaian asongan yang harus sering berkejaran dengan petugas keamanan saat menjual barang dagangannya. Dia bertemu dengan Rui En pun tatkala sedang berusaha menghindari kejaran petugas keamanan. Pertemuan yang memalukan sekaligus berkesan, yang lantas mengikatkan benang merah di antara mereka berdua. Benang merah konon adalah simbol benang jodoh, dan tentu pertemuan tak sengaja itu lantas berlanjut pada pertemuan-pertemuan lainnya hingga mereka benar-benar terikat.

Namun, kondisi Jing Hao dengan seorang ayah yang memiliki kebutuhan khusus, tidak bisa membuatnya mengekspresikan cinta secara bebas. Sedangkan Rui En berasal dari keluarga kaya yang seolah membuat kedudukan keduanya tidak setara.  Bahkan ketika kata cinta telah terucap dan ikatan pasti tinggal selangkah lagi, hubungan mereka berdua harus terputus karena masa lalu di antara orangtua mereka. Mereka berpisah. Jing Hao pergi meninggalkan Taiwan. Sedangkan Rui En terus hidup dalam penantiannya dan meninggalkan kenyamanan yang diberikan orangtuanya. Tiga tahun kemudian, mereka bertemu kembali. Kondisi kini berbalik; Jing Hao berada di posisi di atas Rui En. Jika benar mereka sudah diikat benang jodoh, kenapa Jing Hao harus bersikap angkuh dan terus menolak kehadiran Rui En di dekatnya??

Terjemahan yang mengalir enak membuat saya menikmati jalan cerita novel ini dengan baik. Meski, harus saya akui juga greget yang disampaikan lewat adegan demi adegan masih terasa kurang.🙂 Tapi saya memang terkesan dengan tokoh Jing Hao. Bagaimana suatu kondisi dapat mengubah emosinya, juga bagaimana dia sanggup menyembunyikan dengan rapi perasaannya terhadap Rui En. Tokoh sampingan yang juga menarik bagi saya adalah NoQ. Cowok ini awalnya adalah sahabat Jing Hao yang selalu menemani apa pun yang dilakukan Jing Hao, termasuk menemaninya jualan baju dan mendampingi ayah Jing Hao. Namun, ketika Jing Hao pergi meninggalkan Taiwan, NoQ tidak mengikutinya dan justru berbalik menjadi sahabat bagi Rui En. Saya pikir jika benang merah itu benar-benar berfungsi, maka wujud nyatanya adalah melalui seorang NoQ. Cowok ini seolah tahu kalau Jing Hao akan kembali pada Rui En. Ada satu kalimat yang membuat saya terkesan yang diucapkan oleh NoQ pada Jing Hao:

“Oke, sudah kuputuskan! Kau tidak boleh meninggalkanku lagi. Tak peduli kau mau ke mana, aku akan terus bersamamu!”

Sahabat sejati yang tetap setia menemani meski kita ditimpa kemalangan, siapa sih yang tak mau mendapatkannya?🙂 Kekhasan dari novel terjemahan yang selalu ditampilkan Penerbit Haru adalah budaya negara asli yang ikut terselip di dalamnya. Di sini pun tetap ditampilkan panggilan-panggilan khas seperti Ba ba, Da shu, Zu Shang, Ma ma, A yi, Jie, Ge, dll.

Tiga bintang saya sematkan untuk kisah sweet romance yang juga sudah dibuatkan dramanya ini. Bacaan yang pas buat suasana Imlek, saya jadi pengin nonton dramanya nih! Hehehe. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s