Efek Buruk Baca Buku [!]

Nah lho, judulnya! Setelah beberapa postingan membahas tentang sisi-sisi baik dari membaca atau pembaca, kenapa malah sekarang mengungkapkan sisi buruk membaca? Huehehe. Saya percaya setiap hal ada sisi plus-minusnya. Sesuatu yang baik, jika tidak dilakukan dengan tepat kadarnya, bisa juga menjadi hal yang nggak baik buat kita. Begitu pula membaca, di antara banyak hal positif yang diakibatkan dari hobi baca buku, menurut saya ada juga hal-hal yang bakal membuat kita mengevaluasi ulang tentang kebiasaan baca kita. ^^

Baca Buku Sambil Jalan, Keren Sih, Tapi…

bacabukusambiljalan

wikihow.com

Saya sering melakukannya, “cuma” jalan ke minimarket depan kompleks rumah, atau beli makan di tempat yang dekat aja selalu bawa buku, dibaca sambil jalan. Ya karena saya tinggal di kompleks perumahan yang terletak di desa, jadi menurut saya aman sajalah baca buku sambil jalan, haha. Kondisi jalan raya di sekitar kompleks nggak terlalu ramai ini, kan. Tapi beberapa kali saya sadar, misalnya tadi, sambil jalan sambil baca novel, saya melewatkan pemandangan sekitar. Lahan-lahan kosong yang dirimbuni ilalang hijau segar, juga awan yang bergumpal imut. Ketika sejenak mendongakkan kepala dari buku yang saya tekuni, saya menyadari ini adalah salah satu kerugian akibat terlalu banyak membaca. Melewatkan pemandangan alam terbuka di sekitar yang jarang saya nikmati karena keseringan kerja di dalam rumah.🙂

Baca Buku di Kendaraan Umum, Awas Aja…

Ini juga lumayan sering saya lakukan–dan banyak orang lain lakukan juga. Membaca di kendaraan umum, sambil menunggu bus, kereta kota, atau angkutan umum lainnya menghantar kita ke tujuan, memang salah satu kegiatan mengusir jenuh yang oke. Tapi… awas aja ya sampai kebablasan, terlarut dalam isi buku sampai nggak sadar tujuannya udah terlewati. Atau, saking asyik dengan buku sampai abai dengan barang-barang bawaan, awas copet, teman! ^^

Anti-Social Reader

shutterstock.com

shutterstock.com

Pernah dengar cerita dari teman, bahwa dia lebih nyaman bercengkerama dengan buku ketimbang harus ikut kumpulan teman-teman di sekitarnya bergunjing atau ngobrol nggak jelas. Dia mengakui bahwa dirinya antisosial, karena lebih sering memilih buku daripada hangout dengan teman. Menurut saya, nggak terlalu salah juga seperti itu. Orang-orang dengan tipe introver memang memiliki kecenderungan untuk nyaman dengan dirinya sendiri, makanya nggak bisa disalahin juga kalau mereka lebih memilih buku. Tapi, coba deh keluar zona nyaman sesekali. Misalnya foto di atas, saya membayangkan itu adalah dua cowok-cewek yang nggak saling kenal dan kebetulan duduk berdekatan di satu bus. Saya bayangkan kalau si cowok kemudian menutup bukunya, dan mulai menyapa si cewek, ngajak ngobrol dan kenalan. saling cerita-cerita seru dan siapa tahu… jodoh! Hehehe.

Book Hoarder is A New Coolness Obsession 

book-hoarder

jacquitalbot.com

Hayo ngaku, siapa di antara kalian yang hobi menimbun buku?? Don’t worry, I am, too. Huehehe. Saya ingat, duluuu (berapa tahun lalu? wkwk) saya masih suka membaca ulang novel yang saya sukai karena saya mulai kehabisan bacaan. Lalu, saat gajian menyempatkan diri ke toko buku dan beli 1-2 buku baru. Lama-lama, makin banyak teman makin tahu banyak info mendapatkan buku dengan harga terjangkau dan… timbunan buku menumpuk! Yang bisa disebut sebagai timbunan buku adalah buku-buku yang kita punya yang sudah banyak banget jumlahnya, tapi belum dibaca!

Book hoarder, alias penimbun buku, suka nggak sadar sama obsesinya. Karena begitu ada buku baru rilis yang menarik, eh dia tetep beli, melupakan tumpukan sebelumnya yang belum dibaca. Wew. Hati-hati aja tuh kantong jebol, space buat menyimpan timbunan semakin sempit, terus karena kurang tahu cara merawat buku hati-hati rusak juga, yaa. Saya pernah bilang–entah di blog ini atau Twitter–terapi bagi penimbun buku adalah, coba menarget diri untuk membaca habis beberapa buku yang ditimbun, baru boleh menambahkan satu buku baru. Juga, jangan pelit untuk berbagi. Buku-buku yang sudah dibaca, atau timbunan yang sudah lawas banget tapi nggak tahu kapan bakal dibaca karena banyak yang lebih menarik, coba deh dibagikan ke orang lain. Bisa ke teman, dikuisin, dijual murah, atau disumbangin. Jadi, semisal kita mau beli buku baru, jadi nggak terlalu merasa bersalah, deh. Hihi!

Baca Buku Sambil Tiduran atau Jarak Terlalu Dekat?? Oh, No! 

adamsains.us

adamsains.us

Nah hayooo, dua hal ini juga ternyata berbahaya buat mata kita tercinta! Saking asyik banget baca buku, segala posisi dicoba. Mulai dari duduk biasa, duduk selonjoroan, nungging, sampai tidur-tiduran! Jarak antara mata dengan buku pun sampai nggak terkontrol. Hmm, hati-hati ya, nanti mata kita protes, lho! Menurut sebuah artikel tentang menjaga kesehatan mata, jarak aman dalam membaca buku adalah 30 cm *brb ambil penggaris*. Baca buku terlalu dekat bisa bikin mata tegang dan mengakibatkan rabun jauh dalam jangka panjang. Terus, baca buku juga nggak boleh sambil tiduran! Penting juga masalah penerangan yang cukup, misalnya dengan lampu neon yang terang. Yuk sayangi kedua mata kita!🙂

Berimajinasi Lewat Buku

pinterest.com

pinterest.com

Salah satu keasyikan membaca adalah kita bisa keluar dari dunia kita yang itu-itu-saja dan memasuki dunia baru yang digambarkan penulis. Asyik banget, bisa lompat-lompat melintasi negara dan bahkan benua lewat cerita di dalam buku. Eits, itu semua memang boleh dilakukan untuk memperkaya imajinasi, tapi ingat kembali ke dunia nyata, ya! Nggak baik juga lho kalau semua-semua harus disamakan dengan buku–lebih-lebih cerita fiksi. Ehm, misalnya nih yang udah punya pasangan, jadi menuntut pasangannya bisa jadi kayak tokoh fiksi favoritnya.Hihi.

Sekadar curhat, gara-gara saya melontarkan pernyataan yang saya baca di suatu artikel, saya jadi didebat habis-habisan bahkan dinyinyir, dibilang “wawasan sekadar membaca”. Ups! Mungkin maksud dia baik, jangan semua hal dianggap benar dari apa yang kita baca, karena pada kenyataannya hal-hal tersebut kembali ke relativitas, kembali pada kondisi di dunia nyata.😀 Saya akui, membaca banyak hal bisa memperkaya wawasan, standar yang saya pegang pun lama-lama bertambah. Tapi ya itu tadi, saya tidak boleh serta-merta menerapkannya di kehidupan sehari-hari tanpa memedulikan realitas yang ada.🙂

Begitulah, pada akhirnya sih melakukan segala sesuatu memang harus tepat porsinya, dan juga selalu lihat situasi. Kayak mau nyeberang jalan raya aja, kudu lihat kanan-kiri kalau nggak mau ketabrak! Setuju nggak sama opini saya? Mau ikutan curhat??😀

2 thoughts on “Efek Buruk Baca Buku [!]

  1. Artikelnya kerenn😀 Topiknya menarik, dan “ngena” nih terutama di bagian book horader, saya harus waspada jangan sampai jadi akut! Hehe. Saya jadi lebih diingatkan lagi untuk jangan sampai membuat hobi/kesenangan larut dalam buku malah membuat saya jadi gak bisa menjangkau ke hal-hal di dekat saya, justru seharusnya semakin kaya imajinasi dan pengetahuan kita lewat buku, kita harus lebih bisa “action” ke lingkungan kita. Jadi inget gimana kadang rada “nyesek” juga kalau ibu saya udah rada memarahi kalau saya lagi baca gitu, mungkin ada maksud yang lebih dari teguran ibu saya itu, hehe. Terima kasih untuk artikelnya kak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s