Reading as a Profession

rory-book

 

The picture is taken from here. Rory Gilmore is my second favorite characters in Gilmore Girls serial –after Lorelai, the mom, of course.🙂 Rory likes reading, many scenes show that she is into reading. And, she is the genius one!😉

Ada di sini yang nggak suka baca buku? Ehm, kalau nggak suka atau jarang baca buku, aku mempertanyakan kenapa kalian repot-repot mampir ke blog bukuku ini. Apa karena judulnya yang oh-so-wow? Ehehehe. #dikeplak So, I’d like to talk about the “benefit” of reading. Manfaat membaca? Tentu banyak. Konon katanya buku adalah jendela dunia, maka dengan membaca kita dimampukan untuk melihat dunia luar tanpa perlu berjalan-jalan secara nyata.

Namun di sini aku akan spesifik lagi membahas tentang manfaat membaca, yaitu profesi apa yang bisa dilakukan berkaitan dengan hobi membaca kita. So here comes the list….

Proofreader

Yep, ini adalah hal yang sedang sering kulakukan sejak April 2013 lalu. Proofreader disebut juga sebagai pemeriksa aksara dan penyelaras akhir. Tugasnya memeriksa lagi naskah yang sudah diedit, memastikan tidak ada lagi salah tulis, juga tata letak naskah sudah oke. Untuk menjadi proofreader kuncinya adalah senang membaca, tentu saja. Banyak-banyak membaca buku dari berbagai genre, atau mungkin genre tertentu saja tetapi ditekuni, bisa banget jadi bekal untuk melamar jadi proofreader. Karena dengan rutin membaca maka kamu akan terbiasa tahu bagaimana penulisan yang baik dan benar. Untuk menjadi proofreader bisa autodidak, kok, tekun juga memeriksa ke kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) untuk meyakinkan ejaan suatu kata sudah tepat atau belum.

Editor

Profesi ini juga kulakukan, meski frekuensinya tidak sebanyak menjadi proofreader.🙂 Memang sih beberapa penerbit mengutamakan lulusan jurusan sastra dan bahasa untuk menjadi editor. Namun, ada juga yang membebaskan latar belakang pendidikannya, yang penting suka baca! Serius, soalnya aku sendiri juga kuliahnya Akuntansi kok, hehe. Di CV, sama seperti proofreader, kita bisa cantumkan daftar bacaan kita, sehingga penerbit dapat menilai kalau kita bisa masuk ke genre terbitannya atau tidak. Fungsi editor adalah menyunting naskah, jeli melihat logika yang masih bolong dan memberikan saran kepada penulis. Tentunya juga merapikan naskah, sama seperti proofreader, maka andalannya juga KBBI. Jika tidak terbiasa membaca, mana bisa terlatih untuk melihat cerita yang tidak berkesinambungan?🙂

[for more insights about these two professions from me, click: www.katalogdini.blogspot.com yaa!]

First reader

Setiap penerbit pasti melakukan seleksi dulu terhadap setiap naskah yang masuk sebelum memutuskan untuk menerbitkannya dan selanjutnya melalui serangkaian proses penyuntingan naskah. Nah, di sinilah fungsi first reader. Aku memang belum menjalani profesi ini sih, tapi garis besar profesi ini adalah membaca setiap naskah yang masuk –yang disodorkan oleh penerbit– kemudian memberi penilaian plus-minusnya naskah tersebut, dan apakah sesuai dengan gaya penerbit yang bersangkutan, sehingga kemudian diputuskan apakah naskah tersebut ditolak atau diterima. Beberapa penerbit, first reader-nya ya dari pihak redaksi sendiri, misal tim editornya. Namun ada juga penerbit yang membuka peluang kerja untuk profesi ini. Jadi, nggak ada salahnya mencoba melamar, mengandalkan kesukaan dan kerajinanmu membaca–terutama baca buku-buku dari penerbit yang disasar.😉

Translator

Untuk profesi yang satu ini, selain hobi baca, tentunya diperlukan pendidikan formal ya. Yah, minimal kursus bahasa asing tertentu gitu. Karena selain rajin membaca juga diperlukan–terutama membaca buku-buku berbahasa asing–tentunya pengetahuan tentang tata bahasa dari bahasa asing yang disasar juga perlu. Aku aja sekarang juga lagi mikir kalau ada rezeki pengin deh kursus bahasa. Hm, bahasa negara mana ya enaknya? Kan lumayan tuh nanti iseng-iseng latihan menerjemahkan satu buku (atau beberapa bab, lha) terus coba diajukan ke penerbit.😀

Reviewer

Yep, just like I do in this blog. Meresensi alias mengulas buku yang habis dibaca. Dulu sih, kalau habis baca ya udah. Lalu atas saran teman aku mencoba meresensi buku. Awalnya resensi pendek, satu alinea saja mengomentarin novelnya. Lalu lama-lama mulai bikin ulasan panjang (berisi ringkasan cerita dan komentar setelah membaca), dan keterusan, deh. Banyak manfaat dari menjadi resensor. Salah satunya, jika ingin lebih dimudahkan untuk melamar pekerjaan-pekerjaan yang sudah kusebutkan di atas, maka cantumkan pula ulasan-ulasan buku yang sudah kamu buat–bisa juga dengan mencantumkan alamat blog bukumu. Karena dengan sering meresensi, penerbit akan lihat kekritisan kita terhadap suatu buku. Nah makanya coba diperhatikan isi resensinya, jangan cuma didominasi sama sinopsis bikinan sendiri, lho. Beri ulasan sejujurnya, setajam mungkin, tetap dengan balutan kata-kata sopan yang enak dibaca.

Lalu, masih banyak deh manfaat jadi resensor buku: kerja sama dengan penerbit dan penulis. Akhir-akhir ini sudah jamak deh penerbit dan penulis yang mengajak kerja sama dengan resensor untuk mengulas bukunya, agar lebih banyak dikenal oleh calon pembaca. Imbalannya minimal buku gratis, kadang ada juga penerbit atau penulis yang memberi tambahan imbalan lain, misalnya suvenir. Seru, kan? Selain bacaan bertambah tanpa keluar duit, tapi jaringan juga meluas dengan penerbit dan penulis. Asyik, tuh!😉

Satu lagi, ada juga resensi berbayar. Biasanya ada juga media yang meminta resensi khusus dari luar redaksi, kemudian dibayar dengan uang. Pernah tuh aku pengalaman bikin sekali resensi berbayar, dibayar setengah juta lho hanya untuk resensi satu buku. Lumayan banget! :))

Librarian

Yang ini jelas banget, ya. Untuk bisa bekerja di perpustakaan juga ada jurusannya tuh di kuliahan. Tapi, mungkin juga kali ya yang di luar ilmu kepustakaan bisa ngelamar? Hehe, yang jelas untuk berkutat dengan ratusan (atau bahkan ribuan?) koleksi buku di perpustakaan, suka baca dan memiliki pengetahuan tentang buku tentu diperlukan. Memang bisa dipelajari, tapi biar nggak lemot-lemot juga gitu, biar cepet kerjanya. Mengurus pengarsipan, katalog, dll yang berkaitan dengan kepustakaan, kalau kita nggak akrab dengan buku, mana bisa?🙂

Writer!

Yo’i! Kan katanya: kalau ada buku atau cerita yang pengin kita baca tetapi kita belum benar-benar menemukannya, maka kitalah yang harus menuliskannya! Pernah nggak kalian lagi baca novel yang seru banget, sampai akhirnya berseliweran ide-ide baru di kepala untuk dituliskan? Kalau aku sih sering, misalnya lagi baca novel tentang cowok yang playboy tapi patah hati pas benar-benar jatuh cinta, aku malah membayangkan cowok dengan karakter yang sama namun dengan cerita yang baru, suasana berbeda. Seringnya kayak gitu aku tulis, meski sering juga jadi draf yang mandek karena nggak telaten, hihi. #tepokjidat. Maksudku, hampir setiap pembaca pasti deh bercita-cita untuk punya karya tulis sendiri. Why not? Ide bisa datang dari buku, kita kembangkan yang tentunya menjadi hal yang beda sehingga tidak plagiat. Misalnya kayak contohku tadi, hanya karakter tokoh prianya yang sama, lain waktu bisa temanya yang sama misalnya tentang perselingkuhan tetapi dengan alur cerita beda. Yuk, coba aja nulis dulu. Latihan aja, setelah menamatkan satu novel, coba kalian tulis cerita baru mengambil salah satu ide novel itu. Mungkin, pada awalnya bakal kelihatan seperti mencontek/plagiat, nggak apa-apa namanya juga proses latihan–asal jangan dipublikasikan aja ya kalau jadi banyak samanya, hehe.

Wirausahawan: toko buku, book cafe, dll.

Betul sekali, yang suka baca buku seringnya nih diikuti dengan hobi lain yaitu menimbun buku–ada amin?? Hehehe, aku juga gitu, kok. Koleksi buku buanyaak, sampai nyadar pas bersih-bersih banyak yang belum dibaca. Beberapa hari belakangan juga aku lagi semangat jual-jualin buku yang udah kubaca dan nggak terlalu pengin dikenang #halah dengan tujuan mengurangi timbunan biar ada tempat buat belanjaan buku-buku baru. Hehehe, lumayan banget ternyata langsung banyak yang minat. Nah, kalau kamu suatu saat pengin punya usaha toko buku, atau book cafe, tentu kamu harus suka baca dong. Biar ntar kalau ada pengunjung datang, bisa ngasih rekomendasi dan enak diajak ngobrol. Atau, sebelum jadi bos, jadi kacung dulu deh… jadi karyawan di toko buku atau book cafe. Biar pas ditanya pengunjung soal buku tertentu cepet nyarinya, ya modalnya suka baca buku, dong!

Gimana, gimana? Sudah dapat inspirasi bekerja sesuai hobi baca buku? Yah nggak harus kerja penuh waktu, kok. Misalnya jadi resensor kalau dilakukan pas senggang atau tiap akhir pekan dan diseriusin ngeresensinya, banyak pasti yang ngincer. So, who say that reading book is only “a wasted time and money” hobby??

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s