“Etika” Meresensi Buku Buntelan [cuap-cuap sotoy]

Idiih, Dinoy judulnya apa banget, deh, ngeresensi buku kok diatur-atur! Eiiits, sebelum protes berkepanjangan, ada baiknya baca dulu sampai kelar yaa. Artikel ini bukan bermaksud mengatur-atur resensor kalau dapat buku gratis alias buntelan enaknya gimana cara mengulasnya. Well, ini hanya pendapat pribadi berdasarkan pengalaman dan pengamatan. So, mind to read?😀

Kategori buntelan buku

Pertama, aku mulai dengan cara mendapat buku gratis biar ntar tahu perlakuannya enaknya gimana yaa:

  1. Dapat dari kuis. Kuis biasanya diadakan oleh penerbit, penulis, atau yang sekarang sering adalah dari teman-teman blogger.
  2. Dapat dari penerbit yang bekerja sama dengan komunitas. Ini yang pernah saya alami, yaitu ketika Blogger Buku Indonesia bekerja sama dengan beberapa penerbit, membagikan buku-buku kepada anggota komunitas untuk diresensi. Saya pernah dapat dua kali untuk hal ini.
  3. Dapat dari penerbit langsung ke kita secara personal, tidak melalui komunitas. Yang ini bisa dihubungi langsung, atau kerja sama mengadakan blog tour.
  4. Dapat dari penulisnya secara pribadi. Biasanya mereka menghubungi kita karena tahu kita suka membaca dan mengulas buku, dan mereka ingin bukunya juga ikutan diulas.

Oke, itu adalah empat cara mendapatkan buntelan buku yang saya tahu dan pernah saya alami semuanya.😀 Dibahas satu-satu, yuk!

Dapat gratisan buku dari kuis. Yang ini sih jelas banget ya, ada yang bikin kuis berhadiah buku, kita ikutan terus menang. Ya udah bukunya jadi milik kita dan bisa kita perlakukan suka-suka. Mau mengulas sejujur dan secadas apa pun ya silakan aja. Maksudnya, nggak ada aturan untuk bermanis-manis kata. Aku pun pernah dapat buku gratis dari kuis penerbit, dan pas meresensi aku mengungkapkan beberapa kritik dan hanya kasih dua bintang. Penerbit dan penulis nggak mempermasalahkan sih, biasa aja nggak ada tanda-tanda ngambek juga, hehe. So, untuk hal ini nggak perlu dibahas lebih banyak deh ya, hehehe. ^^

Dapat dari penerbit yang bekerja sama dengan komunitas. Kalau yang ini aturannya gimana? Contohnya, kalau dari BBI biasanya memberi aturan bahwa buku harus diulas maksimal sebulan setelah buku diterima oleh anggota yang beruntung. Selain itu, nggak ada aturan lain sih, misalnya resensinya harus baik-baik, manis-manis, atau sejenisnya. Jadi, sebenarnya hampir sama dengan dapat dari kuis aja sih. Saya pernah dua kali dapat dari BBI kerja sama dengan penerbit, dan di buku yang kedua saya buanyaak kasih kritikan dan kasih cuma dua bintang. Saya lihat teman-teman BBI pun kalau dapat buntelan seperti ini kebanyakan jujur dan apa adanya kok, dan saya nggak pernah tuh mendengar BBI dikomplain sama penerbit yang bekerja sama atau mereka memutuskan hubungan kerja samanya, hehehe.

Dapat dari penerbit langsung ke kita secara personal. Nah untuk poin ketiga dan keempat bagi saya lumayan tricky nih, karena istilahnya kita sudah dilihat memiliki reputasi sebagai resensor yang baik, makanya dihubungi secara personal. Beberapa waktu lalu saya dihubungi oleh salah satu penerbit via E-mail untuk mengadakan kerja sama barter buku dengan resensi. Enaknya lagi mereka membebaskan saya untuk memilih buku yang ada di katalog mereka untuk diresensi, tidak langsung menyodorkan judul. Mereka juga nggak memberi batasan untuk resensi saya nanti seperti apa, sih. Cuma begini, ketika saya berseloroh dengan mengajukan dua judul yang saya tertarik, orang penerbit bilang satu dulu ya, nanti kalau bos suka sama resensinya akan diberi yang satunya lagi. Saya juga bermain aman di sini, saya membaca bukunya dan saya tetap meresensi apa adanya. Bintangnya pun saya beri tiga. Maksud saya, bukannya saya mau membagus-baguskan, tapi saya menangkap tujuan mereka kerja sama resensi adalah untuk mengenalkan tentang buku mereka. Jadi ya saya ceritakan ringkasan isi buku itu tentang apa dan kesan saya setelah membacanya, plus sedikit kalimat promosi untuk membeli buku itu di penerbitnya. ^^ Bintangnya juga tiga, sesuai kategori Goodreads, saya suka. Tidak sampai empat karena memang belum sampai amazing buat saya.

Apalagi, kalau kerja sama dengan penerbit sifatnya lebih mengikat, contohnya seperti blog tour atau kerja sama meresensi buku-buku baru. Saya memang belum pernah sih, tetapi sebaiknya perhatikan benar hal-hal yang disampaikan oleh penerbit dalam kerja samanya. Hindari penulisan seperti “ini cerita apaan sih?”, “duh pengin ngejitak penulisnya bikin tulisan jelek gini”, atau kesan jelek yang terlalu ekstrem. Sekali lagi, bukan bermaksud mengatur-atur bikin resensi jadi terkesan tidak apa adanya, tetapi kan banyak cara untuk menyampaikan kritik dengan sopan. Lagian kalau pengin bisa kerja sama dengan penerbitnya awet, apa salahnya sih memilih kalimat yang santun?

Terus, gimana dong kalau buntelannya bener-bener minta dibuang saking jeleknya, sementara udah kadung kerja sama dengan penerbit untuk event tertentu untuk ngenalin buku itu? Nah, coba deh kasih  tahu baik-baik sama penerbit. Kalau dirasa sisi bagus buku itu sedikit banget atau hampir nggak ada, bilang dulu secara pribadi (lewat E-mail) kalau kamu kecewa banget sama bukunya. Minta maaf, mungkin kamu nggak bisa ikutan ngenalin (alias ngiklanin) buku ini. Jangan lupa sampaikan hal-hal yang sangat mengganjal itu apa aja ya biar jadi masukan mereka. Tunggu tanggapan mereka, atau malah mereka mempersilakan kamu meresensi apa adanya dan diposting di blog? Ya siapa tahu sih, hehe. Jadi maksud saya adalah, kalau kamu masih ingin terus dipercaya bekerja sama dengan penerbit dalam kegiatan-kegiatan tertentu seperti ini, ada baiknya memperhatikan pula hubungan baik dengan mereka. Tetapi kalau kamu tetap merasa ingin meresensi apa adanya dan nggak peduli kalau nggak dipercaya lagi, then go ahead, just ignore my suggestion.🙂

Dapat dari penulisnya secara pribadi. Cara mendapatkan buntelan yang terakhir ini lumayan sensitif bagiku. Jangan sampai hubungan pertemanan rusak gara-gara the-so-called-bad-review yaaa!😀 Saya beberapa kali dapat permintaan dari teman untuk meresensi bukunya. Ada yang bilang karena sekalian ingin bikin kuis, ada pula yang bilang karena baca resensi saya termasuk kritis jadi mereka pengin bukunya dikritisi juga. Untuk yang kedua, wah rasanya mereka membebaskan saja saya mengulas sisi plus minusnya jadi nggak masalah sih. Tapi kalau penulis ngasih bukunya untuk dibaca dan diresensi tanpa pesan apa-apa, ada baiknya kita nyeletuk duluan ke mereka, ini nggak apa-apa nih dikomentarin apa adanya? Ya kalau dia mengizinkan dengan ikhlas bukunya dihabisin, silakan ajaa! Hahaha.

Saya sendiri sebagai penulis juga pernah kok meminta teman resensor untuk meresensi buku saya. Saya hanya bilang, silakan aja sampaikan plus minusnya, tapi saya penginnya juga untuk mengenalkan buku ini sebagai buku baru ke calon pembaca. Saya nggak bermaksud menyuap mereka kok dengan harus berkata baik tentang buku saya. Kritik pun tetap saya dapatkan dari resensi mereka, tetapi tujuannya tetap tercapai yaitu mereka dengan apik menggambarkan ringkasan isi buku itu tentang apa.🙂

Sekali lagi, kunci meresensi buku itu ya sebenarnya tulislah kesan yang kamu dapatkan setelah membaca buku itu. Jujur, tetapi nggak perlu berlebihan juga, menurut saya. Saya suka gerah dengan komentar-komentar tentang resensi yang beredar akhir-akhir ini. Ada yang bilang kalau udah buku itu dikasih gratis, eh ngeresensinya seenaknya pula kayak nggak menghargai. Ada juga yang bilang peresensi terlalu kasar, atau bahkan baru-baru ini ada penulis bilang kalau banyak yang meresensi, menyampaikan kritik, tanpa memahami aturan-aturan menyampaikan kritik yang benar. Duh! Sebenarnya masalahnya di mana, sih? Mereka menulis, bukunya diterbitkan, dibaca oleh masyarakat, dan sebagian menyampaikan kesannya melalui resensi. As simple as that? Ternyata, tidak. Ternyata penulis-penulis dan penerbit bisa tersinggung dan ngambek kalau resensinya menyangkut hal-hal yang nggak berkenan, haha!

Saya sendiri sekarang bukan hanya sebagai pembaca, melainkan juga berada di balik layar terbitnya suatu buku. Saya bertindak sebagai editor, membuat saya lebih berhati-hati dalam meresensi juga. Kenapa? Lebih karena ingin menjalin hubungan baik dengan penerbit dan penulis. Dulu, sering saya meresensi dengan menyertakan daftar salah tulis yang ada di buku tersebut. Tetapi sekarang saya nggak lagi melakukan hal itu. Maaf ya kalau ada yang kecewa.😀 Bagi saya, hal tersebut sudah nggak krusial lagi, toh bukunya udah terbit ini, mending kalau niat menyampaikan salah tulisnya yang kebanyakan, langsung ke E-mail penerbit saja. Dulu ketika saya belum jadi editor, saya merasa mendaftar seperti itu di resensi perlu, sebagai pelengkap CV saya juga jadi penerbit tahu ketelitianku. Namun setelah jadi editor, jadi mikir sendiri sesama editor kok membuka aib di ruang publik. (percaya deh, saya ngomong gini juga karena pernah dingambekin sama editor yang novelnya banyak saya kritik, meski ngambeknya nggak terang-terangan). Hehehe.

Jadi, kesimpulan dari artikel ini saya pengin bilang, meresensi buku memang bebas dan suka-suka. Namun ketika sudah ada kepentingan-kepentingan tertentu di balik caramu mendapatkan buku itu, saya rasa perlu juga untuk lebih menjaga diri demi menjaga hubungan baik pula. Just a thought, anyway, you may disagree with this.🙂

10 thoughts on ““Etika” Meresensi Buku Buntelan [cuap-cuap sotoy]

  1. Saya pernah dapat poin yang keempat. Dan saya agak menyesal melakukan terlalu kritis. Hubungan kami jadi tidak sama lagi setelah itu😦

    Karena gandum sudah diolah jadi roti, jadi ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Saya sudah minta maaf, dia sudah memaafkan, masalah yang harusnya bukan masalah tak lagi jadi masalah (?). Kami masih saling sapa, masih menggunakan panggilan sayang yang sama, dia juga tetap memintaku untuk terus jadi diriku sendiri, tapi ada kekakuan di udara ketika kami mengobrol.

    Ah, curcol, kan? Kak Dini sih *eaak *nyalahin orang *langsung digetok kak Dini dengan KBBI edisi 5😆

    • *pukpuk FJ*😦
      Semoga lain kali dapat kesempatan untuk memperbaiki dengan cara mbikin resensi yang bagus tg bukunya. Ah nanti dia bisa curiga itu nggak tulus yakh? *halah* *bikin tambah galau*

  2. Aku udah pernah ngalamin semua dan setuju sama yang pertama dan kedua.

    Untuk point ketiga, aku pernah dapet buku yang ‘not-my-cup-of-tea’. Bagus, tapi bukan genre favorit aku. Gemes jadinya. Tapi itu kan bukan salah mereka, jadi aku berusaha banget objektif. Jangan sampe aku cuma bilang “gak suka”, titik. Padahal kan ya itu, mereka minta aku promosi buat mereka. Jadi, aku harus putar otak untuk jujur tapi tidak melukai. Tsahh…

    Untuk point keempat, aku biasanya gak mau terima kalau aku emang gak suka sama gaya bercerita dia😄
    Gini, kita kan bisa liat ya cara bercerita dan pemikiran dia lewat tweet/facebook/apapun. Kita udah bisa nebak, sekarang socmed sangatlah berjaya membuat kita “mengenal” orang yang bahkan sebelumnya kita gak kenal sama sekali. So, kalau aku gak suka sama celotehan dia, aku milih gak deh😀

  3. setujuuuuuu🙂
    sekarang kalo lagi nyari buntelan dipilih yg emang sepertinya aku suka, nggak sembarangan embat segala macam kuis buku, misalnya saja aku suka genre romance dan fantasi, ya nyarinya yg itu. kalau ditawari sebelumnya aku bilang dulu ini nggak pa-pa kan kalau subjuektif alias apa adanya. tapi yang perlu ditekankan adalah gaya bahasa kita yang digunakan, jangan sampai menyakiti pihak yg udah memberikan perhatian pada kita. reviewer itu harus jujur tapi juga perlu sopan santun😀

  4. ada pula yang bilang karena baca resensi saya termasuk kritis jadi mereka pengin bukunya dikritisi juga

    huehehehe.. untuk ‘part’ yang ini yaa.. kadang berasa semacam ‘lip-service’ doank😄 karena ga semua orang bisa menerima komentar ‘negatif’ dengan baik😛 kalau dipuja puji sih walau kadang bikin jengah tapi setiap orang bisa lah menanganinya.. tapi kalau diberi tahu kekurangannya, well.. butuh kebesaran hati ^o^

  5. Hihi. Aku masih lebih nyaman udah baca satu buku, suka, baru minta gratisan ke pengarang atau penerbit buat hadiah giveaway. Jadi nggak ada perang batin. Kemarin juga sekali-kalinya ikutan blog tour karena kebetulan udah baca naskahnya pas ikutan jadi first reader penerbit dan suka. Emang sih jadi jarang dapet buntelan, apalagi aku kayaknya kurang beruntung kalo ikutan kuis, tapi ya udahlah selama masih punya uang dan berburu diskonan. hihiiii…

  6. Wah, ini kejadian juga sama aku. Pernah di kasih sama penulisnya. Rasanya, mau nulis jujur sejujur-jujurnya tetap saja beban. Hehehehe… tapi, sebisa mungkin aku menulis secara objektif. Maksudnya g sampai harus membohongi pembaca juga. Aku lebih suka ambil sisi aman saja. Kasih bagusnya, skip beberapa kekurangannya. Kalau lagi blog tour, aku juga pakai trik yang sama. Sekarang, bikin review jadi agak-agak itung-itungan, karena ngerasain sendiri gimana susah payahnya jadi penulis. Hahahahaha…
    Tapi, postingan mbak Dinoy cucok, nih sama sikon yang terjadi sama beberapa resestor, contohnya aku😀 Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s