Dear, Are… [Surat untuk Ruth by Bernard Batubara]

suratuntukruth

Judul: Surat untuk Ruth

Penulis: Bernard Batubara

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Genre: romance, dewasa muda, drama

Terbit: April 2014

Tebal: 168 halaman

Cara dapat: pinjam dari Jo

Harga normal: Rp45.000,00

Dear Are, apa kabarmu? Aku menulis surat ini karena aku telah membaca suratmu, surat untuk Ruth. Pertama, maafkan aku ya, karena telah membaca hal pribadimu. Namun, izinkan aku berkirim surat ini untuk menyatakan kesanku setelah membaca curahan hatimu. Bagiku, awalnya semuanya tampak biasa-biasa saja, maksudku, suratmu. Surat panjang yang berisi curahan hati seorang pria tentang perempuan yang amat berarti baginya. Surat panjang yang menceritakan perjumpaan pertamamu dengan Ruth saat di Selat Bali, getar-getar yang kau rasakan sesudahnya, juga kebetulanmu bertemu dengan pria yang berarti bagi pekerjaanmu, dan ternyata berperan penting pula bagi kehidupan Ruth. Membaca ceritamu tentang kebetulan yang terjadi di kota pahlawan itu, membuatku sekali lagi berpikir; dunia ini sempit, ya!

Namun, izinkan aku mempertanyakan satu hal: mengapa kau bisa secepat itu jatuh cinta kepada Ruth? Melalui perjumpaan yang singkat dan interaksi yang kalau boleh kukatakan, tak terlalu istimewa pula. Hanya, kau katakan ada yang berbeda pada gadis itu saat menjumpainya bersama senja. Maafkan aku jika terlambat menangkap, tetapi aku tidak terlalu mendapat gambaran atau alasan yang cukup untukmu jatuh cinta kepada Ruth. Namun, seperti yang biasa tersurat pada cerita-cerita roman, bahwa proses jatuh cinta bisa terjadi kapan saja dan dengan cara apa pun, jadi, tak mengapa.

Membaca suratmu, Are, membuatku memahami bagaimana gejolak seorang pria ketika ia sedang gundah gulana. Ternyata, perasaan melankolis dan mendayu-dayu itu tak hanya menghinggapi seorang wanita ketika ia sedang memikirkan pujaan hatinya. Untungnya, aku tidak sampai merasa berlebihan membaca gejolak melankolismu yang dibalut dalam kalimat mendayu. Jika dibandingkan dengan novel yang pernah kubaca karya pria setipe dirimu, yang berjudul Kata Hati, boleh kukatakan bahwa aku lebih menyukai tulisan suratmu, Are.  :) Jadi, aku larut dalam ceritamu, teraduk dalam gulanamu. Pun ketika mengetahui bahwa Ruth yang kau cintai ternyata harus bersama dengan orang lain, aku menangkap resahmu. Yang aku sukai darimu, kau termasuk pria yang memperjuangkan cintamu. Meskipun kau tahu kemungkinan untuk hidup bersama Ruth amat kecil, kau tak berhenti mengusahakannya. Aku mengikuti pula perjalananmu ke kota Malang bersama gadis itu, yang sekali lagi membuatku bertanya-tanya tentang bagaimana hubungan kalian sebenarnya. Kau, Are, adalah pria yang lembut sekaligus tangguh. Kau tak henti mengungkap cinta kepadanya, meski tak sekali pun mendapat ucapan serupa.

Hingga akhirnya kalian mengulang perjalanan bersama ke Bali, dan keputusan itu pun harus dibuat. Aku ikut berduka akan keputusan itu, Are, andai saja aku dapat memberi bahuku saat itu kepadamu. Namun untunglah kau memiliki sahabat-sahabat seperti Bli Nugraha dan Ayudita yang dengan sigap mampu menjadi distraksi sakit hatimu melalui kegiatan positif kalian. Surat panjangmu untuk Ruth, mengungkap emosi yang sebenarnya mengenai pria yang sedang patah hati. Sampai di sini aku masih tak masalah untuk mengikutinya. Namun entah kenapa ketika kau menyertakan mimpi aneh yang berulang, aku mulai merasa apa yang kau ceritakan tak ubahnya dunia fiksi. Belum lagi, ketika bunga tidur itu akhirnya mewujud menjadi peristiwa yang menjadi penentu hubunganmu dengan Ruth. Sungguh, Are, jika penulis kisahmu lebih memilih cara lain dibanding mimpi dan peristiwa yang menurutku, absurd, aku akan lebih senang lagi menerimanya. Tapi ya… semua kembali kepada otoritas penulis hidupmu, kan? :)

Jadi, Are, di mana pun kau berada saat ini…. Aku ingin mengatakan terima kasih karena telah mengizinkanku membaca suratmu dan membolehkanku menilai suratmu seperti ini. Tahu tidak, tiap kali aku usai membaca kisah hidup orang lain, aku selalu disodori lima bintang untuk kembali disematkan pada kisah itu. Nah, sekarang aku hendak memberikan tiga di antaranya untuk tulisanmu, Are, surat untuk Ruth. Semoga kau baik-baik saja di sana, ya. :)

Salam hangat,

Dini Novita Sari.

[note: resensi ini diikutkan pada Indonesian Romance Reading Challenge 2014]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s