Ngerumpi Buku: Runaway Ran (Mia Arsjad, Gramedia Pustaka Utama, 2013)

Beberapa hari lalu, saya terpikir bikin rubrik baru di blog buku ini. Kalau biasanya saya meresensi buku yang telah saya baca dan mengungkapkan pendapat saya sendiri, saya jadi kepikir nih untuk tanya kesan pembaca lain terhadap buku yang sama tersebut. Nah, timbullah ide untuk Ngerumpi Buku, yaitu membahas kesan-kesan setelah membaca suatu novel, dan mengundang beberapa teman yang telah membacanya. Untuk edisi perdana Ngerumpi Buku, saya akan mengajak tiga orang teman saya untuk ngerumpiin novel Runaway Ran.

Runaway Ran-cover

Kenapa Runaway Ran? Karena itu termasuk novel yang baru saya baca dan lumayan rame ceritanya, saya lumayan menikmati konfliknya (klik resensiku di sini). Hehehe….

Nah, sebelum mulai ngerumpiin novel karya Mia Arsjad ini, mari saya ajak kenalan dulu dengan tiga orang teman sekaligus pembaca Runaway Ran:D.O.T

Ada Dian, Opan, dan Tammy. Kenalan dulu yuk  dengan mereka bertiga:

Dian

Nama panjangku Dian S Putu Amijaya. Sedang sibuk dan sebel sama aplikasi pemerintah yang katanya memudahkan, tapi ternyata bikin bergadang dan makan hati. *Eh, sorry curhat.😀 Aku bisa dijumpai di akun Twitter @DeeLaluna kalau sedang jadi Quiz Hunter. Tapi, bakal berubah jadi @dianputuamijaya kalau sedang promosi posting blog atau ikut event kepenulisan. Aku hobi baca dan aktif meresensi novel. Tulisanku bisa dinikmati gratis di blog dianputu26.blogspot.com.

Opan

Saya bernama asli Yovano Nalande tapi lebih sering dipanggil Opan. Sudah bisa baca-tulis sebelum masuk TK (masuk TK-nya umur 10 tahun kali ya?) namun saat dewasa malah sering banget typo. T_T | Hobi membaca, makan, tidur, dan menonton variety show Korea. Gampang banget nangis saat menonton video yang sedih-sedih. | Bekerja sebagai abdi negara yang selalu ditegur atasan karena nggak pernah berani ngomong di depan publik. (Aku kan orangnya pemalu, Pak… *diinjak pak bos*). | Suka meresensi buku di kandangbaca.blogspot.com | Bisa dihubungi via email: rubahungu@gmail.com / Twitter: @vaan_11.

Tammy

Aku Tammy Rahmasari, hobi mengumpulkan draf novel fantasi yang sampai sekarang belum pernah ada yang selesai. Hahaha… Suka baca buku dengan genre fantasi, romance comedy, misteri, dan thriller, tapi kadang-kadang aku juga suka nyicip genre baru yang sama sekali belum pernah aku baca. Dan saat ini, sedang mulai membaca buku anak yang ternyata ceritanya banyak banget yang bagus. Mau tengok blog resensi aku? Jangan lupa untuk klik teatimeandbook.blogspot.com. Oh ya akun Twitterku: @alizarinnn

Hehehe, udah cukup yaa kenalan singkatnya. Kalau mau tahu lebih lagi tentang mereka, silakan colek di akun Twitter-nya dan berkunjung ke blog masing-masing. Sekarang kita mulai aja yuk ngerumpiin Runaway Ran! ^.^

Hai, hai Dian, Opan, dan Tammy! Makasih yaa udah mau nyediain waktunya untuk jawab beberapa pertanyaanku tentang novel Runaway Ran. ^_^ Pertama aku mau tanya nih. Boleh dong dikasih tahu alasan kenapa kalian tertarik membaca novelnya Mia Arsjad ini?? Terus, berapa lama tuh bacanya, inget nggak? Hehe…

Opan: Halo Dinoy, trims sudah mengajak saya bergabung di acara Ngerumpi Buku. Jujur, ini pengalaman baru bagi saya. Agak-agak deg-degan, nih. Hehe. [emang acaranya juga baru kok, Kak! Hihihi.]

Saya dapet buku ini secara gratis ketika ada tawaran meresensi buku dari Gramedia. Alasan mengapa saya tertarik membaca buku ini (di luar karena gratisan ya, haha) karena saya sendiri belum pernah membaca karya Mia Arsjad sebelumnya. Saya penasaran, seperti apa gaya menulisnya? Ditambah lagi kover novel ini kece badai. Really like it! Soal berapa lama saya membaca buku ini saya lupa. Kalau lihat di Goodreads sih, enam hari. Tapi apa iya selama itu? Perasaan nggak deh, soalnya saya cukup menikmati novel ini.

Dian: Hai juga Mbak Dinoy! Wah, agak lupa juga sih kenapa aku jadiin novel ini sebagai wishlist-ku. Tapi sama kayak Opan, aku juga baru baca karya Mia Arsjad kali ini, dan aku langsung jatuh cinta sama cara berceritanya. Seru abis! Tipe novel kesukaanku. Hehehe Ehm… jadi dulu tertarik kayaknya karena unsur latar belakang pekerjaan si Ran, deh. Sebenarnya, aku nggak suka baca komik, tapi nggak tahu kenapa malah tertarik sama kehidupan seorang komikus. Dan, aku baca novel ini cukup singkat, untuk ukuranku. Hehehehe… tiga hari doang.

Tammy: Hai, Noy. Awalnya tertarik baca novel ini gara-gara liat review Ren (resensor, anggota BBI) yang katanya novel ini bagus banget, terus jadi tertarik bacanya deh. Aku bacanya agak lama, sampai tiga harian karena kepotong banyak kerjaan. Haha…

Wah, alasan kalian lumayan beragam yaa, dan ternyata waktu bacanya pun nggak terlalu lama, hanya beberapa hari. Lalu untuk konflik di dalam novel ini sendiri menurut kalian gimana sih, menarik nggak? Kenapa tuh?

Opan: Menurut saya, memang dalam novel ini lumayan banyak konfliknya. Saya rasa semuanya menarik kok. Malah, konflik Alya (sahabat karib Katrin) sempat mecuri perhatian saya, walau sebenarnya hanya sebagai konflik selingan. Saya berharap kisah Alya ini dibuat novelnya sendiri. <– saya juga mengemukakan pendapat saya ini dalam review saya.

Dian: Sebenernya, aku agak-agak males ngadepin konfliknya si Katrin di awal-awalnya. Tapi, waktu ketemu sama Ran, konfliknya mulai asik, renyah. Meskipun beberapa konfliknya mirip kayak sinetron. Pura-pura jadiin seorang cewek sebagai pacarnya hanya untuk balas dendam. Ergh… *garuk-garuk pantat sapi*

Tammy: Buatku konfliknya lumayan sih, cuma agak terlalu sinetron banget. Eh apa cocok ya kalo diangkat aja jadi sinetron? Tapi kalo kata aku sih, Katrin ini kelewat gampang banget jadi asisten komikus… karena yang aku tahu jadi asisten komikus itu nggak gampang.

Haha, iya setuju sama Opan, konflik di sini lumayan rame karena nggak cuma ngebahas Katrin. Dan bener banget, baca ini aku pun jadi sering membayangkan adegan sinetron, cocok tuh! Hihi. Lalu, menurut kalian, karakter Ran dan Katrina itu meninggalkan kesan seperti apa sih, sebagai hero dan heroine??

Opan: Saya kagum dengan sifat pantang menyerah Katrin. Demi memenuhi hobi belanja online-nya, ia memilih untuk mencari pekerjaan tambahan. Keren, kan? Sifat Katrin ini patut banget dijadikan contoh. Ya, meski awalnya ia terkesan manja, tapi pada akhirnya ia berkembang menjadi gadis yang memiliki kepribadian kuat.

Sementara Ran, ia semacam contoh ungkapan “don’t judge a book by its cover”. Tokoh Ran mengingatkan saya pada salah seorang teman dekat saya, sebut saja S. Sifat dingin dan jutek si S ini mirip banget Ran. Namun, setelah mengenal S lebih dekat, ternyata pribadinya hangat dan malah suka bercanda. Sangat bertolak belakang dengan yang ditampilkannya kepada orang-orang di luar “lingkarannya”.

Itulah kesan saya tentang Katrin dan Ran.😀

Dian: Buatku Ran dan Katrin tuh kayak segelas wedang jahe yang jahenya superbuanyak dan disedu pakai air mendidih. Katrin itu mirip jahe, menimbulkan kehangatan, tapi kalau kebanyakan ya bisa bikin panas juga. Maksudnya, makin kenal dia bikin makin “waow!” sama cara hidupnya, tapi perlahan jadi ketagihan gara-gara sifatnya yang ternyata baik banget. Kalau Ran tuh kayak air panasnya. Pertama dihirup dulu… kalau nggak hati-hati bisa lecet nih lidah. Tapi, beberapa saat kemudian, dia akan berubah jadi hangat dan menyenangkan.

Tammy: Kalau kata aku, karena kedua tokohnya alami dan bukan seorang superhero, jadi ya biasa aja. Hehe :p

Untuk Katrin, awalnya gengges banget! Tapi makin lama dia makin lumayan. Sikapnya sedikit demi sedikit juga mulai berubah. Nah kalo untuk Ran agak sebaliknya nih, awalnya oke tapi makin lama agak ngeselin. Terutama tentang masalah Viana itu…

Dian: Aku sependapat sama Mbak Tammy, Ran emang oke di awal. Tapi, lama-kelamaan nggak ngeselin kali mbak. Hehehehe… Dia malah makin gemesin, tapi pas sama Katrin. Kalo sama Viana, oke, dia emang terkesan alay.

Hmm… jadi kalau boleh kusimpulin, tokoh Katrin tuh lebih mendominasi ya karena sikapnya yang lebih ekspresif. Sementara Ran… tenang-tenang menghanyutkan!😀 Terus, setuju nggak sih sama resensiku yang bilang kalau novel ini agak berisik karena pemborosan huruf dan tanda baca, terutama di dialognya? Atau menurut kalian, tetap enjoy-enjoy aja bacanya? Hehe… ^^

(contoh: Chubby bangeeeet….; Jelek banget kalo puceeet….; Kekeeeetttttt!!!)

Opan: Saya sudah baca resensinya Dinoy. Uhm… saya pribadi sih nggak merasa terganggu sama sekali. Mungkin karena saya telanjur terbawa suasana, sehingga nggak terlalu memperhatikan hal-hal yang Dinoy sebutkan di atas. :p

Dian: Kalau aku sih nggak terlalu terganggu ya, Mbak. Selama cara berceritanya seru, no problem, lah! Tapi, ada benarnya juga, sih, resensi Mbak Dinoy yang bilang mending dibikin POV 1. Karena penulis hampir 85% lebih fokus sama Katrin.

Tammy: Duh, Noy… aku keganggu banget sama tanda baca dan huruf kebanyakan itu. Ujung-ujungnya justru kayak naskah mentah yang belum kena proses editing sama sekali. >.<

Wew, memang bener ya satu tulisan yang sama kalau dibaca orang-orang yang berbeda, ya kesannya beda juga. Buktinya kalau aku dan Tammy merasa lumayan terganggu dengan cara penulisan yang boros huruf dan tanda baca, tapi Opan dan Dian biasa aja tuh!😀

Nah sekarang kita bahas satu tokoh antagonis, yang namanya Viana yang gangguu banget! Ahahaha. Kalau nih, kalau kalian jadi Katrina dan dikasih kesempatan buat “ngerjain” si Vianna, kalian bakalan ngapain cewek ini??😀

Opan: Sebagai cowok, pantang bagi saya untuk mengasari perempuan. #pencitraan

Eh, tapi pertanyaannya kalau saya jadi Katrin, kan? Hmm… JAMBAK! Iya, saya bakalan menjambak Viana. Hahahaha. Eh, tapi kasihan juga sih. Uhm. Biarin aja deh, seperti yang Katrin lakukan. Toh pada akhirnya Viana mendapat balasanya sendiri. *narasumber labil*

Dian: Apa, ya? Uh, bingung juga, sih. Aku kan berhati malaikat, Mbak Dinoy. #eaa Kalau disuruh ngerjain orang aku agak-agak nggak tegaan. Paling, nyungsepin permen karet di rambutnya aja, sih. Nggak jahat kan yaa?[yah, ngerepotin banget itu mah! Wkwk]

Tammy: Kalau aku… pengen ngelakban mulutnya! Wkwkwk [o_O]

Oh ya di sini juga ada cerita tentang Alya—sahabatnya Katrina—yang pacaran sama Adit dan ternyata si Adit ini adalah cowok berengsek. Nah menurut kalian, sebenernya perlu nggak sih nyeritain tentang Alya dan Adit ini dengan porsi yang lumayan banyak? Dan apa signifikansinya dengan cerita antara Katrina dan Ran?? [Jadi ceritanya Alya cinta mati sama Adit, mau aja nurutin semua kemauan si Adit dan ternyata ketahuan kalau Adit sudah…. *ups, almost spoiler! :p]

Opan: Justruuu… kisah Alya ini, seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, cukup mencuri perhatian saya. Kalau memang Mia Arsjad ada rencana menuliskan kisah Alya dalam sebuah novel utuh, saya sangat mendukung!

Pengaruhnya dalam cerita sendiri, adalah memberi kesempatan Katrin untuk tampil sebagai sahabat yang mampu melindungi Alya. Seingat saya sih gitu, hehe. Maaf kalau agak lupa. ^^

Dian: Sebenarnya emang nggak signifikan sama ceritanya. Tapi, karena kisah Alya dan Adit ini, aku bisa makin terpesona sama Ran… Oh, dia keren banget saat menjadi pahlawan untuk Alya. Dan cerita Alya sendiri kayak nambah pesan dari cerita. Meskipun, aku lebih suka kalau Alya dan Adit dibikin novel sendiri aja.  

Tammy: Kalo aku sih nggak masalah dengan cerita Alya dan Adit, bagus juga sih karena ada pesan moral dibaliknya. Justru dengan adanya cerita seperti yang dialami mereka, Ran dan Katrin jadi makin deket😀

Dear Kak Mia, udah dua orang nih yang request… bikin novel khusus Alya, yuk!😀

Terus… ceritanya sekarang sok-sok mau bikin imaginary cast yuk! Menurut kalian, artis siapa aja yang cocok meranin jadi  Katrina, Ran, Alya, Viana, Pak Ridwan (ayahnya Ran), dan Gatot? Boleh artis Indonesia atau luar negeri juga bebaas. Hehehe…

Opan: Oke, saya menyerah. Saya nggak punya bayangan artis mana saja yang dapat mewakili tokoh-tokoh dalam novel ini. Untuk Ran sendiri, saya membayangkan dirinya sebagai S, teman yang saya sebutkan tadi. Hehe.

Dian: Hahahaha… jujur, aku cari pemeran-pemerannya sambil googling dan mantengin tampang masing-masing artis. Lalu, nginget karakternya atau cuma nyocokin karakter tokoh sama wajahnya doang. Dan, ini hasilnya…

RR cast by Dian

Katrina: Velove Vexia. Alasannya, ini bocah agak gokil dan cara ngomongnya agak terererettt… mirip si Katrin.

Ran:  Marcel Candrawinata. Wkwkwkwk… random nih,Mbak. Tapi, kayaknya cocok, deh. Karena menurutku dia ini cukup cool, bisa bikin meleleh, pinter pula kalau disuruh flirting.

Alya: Risty Tagor. Kenapa? Karena ini anak wajahnya baik dan agak-agak keibuan. Cocok banget jadi penasihat si Katrin

Viana : Kymbely Ryder. Cewek satu ini bikin aku enek banget saat jadi pemain di Perahu Kertas. So, dia mungkin lebih bisa jadi makin enek kalau jadi Viana.

Pak Ridwan : Didi Petet. Em, kadang bapak satu ini bisa banget kalau suruh pasang memelas.

Untuk Gatot aku lupa gimana karakternya, Mbak. Hehehehe.

Tammy: Hmm, agak ribet sebetulnya kalo disuruh pilih imaginary cast. Aku kurang tahu artis-artis Indonesia. Dan nggak tahu kenapa, karena rada-rada komik kebayangnya itu artis Jepang😄

RR cast by Tammy

Katrin: Kitagawa Keiko. Alasannya dia cantik dan modis seperti Katrina.

Ran: Hmm… siapa ya? Yamashita Tomohisa alias Yamapi deh. Karena selain dingin dan galaknya dapet, dia kadang sweet banget :3

Viana: Ayase Haruka

Alya: Yoshitaka Yuriko, karena aku nangkep pembawaannya agak mirip Alya yang kadang rapuh dan kuat.

Pak Ridwan: Takanori Jinnai

Gatot: aku lupa Gatot itu seperti apa. Maaf ya >.<

Oke, terakhir, aku baca salah satu opini di Goodreads, bahwa novel ini mengobati kekangenan kita akan jati diri Metropop yang sebenarnya. Apa pendapat kalian sama pernyataan itu? J

Opan: Naah, giliran saya yang mau bertanya nih: Memangnya jati diri novel Metropop seharusnya seperti apa? Karena jujur saja, saya termasuk pembaca yang terlambat “menceburkan diri” ke dunia Metropop. (Dulu, saya lebih sering membaca buku anak-anak, cerita-cerita fantasi, dan novel-novel terjemahan.)

Saya yakin para pembaca butuh variasi bacaan meski masih dalam lini yang sama (dalam hal ini Metropop). Jadi, sah-sah saja sih apabila ada komentar bahwa novel Metropop yang baik itu harusnya seperti ini, seperti itu, dsb. Selera setiap pembaca tentu berbeda-beda. Ada yang suka metropop seperti Runaway Ran, pasti ada pula yang suka dengan metropop seperti {isi dengan judul novel/penulis Metropop favorit Anda}. Sekali lagi, kembali ke selera masing-masing pembaca.🙂

Dian: Nggak juga, Mbak. Aku kadang menemukan model cerita Metropop begini di beberapa novel yang nggak ada label Metropopnya. Dan menanggapi Opan, beberapa saat yang lalu aku juga punya pertanyaan seperti ini. Bahkan, aku bingung sama perbedaan antara  Metropop dan Chicklit. Dan sekarang, aku makin bingung karena ada genre baru, Amore. Nah, menurutku, tiga genre ini beneran mirip, deh. Cuma tingkat hot-nya aja yang beda. Chicklit lebih hot dari pada Metropop. Wkwkwkwk… ini cuma pemikiranku, sih. Dan Amore nggak se-glamor cerita di Metropop. Aku nggak tahu, deh mana yang benar.

Tammy: Karena sebetulnya aku jarang baca Metropop, jadi ya biasa aja. Nggak sampai ngecap begitu juga. Setuju dengan Dian bahwa kadang ada model cerita yang begini juga di buku lainnya.

*Angguk-angguk kepala* Okaay, terima kasih banyak ya Opan, Dian, dan Tammy sudah berbagi opini dan kesannya setelah membaca Runaway Ran!😀 Lain kali ngobrol seru lagi, yuk! Tetap semangat membaca dan berbagi pendapat tentang buku buat teman-teman lainnya yaa. ^^

Nah buat kalian yang mau tahu lebih lengkap pendapat mereka tentang novel Runaway Ran, baca resensi mereka masing-masing yaa. Nih aku kasih link-nya:

Resensi Opan: http://kandangbaca.blogspot.com/2013/09/runaway-ran-by-mia-arsjad.html

Resensi Dian: http://dianputu26.blogspot.com/2013/11/resensi-runaway-ran.html

Resensi Tammy: http://teatimeandbook.blogspot.com/2013/11/book-review-49-runaway-ran.html

Sampai jumpa di episode Ngerumpi Buku lainnya! Kalian ada ide buku apa untuk dirumpiin, atau malah mau jadi salah satu rumpiers-nya juga di blogku?? Hihihi, gampang, komen aja di artikel ini buku pilihanmu. Syaratnya, buku itu sudah aku resensi di blog ini dan kamu juga kudu nyertain link resensimu sendiri (boleh di blog atau Goodreads). Siapa tahu akan jadi pertimbanganku, kan!😉

3 thoughts on “Ngerumpi Buku: Runaway Ran (Mia Arsjad, Gramedia Pustaka Utama, 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s