Hai Mbak Netty! ^^ [+ Giveaway]

Hai Author! Kali ini menyapa penulis yang kukenal karena salah satu naskahnya aku bantu edit. Namanya Mbak Netty Virgiantini. Mungkin temen-temen sudah nggak asing dengan nama ini karena dia telah merilis 12 novel, beberapa di antaranya seperti gambar berikut:

Netty'sBooks

Bisa nebak novel mana yang kuedit? Hehe, novel itu berjudul Telaga Rindu yang diterbitkan oleh Grasindo. Nah, aku kagum dengan keproduktivitasan Mbak Netty dalam menulis. Jadi pengin tahu rahasianya deh. Kamu (iya, kamu! ^^) mau tahu juga nggak?? Yuk disimak wawancaraku bersama Mbak cantik nan baik hati ini…😀

Hai Mbak Netty, apa kabar? Terima kasih ya untuk kesediaannya menjawab beberapa pertanyaan dariku. Nah pertama, ayo perkenalan diri dulu dong. Bisa dimulai dengan aktivitas sehari-hari Mbak Netty apa aja sih… juga awal mula Mbak Netty masuk ke dunia kepenulisan. :)

Halo, perkenalkan saya Netty Virgiantini, yang suka ngaku-ngaku sebagai penulis bonek. Kenapa bonek? Karena saya dulu fans berat klub bola Persebaya (eh.. nggak ada hubungannya ding..). Maksudnya bonek, karena saya mulai menulis dengan modal nekat. Belajar dan berguru secara otodidak dari koleksi bacaan yang saya punya.

Aktivitas sehari-hari, ya seputar menulis, baca buku, ngobrol-ngobrol sama teman, ngelamun di kos, ngenet, dan yang paling sering menyusuri jalan untuk memunguti kisah yang berserak dan merangkainya menjadi cerita. Selama ini saya tinggal nomaden di berbagai kota. Pindah-pindah antara Magetan-Solo-Jogja-Semarang-Surabaya-Malang. Bisa dibilang saya adalah saingan berat bus AKAP… :)

Awal mula masuk ke dunia penulisan, sebetulnya melewati perjalanan yang cukup panjang. Saking panjangnya mungkin hanya bisa disaingi oleh sinetron Tersanjung dan Cinta Fitri yang mencapai ribuan episode.. :p

 Sebelumnya, saya adalah pekerja kantoran yang sudah 7 kali pindah kerja di berbagai perusahaan dan di berbagai kota besar di pulau Jawa. Untuk soal pindah-pindah kerja ini, saya bersaing ketat dengan kucing beranak, yang konon kabarnya selalu mindahin anaknya sampai 7 tempat. 😀 Lepas dari kerja kantoran, saya mencoba bisnis batik Pekalongan, dilanjutkan buka kios aksesori di rumah sambil menemani orangtua. Nah, pas punya kios itulah saya punya banyak waktu luang, dan mulai coba-coba menulis. Bener-bener mulai dari nol dan ngerasain sensasinya ketika hampir semua naskah saya dikembalikan. Saking seringnya ditolak, sudah tak sempat merasa sedih lagi. Ada satu kalimat sakti yang selalu saya gunakan untuk menghibur diri, “lebih baik naskah ditolak, daripada cinta ditolak!” Sampai sekarang, surat-surat penolakan itu saya kumpulkan, mungkin jumlahnya sudah memenuhi kuota jumlah halaman untuk dijadikan sebuah novella.. 🙂 Kalau disebutin tahunnya, saya mulai menulis sekitar akhir tahun 2006 dan novel pertama “Mama Comblang-Jodoh Itu di Telapak Tangan Mama”, terbit di Gagas Media bulan April 2008. 

Mbak Netty kan sudah merilis selusin novel nih, belum lagi novelett-nya. Nah yang aku mau tanyakan, dari sekian banyak tulisan dengan berbagai segmen (remaja sampai dewasa), gaya menulis seperti apa sih yang Mbak Netty pertahankan? Yang pembaca bakal selalu temukan di novel-novel karya Mbak Netty.

Tulisan saya selalu menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, ringan, dan tak ketinggalan, sebagai jamaah Srimulat dan keponakannya Cak Kartolo (iki asli ngaku-ngaku), selalu ada selipan guyonan di dalam cerita. 

Masih berkaitan dengan keproduktivitasan Mbak Netty. Biasanya ada ritual-ritual menulis tertentu nggak? Misalnya biar dapat ide mesti ke mana, atau ngapain gitu? Terus apakah juga selalu ada target menulis, misalnya dalam sebulan harus jadi satu naskah atau gimana gitu?

Ritual khusus nggak ada. Paling-paling harus makan dulu sebelum nulis, karena kalau perut lapar saya nggak bisa mikir. Tapi nggak boleh juga kekenyangan, karena bikin ngantuk. Beberapa kali kepala saya menghantam laptop karena ketiduran.. (don’t try this at home!) :D

Kalau ide, nyarinya nggak jauh-jauh, dari sekitar saja. Salah satu keuntungan tinggal nomaden di berbagai kota, saya jadi mengenal banyak karakter-karakter baru dan suasana baru yang sangat membantu saat menulis cerita. Kadang ide itu malah dari diri sendiri. Contohnya, novel “The Kolor of My Life” yang menang lomba menulis cerita konyol remaja di GPU tahun 2008, itu idenya dari hobi saya pakai celana kolor batik di rumah. Novel “Makhluk Tuhan Paling Katrok!” Idenya dari pengalaman saya yang nggak kuat sama AC.

Target menulis inilah yang sedang saya usahakan dengan kesungguhan hati. Saya agak payah kalau sudah berhubungan dengan disiplin waktu. Harus belajar keras mendisiplinkan diri. Sekarang berusaha memenuhi target dalam setahun harus bisa menulis minimal 4 cerita baru (maksimal satu cerita dikerjakan selama 3 bulan). 

Lalu, novel Mbak Netty juga nggak cuma diterbitkan di satu-dua penerbit, tapi lebih dari tiga penerbit berbeda malah. Bisa diceritakan nggak suka-dukanya nulis di penerbit berbeda? Ceritakan yaa, Mbak… :)

Sukanya bisa punya banyak pengalaman. Tiap penerbit kan beda-beda karakternya. Dukanya, kadang bingung sendiri, naskah ini mau saya kirim ke penerbit yang mana ya?

Oke, sekarang kita bahas novel terbaru Mbak Netty yaitu “Telaga Rindu”. Pertanyaan pertama, kenapa sih memilih Telaga Sarangan sebagai setting tempat cerita? Apakaah… ada kenangan tertentu dengan tempat tersebut?? Hayooo… *korek-korek rahasia*

Kenapa Telaga Sarangan? Karena itu tempat favorit saya untuk menenangkan diri tiap pulang ke Magetan. Saya suka perasaan tenang, sejuk, dan damai saat duduk di tepi telaga sambil makan sate kelinci. Selama ini saya sering mengambil setting kota-kota kecil, yang menurut saya tak kalah menariknya dengan kota besar. Kalau soal kenangan… ehem… ehem… pokoknya cihuuuuy…🙂

Lalu, menciptakan karakter Dipa yang cool dan Nala yang manis. Inspirasinya dapat dari mana tuh, Mbak? Apakah ada tokoh di dunia nyata yang dijadikan patokan? Bagi-bagi tipsnya juga ya Mbak dalam membangun karakter. ^^

Sejujurnya, karakter Dipa itu sosok seseorang yang pernah dekat (semoga orangnya nggak baca… semoga orangnya nggak baca… *dirapal 100 kali*). Kalau sosok Nala yang manis itu lebih ke pengamatan pada remaja-remaja yang tinggal di kota kecil. Kebanyakan mereka masih sederhana, malu-malu, dan dekat keluarga.

Untuk membangun karakter, saya lebih sering memakai orang-orang di sekitar dan saya kenal dengan baik. Nggak diambil ‘plek’ atau persis, tapi dicampur-campur biar jadi karakter yang baru. Buat saya itu lebih mudah dan bisa jadi karakter yang lebih kuat.

Nah Mbak Netty kan menulis novel remaja di usia yang bisa dikatakan sudah tidak remaja lagi *dikepruk botol* hihihi. Pertanyaannya, gimana cara Mbak Netty masih bisa tetap nyambung dengan dunia remaja sekarang saat menulis “Telaga Rindu”? Misalnya dengan candaan atau celetukan khas mereka gitu.

Lho? Siapa bilang saya sudah tidak remaja lagi…??!! *benerin poni* 😀

Kebetulan saya dekat dengan keponakan-keponakan yang masih SMA dan sering ngobrol seru dengan pembaca-pembaca remaja. Jadi tahulah pergaulan mereka gimana. 

Sebagai penulis yang sudah terbit banyak buku dan pasti sering terima komentar dari pembaca, sebutkan dong komentar pembaca yang paling nggak bisa Mbak Netty lupain sampai sekarang.😀

Pernah ada pembaca yang berkomentar bahwa novel saya adalah buku terburuk yang pernah ia baca. Dan ia menyesal kenapa buku saya sudah lumayan jumlahnya dan berharap saya tidak menulis lagi. Komentar itu sempat membuat saya merenung, tapi berulangkali saya baca, ini kok rasanya lebih pada suka dan tidak suka. Saya terbuka dengan kritik yang keras, bahkan sepedas oseng-oseng mercon di Jogja sekalipun. Maksudnya, kritik yang mau menyebutkan poin-poin kekurangannya di mana. Justru hal itu yang membuat saya banyak belajar.Tapi, kalau asal maki-maki nggak jelas, ya buat apa diladenin? Dan untuk usul supaya saya berhenti menulis, asal orang itu bersedia memberi uang bulanan yang cukup untuk hidup mewah… akan saya pertimbangkan.. :p *sodorin nomor rekening bank*

Komentar lain yang tak terlupakan adalah ketika ada pembaca yang bilang kalau novel saya selalu menemaninya saat patah hati. Setiap merasa sedih dan ingin menangis, ia baca dan bisa tertawa. *sujud syukur* 

Okee, terima kasih Mbak Netty buat waktunya menjawab beberapa pertanyaanku. :D Terakhir, Mbak Netty silakan menyampaikan apa pun buat pembaca buku atau pengunjung blog ini. Bebas lho Mbak mau promo, titip salam, asal nggak pesan Indomi Telor Keju Kornet ajah sih *opo toh*.

penampakan Mbak Netty sing ayu

penampakan Mbak Netty sing ayu

Baiklah, sebagai fans berat Cak Kartolo, saya hanya akan memberikan satu parikan untuk teman-teman sebangsa dan setanah air tercinta. 🙂

Nongkrong nang ngisor uwit randu, tuku sekoteng jaluk imbuh putu ayu

Ayo tuku novel Telaga Rindu, mesti mundak ganteng lan tambah ayuuu… 🙂

[Hihihi, aduuh, kasihan nih yang pada roaming nggak ngerti bahasa Jawa. Yuk sini aku artiin parikan alias pantunnya:

Nongkrong di bawah pohon randu, beli (minuman) sekoteng minta bonus (kue) putu ayu

Ayo beli novel Telaga Rindu, mesti tambah ganteng dan tambah ayuuu…]

Naaah… Habis nyimak wawancara dengan Mbak Netty Virgiantini, jangan lupa yaa colek-colek dia di akun Twitter @NettyVirgiant. Lalu, aku bekerja sama dengan Mbak Netty bakalan bikin giveaway berhadiah satu novel Telaga Rindu nih, yang pastinya ditandatangani oleh Mbak Netty sendiri. Oh ya, aku kasih tahu dulu yaa sinopsis Telaga Rindu seperti apa:

TelagaRindu-cover

Setelah tiga bulan lamanya pergi tanpa kabar dan alasan yang jelas, Dipa tiba-tiba menghubungi Nala. Ia berjanji untuk datang menemui Nala di suatu tempat yang telah mengukir kenangan indah mereka berdua ketika menautkan hati.

Dalam suasana syahdu Telaga Sarangan, sepanjang hari Nala terbelenggu rasa resah dan gelisah. Menanti-nantikan saat ia dapat melihat kembali sosok yang selalu membayangi hari-harinya, dalam belitan rasa rindu yang selama ini coba diredamnya dalam diam.

Entah mengapa, tiba-tiba ada ragu yang terasa mengganggu. Menyelinap begitu saja bercampur keresahan dan kegundahan. Dalam luapan rasa suka yang sempat mencerahkan hati Nala, ada satu pertanyaan serupa firasat yang mengusik batinnya,
sampai waktu menjelang tengah malam tiba. Apakah Dipa akan menepati janjinya…?

Novel ini segmennya remaja, dengan tema drama, romance, misteri, tapi ada juga lucu-lucunya khas Mbak Netty. ^^ Mau jadi satu orang yang beruntung? Setelah diskusi bareng Mbak Netty, jadi teman-teman diminta untuk bikin puisi pendek nih, tiga baris aja, yang bertema “rindu” alias “kangen”. Nggak susah toh yaa…😀 Ini contoh puisi tiga baris dari Mbak Netty:

Malam kelabu

Angin menderu

Rinduku menggebu…

(Ingat, puisinya 3 baris saja, bertema rindu, buat sememikat mungkin, biar dipilih Mbak Netty!🙂 )

Lalu, ini beberapa ketentuan kuisnya:

  1. Peserta tidak dibatasi usia, asalkan memiliki alamat di Indonesia untuk pengiriman hadiah jika menang.
  2. Jawaban ditulis di kolom komentar artikel ini, diakhiri dengan nulis nama dan akun Twitter-nya.
  3. Periode kuis dari tanggal 03-11 Mei 2014, dan pengumuman pemenangnya di tgl 15 Mei 2014 di akun Twitter-ku yaa @dinoynovita. :)
  4. Setelah memberi jawaban, mohon share tentang kuis ini di Twitter. Yang harus ada di status: ajakan untuk baca artikel ini, copy paste link artikel ini, hashtag #QuizTR lalu cc @dinoynovita. Oh ya, karena aku nggak suka “diteror” maka satu akun ngetwit sekali aja yaah.

Oke deh, begitu syarat-syarat giveaway-nya. Ditunggu partisipasinya ya teman-teman… ^^

20 thoughts on “Hai Mbak Netty! ^^ [+ Giveaway]

  1. Ihiyy, ikutan ahh~ *ketipketip ke dini n mbak netty*

    Puisi Rindu:

    Langit malam melenakan kisah kita,
    Digugurkannya bintang di pantulan telaga,
    Lihatlah, ada rindu kita terbias di sana…

    #eaaa
    Ratih Desiana @rnight_desiana

  2. Dini Novita Sari,
    Bersama dengan Netty Virgiantini, mereka bernyanyi,
    membuat rinduku pada buku berbunyi…

    Avifah @ZahraAvifah

  3. Inilah lukisan rindu..
    Saat aku merajuk waktu..
    Saat kamu tak berpijak lagi di sampingku..

    Nama: Retno Rizqi Wulandari
    Twitter: @ter_onter

  4. Hallo mbak!!! Ikuuutan yaaa!!

    rindu menawanku
    mengikatku dalam waktu
    berharap pangeran datang membebaskanku

    Nama: Ayuni Adesty
    Twitter : @ayuniadesty

  5. Haloo Mbak, ikutan ya?🙂
    Ah keren ini Mbak Netty, produktif sekali, selamat Mbak atas novel Telaga Rindu yaa, sukses terus yaa^^

    Rindu hadir merenda kalbu..
    Tersayat bagai sembilu..
    Adakah kau merindukanku?

    Sasa
    @supernovaD_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s