Hai Jessica!

Bersamaan dengan posting bareng BBI buku bertema perempuan, di mana saya memilih untuk membaca dan mengulas novel Galila, maka saya juga berkesempatan untuk mewawancarai sang penulis. Kak Jessica Huwae, yang sebelum ini telah merilis karya yaitu novel Soulmate.com dan kumpulan cerpen Skenario Remang-Remang. Nah, pada mau tahu nggak cerita di balik penulisan novel terbarunya, juga pandangannya mengenai perempuan?🙂

JessicaHuwae'sBooks

Hai Kak Jessica, terima kasih ya untuk kesempatannya bertanya-tanya.🙂 Nah aku pengin mengulik tentang novel Galila nih. Pertanyaan pertama, bagaimana sih proses Kak Jessica menemukan dan memilih nama “Galila” untuk menjadi tokoh utama sekaligus judul novel ini?

Nama tokoh utama di novel ini dulu sebenarnya bukan Galila; akan tetapi sekitar dua tahun lalu, tiba-tiba merebak salah satu kasus dari salah satu artis sinetron yang namanya sama dengan nama awal tokoh ini. Karena telanjur “ilfil” (hehehe…), lantas saya berpikir untuk mengganti namanya. Nama itu harus unik, namun juga terdengar feminin—dan ada sedikit unsur misteriusnya. Lucunya, nama Galila justru pop up begitu saja dalam pikiran saya waktu sedang merenung mencari pengganti nama itu. Saat saya riset, nama Galila dalam bahasa Ibrani artinya: “yang ditebus Tuhan.” And I just love it!

Bisa tolong diceritakan dong, proses Kak Jessica mendapatkan dan mengolah ide dasar cerita ini? Termasuk juga pembentukan karakternya. ^^

Ide ceritanya sendiri berawal waktu saya untuk pertama kalinya menginjak tanah Maluku di tahun 2006. Terus terang ada perasaan sentimentil gila-gilaan waktu saya pulang kampung itu. Pertama, karena ayah saya (yang orang Ambon asli) sudah wafat—dan yang kedua, melihat Ambon yang waktu itu sedang terus berbenah diri pasca konflik. That was quite heartbreaking, bagaimana agama bisa jadi pedang yang memisahkan orang-orang bersaudara ini. Padahal Ambon itu sangat indah, lho. Pantai-pantainya bagus, ikannya enak dan segar, minyak kayu putih murah (uhm, ini penting, bagi penderita masuk angin hardcore seperti saya). Perjalanan tersebut juga membawa pencerahan bagi saya, bagaimana ayah saya menempuh perjalanan panjang dari kampung halaman ke Jakarta—dia melawan semua perasaan asing, perasaan takut karena nggak kenal siapa-siapa di Ibukota sampai akhirnya bisa made it di Jakarta. Waktu itu saya berjanji sama diri saya sendiri bahwa saya kelak harus menuliskan cerita yang memakai latar belakang tanah leluhur ayah saya.

Karakter Galila ini sendiri sangat kompleks, sekaligus kasihan. Dia dikeraskan oleh pengalaman hidup, kehilangan figur ayah lantas kemudian ibu yang akhirnya membuat dia menjadi hilang arah, berjarak dengan orang lain sekaligus melakukan banyak kesalahan-kesalahan masa muda, karena tidak ada yang menjaganya. Semua serba kontradiktif di dalam hidupnya; dia besar di lingkungan religi yang kuat, namun yang dia lihat—dan kemudian dia lakukan justru bertentangan dengan itu. Namun faktor itu juga yang membuat Galila menjadi sosok yang fearless, yang tanpa ragu mengadu nasibnya ke Jakarta dan bekerja keras—karena di satu sisi dia tahu bahwa dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk masa depannya. 

Lalu, di novel ini Kak Jessica membahas tentang dunia hiburan. Bagaimana sih cara Kak Jessica meriset segala polemik dalam dunia ini? Apakah background Kakak yang pernah bekerja di majalah gaya hidup juga ikut mempermudah menulis seluk-beluk dunia hiburan di novel ini?

Iya. Saya banyak terbantu dengan pengalaman saya bekerja di media gaya hidup—apalagi saya juga ditempatkan di desk hiburan yang fokusnya di musik, film dan buku, sehingga hal-hal ini jadi sesuatu yang akrab bagi saya. Selain itu, di pertengahan tahun 2000-an, saya dan beberapa teman sempat membuat usaha jasa manajemen artis—jadi memang mengalami first hand experience di sana, ha ha ha!

Di sini juga dibahas perihal dua suku di Indonesia; yaitu Batak dan Ambon. Mengapa Kak Jessica memilih dua suku tersebut untuk dibahas? Dan bagaimana juga risetnya?

Kalau pemilihan suku Ambon, karena memang ide Galila lahir waktu saya berkunjung ke Maluku. Saya ingat waktu itu sepupu saya bilang, “Usi, kapan ya saya bisa ke Jakarta?”. Waktu itu saya keheranan, kok kamu tingal di daerah yang bagus begini masih mau merantau ke Ibukota. Tapi akhirnya saya paham, bahwa Jakarta masih punya pesona yang memikat bagi sebagian orang. Saya juga ingin mengangkat karakter yang berasal dari Indonesia Timur, sementara suku Batak (suku asal ibu saya) juga memiliki keunikan—terutama dalam urusan perjodohan ini. Tidak semua suku Batak “sekencang” itu memang, dan tokoh Hana bukan generalisasi dari semua Ibu-Ibu Batak juga, akan tetapi Hana juga mewakili banyak ibu-ibu yang sebenarnya hanya menginginkan jodoh yang terbaik bagi anaknya—dan menurut saya, itu sangat manusiawi.

Untuk riset, selain melakukan observasi di kampung halaman, saya banyak melakukan wawancara dengan saudara-saudara saya yang memang berasal dari Ambon, terutama soal Ambon pasca kerusuhan. Sementara untuk budaya Batak, narasumber saya adalah Ibu saya sendiri yang rela menulis 12 halaman portfolio tentang istilah-istilah dan tradisi Batak. Kemudian ada sahabat saya Sonya Tampubolon sebagai narasumber untuk penyebutan nama-nama Batak, sahabat saya lainnya yang lulusan Sastra Belanda untuk istilah dalam bahasa Belanda dan tentunya suami saya, metal music enthusiast, sebagai narasumber saat saya memasukkan soal black metal dalam salah satu bab novel ini.

Di novel ini banyak juga disampaikan pesan moral bahkan kutipan-kutipan dari Alkitab yang dibaurkan dalam narasi dan dialog. Sebenarnya, secara keseluruhan pesan apa sih yang ingin Kak Jessica sampaikan melalui novel ini?

Dari dulu, saya memang menyukai unsur sastra yang terdapat di dalam Alkitab. Terutama di Perjanjian Lama, bagaimana suatu pesan ditulis dengan keras, padat akan nilai namun sekaligus sangat sastrawi (Misalnya Kitab Mazmur, Pengkhotbah, Amsal). Bisa dibilang Alkitab adalah bacaan bermuatan sastra yang pertama saya baca. Kalaupun banyak mengutip dari Alkitab (yang sedikit disadur) karena latarbelakang tokoh utama, Galila, sendiri yang memang besar di lingkungan religius—walaupun dia merasa tidak pernah “menemukan” Tuhan dalam kesehariannya—namun sebenarnya Tuhan justru menunjukkan banyak kemurahan dan kebaikan hidup baginya. Pengutipan beberapa ayat dilakukan memang karena dirasa pas saja, jadi bukannya saya ingin “preachy” terhadap pembaca saya.  :)

Bicara tentang perempuan sebagai tema juga di novel ini. Bagi kak Jessica sendiri, di zaman modern seperti sekarang ini, apakah masih ada perbedaan dalam hal perempuan meraih cita-citanya jika dibandingkan dengan laki-laki? Mengapa?

Kalau di Jakarta—atau setidaknya di kalangan kelas menengah ke atas, perbedaan ini mungkin sudah tidak ada ya. Akan tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa di banyak tempat, kesetaraan gender dalam mengejar cita-cita itu masih timpang. Dan itu kadang dimulai dari lingkungan keluarga sendiri; misalnya anak laki-laki mendapat prioritas utama dalam hal pendidikan, karena dianggap kelak akan mencari nafkah sementara anak perempuan toh akan menikah dan ikut suami. Padahal perempuan bersuami tetap harus menjadi perempuan yang berdaya, bukan? Hal ini bukan melulu lagi soal perempuan akan jadi “nyonya” nggak perlu bekerja atau mendapat kesempatan yang layak dan lain sebagainya—hal ini secara langsung juga akan memengaruhi mental sang perempuan yang merasa dirinya memang “didesain” untuk mengalah, tidak berani punya ambisi, tidak berani mengambil keputusan, warga kelas dua, dan lain sebagainya. Jadi memang semua berasal dari keluarga. Kalaupun berada dalam lingkungan yang menekan dan menyudutkan, dukungan keluarga yang kuat akan menjadikan perempuan ini kuat.

Lalu, perempuan dan dunia kepenulisan, khususnya fiksi. Menurut Kak Jessica, seberapa besar peran perempuan dalam hal menulis fiksi dan membawa citra dirinya (sebagai perempuan) melalui tulisan-tulisannya?

Saya rasa penulis perempuan sekarang sudah punya suara dan berani bersuara untuk dirinya—dan hal-hal yang dipercayainya/diperjuangkannya. Makanya ada yang fokus pada sastra pembebasan, perjuangan, kesetaraan gender dan lain sebagainya—dan itu tidak melulu jatuhnya ke sastra serius loh. Dalam genre chiclit pun, penulis perempuan banyak membangun karakter mengenai perempuan modern, mandiri, mereka bekerja untuk diri sendiri, traveling ke mana pun mereka suka, mencari jodoh yang mereka sukai—itu merupakan gambaran perempuan masa kini, bukan?

Nah berkaitan dengan pertanyaan di atas, ada nggak penulis perempuan dan juga karya tulis bertemakan citra diri perempuan yang sangat menginspirasi bagi Kak Jessica? Beri alasan juga ya, Kak.🙂

Nawal El-Saadawi, seorang penulis perempuan asal Mesir yang menulis salah satu buku favorit saya, “Perempuan di Titik Nol.” Nawal itu perempuan yang berjuang lewat karyanya (melawan otoritas rezim Mesir) yang lugas, emosi yang terasa mentah sekaligus nyata, namun juga membebaskan. Saat membaca kisah Firdaus, pelacur high class di “Perempuan di Titik Nol” yang dipenjara karena membunuh salah satu kliennya dan menolak pemberian grasi dari hukuman mati. Kisah ini seakan mencelikkan mata saya, bahwa perempuan itu punya kuasa dan otoritas terhadap dirinya sendiri. Dia bisa berkata tidak, melakukan apa yang dia mau dan memilih jalan hidup yang sesuai dengan kehendaknya–terlepas dari ekspektasi dan batasan-batasan yang dibangun oleh orang lain atau masyarakat di sekitarnya. 

Pertanyaan terakhir, jika Kak Jessica diberi kesempatan untuk menjadi salah satu tokoh dalam novel Galila dan mengubah sedikit karakter atau jalan ceritanya, Kak Jessica ingin menjadi siapa dan melakukan apa? Misalnya, ingin menjadi Jackson Silitonga yang dapat menjadi ayah yang lebih mengayomi bagi Eddie.

Hm, mungkin saya akan pilih jadi Kris, ayahnya Galila. Sumber masalahnya kan di dia. Mungkin kalau dia menjaga hati dan matanya dari melirik-lirik perempuan lain, Galila akan tetap bisa menjaga kepalanya tetap tegak di kampungnya, ibunya akan terus mengasihi dia, dan mungkin bisa menghindarinya dari banyak melakukan kesalahan dalam hidup. Tapi mungkin cerita Galila nggak akan pernah lahir ya, hehehe. Tapi saya juga mau jadi Eddie sih. Saya mungkin akan nekat menentang Jackson dari awal dan memilih kuliah di bidang yang saya suka dan jadi orang yang menikmati hidup dan berbahagia sejak muda. :)

Sebagai penutup, silakan Kak Jessica menyampaikan sesuatu mungkin bagi pembaca buku Kak Jessica atau teman-teman lain yang membaca artikel wawancara ini. Bebas aja Kak, silakan…..^^

JessicaHuwae

Hai teman-teman, terimakasih telah membaca karya-karya saya ya dari Soulmate.Com, Skenario Remang-Remang dan terakhir Galila.  Pe-ernya memang selalu menunggu, karena saya memang bukan penulis yang terlalu produktif  yang setiap tahun mengeluarkan karya. Akan tetapi semoga dari apa yang telah saya tuliskan, teman-teman pembaca mendapatkan manfaat, kekuatan, motivasi, merasa menemukan teman—dan tentu saja tidak melupakan fungsi utama buku itu sendiri, yaitu menghibur.  :)

Terima kasih banyak untuk obrolannya yang menarik, Kak Jessica. Ternyata, di balik sebuah novel, penulis pun mencurahkan perasaannya terhadap hal-hal sentimentil berkaitan kehidupannya. Dari sini kita juga dapat banyak hal mengenai bagaimana sebuah cerita tak hanya menghibur namun juga memberikan kekuatan bagi pembacanya. 🙂 Mari sapa-sapa Kakak ramah ini di akun Twitternya: @jessicahuwae juga kunjungi web yang dia kelola berkaitan wanita karier: www.dailysylvia.com. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s