Galila. Hanya Galila? [ Galila by Jessica Huwae]

Galila-cover

Judul: Galila

Penulis: Jessica Huwae

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Genre: Romance, Drama, Keluarga

Terbit: Maret 2014

Tebal: 331 Halaman

Cara dapat: Buntelan dari penulisnya langsung

Harga normal: Rp62.000,00

“Galila.”

“Hanya Galila?”

“Tanpa nama belakang.”

Apalah arti sebuah nama. Namun, bagi sebagian orang, nama adalah sebuah makna. Dan, kelengkapan sebuah nama pun memiliki pertanda tertentu. Seperti Galila. Ya, jika kau menanyakan penyanding bagi nama itu, dia akan mengatakan tidak ada. Gadis ini tidak memiliki nama belakang, apalagi nama tengah. Dan, ketiadaan nama belakang ternyata menyimpan sekotak memori usang yang enggan untuk dibuka, namun dengan sendirinya mendobrak sebagai suatu masalah. Ketika Galila sudah merasa dapat beranjak dari masa lalunya dan memiliki kesuksesan seperti sekarang, ada saja pihak-pihak yang mengusik asal-usul dan masa lalunya. Mempertanyakan lagi kekuatan cinta yang sedang dia bangun bersama Eddie; seorang pria yang bahkan berani menentang keluarganya sendiri demi Galila. Ya, Galila. Ini adalah sebuah nama, pengantar cerita kehidupan seorang perempuan dengan balutan permasalahan budaya dan keluarga.

Saya mendapatkan novel ini dari penulisnya langsung, Jessica Huwae, berbekal semangat menyebutkan nama blog buku saya kala dia menawari di lini masa Twitter. Ya, buku gratis, siapa yang tak mau? Hehe. Namun bukan asal gratis, karena nama Jessica Huwae sendiri bukanlan nama yang asing, karena saya pernah membaca novelnya yang pertama yaitu Soulmate.com bertahun-tahun lampau. Kisah Galila diawali dengan seorang penyanyi terkenal yang baru saja menuntaskan konsernya yang sukses. Dia mendapat puja puji dan sorotan dari banyak orang. Galila mengawali kariernya kala dia memenangkan sebuah kontes menyanyi, yaitu Indonesia Mencari Diva. Namun jika ditarik ke belakang lagi, Galila memulai kariernya dari sebuah masa lalu yang tak indah. Kesuksesan Galila sebagai seorang diva tak serta-merta membuatnya merasakan kebahagiaan sejati. Cinta? Ya, ada beberapa pria yang tertarik dan mendekatinya. Tapi Galila justru dikecewakan oleh satu pria yang menjauh darinya ketika Galila sudah merasa menautkan hati. Membuat Galila kembali berkaca kepada masa lalu, pada kegagalan cintanya di kampung halaman.

Hingga Eddie datang. Edward Silitonga. Berbeda dengan Galila, dari nama belakangnya saja kita sudah tahu dari mana Eddie berasal. Yap, dari keluarga bersuku Batak, yang sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi. Saya mungkin tidak memiliki semua pengetahuan tentang salah satu suku di Pulau Sumatra ini, tetapi cukup tahu bahwa orang dari suku Batak haruslah menikah dengan suku yang sama. Bahkan tak hanya dari sembarang suku Batak, mereka pun memiliki pariban, yaitu marga-marga tertentu yang dapat berjodoh dengan mereka (maafkan kalau penjabaran saya tentang pariban tak sepenuhnya tepat, tetapi itu yang saya pahami^^). Eddie menghabiskan tahun-tahun kuliahnya di Amerika, hingga ketika dia kembali ke Indonesia, keluarganya—terutama mamanya—mulai mencecarnya masalah pernikahan. Eddie merasa jengah dengan setiap perempuan yang disodorkan keluarganya padanya, sampai dia bertemu sendiri dengan Galila yang dirasanya lengkap memenuhi hidup dan hatinya. Galila, tak memiliki nama belakang, pun tak berasal dari tanah Sumatra, melainkan jauh-jauh dari tanah Saparua. Kehadiran Galila ditolak oleh Hana Silitonga, ibunda dari Eddie, tetapi Eddie tetap mempertahankan cinta mereka. Hana semakin berang ketika mereka berdua semakin menunjukkan diri di muka publik, sampai-sampai membuatnya mengambil tindakan tegas; mengusut masa lalu Galila. Membongkar luka lama, dan menyudutkan Galila. Eddie pergi meninggalkan Galila, media secara brutal menyorotnya, dan Galila pun memutuskan untuk kembali ke tanah Maluku. Apa yang dia lakukan di sana??

Kesan saya setelah membaca novel ini, saya menyukai dan menikmati setiap penuturan yang disampaikan penulis. Novel ini mengambil sudut pandang orang ketiga, dan meski saya bukan tipe pembaca yang menyukai narasi berkepanjangan, entah kenapa saya tetap dapat menikmati narasi yang lumayan panjang di novel ini. Pemilihan kata alias diksi yang digunakan sungguh apik, alurnya mengalir, dan banyak pesan moral yang disisipkan dengan sangaaatt… smooth. Bahkan, saya kerap menjumpai kalimat-kalimat dari Alkitab dimasukkan di sini, sempat membuat saya berpikir, kenapa tidak masuk label ChRom—Christian Romance—saja ya? Hehe. Perihal tokoh-tokohnya, saya menyukai sang tokoh utama, yaitu Galila, yang sangat sederhana di sini. Dalam kesederhanaannya Galila menyampaikan kepada kita, bahwa kehidupan pribadi tak harus dibeberkan kepada khalayak ramai. Biarlah kita sendiri yang menggumuli dan menyelesaikan setiap masalah dalam hidup kita. Namun tokoh lain lagi yang menjadi jagoan bagi saya adalah Hana Silitonga. Khas sekali mamak-mamak Batak, yang meski keras dan terkesan otoriter, tetapi dia selalu menyampaikan alasan dari tindakannya, yaitu untuk menjunjung tinggi tradisi. Ya, saya suka dengan paparan konflik mengenai benturan budaya di sini. Jessica menyampaikan perihal suku tertentu di Indonesia, tanpa bermaksud menyinggung atau melecehkan suku tersebut.

Lalu, secara alur, novel ini menggunakan alur campuran, karena sering terdapat bagian di mana baik Galila maupun Eddie mengenang hari-hari lampau mereka yang membentuk pribadi mereka saat ini. Saya suka bagaimana penulis akhirnya menyingkap mengapa Galila tak memiliki nama belakang alias nama keluarga, seperti halnya anak-anak dari tanah Saparua lainnya. Jadi menurut saya, alur campurannya terasa mulus dan tidak membingungkan. Ah ya perihal tokoh, jangan lupakan tentang Davina, penyanyi lain yang begitu ingin menjegal Galila. Tapi menurut saya, tokoh Davina ini bisa sedikit lagi diberi tambahan adegan, untuk benar-benar menguatkan maksudnya sebagai rival Galila.

Nah menginjak akhir cerita, jujur saya ada sedikit kurang puas, karena di blurb buku sudah dijelaskan bahwa Galila kembali ke pulau asalnya jauh di timur Indonesia, untuk menyelami lagi jejak masa silamnya. Menurut saya, bagian itu terlalu sedikit, karena itu juga bisa menjadi penguat cerita dalam novel ini. Tidak ingin bermaksud spoiler, tapi bagian kepulangan Galila bagi saya hanya seperti sekadar “basa-basi”, hehe. Namun, jika dibandingkan dengan perjalanan novel ini dari awal, tengah, dan menuju akhir, kekurangan tersebut tidak membuat saya menurunkan rating untuk novel ini. Empat dari lima bintang saya sematkan, untuk novel dengan diksi yang sangat baik dan konflik menarik. Terima kasih, Kak Jessica! ^^

Berikut beberapa kalimat bagus yang sempat saya tandai:

Manusia kadang memang lebih jujur saat detik-detik perpisahan datang menjelang.

Dia suka lamat-lamat memperhatikan bongkahan gula yang larut oleh curahan air panas di atasnya.

Bagaimana kalau kupu-kupu dalam perut yang tadinya terasa menyenangkan itu berubah jadi seperti tikaman pisau yg menyakitkan?

…karena tidak ada yang lebih menusuki hati daripada merasa sepi dan sendiri di tengah ramai yang mengelilingi.

Cinta itu cuma gagasan. Pada akhirnya kau akan mengikat diri dengan orang yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu.

Pada Galila. Eddie menemukan esensi rumah dan pulang yang sebenarnya. Perasaan tenang, diinginkan, dan tanpa tuntutan. Galila membuat segala yang dimilikinya, ketakutan bahkan pencapaiannya jadi tidak penting lagi.

...kewajiban adalah tali-tali yang mengikat tangan manusia.

Saat bekerja dengan baik dan jujur, kita sebenarnya sedang berbuat baik terhadap diri sendiri. Ada masa depan dalam setiap hal yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Keinginan kadang lahir dari rasa tidak puas. Dan tidak puas adalah sumber masalah.

…waktu adalah penguasa yang bisa melakukan apa saja. Membebat luka, menghapus kenangan, mempertebal jarak, dan menguapkan rasa yang dulu pernah dengan tekun dipupuknya setiap hari.

Aku hanya merasa tidak perlu sesumbar soal masa laluku. Itu saja.

Kita terlalu tergesa-gesa mengumpulkan rasa.

PosBarBBI2014

Note: Diikutkan sebagai posting bareng BBI buku bertema “perempuan” dan juga Indonesian Romance Reading Challenge 2014

5 thoughts on “Galila. Hanya Galila? [ Galila by Jessica Huwae]

  1. Pingback: Hai Jessica! | Dinoy's Books Review

  2. Pingback: Joining Indonesian Romance Reading Challenge 2014 (!!) | Dinoy's Books Review

  3. Bagus ya penggalan-penggalan kalimatnya🙂 kayaknya buku ini lumayan relate sama aku nih… mamaku dulu juga nekat merit sama papaku yg chinese padahal mamaku batak😀 trus saparua itu kampung asalnya rayo hahaha…kapan2 baca ah buku ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s