Menaati Sebuah Panggilan [Between the Raindrops by Stephanie Zen]

between the raindrops-cover

Judul: Between the Raindrops

Penulis: Stephanie Zen

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Genre: Christian Romance (ChRom), Romance, drama, dewasa muda

Terbit: Maret 2014

Tebal: 288 Halaman

Cara dapat: Beli saat ada diskon 30% ultah GPU

Harga normal: Rp52.000

Memperoleh panggilan untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, tentu bukanlah sesuatu yang mudah. Pada awalnya, Andrea merasa sukacita ketika panggilan itu diterimanya. Dia bertekad untuk menaati panggilan itu dalam hidupnya. Namun bukannya tanpa halangan untuk mewujudkannya, karena justru tentangan itu datang dari orangtuanya sendiri. Stigma bahwa seorang hamba Tuhan tidak dapat hidup berkecukupan membuat papa Andrea melarang niat putrinya untuk masuk sekolah Alkitab. Andrea pun berusaha bernegoisasi, yaitu dia akan mengambil pendidikan di luar negeri sesuai jurusan yang diinginkan papanya yaitu bisnis. Dan selama dia hidup di luar negeri, Andrea sekaligus menguji panggilannya sebagai hamba Tuhan, jika dia merasa lebih cocok ke bisnis, ya dia akan menuruti kehendak papanya. Sebuah rencana yang sepertinya mudah, karena bagi Andrea kuliah bisnis di luar negeri hanyalah penunda sesaat untuk dia dapat mewujudkan tujuan utamanya yaitu sekolah Alkitab. Namun, justru kehidupannya di Singapura membuat Andrea berpikir ulang akan panggilan itu. Terlebih ketika dia bertemu dengan seorang Darwin. Membuat Andrea berpikir; apakah dia benar-benar terpanggil, atau hanya sekadar emosinya saja??

Ini adalah kedua kalinya saya membaca novel karya Stephanie Zen tetapi untuk pertama kalinya saya menikmati novel dengan genre ChRom -Christian Romance- lini baru yang dikeluarkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Novel yang mengkhususkan pada nilai-nilai moral Kristiani dan tetap berbalut romantika. Lalu, bagaimana kesan saya terhadap novel ini? Sabar dulu, coba saya uraikan satu per satu yaa.🙂 Garis besar cerita dalam novel ini, seperti blurb yang coba saya buat sendiri di atas adalah tentang seorang perempuan yang merasa mendapat panggilan untuk menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu. Andrea merasa untuk dapat memenuhi panggilan itu dia perlu masuk sekolah Alkitab, tetapi papanya menentangnya. Singkat cerita, dia kuliah bisnis di Singapura. Di sana, dia tinggal bersama sahabatnya yaitu Fella. Fella juga yang membawanya masuk ke komunitas anak muda di gereja; tempat Andrea bertumbuh bersama saudara seiman lainnya, salah satunya adalah Darwin.

Darwin adalah gambaran sosok pria muda yang hampir sempurna di mata teman-temannya. Sebagai seorang anak Tuhan, dia memiliki visi yang jelas dalam hidupnya. Kehidupan kerohaniannya oke, pendidikannya pun tetap diperhatikannya. Andrea merasakan sesuatu dalam dirinya terhadap Darwin ketika mendengar pria itu sharing di kelompok sel gerejanya. Andrea merasa, ada yang istimewa dari Darwin. Di kampus, Andrea bersahabat dengan Darwin, juga Dheeraj, sahabat Darwin yang berdarah India-Inggris. Persahabatan Andrea dengan dua pria berkualitas ini membuat teman-teman wanitanya merasa iri, karena Dheeraj pun seorang yang memiliki karisma yang baik, juga menjadi pemimpin komunitas Kristiani di kampus. Namun, seperti yang sudah-sudah, hampir tidak ada yang “murni” dalam persahabatan lawan jenis. Belum usai Andrea memastikan perasaannya terhadap Darwin dan juga sebaliknya, dia harus mendapati kenyataan bahwa Dheeraj jatuh cinta kepadanya. Sesuatu yang membuat Andrea jengah, karena selama ini dia hanya menganggap Dheeraj sahabatnya. Situasi menjadi semakin sulit, ketika Andrea jadian dengan Darwin. Hal yang seharusnya menjadi kebaikan, tetapi malah menjadi kesulitan bagi Andrea. Andrea menjadi kabur akan panggilan awalnya, dan mulai menggeser posisi Tuhan dalam hatinya menjadi Darwin. Masalah yang klasik, mungkin, tetapi tidak bagi Andrea. Dia harus mempertanggungjawabkan panggilan hatinya, dan menyelaraskannya dengan rasa cintanya kepada Darwin.🙂

Sejak membuka halaman pertama kisah ini, saya merasa begitu enjoy dengan penuturan yang disampaikan Stephanie. Penceritaan tentang kehidupan sehari-hari, tetapi nggak membuat saya merasa bosan. Bab-bab awal masih menceritakan tentang kehiduan baru Andrea di Singapura, bagaimana dia yang sebenarnya anak orang berada tetapi berusaha hidup sederhana karena ingin menyesuaikan dengan kehidupan seorang hamba Tuhan. Persahabatannya dengan Fella dan teman-teman komsel di gerejanya juga menjadi cerita sehari-hari yang asyik untuk disimak. Lalu lewat penuturan yang sederhana dan mengalir tersebut, konflik pun digulirkan dengan “tidak terasa”. Maksud saya, saking larutnya dengan kehidupan Andrea, tahu-tahu kita masuk ke permasalahan yang lumayan membuat mikir.

Kita akan dibuat gemas dengan sikap Darwin yang cenderung menggoda Andrea dengan Dheeraj, membuat Andrea menjadi serbasalah dengan perasaannya. Kita juga akan dibuat penasaran dengan keputusan yang akan dibuat Andrea ketika harus memilih antara cinta atau panggilan awalnya. Saya sempat merasa nggak sreg ketika dua orang ini terkesan begitu saja jadian. Darwin nembak Andrea, langsung diterima, nggak pakai ada proses pergumulan dulu gitu? Padahal kan keduanya sama-sama melayani Tuhan dan tahulah dasar-dasar atau prinsip Kristiani. Namun rupanya, hal itu yang kemudian menggulirkan konflik batin dalam diri Andrea dan Darwin ke depannya. Mereka dituntut untuk menguji kembali hubungan mereka berdua.

Novel ini memang dikhususkan bagi penganut iman Kristiani, tapi buat saya tidak terlalu mencolok. Ayat-ayat Alkitab hampir tidak ada disebutkan secara langsung alamatnya, tetapi isinya yang dituliskan. Itu pun menurut saya dituliskan dengan mulus, sesuai konteks masalah yang sedang dihadapi, jadi nggak terkesan diceramahi.🙂

Ini adalah beberapa kutipan bagus yang sempat saya catat dari novel ini:

Jangan batasi Tuhan dengan keterbatasan kita.

Kamu nggak akan kuatir tentang sesuatu, kalau kamu tahu bagaimana akan menghadapinya.

Nah, dekatlah dengan Tuhan, lambat-laun kamu pasti semakin mengenal hati-Nya.

Secara penulisan sendiri masih ada beberapa kesalahan penulisan, nggak saya catat sih, tapi sejauh ini nggak sampai mengganggu keasyikan membaca kok, hehe. Secara keseluruhan saya sangat menikmati novel ini. Saya merasa cocok dengan gaya menulis Stephanie Zen yang sederhana nan mengalir, juga menempatkan konflik tepat pada waktunya, jadi novelnya nggak bosenin. Plus, ending yang benar-benar nggak tertebak! Bener-bener bikin tersenyum lebar dan mikir, waaah, kok bisa kayak giniii?? Tapi akhir ceritanya sih memuaskan banget yaa buat saya, hehehe. Good job, Stephanie, I’m waiting for your next novel! ^^

Stars: 4 of 5

Note: Diikutkan pada Indonesian Romance Reading Challenge 2014

3 thoughts on “Menaati Sebuah Panggilan [Between the Raindrops by Stephanie Zen]

  1. Pingback: Joining Indonesian Romance Reading Challenge 2014 (!!) | Dinoy's Books Review

  2. Pengen nyoba Chrom tapi belum yakin banget. Aku nggak tau sejak dulu agak nggak nyaman baca novel dan buku berbau Kristiani, malah lebih suka yang Islami. Ahahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s