Behind the Book: 7 Divisi [+ Giveaway!]

7divisiJudul: 7 Divisi

Penulis: Ayu Welirang

Penerbit: Grasindo

Genre: Fiksi, petualangan, misteri

Terbit: Maret 2014

Tebal: 202 Halaman

Harga: Rp40.000,00

Novel 7 Divisi merupakan salah satu hasil editan saya yang diterbikan oleh Grasindo. Dan karena ini saya yang mengedit, maka kurang fair rasanya kalau saya meresensinya sendiri, hehe. Saya akan beritahukan saja sinopsisnya ya, berikut juga akan ada wawancara saya dengan sang penulis terkait dengan penulisan novel ini. Simak baik-baik ya, karena di akhir artikel akan ada giveaway 1 novel 7 Divisi bertandatangan Ayu Welirang yang akan dikirimnya langsung ke pemenang! ^^

Sinopsis 7 Divisi

… 7 hari. 7 pribadi. 7 alasan. 7 kemampuan: 7 Divisi …

Surat-surat perekrutan misterius menghampiri tujuh anak manusia dengan latar belakang berbeda. Surat tersebut datang kepada mereka masing-masing dengan cara yang tak sama. Gitta, Ichan, Tom, Ambar, Dom, Bima, dan Salman. Tujuh orang ini tak pernah menyangka akan dipertemukan dalam suatu ekspedisi besar, dengan divisi sesuai kemampuan mereka masing-masing.

Pertemuan yang mengubah segalanya. Mengubah ritme hidup, mengembalikan masa lalu, dan menghilangkan yang lain. Berbagai kejadian menegangkan dan misteri-misteri mulai bermunculan ketika mereka mencoba menaklukkan sebuah gunung keramat. Rupanya, ada seorang lelaki misterius di balik ekspedisi besar itu. Dan ketika mereka menyadari sesuatu sedang terjadi, mereka sudah terlambat.

Ketika tim ekspedisi ini mulai solid, satu per satu dari mereka mulai disesaki tragedi. Mereka terpaksa dihadapkan pada pilihan pelik; kehilangan satu orang… atau satu tim sekaligus.

Dapatkah mereka menuntaskan ekspedisi ini? Dan akankah mereka tetap kembali utuh saat pulang?

Wawancara dengan Ayu Welirang…

Hai Ayu, kenalan dulu dong sama pengunjung blog ini. Siapakah seorang Ayu Welirang ini? Bisa tentang aktivitas sehari-hari, hobi, or anything. Silakan….

Hehe. Saya ini cuma orang biasa saja kok, sama seperti kalian semua yang biasa-biasa saja, tapi punya mimpi yang luar biasa. Hehe. Aktivitas sehari-hari sih kerja di perusahaan IT, jagain server, makanya saya suka bergadang sambil berkhayal! :)) Dari berkhayal, lahirlah novel pertama saya yang terbit secara mayor. Hobi saya jalan-jalan, dan yang pasti “naik gunung”. Dari naik gunung juga saya suka berkhayal. :)))

Bisa diceritakan ide cerita novel “7 Divisi” ini kapan datangnya dan dari mana tuh? Ceritakan juga proses singkat penulisannya yaa… ^^

Ide cerita ini muncul sejak tahun 2011 akhir, di mana saya mengikuti event Januari50K dari Kampung Fiksi, sebuah event yang tidak berhadiah, tapi benar-benar membuat saya dan yang lain sadar akan konsistensi dalam menulis. Untuk coretan kasarnya sendiri, saya tidak duga malah jadi begini. Sedang berkhayal tentang teman-teman saya di organisasi kepecintaalaman, malah menulis draf Januari50K. Saya iseng posting di blog, coretan kasarnya, sebelum mulai menulis ceritanya per bab, dan ternyata banyak yang suka. Karena event-nya tidak berhasil saya selesaikan, akhirnya entry di blog saya hapus dan saya mulai menuliskannya lagi secara pribadi.

Naskah 7 Divisi adalah salah satu naskah utama pemenang kompetisi menulis yaitu Publisher Search For Authors 2 yang diselenggarakan oleh Penerbit Grasindo. Nah bisa diceritakan dong, gimana dulu awalnya kamu bisa mengikuti kompetisi ini? Menurutmu, apa sih keuntungannya kita mengikuti kompetisi menulis seperti ini?

Nah. Ini dia. Dari event ini, naskah lama yang sudah berdebu, mau tidak mau harus disapu kembali. Dipoles supaya mengilat di sana-sini dan kalau bisa, menarik para pembaca. Sebenarnya, dulu naskah ini tidak selesai karena saya kelewat malas menulis. Tapi, sejak ada event PSA2, sifat malas ini tiba-tiba saja lenyap. Saya menulis saban malam. Kadang, waktu bekerja pun saya seling dengan menulis lanjutan cerita di tiap bab, agar saya tidak lupa. Apalagi, kalau saya tiba-tiba dapat ide, harus langsung ditulis! Kalau tidak, besoknya saya lupa lagi. Hehe.

 Dan keuntungannya, tentu saja muncul secara internal maupun eksternal. Internalnya, kita memacu diri sendiri untuk menjadi ‘rajin’, sehingga naskah benar-benar selesai. Dan ini juga yang beberapa penulis besar lakukan, yaitu ‘memaksa diri mereka untuk menulis, apapun kondisinya’. Seperti Pram yang menulis di pengasingan Buru, seperti Victor Hugo yang menulis sambil buka baju (dan kalau tidak selesai, dia akan kedinginan atau mati bosan), dan beberapa penulis lain yang melecut diri dengan semangat. Event ini juga tentunya bermanfaat, secara eksternal, orang mengetahui kapasitas kita. Ketika kita tidak berani memberi naskah ini, atau meminta saran pada orang mengenai naskah ini, cobalah untuk mengirimnya ke sebuah event, karena orang-orang di dalam event itu pasti ‘membaca’ karya kita. Beda rasanya kalau kita mengirimkan secara pribadi (tanpa event), kita malah harap-harap cemas menunggu naskah kita dikonfirmasi. Bukannya begitu?😀

Cerita yang kamu angkat di novel “7 Divisi” ini adalah sebuah ekspedisi dengan misi khusus yang berbalut misteri. Yang ingin aku tanyakan, pesan apa sih sebenarnya yang pengin kamu sampaikan, terutama bagi teman-teman pencinta alam?

Pesan yang disampaikan tentu saja sangat sederhana. Saya hanya ingin agar para pembaca tidak lantas menganggap kalau gunung itu mudah didaki, sehingga saya menampilkan sisi pendakian yang tidak melulu ‘senang-senang’, seperti para pecinta alam kebanyakan, yang saat ini merajalela dan menganggap gunung seperti rumah, seperti pasar, seperti tempat bermain (padahal tidak). Kita harus tahu, bahwa gunung punya hukumnya sendiri. Barang siapa yang mengganggunya, otomatis akan diganggu (syukur-syukur kalau teman pecinta alam membaca juga).

Saya pernah mengalami beberapa kejadian di dalam novel tersebut, misalnya mencoba ambil sesuatu yang bukan milik saya, melainkan milik alam. Dan apa yang terjadi? Tentu kelanjutannya bisa teman-teman baca sendiri, seperti dalam novel 7 Divisi. Intinya, kalau kita benar-benar menyebut diri kita pecinta alam, berlakulah seperti itu. Ingatlah prinsip utama dalam mendaki dan menjunjung tinggi alam, “Jangan ambil apa pun kecuali gambar, jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak, dan jangan bunuh apa pun kecuali waktu.”

Setting lokasinya kan di sebuah desa di Banyuwangi. Itu lokasi nyata apa rekaan sih? Misalnya rekaan, bagaimana caramu bisa menciptakan atau membuat deskripsi dari tempat yang sebelumnya nggak ada jadi ada?

Sebenarnya begini. Di Banyuwangi sendiri ada sebuah desa yang sebagian besar bernapas Bali, dan kurang lebihnya agak terkait dengan legenda di dalam novel ini. Hanya saja, saya berpikir, “Ah, saya menggunakan mereka untuk ide cerita, ada baiknya mereka tak serta-merta saya ganggu.” Jadi, dari ide desa bernapas Bali tersebut, saya membuat sebuah desa baru, yang bernama Babad Bali (ada di dalam novel), dan kemudian membuat sebuah lokasi gunung keramat yang memang menyimpan misteri (sebab di Banyuwangi ada satu gunung seperti itu, hanya saja nilai legendanya sudah dilupakan).

Lalu, saya mengembangkan desa dan gunung ini di dalam pikiran, dengan menggabungkan beberapa gunung di Indonesia yang indahnya tak kalah seperti pemandangan luar negeri, lalu meleburnya menjadi satu gunung yang bernama Arcawana, yang artinya “hutan patung”. Mengapa hutan patung? Karena saya ingin menggambarkan ekspedisi ini di belantara patung yang biasanya keramat bagi umat tertentu, sehingga gunungnya ikut keramat juga.

Dan jadilah gunung baru, dari leburan gunung-gunung Indonesia.

Tentang tokoh-tokoh di “7 Divisi” ini yaitu Ambar, Gitta, Ichan, Tom, Dom, Bima, dan Salman. Bagaimana caramu menciptakan karakter masing-masing? Apakah ada yang terinspirasi dari dunia nyata, dan adakah seorang “Ayu Welirang” di dalam karakter-karakter tersebut?😀

Kalau tokoh-tokoh ini, saya mengambilnya dari beberapa teman saya yang melakukan kegiatan alam juga. Tapi, ciri-ciri fisiknya tidak saya ambil semua. Hehe. Misalkan, si Ichan yang agak gondrong, itu saya ambil dari teman saya yang bekerja di percetakan sederhana, di daerah Ciputat. Untuk Tom yang sombong, itu juga saya ambil dari teman saya yang sombong minta ampun, tapi sebenarnya sensitif.

Kalau diri saya? Inginnya sih saya Gitta, yang dicintai semua orang, dan dicemburui perempuan. Hahaha! *ngarep* Nggak ding. Gitta itu diambil dari beberapa leburan tokoh. Dia tidak sempurna, meski dia menguasai hal ekstrim di dalam organisasi penggiat alam. Dia juga punya masalah pribadi, meski dia dapat mendengar masalah orang lain dan memberi saran. Itulah yang muncul di dalam pikiran saya, ketika saya membuat tokoh Gitta. Saya tak ingin membuat tokoh perempuan yang sempurna, karena tentu tidak akan cocok jika dimasukkan ke dalam novel petualangan berbalut misteri ini.

Dan tokoh-tokoh lain berikut nama-nama mereka, saya ambil dari beberapa teman yang deskripsinya sesuai (saya tidak bisa sebutkan satu per satu). Hehe.

Aku lihat profilmu di Goodreads, kamu juga pernah menerbitkan buku lewat indie publisher nih. Nah sekarang kan menerbitkan lewat penerbit mayor, apa nih perbedaan paling utama yang kamu rasakan? Enak mana? Hehe…

Hihihi! Perbedaan paling utama tentunya dari segi marketing dan promosi. Saya menerbitkan buku lewat jalur indie, karena yang saya terbitkan itu adalah kumpulan puisi sejak 2008 di situs Kemudian.com. Puisi-puisi di dalam buku itu juga masih bertema petualangan dan kehidupan. Saya bingung, ketika saya ingin menerbitkan puisi, ke mana saya harus mengirimkan naskah puisi itu? Maka, saya putuskan untuk menerbitkannya secara independen. Promosi pun saya kerahkan semaksimal mungkin. Tapi, memang saya tak ahli promosi barang (apalagi jasa), makanya kumpulan puisi ini hanya dibeli oleh kalangan tertentu saja. Misalnya, teman dan anak komunitas puisi.

Dan rasanya, saya excited sekarang! Saya bahkan nggak kepikiran, kalau naskah saya masuk. Waktu itu, yang saya pikirkan cuma, “Yang penting nulis deh. Daripada ini naskah jadi bangkai.” Gitu. Eh nggak tahunya. Ah pokoknya gitu deh! Ini jadi naskah pertama saya yang masuk melalui pintu mayor.😀

Terakhir sebagai penutup, silakan sampaikan kalimat promosi; kenapa sih teman-teman harus membeli dan membaca novel “7 Divisi”?? Bebas deh kalimat promosinya, monggo….

Teman-teman. 7 Divisi ini bukan cerita senang-senang, atau cerita bahagia ketika mengecup alam bebas. Saya membuat cerita di dalam 7 Divisi ini sebagai representasi yang nyata, mengenai alam bebas, gunung, dan belantara. Jadi, kalau teman-teman berminat untuk mengetahui, seperti apa sih gunung itu memberi hukumnya sendiri, silakan baca novel ini. Dijamin! Teman-teman akan melihat sendiri, hakikat lain mengenai sebuah perjalanan.

Bahwa, “perjalananku bukan perjalananmu, tapi perjalananku adalah perjalananmu.” (Titik Nol – Agustinus Wibowo)

Hehe. Selamat membaca!🙂

Di Gunung Prau, Dieng

Di Gunung Prau, Dieng

[Untuk mengenal lebih lanjut tentang Ayu Welirang, boleh kulik domainnya di www.ayuwelirang.com dan sapa dia di akun Twitter @ayuskeptika]

Nah setelah membaca sinopsis dan juga interview dengan penulis, jadi tertarik nggak memiliki buku ini? Yang jelas, saya bisa mengatakan kalau ceritanya seru banget disimak sampai akhir! Yang suka naik gunung atau pencinta alam akan menikmatinya, yang biasa-biasa aja sama alam juga bakal tetap bisa enjoy kok, menurut saya, karena novel ini dilengkapi keterangan tentang beberapa istilah dalam ekspedisi. Untuk temen-temen yang ingin mencoba peruntungan memperoleh novel ini gratis, ada caranya nih. Jawab pertanyaan berikut:

Dari 7 divisi ini:

Ichan: Mountaineering, Gitta: Climbing, Ambar: Survival, Tom: Penyeberangan, Dom: Navigasi, Bima: Shelter, Salman: P3K

Menurut kalian pribadi, divisi mana yang akan kalian pilih untuk dipelajari dalam rangka berjaga-jaga jika kalian secara tak sengaja, terjebak di hutan belantara? Jelaskan alasan singkatnya!😀

Setelah menjawab di kolom komentar artikel ini, jangan lupa untuk twit satu kalimat singkat tentang divisi pilihan, dengan hashtag #7Divisi disertai link artikel ini dan mention ke @ayuskeptika!😀

Ketentuannya:

  1. Jawaban disubmit dari tanggal 25 Maret-01 April 2014.  Jangan lupa sertakan nama & akun twittermu. ^^ Pengumuman pemenang di Twitter tanggal 07 April 2014 yaa!
  2. Peserta boleh siapa saja yang memiliki alamat di Indonesia ya.
  3. Untuk twit tentang kuis ini cukup sekali saja, biar nggak spamming ke akunnya Ayu. ^^

Oke, syarat yang nggak ribet, kan? Ditunggu partisipasinya yaa! ^_^

12 thoughts on “Behind the Book: 7 Divisi [+ Giveaway!]

  1. Pingback: Traveling Books Giveaway in March! | Dinoy's Books Review

  2. Divisi Ambar : Survival, karena menurutku divisi ini sudah sangat siap dalam situasi dan kondisi apapun bahkan saat terburuk sekalipun untuk bertahan hidup. Divisi ini akan sangat membantu divisi” lainnya untuk tetap bertahan dan semangat dalam melalui masa” sulit dihutan belantara.

  3. Saya akan memilih divisi climbing. Menurut saya, divisi climbing memegang peranan yang cukup besar dalam mengatasi sifat keragu-raguan dalam sebuah tim pendakian. Mereka yang berada dalam divisi climbing merupakan tipe orang yang tegas, optimis, ambisius dan cenderung pemikir keras untuk menentukan keputusan. Mereka juga tipe orang yang hati2 untuk pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan resiko kedepan. Akun twitter @apriliayoe

  4. ketujuh divisi tersebut memang penting. masing-masing memiliki peran yang tak tergantikan. namun jika harus memilih salah satu, pilihan saya jatuhkan kepada Salman divisi P3K.

    Alasannya karena untuk bisa menjalankan peran di divisi masing-masing, pelakunya harus dalam kondisi fit. mereka tidak bisa bekerja dengan baik jika kondisi fisiknya lemah atau terluka. nah divisi P3K-lah yang membantu mengembalikan kondisi anggota tersebut hingga fit kembali dan bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

    lagi pula, divisi ini disebutkan terakhir. biasanya, meski sesuatu disebutkan paling akhir namun memiliki peran yang paling penting. hal tersebut mengingatkan saya akan tokoh para jagoan jagoan fantasi yang yang terdiri dari beberapa orang, Biasanya anggota yang disebutkan terakhir atau terlihat kecil peranannya, ternyata sangat menentukan di dalam penyelsaian sebuah tugas.😀

    nama : rifki
    twitter : @rifki_jampang

  5. Divisi Navigasi. Ketika kita terjebak di tengah hutan belantara, tentu yang utama kita harus tahu terlebih dahulu tentang arah. Bagaimana cara membaca peta dan cara menggunakan kompas. Bagi yang tidak biasa bersahabat dengan alam bebas, mungkin akan mengalami kesulitan akan hal ini. Untuk itu seorang divisi navigasi sangatlah penting. Seorang divisi navigasi tentu seorang yang berani memutuskan, memilih jalan mana yang harus dilalui.

    Twitter : @dinakamila_
    Link share : https://twitter.com/dinakamila_/status/448472640542359552

  6. Dari ketujuh divisi tersebut, saya lebih memilih divisi milik Bima : Shelter.
    Shelter yang berarti Pelindung bukan? Saya memilih divisi ini karena seorang divisi Shelter pasti otomatis mengetahui bagaimana cara melindungi diri dari segala bentuk bahaya, apalagi saat tersesat di hutan belantara yang tidak dipungkiri banyaknya bahaya didalamnya. Tanpa disadari saat kita hendak berpetualang, seorang divisi Shelter amatlah penting. Memang divisi lainnya juga sama pentingnya, namun tanpa seorang divisi Shelter, kita tak bisa seaman dan senyaman berpetualang dengan seorang Shelter. Seorang divisi Shelter adalah seorang yang berani mementingkan keselamatan orang lain daripada keselamatan dirinya sendiri. Begitulah ia😀
    Tapi, tak lupa juga bahwa kita harus lebih mengutamakan berdoa dan meminta perlindungan dari Yang Maha Pemberi Perlindungan dan Bahaya itu sendiri🙂

    Terimakasih atas GA-nya ya kak Dinoy, semoga kali ini saya beruntung ^^

    Twitter : @naan_dita
    Link Share : https://twitter.com/naan_dita/status/448725757968150528

  7. “You can not predict the mood of Mother Nature, but well practice, experience and good preparation a good tools to deal with her”. by Hendri Agustin

    alam tidak bisa di prediksi, tapi persiapan yang baik akan membuat kesepakatan yang bagus denganya. kira-kira begitu terjemahan dari Quote oom Hendri Agustin. di dalam situasi genting sering kali kita mengalami sebuah masalah dengan cara bertahan hidup. kita akan mudah panik, stress, lebih parahnya berujung pada kematian. bagaimana kita bersikap dan memperlakukan alam pada kondisi darurat sangat mempengaruhi proses kehidupan kita selanjutnya. pertahanan di alam liar yang aku pilih, atau lebih tepatnya ambar. sosok ambar disini juga mengingatkanku pada Eyang Ambar yang di usia senjanya masih mampu bertahan dengan setumpuk kegiatan di alam bebas, *bisa jadi sosok ambar di usia senja😀
    setiap fase kehidupan, kita dituntut untuk tetap survive atas apa yang kita lakukan.🙂

    twitter : @areea51
    siapapu pemenangnya, kita adalah pemenang karena mau untuk meluangkan waktu mengikuti give a way🙂

  8. Kalau harus pilih mempelajari salah satu divisi, aku akan pilih divisi navigasi. Alasannya, karena lebih baik mendalami kelebihan kita kan? Aku pribadi merasa cukup percaya diri dalam hal navigasi, walaupun bukan di gunung ya. Makanya, mau juga mempelajari benar-benar bagaimana divisi navigasi, terutama untuk mencari cara menutupi kekuranganku: mataku payah di kegelapan. Kalau belajar tentang navigasi kan aku bisa cari cara lain untuk mempertajam kelebihanku sendiri. Nggak cuma mengadalkan mata aja mungkin? Lagipula, daripada diam menunggu bantuan, aku lebih suka bergerak mencari jalan keluar.

    Nama: Nurul (Ruru)
    twitter: @y_fantazer

  9. Saya pilih Divisi Survival.
    Terjebak di hutan belantara, mau nggak mau, suka nggak suka, kita dituntut untuk tetap bertahan hidup sembari mencari jalan keluar dan menanti bantuan. Salah satu tantangan yang akan kita hadapi yakni bagaimana menyesuaikan diri untuk hidup di hutan. Bagaimana cara memilih lokasi untuk beristirahat serta bagaimana cara makan/minum agar energi tetap ada. Apalagi jika cadangan makanan dan minuman kita semakin menipis. Akan tetapi, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dimanfaatkan di alam. Diantaranya yakni ada air sungai, dedaunan, buah- buahan dari pohon liar, dsb. Seorang survivor harus tahu mana yang dapat dimanfaatkan dan tak beracun. Nah salah satu manfaat mempelajari survival ialah agar tetap survive di hutan belantara.

    Twitter: @inesagustaph
    Link share: https://twitter.com/inesagustaph/status/450442784319619072

  10. Hmmm… persiapan kalo2 terjebak di hutan…
    sulit c yah. biasanya saiah mah kejebaknya di mall :p

    Tapi seandainya musti milih divisi apa buat jaga2 di hutan, saiah milih divisinya Dom… Navigasi!
    Bukannya kenapa2… saiah c sukak hilang arah dan tujuan… bahkan tujuan hidup #eh (?!) :p
    Jadi pengen belajar baca arah (dan mengingat jejak kalo bisa) supaya bisa bertahan. Lagipula, beberapa bulan lalu saiah ikut pelatihan semacam pembinaan mental (semacam pelatihan sebelum keterima capeg), dan waktu itu mainin semacam survival game. Dan… yah, di sana saya ngerasain kalo navigasi itu penting banget. Jadi saya pilih navigasi.🙂

  11. lebih baik memiliki divisi Dom: Navigasi! buat aku navigasi = penunjuk arah. jadi ketika kamu sedang tersesat saat itu lah kamu butuh penunjuk arah yang tepat. tergantung yang membutuhkannya. saat kamu tersesat jauh lebih baik untuk memiliki penuntun arah yang tepat kan?🙂
    Sintyatika (@Sintyatika_Tyn)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s