Loved You Love You Then by Daisy Ann

lovedyouloveyouthen

Judul: Loved You Love You Then

Penulis: Daisy Ann

Penerbit: Media Pressindo

Genre: Fiksi, Romance, Dewasa Muda, Drama

Terbit: November 2013

Tebal: 176 Halaman

Cara dapat: Buntelan dari sang penulis

Harga normal: Rp30.000,00

Pernahkah kamu merasakan jatuh cinta pada seseorang, hingga merasa perlu untuk menuangkannya melalui sebuah surat? Menyampaikan rasa kagummu di dalam secarik kertas dan membiarkannya tersenyum membacanya. Sebuah surat cinta yang dikirimkan oleh Fera kepada cowok yang dikaguminya di SMA, Awan. Sebuah surat yang bahkan Fera tak terlalu mengingatnya tetapi berlanjut di tujuh tahun kemudian. Awan menghubunginya dan mengingatkan bahwa ia pernah menerima barisan kata-kata dari Fera. Awan mengundang Fera memasuki kehidupannya, membuka larik kenangan dan melenakan perasaannya. Hingga kemudian Fera menyadari, bahwa ia bukanlah wanita sejati yang mengisi relung hati Awan. Ada Elena, mantan kekasih yang masih membayangi. Apakah reuni setelah tujuh tahun itu mampu mempersatukan hati Fera dan Awan?

Terima kasih kepada Daisy yang sudah menawarkan untuk saya membaca dan mengulas salah satu karyanya ini. Sebuah novel yang ringan dan manis. Tentang cinta lama bersemi kembali. Tentang Windy Firstiana Fera, seorang fotografer yang bertemu kembali dengan seorang pria di masa lalunya, seorang dokter bernawa Ariawan Sadewa. Melalui sebuah pesan Facebook, keduanya berkomunikasi kembali setelah tujuh tahun berpisah. Fera tinggal di Surabaya, Awan berada di Malang. Dua kota yang tak terlalu jauh, sehingga memudahkan Fera untuk datang menemui Awan ketika pria tersebut mengundangnya melalui pesan Facebook. Dan ketika keduanya bertemu, Fera serasa memperoleh harapan akan mendapatkan cinta Awan. Fera bukannya tak tahu bahwa ada Elena di kehidupan Awan, pacar Awan yang ia ketahui dari Facebook-nya. Namun Awan sendiri yang mengatakan bahwa mereka berdua telah putus, dan Fera pun tak menolak untuk menjadi pelarian Awan. Kebersamaan demi kebersamaan pun berlanjut, hingga keintiman semakin memuncak ketika mereka berada di puncak Gunung Bromo. Namun, ketika sosok Elena hadir kembali, Fera pun harus rela menyadari kenyataan bahwa ia harus menyingkir. Namun apakah ini akhir dari segalanya?

Kesan saya setelah membaca novel ini, ceritanya manis, penulisannya rapi, dan alurnya ya baik-baik saja. Hanya saja, saya merasa kok emosinya kurang banget ya. Cenderung datar. Terlebih kalimat-kalimat dalam dialognya cenderung kaku, baku banget. Novel ini tipis, nggak sampai 200 halaman. Seharusnya sehari saja cukup kalau saya terus membacanya, tapi kok saya nggak merasa memiliki keterikatan untuk mau terus menyimak kelanjutannya. Ya karena datar itu, sih. Saya sempat menganggap, bahwa konflik ceritanya yang ringan sebenarnya membuat novel ini cukup jika dijadikan cerpen saja, dengan menghilangkan beberapa narasi dan detail yang nggak perlu.

Lalu, secara umum penulisan di novel ini juga rapi, kok, tapi masih ada beberapa kesalahan penulisan yang saya temukan. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Novel ini masih pakai kata ‘memerhatikan’ padahal menurut KBBI 4 yang terbaru, seharusnya ‘memperhatikan’, dan novel ini juga sudah terbitan 2013 kok.
  2. Hal. 39: super sibuk ~ supersibuk, karena super di KBBI adalah bentuk terikat yang jika disandingkan dengan kata sifat maka penulisannya digabung.
  3. Hal. 39: syaraf ~ saraf.
  4. Hal. 45: supir ~ sopir.
  5. Hal. 45: hentakannya ~ entakannya.
  6. Hal. 70: shampo  sampo
  7. Hal 171: Perancis ~ Prancis.

Nggak banyak, kan, kesalahannya. Cuma saran buat editor, lebih teliti lagi cek ejaan kata yang benar. Dan pastikan yang digunakan KBBI edisi 4 yang paling update, yaa. Lalu, ada satu deskripsi yang menurut saya terlalu bertele-tele dan sebenernya nggak perlu sih. Yaitu soal Fera nggak mau dipanggil ‘Windy’ oleh Awan. Padahal itu kan nama depannya juga, mestinya nggak masalah. Awalnya sih Fera senang juga karena dianggap istimewa oleh Awan, karena hanya cowok itu yang manggil dia ‘Windy’. Namun ketika merasa patah hati, cewek ini kembali marah gara-gara panggilan ini. Dan di halaman 146-147 ada deskripsi seperti ini:

“Windy.” Nama itu tak pernah diucapkan oleh orang lain. Hanya satu orang. Sebanyak apa pun aku memintanya untuk tak memanggilku dengan nama depanku, ia tak pernah mau mengabulkannya. Nama itu selalu terasa asing. Aku bahkan tak tahu kenapa kedua orang tuaku menamaiku dengan kata itu jika pada akhirnya keluargaku sendiri selalu memanggilku dengan nama Rara. Bahkan sejak awal aku bersekolah, teman-temanku selalu menyebutku dengan nama Fera. Aku ingat, dulu aku memiliki teman sekelasku yang bernama Winda. Itulah sebabnya, setiap memulai perkenalan dengan teman sekolahku dulu, aku selalu memakai nama Fera.

Hiyak ampun… hanya gara-gara ada yang manggil nama depannya aja penjelasan karena kekesalannya sampai segitunya! Hehehe. Saya bahkan nggak menemukan alasan kenapa Fera nggak menyukai nama ‘Windy’. Maksud saya, nggak ada yang bilang arti nama itu buruk, kan? Kalau perkara keluarganya aja manggil dia dengan unsur nama belakang sih apa salahnya? Jadi teringat keponakanku bernama Christina Elvira Rahardjo yang dipanggil ‘Nara’. Hihihi. Belum lagi setting saat deskripsi itu pas Fera mau masuk stasiun dan keretanya sebentar lagi datang, dia harus segera bersiap. Jadi bayangkan ada yang manggil nama depannya, dia nggak suka, tapi pikirannya panjaang aja gitu. Kesuwen, Mbak!😀

Yah, begitulah. Saya sendiri sempat bingung mau meresensi kayak gimana, karena menurut saya, saya juga nggak berusaha menemukan celahnya novel ini. Kesan yang paling utama ya datar aja dan konfliknya yang terlalu sederhana. Kenapa tiba-tiba Awan mencari Fera lagi padahal dia juga sepertinya baik-baik saja sama pacarnya, sampai pacarnya itu minta break dengan alasan yang… ah konyol banget deh setelah tahu apa alasannya! Hehehe. Tapi untuk bacaan santai, boleh aja sih novel ini, bisa dinikmati karena kerapiannya walau kurang greget. Jadi untuk kerapian dan cerita yang manis tapi kurang greget, saya beri dua setengah dari lima bintang, yaa!🙂

Note: Diikutkan pada Indonesia Romance Reading Challenge 2014.

2 thoughts on “Loved You Love You Then by Daisy Ann

  1. Mbak Daisy itu baru nerbitin novel enggak?

    Wah, setelah membaca resensinya, rada mikir nih buat beli. Oh ya, kalau KBBI 4 ada yang versi digitalnya? Saya juga mau mempelajarinya kalo ada. Biar bisa tertib menilai novel, hehe

    Soal nama, rada menggelitik juga. Nama saya Hapudin. Tapi saya paling tidak suka ada yang panggil UDIN. Katro banget ya namanya. Jadi saya kalo kenalan pakai nama ADIN. Biar Ndeso, tapi enggak UDIN bangetlah. BUat UDIN sedunia, PISSSSS

    • Hihihi, hai Adin! Makasih ya udah mampir ke resensiku.😀 Lucu juga alasanmu soal nama, hehe. KBBI 4 aku cari2 versi digitalnya nggak nemu2 nih, adanya yg digital ya KBBI 3 dan ada beberapa perubahan meski nggak untuk semua kata. Aku sendiri udah punya KBBI 4 yang versi cetak jadi bisa sering update.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s