The DestinASEAN by Ariev Rahman and friends

destinaseanJudul: The DestinASEAN

Penulis: Ariev Rahman dkk (total 11 penulis)

Penerbit: B-First (Bentang Pustaka)

Genre: Nonfiksi, Perjalanan, Antologi cerita

Terbit: Juli 2013

Tebal: 246 halaman

Cara dapat: Pemberian dari Adam & Susan Pergi Dulu

Harga normal: Rp46.000,00

Asia Tenggara terdiri dari 10 negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Vietnam, Thailand, Laos, Kamboja, Myanmar, dan Filipina. Siapa saja yang sudah menjelajah ke 10 negara ini? Saya sendiri selain pernah melakukan perjalanan ke beberapa wilayah di Indonesia, juga pernah ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Dan di buku ini kita akan diajak menjelajah kisah 10 negara, oleh 11 penulis berbeda. “Traveling kali ini bukan lagi tentang pergi ke banyak tempat dengan bujet seminim mungkin, melainkan tentang ‘rasa haus yang tertawarkan'” begitu kalimat penutup di blurb-nya. Kalimat yang cukup persuasif, tetapi apakah isinya juga benar-benar menarik? 

Terima kasih buat pasangan Pergi Dulu yang sudah memberi saya buku ini untuk dibaca dan diulas di blog buku ini.🙂 Saya memang sudah lama mengetahui buku ini, sempat ingin membeli karena ingin membaca cerita-cerita perjalanan yang lebih bersifat travelogue alias berkisah, tapi kok masih ragu. Akhirnya saya lebih tertarik untuk membeli novel, hehe. Nah saya seneng deh ketika Kak Susan menawari saya untuk membaca dan mengulas buku ini. Yuk mari dibahas….

Buku ini diisi oleh 11 penulis dengan total 20 cerita. Kesebelas penulis tersebut adalah: Adam, Susan, Adis, Ariev, Dendi, Eka, Marischka, Oryza, Puti, Roy, dan Venus. Mulai membuka buku ini, saya disuguhkan dengan daftar isi yang membagi ke-20 cerita dalam empat bagian tema cerita: People-Culture (Mengenal Manusia, Menyelami Budaya), City (Menghirup Atmosfer Kota), History (Menguak Sejarah, Belajar dari Kekalahan), dan Nature (Menyapa Alam). Mulanya, saya banyak berharap dari pembagian empat tema cerita ini. Namun, di akhir membaca buku ini, saya jadi menyimpulkan lain. Sabar, akan saya uraikan dulu ulasannya. Berhubung sambil baca ini saya sambil nulis catatan-catatan di Goodreads dan Twitter, jadi akan aku coba tulis satu per satu ya.

People-Culture berisi empat cerita, dan bagi saya yang nancep adalah cerita Puti saat ke Singapura. Puti menulis dengan sederhana namun nyaman dibaca. Ini adalah kunjungannya yang kesekian kali ke negara kota ini, tetapi di kunjungannya yang agak berbau modus ini Puti merasakan nuansa yang lain. Singapura yang hiruk pikuk ternyata masih menyisakan warga-warga yang ramah dan menikmati ritme hidup yang tenang. Mereka melempar senyum kepada saya… Rupanya tidak semua orang Singapura berjalan cepat seolah nanti sore kiamat. Catatan saya: Cerita awal tentang Singapura bikin aku mengingat perjalanan terakhir ke negara ini di Juli 2013. Ada yang lain dari Singapura, tak pernah bosan.🙂

Untuk ketiga cerita lain di bagian pertama ini, berikut catatan-catatan kecil saya:

Cerita kedua di Makati. Sepertinya saya harus terbiasa dengan joke-joke garing dan maksa ala Roy di tiap ceritanya. Dan, sayang nggak nemu kesinambungan dengan tema tentang manusia dan budayanya.😦

Cerita Mbok Venus di Thai Message ini lucu tanpa berusaha melucu, huahaha, aku ngakak! Sama, Mbok, aku yo dari kecil males dipijet… tapi kalau sakit Mama pasti bilang enak dipijet ndang waras.😄

Cerita Adam di Myanmar, saya memang nggak begitu lancar membaca artikel dalam bahasa Inggris penuh, tapi saya terkesan akan perjumpaannya dengan seorang wanita tua yang tersenyum tulus. Ada dua kutipan yang saya rekam dari tulisan Adam:

Just when we thought all hope was lost, a man came charging out of the darkness with a glowing smile on his face.

Travel is about learning and we weren’t about to let this opportunity pass.

City mengisahkan tentang suasana sebuah kota besar, dan ada enam cerita yang terkandung. Yang paling saya suka adalah kisah milik Eka saat di Chinatown, Singapura. She’s such a story teller! Eka mampu memadukan dengan pas antara pengamatannya terhadap sekitar dan juga kesan yang timbul dari dalam hatinya. Detail tapi mengasyikkan dengan selipan pesan dan kesan yang nancep. “Jangan minta diskon atau nawar harga kalau di kuil, apa kamu mau keberuntunganmu didiskon juga?” itu adalah ucapan dari seorang penjual suvenir di kuil yang dikunjungi Eka yang membuat saya tersenyum. Ada pesan moral yang tersampaikan, bahwa nggak melulu membeli barang harus ditawar sampai murah, terlebih hasil penjualan barang tersebut juga bertujuan sosial. Lalu catatan kecil tentang lima cerita lainnya:

Brunei Trip oleh Oryza terlalu deskriptif, memang sih sesuai tema tentang menghirup atmosfer kota, tapi kurang ‘sesuatu’ ajah. Kurang nancep kesan yang diceritakan.😀

Rupanya, menulis komedi itu harus ‘serius’ biar lucu ya, hehe. Baca selipan jokes-nya Ariev di Mamacation… kurang lucu.

Priceless Penang juga oleh Eka, sama asyiknya lah dengan cerita sebelumnya, detail dan kesannya berpadu dengan enak.

Cerita Dendi bareng TKI di Kuala Lumpur bagus-bagus aja, tapi lebih oke kalau kehidupan TKI itu lebih dieksplore kali ya. Sudut yg berbeda.^^

Tidak ada catatan berarti untuk cerita Oryza di Manila. Sama seperti cerita Brunei, deskriptif banget, dan berhubung saya pernah ke Manila jadi saya flash back sendiri dengan keruwetan kota itu.🙂

History mengajak kita menyelami lagi masa lalu sebuah negara yang pernah mengalami ingar-bingar peperangan. Cerita Susan di sini memang sangat pas dengan tema. Sembari mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Laos, Susan menceritakan lagi bak seorang guru Sejarah tentang apa yang pernah melanda negara tersebut di masa peperangan. Namun sayang menurut saya penulisannya terlalu reportase, kurang impresif. Sedang, kesan yang mendalam saya dapat dari cerita Venus di Cu Chi Tunnels Vietnam. Perasaan takut, merinding, disampaikan oleh Venus dengan sederhana namun kena! Dari situ kita dapat tergambarkan suasana mencekam yang harus dirasakan warga Vietnam zaman dulu.

Untuk beberapa cerita lain di bagian ketiga ini, berikut catatan kecil saya:

Nggak ngerti kenapa cerita pertama dari Puti: Ketika di Ayutthaya harus ditulis dalam bentuk sajak begitu? Jadi putus-putus bacanya padahal dari isinya lebih sesuai kalau format narasi biasa aja.

Mulai bosan dengan pembukaan di cerita Phnom Penh-nya  Dendi.

Shutter Love-nya Adis oke juga, ambil sudut pandang penceritaan orang kedua yg beda.

Marischka menutup bagian ketiga dengan asyik. Menelusuri sejarah lewat eksplorasi seru.🙂

Bagian terakhir adalah Nature, Menyapa Alam. Dan, justru dari keempat cerita yang ada, saya malah terkesan dengan cerita dari Marischka yang sekaligus sebagai penuntas kisah 10 negara ini. Dia menuliskan cerita pengalamannya di Jailolo dengan apik; betapa alam dan penduduk yang dideskripsikan lewat pengamatannya sungguh memikat dan pas, tidak ada unsur menonjolkan diri sendiri. Ya, sangat disayangkan bahwa beberapa penulis di sini terkesan menonjolkan dirinya sendiri lewat aksesoris-aksesoris yang berlebihan, misalnya candaan-candaan yang udah nggak nyambung, nggak lucu pula. Atau, terlalu asyik menceritakan dirinya begini dirinya begitu, padahal yang dibutuhkan pembaca adalah hasil pengamatan dan juga kesan yang dirasakannya. Beberapa penulis yang melakukan hal tersebut, menurut saya adalah Roy, Ariev, dan Adis. Saking sibuk sendiri saya sampai kurang mendapat kesan akan tempat yang diceritakannya. Sayang banget.😦

Oh ya, untuk bagian nature, ini catatan-catatan kecil saya lainnya:

Cerita Adis di Sumut-Sumbar temanya menyapa alam, tapi penulis lebih menonjolkan tentang dirinya sendiri.😦

Mendaki gunung di Singapura, cerita Roy is much better than the Makati’s one.

Untuk cerita Ariev di Vietnam, hm, lebih ke proses pencariannya ya, karena penggambaran alamnya malah minim banget, kayaknya cocok kalau ke bab people-culture ini mah, menurut sayaa.🙂

Lalu, beberapa catatan teknis tentang kesalahan penulisan, sebenarnya nggak banyak kok, tapi:

  1. Di daftar isi ditulis: Menguak Sejarah, Belajar dari Kekalahan. Namun sayang di footer cerita dengan tema yang bersangkutan, yang ditulis adalah Menguak Sejarah, belajar dari Kesalahan. Dan baru nyadar salahnya ya pas lagi mau meresensi, nih, sambil buka-buka bukunya.:/
  2. Di halaman 3 (cerita Puti di Singapura): Jumat siang sebelum konser mau ke mana? Padahal di halaman yang sama di bagian lebih atas disebut konsernya Rabu malam.:/
  3. Info kurs yang berulang di cerita berbeda. Menurutku info yang sama seperti itu disebut sekali saja atau dibuat glosary-nya? Meski beda cerita tapi ini kan satu buku, jadi malas baca info yang sama dobel-dobel.
  4. Catatan typo halaman 130-> penduduk lokal berbaur dengan turis .. pada pendoa berkumpul dengan ateis. (pada harusnya para kali ya!)

Membaca The DestinASEAN mengingatkanku lagi tentang susahnya menulis cerita perjalanan. Ada dua hal yang diminta: menggambarkan tempat kita berada, sekaligus kesan apa yang kita dapat dari dalam hati; dan keduanya harus berpadu dengan pas untuk membuat pembaca terkesan. Ciri khas baca buku antologi, kita nggak bisa nebak akan dibawa ke mana selanjutnya. Beda penulis,beda cerita, beda gaya. Leave your expectation also. Kalau aku jujur aja baca buku ini awalnya berharap mendapati kumpulan travelogue. Well, ada sih beberapa yang memenuhi, ada yang bisa cerita tanpa harus tampak seperti artikel suatu tempat yang jelasin di tempat itu ada apa saja. Yang kusuka tuh saat penulis mampu menjalinkan apa yang dialami panca indranya, dengan gejolak dari dalam hatinya. Di The DestinASEAN ada yang seperti itu, serasa curhat dan itu bagus!

Mulanya, berharap banyak dengan pembagian empat tema di The DestinASEAN. Sayang, tak semua cerita dapat mencerminkan masing-masing tema. Beberapa penulis malah ‘sibuk’ sendiri.  Lebih cocok pembagiannya per negara aja kali ya, hehe. Jadi kalau saya bilang apa The DestinASEAN kurekomendasikan? Yes, its like a catalog of South East Asia countries. Pembaca akan punya gambaran sebelum bepergian ke sana. But… if you expect a travelogue, sebuah buku yang lebih berkisah tentang negara-negara di Asia Tenggara jujur aja… The DestinASEAN kurang memenuhi.🙂

Stars: 3 of 5

8 thoughts on “The DestinASEAN by Ariev Rahman and friends

  1. Wah, padahal aku paling suka sama Ariev Rahman lho,
    Baru beberapa minggu kenal blog dia dan selalu ngakak baca tulisan dia. Gila tuh orang *in the good way* xD

  2. waaah buku ini kayaknya jadi salah satu hadiah dari bentang😀 dan belum dibuka juga deh sepertinya😄 bener noy, nulis tentang perjalanan itu susah-susah gampang. kadang banyak banget yang pingin ditulis, tapi kita harus pinter2 milah-milahnya. belum lagi perasaan “wajib ngelucu” yang kayaknya jd trend buku2 perjalanan di indonesia (vabyo dan trinity juga termasuk). padahal nggak semua cerita harus lucu kan. ada juga yang bisa bikin terharu, bikin mikir atau bikin merinding serem.

    • Kak Astrid: haha iyaa aku jg antara penasaran mau baca tapi masih agak ‘sayang’ takut kuciwa…😀 Untung dapet gratisan #heh

      ” padahal nggak semua cerita harus lucu kan.” –> bener banget! Kalau aku pribadi bisa ngerasain penulis yg nulis apa adanya dan yang tampak berusaha. Mungkin bagi mereka sih nulis biasa aja, tapi entah kenapa berasa ajah.😀 Btw jadi nggak sabar baca tulisan Mamah Dino di The Ho[s]tel 2! =D

  3. Pingback: Behind the Book: The DestinASEAN | Dinoy's Books Review

  4. Pingback: Calling for guest post! :D [Travel Book Review] | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s