Kedai 1001 Mimpi by Valiant Budi

Kedai1001MimpiJudul: Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

Penulis: Valiant Budi

Penerbit: Gagas Media

Genre: Nonfksi, personal literature

Terbit: 2011

Tebal: 444 Halaman

Cara dapat: Pinjam Kak Tatz

Harga normal: Rp 55.000,00

Seindah-indahnya di negeri orang, masih lebih nyaman di negeri sendiri. Dan seburuk-buruknya di negeri sendiri, percayalah, negara luar belum tentu tak memiliki keburukan yang sama, bahkan lebih parah. Sepertinya hal inilah yang ingin disampaikan oleh Valiant dalam bukunya, yang memuat kisah nyatanya selama bekerja di Saudi Arabia, di sebuah kafe berstandar internasional. Sebuah jurnal harian, yang saya penasaran karena kehebohannya, dan meski telat akhirnya meminjam juga dari teman. Mulai membaca Agustus 2013, dan baru selesai sekarang, Januari 2014. Butuh waktu lima bulan, karena sempat saya tinggal lama. Awal-awalnya sih seru bacanya, tetapi….

Banyak yang memberi review bagus tentang buku ini, bahkan rating rata-ratanya 3.82 dari 762 pembaca di Goodreads. Awalnya pun saya masih menikmati keseruan yang dituturkan oleh Valiant dengan lugas dan jujur. Mulai dari bagaimana ia begitu memimpikan untuk kerja di negeri 1001 mimpi, sampai proses yang begitu berbelit, sempat diberi harapan palsu, hingga akhirnya berangkat juga. Namun impian tak selalu seindah kenyataan, di hari pertama kerja pun Valiant sudah merasa bagaikan disiksa, kerja keras tanpa petunjuk yang jelas. Belum lagi menghadapi pelanggan yang tak sabaran, arogan, suka ngomel, dan berbagai tabiat lain yang bahkan membuat Valiant mengaitkan antara moral agama yang diagung-agungkan negara ini dengan kenyataannya yang tak sesuai.

Hm. lalu, kenapa saya sampai perlu waktu lama untuk menuntaskan buku yang jujur ini? Ya, ada beberapa faktor. Saya paparkan saja ya:

  1. Lama kelamaan ceritanya ya berkisar itu-itu saja. Kasarannya, jika ada 100 pelanggan atau pengunjung kafe yang tak menyenangkan, maka semuanya diceritakan. Polanya juga udah ketebak, apa saja hal tak menyenangkan tersebut, seperti kebawelan pengunjung yang tak begitu tahu menu yang dipesannya, pengunjung yang melanggar aturan dengan arogannya, atau bahkan pengunjung yang tak senonoh. Ya, saya yakin sih tak semua pengunjung diceritakan, pasti bakalan lebih tebal kalau begitu. Cuma ya masih aja menurut saya, terlau banyak pola yang sama jadi membosankan. Mungkin penulis ingin menegaskan kalau ini lho hal-hal yang bikin aku merasa negeri ini bagai neraka.
  2. Typo. Saya harus bilang salah tulisnya teramat mengganggu. Saya sampai berpikir, ini ngeditnya buru-buru banget atau gimana, yah? Saya sih nggak tandain, boleh bilang saya bohong, tapi baca sendiri aja biar tahu.πŸ™‚ Saya ingat suatu malam saya sedang proofreading naskah, saya rehat dengan lanjut baca Kedai 1001 Mimpi, tetapi tak lama melemparkannya lagi karena ketemu typo-typo fatal dalam satu halaman. Heuh, Gagas, please deh.😦
  3. Kata-kata yang banyak vulgar. Oh, mungkin kalau ini maksudnya ingin menunjukkan ketidaksopanan para pengunjung, it’s okaylah, tetapi kalau keluar dari sang penulis sendiri misalna guyonan yang menyebut-nyebut alat vital atau kejorokan lain, buat saya mikir; apakah karena nonfiksi jadi editingnya longgar, dibiarkan saja setiap curhatan penulis meluncur begitu saja?
  4. Ada cerita dari orang lain yang menyinggung-nyinggung perilaku seksual menyimpang yang, menurut saya, tak relevan untuk diceritakan di sini. Jadi ceritanya, Vabyo mendengar cerita dari temannya sesama TKI (lebih tepatnya TKW) tentang suaminya yang orang setempat dan saat melakukan hubungan seksual suka aneh-aneh dan menyimpang. Euh, buat apa, sih? Jadi nggak fokus. Ya memang penulis ngaku, temannya sudah mengizinkan kalau cerita itu dimuat, bahkan dia sendiri yang minta. Tapi tetap saja susah mengaitkannya dengan jurnal harian Vabyo terhadap kehidupannya sebagai TKI. Mestinya kalau mau ikut memasukkan cerita orang lain, ya yang berkaitan langsung dengan temanya saja.
  5. Betapa penulis mencoba teramat sangat untuk membuat buku ini mudah dinikmati dan lucu (?). Sering sekali menuliskan kata-kata yang berima tetapi jayus. Ya kalau memang itu gaya penulis sih nggak masalah sebenarnya, tetapi saya nggak cocok saja.πŸ™‚
  6. Di akhir halaman buku saya sempat merasa penulis curhatnya berlebihan. Padahal di sepanjang buku sudah diuraikan tentang banyaknya pelanggan yang resek, eh ditambahi lagi dengan meringkaskan lagi. Misalnya, “I wanna a large cappuccino without milk!” “So I can make you an Americano*, Sir.” “No! Didn’t you hear me? Make me Cappucino WITHOUT MILK!” Ya memang kalau dipikir-pikir pelanggan ini cerewet juga, sih, tetapi sebagai barista mestinya Valiant juga tahu nggak semua pelanggan punya pengetahuan yang sama tentang minuman, jadi ya biarlah request sesuka hati, kalau bener-bener capek nggak usah dibikinin, hehe. Yang mau saya bilang adalah, curhatan Valiant yang itu berlebihan, nggak semua harus diceritakan sih, ada hal-hal yang memang lumrah dialami sehari-hari tanpa harus dijadikan cerita di buku.πŸ™‚

Kesimpulan: it was okay for a journal, but I found it hard to enjoy it.😦

Stars: 2 of 5 stars

One thought on “Kedai 1001 Mimpi by Valiant Budi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s