Mi Amor by Sayfullan

MiAmor

Judul: Mi Amor – di titik nol kota Madrid

Penulis: Sayfullan

Penerbit: Senja (imprint dari DivaPress)

Genre: Dewasa Muda, Drama, Romance

Tebal: 313 Halaman

Terbit: Desember 2013

Cara dapat: buntelan dari penulisnya, hehe^^

Harga normal: Rp 40.000

Kisah ini terdiri dari empat fragmen utama, mari saya ceritakan seara ringkas satu per satu. Kiana, sang gadis yang begitu tertarik pada seni lukis dan mendapat kesempatan untuk pergi ke Madrid. Di sana, tak dinyana dia bertemu dengan Reza, sahabat masa kecilnya, yang sebenarnya juga mahasiswa di kampus yang sama dengannya tapi malah tak pernah dijumpainya sebelum kedatangannya di Madrid ini. Lalu ada Aditya, cowok yang menghabiskan tahun-tahun hidupnya tinggal di Belanda bersama neneknya, hingga tiba hari dia memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Dan ada Serilda, saudari kembar Kiana tetapi berkebalikan sifat dengan Kiana. Serilda selalu merasa harus mengalahkan kembarannya, hatinya dipenuhi iri terhadap Kiana yang supel dan mudah disukai orang. Dan empat orang ini tak tahu menahu jika rahasia masing-masing akan membuat mereka saling bersinggungan dan menghadapkan pada pilihan hati nurani masing-masing. Pilihan seperti apa yang harus mereka putuskan? Adakah takdir ikut campur terhadap tindakan mereka dalam memilih ini?

Pertama, saya harus mengucap terima kasih kepada Sayfullan karena berkenan memberikan novel ini secara gratis kepada saya. Dan hasilnya, saat saya memutuskan untuk mulai membaca novel ini pagi ini, ternyata saya mendapati novel ini enak dibaca dan menyenangkan, jalinan katanya membuat saya sebagai pembaca untuk tertarik terus melanjutkan karena saling terkait, pilihan diksinya tidak membosankan, pun tidak perlu terlalu puitis melankolis. Buat saya, pas saja. Cukup sehari menamatkannya. Namun begitu, tetap saya harus memberikan beberapa kritik bagi editor dan penulis. Untuk editor dulu, ya. Secara keseluruhan memang penulisannya rapi, baku tetapi memberikan toleransi tak baku di beberapa bagian terutama dialog, karena memang segmennya untuk dewasa muda dengan para tokohnya pada usia kuliahan. Sayangnya masih ada beberapa yang salah tulis, meski tak sampai terlalu mengganggu keasyikan membaca, seperti ini:

  • Intiusiku (hal. 37) -> intuisiku (typo)
  • Mempesona (mulai hal. 40)-> memesona.
  •  Jadwal kepulangan kita bakal diajukan besok pagi (hal. 61) -> dimajukan.
  • Mempercayai (mulai hal. 89) -> memercayai.
  • Jakarta Puat (hal. 160)-> Jakarta Pusat (typo).
  • Bungah (hal. 171) -> awalnya juga mengira ini diambil dari bahasa Jawa, tetapi ternyata di KBBI ada yang berarti senang, gembira; jadi penulisannya tak perlu dikursif.
  • Belum sekalipun pernah ia rasakan (hal. 265) -> sekali pun, karena konteksnya ‘sekali saja’, bukan meskipun/walaupun.
  • Kita akan berpetualang (hal. 305) -> di KBBI, petualang: orang yang bertualang (subjeknya); sedangkan kata kerja seharusnya bertualang: mengembara ke mana-mana, selalu pergi ke mana-mana.
  • Ketidakkonsistenan penggunaan dia dan ia sebagai kata ganti di narasi, padahal tujuannya juga untuk orang yang sama.🙂

(note: selain typo, saya sudah mengecek di KBBI 4 sehingga berani bilang itu salah tulis. ^^)

Kritik untuk penerbit: buku yang saya dapat terdapat cacat, nih, yaitu ada halaman yang acak dan sudah dibolak-balik dan ternyata ada empat halaman yang hilang. Huhu, seperti ini acaknya: 84,89,90,87,88,89,90,87,88,93; dan halaman yang tidak ada: 85, 86, 91, 92.

Lalu kritikan atau masukan bagi penulis:

  • Pertemuan Kiana dan Reza yang nggak sengaja di Madrid itu menurut saya logikanya agak bolong, karena dijelaskan juga sebenarnya mereka satu fakultas tetapi nggak pernah ketemu. Hm, masa sih barang ketemu mukanya sekilas aja nggak pernah, tetapi malah kebetulannya ketemu di negara yang jauuuh banget? Buat saya kebetulannya agak maksa. Hehe.🙂
  • Saat Adit datang ke rumah sakit tempat ibunya dirawat di Jakarta, tahu-tahu dia bertemu dengan Serilda dan langsung yakin bahwa Serildalah gadis kecil di masa lalunya, hanya karena Serilda memakai gelang akar bakau. Lalu, selanjutnya Adit memutuskan untuk mendekati Serilda dan bahkan melamarnya sebagai tunangan, tanpa melakukan observasi lebih lanjut perihal kebenaran Serilda sebagai gadis masa lalunya. Bisa saja salah, kan, gelang akar bakau kan nggak hanya satu. Tidak dijelaskan pula secara spesifik bagaimana gelang itu, memang intuisi yang berbicara, tapi menurut saya sebenarnya bisa dibuat Adit lebih berusaha lagi untuk meyakinkan kalau benar Serildalah yang dicarinya selama ini.

Sepertinya tidak banyak kok masukan yang saya berikan pada penulis, karena pada dasarnya saya suka cara menulis Sayfullan di sini. Dia menyajikan beberapa peristiwa di masa lalu yang membentuk alur konflik masa kini yang menarik. Kejutan-kejutan dan rahasia tersimpan rapi dan tak terduga hingga akhir cerita. Ketika saya mencoba menerka jalan ceritanya, eeh, ternyata saya salah. Hm, misalnya, ada adegan gadis kecil dan seorang lelaki kecil berbincang di taman, dari satu percakapan lantas merajut kebersamaan yang membuat mereka terikat rasa nyaman. Hingga akhirnya mereka harus berpisah, tetapi berjanji suatu saat mereka pasti bertemu lagi. Jadi ketika Kiana berbinar-binar bertemu Reza di Madrid, si sahabat lama, saya langsung merujuk pada peristiwa dua anak kecil tadi, tapi, o la la… *spoiler alert, hehe!*

Juga, saya menyukai cara menulis Sayfullan yang detail, tetapi tidak membosankan. Misalnya saat menceritakan Erick Britt (ayah dari Kiana dan Serilda) yang sedang serius dan asyik melakukan penelitian di laboratorium, maka istilah-istilah kimiawi pun disebutkan, tapi dijalinkan dengan kata-kata yang enak dan tidak berbelit, jadi saya tak sampai berkerut membacanya. Footnote-footnotenya juga membantu tapi tidak berlebihan. Ada salah satu adegan yang mendetail juga dan menjadi favorit saya, yaitu saat neneknya Aditya sibuk memasakkan makanan favorit cucu kesayangannya itu sebagai jamuan terakhir sebelum Aditya kembali ke Indonesia. Hm, seperti ini:

Setelah aroma dan warna sosis sapi itu memikat seperti yang dia harapkan, barulah dia memasukkan sosis panggang itu ke dalam kuali sedang dari gerabah yang berisi setengah air mendidih. Lalu dia membiarkannya sampai sosis berlemak itu empuk, terebus oleh panasnya air.

Itu hanyalah sepenggal dari adegan memasak yang dilakukan oleh neneknya Aditya yang menyenangkan untuk dibaca, saya serasa menyaksikannya langsung dan langsung ngiler dengan hidangan yang dimasak wanita tua yang digambarkan penuh kasih sayang itu.🙂

Jadi jika dapat diringkaskan lagi, Mi Amor ini adalah perihal Kiana, Reza, Aditya, dan Serilda yang menghidupi masa kini dari masa lalu mereka, berusaha memperjuangkan rasa cinta masing-masing dan memutuskan untuk memilih: apakah tetap setia pada kenangan masa lalu yang mengecoh, atau mensyukuri dan lebih terbuka pada masa kini yang menawarkan cinta tulus pada mereka? Saya suka, dan menyematkan 3.5 bintang pada novel ini.🙂

Note: diikutkan pada Indonesian Romance Reading Challenge 2014

Stars: 3.5 of 5 

5 thoughts on “Mi Amor by Sayfullan

  1. saya juga dapat gratis dari Sayfullan. Belum sempat membaca karena ketumpuk tugas lain. tetapi membaca review-,mu jadi tertarik untuk membacanya juga nih🙂

  2. Ditunggu reviewnya mbak Dian Nafi. Btw, selamat yah, PSA 2 nya lolos lagi🙂 n makasih buat reviewnya mbak dini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s