Geek in High Heels by Octa NH

GeekInHH

Judul: Geek in High Heels

Penulis: Octa NH

Penerbit: Stiletto Book

Genre: Chicklit, Roman, Drama

Tebal: 208 Halaman

Terbit: Desember 2013

Athaya adalah seorang wanita yang sehari-hari bekerja sebagai freelancer web designer, dan sangat menggemari sepatu berhak tinggi. Perpaduan kedua hal tersebutlah yang membuatnya menyebut diri sendiri sebagai “Geek in High Heels”. Geek karena sehari-hari dia berkutat dengan komputer, tetapi dia sekaligus juga sebagai perempuan yang modis dalam berbusana, terutama dalam memilih sepatu. Dalam kehidupan percintaan, Athaya tak bisa dibilang beruntung, karena di usianya menjelang 30 tahun dia malah jomblo, dikejar-kejar pertanyaan kapan kawin oleh keluarga besar, dan diputuskan oleh pacarnya dengan alasan yang tak masuk akal. Athaya capek dengan hal-hal menjemukan di percintaannya, maka naluri implusifnya membuat Athaya menulis lowongan mencari jodoh di blognya. Hal yang menggulir cerita di novel 208 halaman ini.

Chicklit ala Indonesia, chicklit ala Stiletto Book. Saya mau pamer dulu ah, kalau saya mendapatkan novel ini secara gratis karena mengikuti kuis di akun Twitter @Stiletto_Book. Pertanyaannya simpel, kenapa saya mau dapetin novel ini? Dan jawaban saya adalah karena saya suka banget sama kovernya yang chic, juga genre ceritanya yang sedang saya gandrungi, yaitu chicklit. Setelah menamatkan Just Friends, Remember Me, dan I’ve Got Your Number -chicklit luar negeri- saya jadi penasaran dengan chicklit ala negeri sendiri. Dan ketika melihat penampakan novel ini langsung, hehe, kesan pertamanya adalah: wow, imut banget! Secara gambar kover dan warna memang memenuhi ekspektasi saya, tapi secara ukuran dan tebal, ini mah bener-bener ringan, ukurannya kecil ala chicklit luar negeri yang sudah diterjemahkan oleh penerbit besar itu, tebalnya pun hanya 200-an halaman. Tidak tebal. Biasanya untuk chicklit terjemahan dengan ukuran buku segitu, tebalnya bisa 500-an halaman.🙂

Oke, saya pun mulai membaca, dan saya membacanya saat sedang menuntaskan pekerjaan proofreading naskah, di sela-sela gitu biar nggak jenuh. Namun, jujur lagi, membaca novel ini di tengah-tengah pekerjaan memeriksa naskah juga lumayan mengecewakan karena beberapa penulisan yang tidak tepat. Seperti ini: menghujam, lagipula, rasmi, sekali pun, souvenir, respon, very busy day, “Please, Marry me.”, mini market. Nah seharusnya yang benar seperti ini menurut KBBI: menghunjam, lagi pula, resmi (ini sih typo, hehe), sekalipun (karena di konteks kalimatnya lebih bersinonim dengan meskipun, walaupun, bukan berarti ‘sekali saja’), suvenir (karena di situ konteksnya bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris), respons, very busy day, “Please, marry me.”, dan minimarket.

Hmm, did I boring you with that? Hehe, maaf, biasanya saya nggak sampai sedetail itu mendata penulisan yang nggak baku, ini pas iseng aja kok ya banyak, dan sayang banget karena novelnya tipis juga.😦 Oke masuk ke segi cerita ya. Di prolog review sudah saya bilang tentang ciri-ciri Athaya. Nah, ada satu pendapat lagi tentang hal ini, betapa menurut saya di halaman-halaman awal penulis begitu berusaha untuk menjelaskan siapa sih si Athaya ini, dan gimana kecintaannya terhadap pekerjaan dan terutama sepatu hak tingginya. Untuk informasi, novel ini ditulis dengan sudut pandang orang ketiga. Misal, ada kalimat seperti ini: “Nice high heels” -> ini adalah pujian dari cowok, klien yang melihat penampilan Athaya. Menurut saya seperti ini bagus, penilaian dari orang lain yang membantu pembaca mengenali si tokoh utama. Lalu, “Saya memang geek kok. I’m a geek in high heels. Problem?”; Baru saja dia menilai seseorang dari sepatunya, itu termasuk salah satu tanda shoe fetishism; Kecuali warna sepatunya yang pasti akan mencuri perhatian banyak orang. Oke, itu adalah beberapa kalimat yang saya jadikan contoh yang bikin saya bilang: I had enough with this shoe explanations! Kembali pada kekecewaan saya dengan tipisnya novel ini, lalu penulis juga terlalu berbuih menjelaskan tentang identitas tokoh utamanya. Too much telling rather than showing, in my opinion.🙂

Isu utamanya adalah cinta yang akan datang tepat waktu, tak perlu diburu. Setelah di awal ditampakkan Athaya yang jemu dengan kehidupan percintaannya yang nahas, yeah just like in a movie, setelah itu keberuntungan menghampirinya yang menurut saya, terlalu instan. Ibra, kliennya, tertarik padanya dan mulai mendekatinya; lalu Athaya juga secara tak sengaja bertemu dengan Kelana, penulis yang juga mendekatinya. Dari jomblo ngenes berubah menjadi perempuan yang disukai dua pria sekaligus. Beruntung, bukan? Konfliknya adalah ketika Ibra yang begitu sempurna dan ideal, tapi ternyata nggak pas di hati Athaya, tapi Kelana yang lebih muda dan nyentrik, diam-diam mencuri hati Athaya, tapi nggak bisa dipegang juga.

Oh ya, mau cerita tentang Kelana.  Ini penulis pokoknya ceritanya beken abis, dah! Dikit-dikit ada aja event yang diadakan untuk ketemu pembaca dan penggemar di toko buku, entah book signing atau book launching. Setelah sebelum ini saya membaca novel lain yang ceritanya seorang penulis bisa sampai beli mobil dari royaltinya, sekarang saya baca deskripsi penulis yang terkenaal banget! Ya, kalau dilihat memang ada fenomena seperti itu, penulis lokal yang sampai bisa tenar dan novelnya laku banget sampai menguntungkan secara material. Tapi kalau secara umum, banyak banget penulis Indonesia yang nggak sebegitunya. Bahkan penulis favorit saya yang tenar habis pun, seingat saya nggak sampai sesering itu mengadakan event dalam waktu berdekatan dan, catat: di kota yang sama. Saya rasa jangan sampai pembaca miss leading dengan salah satu profesi aja, terkesan nggak real bagi saya deskripsi Kelana sebagai penulis di sini.

Lalu, apalagi ya? Menurut saya novel ini bukannya nggak bagus kok, penuturannya juga dekat dengan kehidupan nyata, sesuai genrenya. Tapi menurut saya kurang tajam aja, lebih banyak tentang runtutan Athaya ngapain aja, konflik yang itu-itu aja, dan sayangnya kurang mengolah premis yang mau diangkat. Saya sempat sebal dengan Athaya yang katanya mau cari pacar baru tapi jual mahal sama Ibra. Sok mau menolak ajakan makan malam padahal nggak ngapa-ngapain juga. Mungkin memang tujuan penggambarannya begitu, Athaya yang masih meragu. Dia dihadapkan pada dua hal yang menurut orang-orang di sekitarnya salah satunyalah yang ideal, tetapi Athaya lebih tertarik pada hal lainnya. Penyelesaiannya juga, nggak terlalu mengejutkan. Diakhiri dengan adegan Kelana temu pembaca (lagi!) di toko buku, lalu perihal iklan di blog Athaya yang sempat saya pertanyakan kelanjutannya pun, akhirnya muncul menjadi penyelesaian cerita juga.

Overall, such a nice try for Octa NH for her debut first novel. But for Stiletto Book’s editor, I hope you can make a sharper editing in next novel(s). Terima kasih atas kesempatannya memiliki novel ini.🙂

2 thoughts on “Geek in High Heels by Octa NH

  1. suka reviewnya kak😀
    walaupun dapet buku gratis, tp teteup deh ya harus dikritik kalau ada kealahan.
    oh iya, suka juga sama desain blog ka dinoy yg baru.
    sederhana tp keren.

    • Hehehe makasih Ruth🙂 Iya nih habis gemes udah novelnya tipis tapi nggak sreg bacanya😦 Tapi syukurlah penulis menerima dengan senang hati. Iyaa soal desain, gara2 blogwalking di blog temen2 BBI jadi tahu wordpress ada theme begini, jadi ganti suasana laahh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s