Resensi Dimuat di Media Cetak?? Mau, dong….!!

Resensi Rahib

 

foto diambil dari Rahib Tanzil sesepuhnya BBI yang resensinya sudah melanglang buana di media cetak

Ehm, nggak… artikel ini bukan berisi tips bagaimana caranya biar resensi temen-temen bisa dimuat di media cetak seperti koran, tabloid, dan majalah. Tapi ini lebih ke hak dan kewajiban kita kalau ditawari atau menawari diri menulis resensi buku untuk media cetak. Hal ini diawali dari saya yang terusik dengan cerita teman di grup resensor sore tadi. Jadi gini, ceritanya di grup Whatsapp, salah satu teman kasih ucapan selamat karena dia baca majalah dan ada resensi teman kami yang lain yang dimuat di sana. Satu halaman penuh, terus di bawah ada nama resensor lengkap dengan foto dan profesi sehari-harinya! Wuaah, jelas dong kami bangga, dan sekaligus jadi menyemangati diri biar meresensi lebih baik lagi, karena untuk dimuat di media cetak pasti ada kriteria-kriteria khusus.

Begitulah, ucapan selamat berdatangan silih berganti dari anggota grup Whatsapp, tetapi orang yang bersangkutan alias yang punya resensi buku nggak kunjung bersuara. Pas dia nongol, tahu-tahu dia kaget baca chatku yang paling dekat, bilang dia keren. Katanya, “Kenapa Kak Dinoy bilang aku keren? Aku nggak bisa baca chat-chat yang di atas, habis restart.” Begitu diceritakan, dia malah bingung sendiri. “Lho, aku nggak pernah kirim….” Hah?? Walah, kok bisa ya?? Usut punya usut dan singkat cerita, hasil temanku menghubungi majalah yang bersangkutan via E-mail, ternyata mereka hanya mengambil resensi dari blog temanku ini; foto diri temanku pun diambil dari sana. Dan mereka minta maaf terjadi salah komunikasi di antara redaksi sehingga temanku ini nggak dihubungi untuk minta izin!! Huft, gimana sih?? -__-

Nah, yang saya sesalkan adalah sikap majalah tersebut. Untungnya sih teman saya ini nggak terlalu mempermasalahkan, tetapi dia ada protes dengan profesinya yang dicantumkan di majalah, dia merasa penyebutan itu kurang tepat. Tapi kalau saya sendiri sih menyesalkan majalah itu tidak minta izin, karena bisa saja kan resensi yang sama ternyata pernah dikirimkan temanku ke media cetak lain? Kan nggak etis kalau artikel yang sama muat di dua media cetak berbeda. Saya bagikan juga ya pengalaman pribadi saya, sekalian dalam bentuk poin-poin tips.🙂

  1. Dulu saya pernah membantu sebuah penerbit untuk menulis resensi untuk keperluan promo di majalah dan tabloid. Dari awal saya sudah tahu bahwa nama saya tidak dicantumkan, karena artikel tersebut dianggap sebagai bagian dari redaksi majalah. Saya nggak masalah sih, karena sudah tahu dari awal. Nah yang penting adalah kesepakatan seperti ini, asal kamu tahu resensimu digunakan untuk apa atau di mana, dan apakah menyertakan nama atau tidak, sehingga nggak akan terjadi kesalahpahaman atau tuduhan mencatut. Pengalaman saya meresensi ada di artikel ini: www.dinoycute.blogspot.com/2012/07/books-reviewer.html
  2. Beberapa waktu lalu juga saya ditawari meresensi buku secara berbayar untuk sebuah majalah, hitungannya ya sebagai kontributor freelance. Karena berbayar, maka ada kesepakatan dari majalah, antara lain: saya harus membuat resensi baru (belum ada di blog buku atau di mana pun atas nama saya); lalu selama periode majalah yang memuat resensi tersebut, saya juga tidak boleh memublikasikan resensi saya di mana pun termasuk di blog. Ya saya sih setuju saja, dibayar gitu lho, berarti tulisan saya dibeli.🙂 Nah, berkaitan dengan keeksklusifan ini, saya juga pernah mendapat pengalaman buruk:
  3. Ketika iseng baca sebuah tabloid di kios, saya lihat buku yang pernah saya resensi diresensi juga di tabloid itu. Pas saya coba baca resensi di situ, kok beberapa kalimatnya familier, ya? Lho… ini kan resensi yang pernah saya tulis untuk suatu majalah (baca poin 1 saya pernah bantu untuk promosi buku suatu penerbit). Kenapa resensi yang sama ada di tabloid ini, ya? Saya pun segera tanya ke pihak penerbit, karena saya tahu mereka pasti kerja sama untuk kuisnya. Si penerbit bilang, tabloid itu janjinya mereka bikin resensinya sendiri, pihak penerbit malah belum baca resensi versi tabloid itu. Wah, saya jadinya emosi sendiri. Maksud saya, media cetak pasti ingin artikelnya eksklusif, tema yang sama tapi pembahasannya harus beda dong dengan media lain, apalagi kompetitor. Lha ini kok seenaknya main catut resensi yang sama. >.< Setelah itu ya saya kurang tahu bagaimana penyelesaiannya antara tabloid dengan pihak penerbit, tapi sepertinya secara kekeluargaan saja, diberi teguran.
  4. Masalah reward. Ini juga penting. Pasti senang banget baca tulisan kita dimuat di media cetak. Misalnya saya, begitu dapat kiriman majalah yang memuat resensi saya yang juga kerja sama dengan penerbit, langsung pamer ke media sosial, hehe. Meski di situ tak ada nama saya sebagai peresensi dan tak dibayar (toh sudah sepakat dari awal), bagi saya tak masalah, asal dikirimi majalahnya. Nah apalagi ketika ditawari jadi resensor berbayar, saya pun sampai diberi kontrak dan invoice segala oleh pihak majalah. Ketika majalahnya sudah terbit dan ada resensi saya, saya juga nggak sungkan-sungkan untuk menagih hak saya. Secara juga kewajiban saya sudah terpenuhi, kan.🙂

Ya intinya, tulisan kita sesederhana apa pun, kita pun harus menghargainya sendiri. Jangan asal seneng kalau baca karya kita dimuat di media lain, meski media terkenal. Teman saya pernah juga cerita pendek tulisannya yang dia pajang di blog, dimuat di majalah, tapi tanpa izin. Padahal seneng banget pasti kalau karya kita diakui, tapi dengan si majalah meniadakan langkah minta izin, apalagi memberi reward, rasanya jadi berkurang drastis senengnya, merasa nggak dihargai gitu.🙂

Kalau di media Internet sih, rasanya hal-hal seperti itu juga lebih rentan, ya. Saya pun pernah resensi saya dicatut sama blogger lain tanpa izin, digabungkan dengan resensi orang lain, lalu diikutkan lomba. Atau, dimuat di toko buku online sebagai penunjang data bukunya, lagi-lagi tanpa mencantumkan kredit. Padahal sih kalau waktu itu minta baik-baik, saya mau lho bikinin resensi yang baru, karena resensi yang itu sudah untuk promo di majalah.

Jadi, lebih aware sama karya sendiri ya teman, sekalipun ‘hanya’ resensi, tapi itu bikinnya pakai mikir dan perlu waktu, kan?🙂

One thought on “Resensi Dimuat di Media Cetak?? Mau, dong….!!

  1. hmmm emang kudu ati2 sih masalah ini. plus, pengalamanku jadi kontributor majalah, biasanya harus tanda tangan juga kontrak yang menyatakan tulisan yang kita buat itu memang eksklusif untuk majalah. jadi bahkan di blog pribadi pun gak boleh dicantumin. dan kalo masalah promo/advertising, emang jarang banget nama kita ditampilin, soalnya itungannya jadi mirip copywriter aja🙂 mari semangaaaaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s