AUTHOR versus REVIEWER

dinoybooksreview

Uh, judul apa pula ini?? Hahaha ….πŸ˜€

Well, awalnya ini tergelitik karena curhatan salah satu penulis tentang bagaimana dia meresensi buku (secara dia juga hobi baca banget) dan juga pengalamannya menerima resensi dari pembaca berkaitan buku dan artikel tulisannya. Awalnya sih saya masih bisa angguk-angguk dan sepakat dengan setiap katanya. Lalu, makin lama seperti bawang yang semakin terkupas kulitnya, maka sisi-sisi pedas itu pun muncul. Penulis ini curhat kekecewaannya saat menerima resensi negatif dengan cara yang tidak baik, seperti marah-marah atau mencela. Ya, memang tidak enak sih dibegitukan. Oke, masih sepakat.

Lalu, curhatan penulis ini ditanggapi oleh penulis lain yang ikutan curhat. Dan dari gaya si penulis kedua yang lebih ceplas-ceplos ini, kata-kata dan sebutan yang tajam pun mulai diarahkan kepada para pembaca dan resensor ‘negatif’. Sampai, apa tadi disebut, ‘bitchy reviewer’? Aww…. Bahkan, ini kalau tidak salah tangkap ya, saya sempat membaca kalau penulis ini sempat berasumsi beberapa dari bitchy reviewer ini punya maksud terselubung, seperti… black campaign dari kompetitor? Hal ini karena saat mengulas buku lain, orang yang sama kok bisa manis-manis saja??

Sementara penulis kedua terus curhat dengan pedas nan tajam, penulis pertama juga masih melanjutkan keluhannya. Lalu tanggapan-tanggapan mulai bermunculan dari yang lain, mulai dari penulis-penulis lainnya, atau malah pembaca yang suka bikin resensi itu sendiri. Ini ada beberapa poin yang sempat aku tangkap tadi dari para penulis yang curhat:

  1. Menulis itu butuh effort lho, jadi ya pasti sakit kalau hasil tulisan dicaci-maki.
  2. Inti dari resensi itu ya harus membangun, bukannya malah menjatuhkan.
  3. Penulis pertama berpendapat, kalau dia sebagai pembaca sekaligus penulis, memang jadi berhati-hati saat meresensi, karena dia merasakan sendiri nggak enaknya dijelek-jelekin.
  4. Penulis pertama juga akhirnya bilang kalau nemu buku yang bener-bener bikin pengin nyela, lebih baik dibahas off the record saja, nggak usah dipublikasikan apalagi disampaikan ke sang penulis. Karena menurutnya, nggak semua orang bisa menerima kritikan dengan baik.

Dan sepertinya ada beberapa poin lainnya lagi, tapi empat hal itu sih yang saya cermati. Pendapat saya pribadi sebagai resensor??

  1. Jika menulis buku butuh effort, baca dan mengulas buku juga butuh, kok. Nggak semua buku bisa langsung dinikmati sejak awal membuka halaman, bahkan banyak rasanya buku yang saya tinggal karena nggak ‘kuat’ menyelesaikannya. Pun mengulas buku, akhir-akhir ini saya jadi tidak punya waktu bikin resensi buku karena memang banyak kerjaan, padahal ada beberapa buku yang telah saya tamatkan baca. Menyusun kata-kata untuk bikin resensi juga butuh effort, lho…πŸ™‚
  2. Mengenai cara menyampaikan pendapat dalam resensi buku, saya sendiri sepakat bahwa caranya harus sopan. Saya sendiri selalu mengusahakan ketika menamatkan buku yang akhirnya tidak bisa saya sukai secara keseluruhan, saya akan tetap mengulas dengan bahasa yang baik. Tak perlu mencaci-maki, tapi lebih ke menyampaikan poin-poin ketidaksukaan saya.
  3. Nah berkaitan dengan poin kedua saya, bagaimana dengan mereka yang saking nggak sukanya sampai mengeluarkan kata-kata tajam nan pedas, sampai ada penulis yang bilang ‘bitchy reviewer’?? Well, saya rasa seharusnya penulis nggak perlu berlebihan seperti itu, ya. Maksud saya, adalah akibat dari mereka menelurkan karya, sehingga ada yang menyampaikan pendapat setelah membaca. Kita nggak bisa membatasi bagaimana cara tiap orang berpendapat, bukan? Atau sampai menuduh black campaign? Well, katakanlah memang ada, seharusnya nggak perlu sampai ditwit seperti itu, jujur saya sebagai resensor sampai bertanya-tanya, benar ada? Saya sendiri tergabung di organisasi resensor buku yaitu Blogger Buku Indonesia; cara teman-teman saya menyampaikan pendapat juga beda-beda, tapi rasanya nggak pernah dengar yang namanya black campaign. Haruskah keberadaan oknum diungkapkan dengan cara yang agak menggeneralisir?? Kalau toh pembaca A bisa pedas terhadap penulis X tapi manis ke penulis W, ya itu hanya masalah selera, sih.πŸ™‚
  4. Mengenai membatasi diri untuk nggak membahas resensi negatif terhadap suatu buku, saya juga kurang setuju nih. Apa iya sampai segitunya? Ya ungkapkan sajalah. Kalau merasa nggak nyaman dengan kata-kata yang kasar, ya kamu tahu sendiri bagaimana untuk menyampaikan kritikmu dengan sopan. Saya suka apa yang dibilang salah satu teman resensor, tulislah apa yang menurutmu sendiri nyaman untuk kamu baca. Kalau kita membatasi berpendapat, sayang juga, yang rugi juga penulis dari buku yang kita baca, lho. Mereka kehilangan satu masukan yang seharusnya kita sampaikan untuk perbaikan mereka. Well, just be true and honest, with a proper way.

Apalagi, ya? Nah sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah, melihat timeline yang ramai dengan curhatan para penulis tadi akan resensi ‘pedas’, rasanya kok saya melihat mereka seperti pedagang yang hanya mau ‘balik modal’. Maaf, maksudnya mereka menganggap sudah susah-susah nulis buku, dijual, lalu inginnya dapat respons yang baik-baik saja. Cara mereka menyampaikan keberatan terhadap pendapat tidak suka dari pembaca kok sudah menjurus berlebihan begitu.πŸ™‚

Pembaca memerlukan buku untuk terus dinikmati, itu tak dapat dimungkiri. Penulis yang dapat memberikannya. Lalu, apakah penulis tak butuh pembaca? Pasti butuh kan ya, kalau nggak ya buat apa buku yang sudah ditulis dengan penuh effort itu kemudian nampang di toko buku? Jadi ya saling merangkul sajalah. Tak perlu bereaksi berlebihan seperti itu, yang ujung-ujungnya membuat resensor kebanyakan mulai berpikir… merenung… perlu nggak ya mulai membatasi opini mereka terhadap sebuah buku??πŸ™‚

7 thoughts on “AUTHOR versus REVIEWER

  1. It’s never ending story cerita mbak, masing-masing memiliki keyakinan dan prinsip masing-masing. Pada dasarnya tidak ada yang suka dijelek-jelekin (meskipun terkadang hal yang disebutkan merupakan kebenaran) jadi semuanya kembali pada masing-masing prinadi bagaimana menyikapi ‘problematika’ tersebut. Tentunya tidak bisa menyenangkan semua pihak, pasti ada pro dan kontra (^_^)
    Dan siapa tahu juga ‘black-campaign’ salah satu cara untuk promosi hehehe…

  2. setuju!!! pembaca/reviewer dan penulis itu harus saling merangkul.
    Menjadi penulis itu kan karena pengin buat buku yang bisa dibaca banyak orang, yang meninggalkan kesan dan pesan. Ya…bukan untuk dipajang ditoko.
    Kalau pengin karyanya cuma dipajang… jadi pelukis aja sana…πŸ˜€
    damai!!! :D/

  3. bagiku, mereview gak cuma sekedar ‘menelanjangi’ sebuah buku. Harus berimbang mana kelebihan dan kekurangan sebuah buku yang diulas. Dan yang pasti, gak pake bahasa sarkas :))

  4. Aku tau… aku tahu nih lg ngomongin siapaaa… #ups *tutup mulut*πŸ™‚

    Menurutku emang mestinya tiap penulis tuh imbang, dalam arti, mau nerima puji-pujian dalam review positif, dan juga nerima caci-maki dalam review yang negatif. Terlepas dr tujuan si reviewer, anggap aja itu makanan yg dihidangkan saat elo bertamu. Kudu elo telen, juga kan, biar cuma dikit, walopun misalnya ga doyan.
    Penulis, ga boleh kenyang sama makanan enak doang, tp juga musti bisa makan makanan yg gak disuka. Demi apa? Demi kemajuan si penulis itu sendiri dong.

    Tapiii… emang lebih enak baca review dari reviewer yang santun sih.

    Cmiiw…

  5. Yes, emang ini akan jadi bahasan yang enggak ada abis-abisnya.
    Lelah ngikutinnya, kayak ngikutin debat soal novel yang layak menang itu #uhuk
    Tiap orang punya pendapat sendiri.
    Menulis dan membaca itu kan pada awalnya memang buat diri sendiri. Kalau enggak mau dikomentarin, ya enggak usah terbitin bukunya. Enggak mau reviewnya diprotes, ya udah enggak usah kasih tau siapa-siapa.
    Saat kita menyampaikan opini, pendapat, pemikiran kita ke ranah publik, kita harusnya udah siap untuk tidak hanya dipuji dan dianggap benar.

  6. Saya setuju, seorang penulis seharusnya siap mendapat masukan dari pembacanya.
    At least itu cara pembaca mengapresiasi karya itu dan itu berarti dia sudaha baca buku tersebut kan??
    Dan memang seorang reviewer juga perlu mereview dengan bahasa yang baik dan fokus ke karyanya (dan bukan ke penulisnya).

    Selain itu setiap penulis sebaiknya sadar bahwa selera bacaan setiap orang itu beda-beda. Cara mereka menilai juga beda-beda, jadi wajar ketika yang muncul tidak hanya pujian melainkan kritikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s