Behind the Book (+ Giveaway!!): NY Overheels

NY

Judul: NY Overheels

Penulis: Dy Lunaly

Penerbit: Bentang Belia

Genre: Remaja, drama, romance, fashion

… Profil Penulis …

Hobi traveling membuatnya jadi sering googling dan mencari tahu keindahan setiap kota yang ditaksir membuat imajinasinya tidak pernah berhenti.

Sebuah foto yang mengabadikan Central Park di musim gugur dan foto perayaan tahun baru di New York, sukses menggelitik imajinasinya dan menghasilkan sebuah cerita. Dan blogwalking ke beberapa fashion blog menyempurnakan cerita NY Overheels. Cerita tentang New York dan fashion dari sudut pandang seorang gadis yang bercita-cita menjadi designer.

Karya-karya Dy Lunaly yang telah diterbitkan: My Daddy ODHA (Bentang Belia, 2012), Remember Dhaka (Bentang Belia, 2013), NY Overheels (Bentang Belia, 2013), Pssst…! (Bentang Belia, 2013).

You can find me at dylunaly.blogspot.com tapi lebih sering berkicau riuh di twitter-land, follow me at @dylunaly. Can’t wait to talk with you 🙂

… Curhat Penulis …

Alasanku menulis tentang fashion padahal backgroundku arsitektur, karena aku cewek dan cewek sedikit atau banyak pasti tertarik dengan fashion, kan? Plus, dunia itu terlihat sangat bling-bling. Berbagai merek terkenal bertebaran, model-model cantik yang membuat kita (Dy) mengutuk cermin dan seru! Tapi selain itu semua, aku juga sebenarnya dari dulu tertarik dengan dunia fashion. Sempat ingin jadi desainer fashion tapi dilarang sama orang tua. Jadi bisa dibilang novel ini juga pelampiasan keinginan terpendamku.

Dan tentang setting novel… I Love New York. I Love New York more than another cities of fashion. New York buatku terlihat lebih berwarna, dinamis, dan punya banyak tempat yang bisa menjadi sumber inspirasi! Selain itu, fashion street NY lebih berwarna dan “liar” dibandingkan kota-kota fashion lainnya. Itu alasan kenapa Dy memilih New York sebagai lokasi di novel ini.

Aku sendiri belum pernah ke NY, jadi untuk novel ini aku bergantung sepenuhnya pada hasil riset. Riset yang aku lakukan itu ada beberapa cara sih, nanya teman yang sudah pernah ke sana, berkunjung ke berbagai blog perjalanan, berkunjung ke berbagai web yang membahas tentang NY… dan untuk mendapatkan suasananya aku memandangi foto berbagai sudut kota NY selama berjam-jam dan membayagkan seandainya aku di sana apa yang aku rasakan.

Selain riset lokasi, untuk novel ini aku juga melakukan riset tentang mode dan ikut menebak-nebak mode musim yang akan datang karena itu bagian dari cerita. Untungnya, tanteku sedikit paham tentang trend mode, jadi aku berdiskusi dengan tante dan mengubek-ngubek internet.

Riset dunia mode ini juga termasuk riset fashion blog. Aku mampir ke berbagai blog fashion dan melihat postingan mereka, apa yang mereka bahas dan bagaimana mereka menyampaikannya. Tapi kalau ditanya ada enggak blog tertentu yang aku jadikan acuan, jawabannya enggak ada. Aku menggabungkan berbagai hal yang aku dapat dari blog-blog itu.

Proses riset yang aku lakukan berjalan seiring dengan proses penulisan. Dan cara ini membuat proses penulisan menjadi cepat. Aku menyelesaikan novel ini kurang lebih satu bulan dari sinopsis yang aku ajukan disetujui oleh editorku. Termasuk cepat kalau mengingat proses riset yang harus aku lakukan.

Zee-NYO

Sketsa Zee created by Dy Lunaly

Untuk karakter, hm, enggak ada tokoh yang aku jadikan role model sih. Cuma untuk gayanya Zee aku terinspirasi dengan gayanya tokoh Aria Montgomery di Pretty Little Liars. Dan kalau ngomongin Josh, di otakku langsung kebayang sosok Ezra Fitz versi megang kamera. Ini mungkin karena aku suka banget dengan kedua tokoh ini. Mereka pasangan favoritku di Pretty Little Liars.

Untuk karakter lain, kayak Natasha Fey, George, Michael atau Jenna, mereka muncul aja di kepalaku waktu aku menulis. Aku sama sekali enggak merencanakan karakter mereka harus seperti apa, gaya mereka harus gimana… tapi pelan-pelan, bayangan sosok mereka jadi utuh di kepalaku. Untuk Debbie, aku selalu membayangkan seandainya aku punya teman sekamar/serumah bakalan seheboh dan sebaik Debbie hehehhe.

Nah, mengenai respons pembaca, sejak novel ini terbit sudah dapat berbagai respons. Mulai respon positif sampai respon negatif dan semuanya jadi masukan yang berarti. Tapi kalau ditanya yang paling nyantol ada dua:

Yang pertama, respons dari teman yang pernah ke New York dan katanya suasana dan gambarannya NY yang kutulis dapat banget. Ini bikin bahagia banget karena berarti riset Dy enggak sia-sia. Dan respons ini juga bikin aku makin ingin ke sana. Ingin buktikan NY sesuai dengan pikiranku atau enggak.

Yang kedua, respons dari pembaca yang bilang kalau tokoh Zee itu terlalu sempurna dan beruntung banget karena semua yang dia inginkan terwujud. Respons ini jadi PR banget buatku dan dari respons ini aku belajar untuk membuat karakter yang lebih manusiawi, sempurna karena kekurangannya.

Kayaknya curhatnya sih segini aja. Bahaya kalau kepanjangannya bisa dimarahin Mbak Dinoy :p Pesanku, yang belum baca novelku, yuk dibaca! Ada yang baru lho *promosi terselubung.* [Dy Lunaly]

Kuis:

Mari berandai-andai menjadi pasangan Zee (cewek Indonesia) dan Josh (cowok Amerika) yang keren banget, lalu punya waktu 24 jam di New York. Hehe. Kalau kamu cewek dan jadi Zee, kira-kira kamu dan Josh bakalan ngapain aja sih di New York? Dan sebaliknya jika kamu cowok, kamu jadi Josh, mau ngajak Zee jalan-jalan ke mana atau ngapain aja seharian di New York?? Dan juga, tambahin deskripsi Zee dan Josh pakai baju atau aksesoris apa saja, semenarik mungkin, sesuai tema novel ini adalah fashion. Hehe. Boleh pakai dialog, reka adegan, atau apa pun sekreatif kalian.🙂 Kalau sudah dapat idenya, tuliskan di kolom komentar artikel ini lalu diakhiri dengan nama dan akun twitter kalian. Teruuss… share twitter ya, dengan contoh format:

Aku mau dapat novel NY Overheels, makanya ikut kuis ini (insert link artikel ini) #KuisNYO cc @dinoynovita.

Kata-kata di twitnya terserah aja, yang penting ada link artikel ini, hashtag #KuisNYO dan cc akunku yaa… Aku tunggu dari tanggal 18-25 November 2013 dan pengumuman pemenang di tanggal 10 Desember 2013 bareng dengan pemenang GA ultah lainnya. ^^ Hadiahnya adalah 1 novel NY Overheels bertandatangan Dy Lunaly dan juga bonus suvenir dari Dy, semua untuk 1 pemenang yang nanti dipilih sendiri oleh Dy.

Terima kasih sudah menyimak artikel ini, dan ditunggu partisipasinya! ^^

9 thoughts on “Behind the Book (+ Giveaway!!): NY Overheels

  1. Pingback: Funtastic November Book Party~~ (^.^)/ | Dinoy's Books Review

  2. If I`m Zee..
    Saat ini sudah memasuki bulan November, itu artinya New York – well, kota favoriteku – sedang mengalami Falls atau Autumn. Bisa kau bayangkan? Berjalan ditengah-tengah puluhan pohon dengan daun berwarna cokelat, merah dan kuning yang cantik, juga ribuan dedaunan yang gugur berserakan dijalan beraspal dengan kursi taman yang terbuat dari kayu berjajar dipanjang jalan. Yeah, betul sangat indah dan romantis. Apalagi saat ini aku ditemani oleh seorang pria tampan, pria Amerika yang tampan sekali. Aku tidak bohong, matanya biru cerah seperti langit dimusim semi, bibir sexynya yang membuatku tidak bisa konsentrasi ketika sedang berbicara padanya, alisnya yang tebal dan pastinya ia adalah pacarku.

    Hari ini ia memberikan kebebasan padaku untuk memilih tempat date. Baik sekali pacarku.
    Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Setelah sedikit bercengkrama di salah satu Cafe di Bryant Park, kami langsung menuju Poet`s Walk di Central Park. Aku suka di Poet`s Walk. Taman kota yang indah, apalagi disaat Autumn. Pepohonan seperti terbuat dari emas yang berkilaunan.
    Setelah itu aku memohon pada Josh untuk mengantarku ke Kebun Binatang untuk melihat pinguin. Hey, jangan bilang aku seperti anak kecil karena aku pun belum pernah melihat hewan itu kecuali di tv – film animasi.

    Autumn Style. Aku suka fashion dan aku punya gayaku sendiri.
    Saat ini, aku sedang gemar memakai dengan busana vintage.
    Kau tahu itu? Busana model jadul tetapi bagiku memiliki art sendiri.
    Aku menggunakan Dress berwarna cokelat keabu-abuan diatas lutut dengan lengan sepanjang 3/4 – dibawah siku.
    Dibagian bawah dress dan lengan bajuku ada renda-renda yang menambah kesan cute.
    Bagian bawah dressku ada dua lapis, satu lebih panjang dan yang satu lagi lebih pendek.
    Kugunakan mantel yang hanya menutupi pundakku sampai diatas siku. Itu membuatku tetap hangat.
    Stocking panjang, dan sepatu boot pendek. Rambutku, kugerai begitu saja.
    Dan Josh, dia nampak cool. Dengan sweater berwarna biru keabu-abuan yang membalut kemeja panjangnya berwarna abu-abu gelap.
    Celana jeans dan sepatu sneakers membuatnya terlihat casual formal.

    Setelah puas menghabiskan waktu bersama, Josh menawarkanku untuk memburu segala persiapan winter nanti.
    Ke departement store tentunya. Ini kan winter pertamaku, jadi aku harus matang persiapannya kalau tidak mau kedinginan.
    Rencanaku selanjutnya adalah – dimusim dingin – mengajak Josh bermain ice skating di Bryant Park.
    Dengan mantel, syal, sarung tangan dan penutup kuping tentunya. Khas musim dingin.
    Love you Josh

  3. Ikutaaaan! ^^

    Zee
    Musim semi NY selalu jadi musim yang paling nyaman udara yang segar dengan cuaca cerah diselingi hujan yang tak separah hujan-hujan di Indonesia. Tepat 11 Mei nanti, segera aku kembali ke Indonesia, tapi satu hal yang belum ku selesaikan di kota yang terkenal sebagai salah satu wilayah metropolitan terpadat di dunia. Josh. Ya, Josh, tak ada hal yang menarik selain menghabiskan waktu 24 jam full terkahirku DI NYC ini.
    Kali ini, ada sekitar 5 tempat yang telah ku pilih untuk melangkahkan kakiku, mengukir kenangan bersamanya. Kelak tempat-tempat itulah yang akan menjadi cerita bagi ku di masa depan.
    Hari ini aku siap dengan Celana Bermuda. Tampilan celana pendek yang santai ini terlihat hampir di seluruh runway kota New York. Musim ini sangat tepat untuk untuk aku yang menyukai celana dengan tampilan ultra chic, family friendly, tapi tetap terlihat menawan. Dipadankan dengan Flat shoes vintage yang simpel tetapi manis dan cute. Cocok untuk dipakai untuk acara santai. Warna yang netral membuat siapapun lebih bebas memadukan dengan busana warna apa saja. Termasuk celana bermuda dengan kemeja santai berwarna putih yang kini ku kenakan.
    Sambil menanti kedatangan Josh, aku duduk di salah bangku taman yang terletak menghadap perairan di Battery Weed di Staten Island, bagian dari National Park System. Dan ketika peluh pertama menetes di pipiku seorang pria yang telah ku tunggu pun muncul.
    Josh.
    Dia terlihat begitu mapan dengan setelan jas hitam santainya yang melekat kokoh dibadannya. Bajunya standar, dengan kaos putih polos dan celana dasar hitam. terlihat kaku. tapi bagiku, itu sempurna. entah apa yang ada dipikiranku. aku hanya terduduk diam dan menatapnya, hingga lamunanku buyar dan tergantikan oleh senyum aneh akibat kalimatnya, “Are you okkay?” sambil menundukkan badannya sedikit.

    Ok, hari ini kami siap dengan lokasi pertama. Di Staten Island, Conference House Park berisi situs bersejarah Conference House. Dilanjutkan berjalan ke arah Central Park adalah sebuah taman yang paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat terletak di Manhattan, sedikit jauh dari Staten Island. Kemudian beralih ke Lincoln Center for the Performing Arts dimana merupakan rumah bagi 12 organisasi seni berpengaruh dan menjadikannya sebagai komplek pertunjukan seni terbesar di Amerika Serikat. Lalu kembali ke ibukota, NY dan berkunjung ke Times Square, perlintasan non-jalan tol terbesar di kota ini, yang dikenal karena memiliki tingkat kunjungan tahunan tertinggi dibanding tempat wisata lainnya di AS. Dan terakhir makan malam dipinggir hiruk pikuk kota NY yang dipenuhi oleh penjual makanan bergerak berlisensi yang justru beberapa dari mereka membentuk jajanan jalan New York yang modern. berbagai macam makanan seperti bagel, kue keju, dan pizza bergaya New York. Tak perlu sulit mencari makan malam romantis, ala kaki lima dengan dipenuhi tatapan seorang Josh yang duduk menghadapku saja, sudah lebih dari cukup. Tak ada yang lebih menyenangkan dari pada momen-momen seperti ini.

    Hingga kata terakhir terucap dari bibir manisnya, “You’ll be mine, for the last, ever after”. Indah bukan, hari terakhirku di NY.

  4. Belum baca novelnya saja, saya sudah tercengang dengan sketsa buatan Dy Lunaly. Keren ya. Iya. Hmm, kalo saya dikasih waktu 24 jam bersama Josh di New York. Hal pertama yang akan saya lakukan pastinya foto-foto. Klise sih. Tapi apalagi yang paling penting selain hunting foto? Nah, jadi kalo sudah nyampe New York, tempat-tempat yang akan saya kunjungi antara lain: Empire State Building, Rockefeller Center, Patung Liberty, Central Park, Metropolitan Museum of Art secara langsung. Trus abis itu kami berkunjung ke The Cloisters atau salah satu perpustakaan kota mendatangi toko-toko bohemian West Village atau santapan dari Upper West Side. Pasar yang ramai dalam Grand Central Station. Tentunya gak lupa shopping baju & buku. Hmm.. kalo ditanya kami akan mengenakan pakaian apa, bagusnya pake pakean non formal aja deh. Karena terus terang dalam keseharian, saya lebih suka bergaya casual, jadi mungkin pakean yang nyaman dipakai kencan sekaligus shopping adalah kemeja dan jeans sepatu boots (yang mana kalo dipakai di Indonesia, akan terlihat aneh). Trus kalo si Josh pake kemeja dan jeans trus sepatu sneakers sajalah. (enaknya jadi cowok, simpel kemana-mana). :))

    -May-
    @dianmayy
    Link share: https://twitter.com/dianmayy/status/403414873125580801

  5. Zee
    Setelah jalan-jalan di Bethesda Terrace (Central Park) menikmati air mancur jugak mengagumi patunya. Josh ngajak aku untuk makan-makan dulu. Lagipula waktu masih panjang. Masih pagi untuk menikmati liburan di NYC.
    Josh baik sekali. Mentraktirku sampai kenyang. Belum lagi ketika ia mengajak mengunjungi danau cantik, dan Central Park Zoo. Udara sehat khas paginya memberikan kesan berbeda. Walau matahari mulai nampak, suasananya masih terasa nyaman.
    Karena liburan memberikan waktu 24 jam full, maka aku menyarankan kepada Josh untuk mengenali berbagai tempat unik saja di NYC. Melihat-lihat Event lokal tak ketinggalan jugak patung Liberty. Dari dulu, patung Liberty sangat kukagumi. Benda bersejarah itu sangat keren. Jika bisa, aku ingin foto-foto disana dan menaiki puncaknya. Akh, hanya khayalan.
    Tapi, dengan bersama Josh saja itu lebih dari cukup. Bayangkan, pacaran dengan seorang bule Amerika. Ia baik dan ramah.Wajahnya yang lonjong memiliki bibir yang seksi dan perhatian penuh.
    Ketika liburan, aku mengenakan baju merah muda dengan dalaman belang hitam putih. Terdapat ikatan pita pada pinggang depan, dan pada kedua sisi ujung dikerut. Selop yang kugunakan warna putih pucat agak merah. Selain itu, ada aksesoris kalung besar yang melingkar. Sedangkan Josh, ia terlihat simple mengenakan kaos abu dengan jaket tak berkacing. Celananya hitam, kemudian diakhiri sepatu kets putih. Oh iya, pria itu jugak bertopi. Agar terlihat sama, ia membelikan topi dan memakainya dikepalaku membuat pandangan kami bertemu.

  6. If I were Zee and only have 24 hours left in New York with Josh:

    Pagi-pagi kami pergi ke Central Park, menikmati taman dengan pepohonan rindang di jantung kota New York. Josh sibuk dengan kamera karena katanya hasil foto-foto itu akan dikirmkan padaku dalam bentuk scrapbook. Can’t wait, Josh! Ia memfotoku yang sedang duduk-duduk sampai bermain soap bubbles, hihihi kayak anak kecil ya. Josh juga banyak bercerita bagaimana ia sangat mencintai kota ini. Entah mengapa, jika sedang berdua dengannya waktu terasa cepat berlalu ^^

    Siangnya kami menuju MoMA (Museum of Modern Art), a must have visit place untuk para pecinta seni. Banyak hal yang aku dapat dari sana. Museum canggih macam itu belum ada di Indonesia. Setelah itu, Josh ingin memberi kejutan dengan mengajakku “ke suatu tempat”. Aku sudah deg-degan, ternyata ia mengajakku ke Ripley’s! Ah, tempat yang isinya aneh-aneh itu. Aku kemudian merayunya agar ke Madame Tussaud saja. Dan lalu dengan damai kami ke sana. Berfoto-foto dengan banyak selebriti Hollywood, sampai rangkulan segala, hehehe…

    Malam beranjak dan kami menikmati gemerlapnya Times Square. Belum ke New York namanya kalau tidak mampir ke sini. Segala macam ukuran billboard ada di sana. Setelah capek keliling kami lalu duduk-duduk di meja dan kursi merah sambil melihat hasil jepretan Josh. Sebelum pulang, Josh mengajakku ke Hard Rock dan membelikanku kaos yang legendaris itu untuk oleh-oleh, yeeaayy!

    What we’re wearing:
    Me: atasan turtle neck hitam basic dari ZARA, rok dari kain tenun dengan nuansa violet model A line lipit hasil menjahit, jaket suede warna cokelat pudar unbranded yang kupakai ketika malam, sepatu wedges warna marun dari Rockefeller, kalung batu dan ukiran kayu dari Alun-alun Indonesia, dan pashima dari Mirota Batik. Rambutku gerai dan sesekali diangkat pakai sumpit rambut yang pernah kubeli di Pecinan.
    Josh: atasan kemeja putih yang lengannya digulung beserta vest suede warna khaki keduanya dari Marc Jacobs, jeans dari CK, sepatu high tops blue dari Marc Jacobs.

  7. kalau aku jadi Zee

    New york tampak cerah, hari itu aku memilih kaos pendek bergaris yang aku padukan dengan rok mini berwarna merah maroon, karena udara sudah semakin dingin aku juga memadukan dengan sebuah trench coat berwarna hijau army. tidak lupa sebuah tas berwarna cokelat muda yang senada dengan ankle boot ku.
    aku duduk di kursi taman di central park. kulirik jam tangan , sudah setengah jam aku duduk di sini tapi josh belum juga muncul. aku hampir membeku . lalu ku putuskan untuk membeli kopi. baru saja ketika aku akan berdiri sebuah suara memanggil namaku. aku melihat ke arah suara dan kulihat josh berjalan cepat ke arah ku . nafasku tercekat hampir saja aku berteriak, sudah hampir satu bulan disini dan aku belum pernah melihat Josh setampan sekarang. oke well, memang biasanya dia tampan, tapi dibalik kemeja kantor dan jas nya. tapi hari ini. dia sempurna. kemeja biru langit nya tampak mencolok tapi begitu pas dengan warna kulit nya. dua kancing teratas kemejanya tidak dia kancingkan, aku masih bisa meihat kaus putihnya dan sebuah kacamata hitam menggantung dengan sempurna disana. dan well jacket cokelat itu membuat penampilannya tampak makin keren. celana jeans hitam dan juga sepatu hitam. well, dia memang terlahir keren tapi aku tidak tahu kalau gaya tumpuknya bisa begitu keren !.
    dia semakin mendekat dan aku bisa mencium bau parfumnya. Aku melihat ada dua cangkir kopi di kedua tangannya. dia memberikannya padaku segera setelah sampai di depanku.
    “aku minta maaf karena telat” dan aku hanya bisa terdiam “oke well, aku akan menemanimu seharian ini 24 jam nonstop ! aku janji !”
    lalu dia menarik tanganku , membawaku menelusuri Strawberry Fields, taman Bethesda Terrace, dan berfoto di dekat air mancur di tengah taman yang indah.
    “kau mau kemana lagi ? tanyanya setelah sudah cukup lama disitu.
    “SoHo” jawabku singkat.
    “aha ! belanja, benar ayo kita kesana.”
    “Metropolitan Museum of Art juga” aku melihat Josh mengkerutkan keninggnya.
    “bukankah kau tidak begitu menyukai seni? ” tanyanya heran.
    aku mengangguk mengiyakan “tapi kau suka.” jawabku .
    “Aku ingin kita pergi ketempat yang benar-benar kau sukai” Josh menatapku lembut.
    “Aku benar- benar ingin pergi kesitu. kalau aku bosan paling tidak kau bisa menjelaskan sesuatu padaku tentang karya-karya di sana”
    “oke baiklah. ayo” Josh menggenggam tangan ku. menuntunku menelusuri jalanan yang ramai.
    “aku mau makan siang di Meet Packing District. lalu aku mau melihat liberty, Times Square juga !” kataku dengan antusias. Josh hanya tersenyum dan mengangguk tanda setuju
    “ayo , buat 24 jam tak terlupakan di new york ! kita akan melakukan banyak hal menyenankan yang membuatmu tidak bisa melupakan new york dan aku” katanya sambil menatapku yang juga menatapnya.

    Luthfia
    @Luthfia1004

  8. Jika aku jadi Zee,

    New York..
    Mendengarnya saja sudah terbayang di benakku pencakar langit yang tegak, kokoh, dan menawan. Etalase-etalase butik bermacam brand yang berjejer rapi di setiap penjuru kota. Jalanan kota yang sibuk nan padat semakin menambah semarak pagiku di New York City bersama Josh. Yap, untuk 24 jam kedepan, aku dan Josh akan menjelajahi New York!!! What a day!

    Sebelumnya, aku telah menentukan tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Aku berpesan kepada Josh untuk membawa kamera DSLR miliknya dan aku juga akan membawa polaroidku, aku tak ingin liburan singkatku kali ini berakhir dengan penyesalan hanya karena lupa membawa kamera. It’s a BIG NO. Lagipula, destinasi kami kali ini adalah New York City dan ini hanya berlangsung sehari, rasanya akan sangat tolol jika ke NYC enggak bawa kamera.

    Well, seperti yang kita semua tahu, di NYC itu banyak banget tempat yang beken dan sekaligus tempat bersejarah yang bernilai historis, dan sudah disepakati oleh Josh semua destinasi pilihan yang akan kami kunjungi nanti sesampainya disana. Oke, mungkin ini 24 jam yang sangat berarti untukku dan mungkin juga Josh. Pertama, aku bersyukur karena diberi kesempatan menginjakkan kaki di NYC. Kedua, aku akan menjelajah New York bersama Josh. Once again, WHAT A PERFECT 24 HOURS!

    Aku mengenakan peterpan collar dress, staccato black oxford shoes, dan tak ketinggalan cashmere beanie hat. Perfect outfit for a perfect day. Kali ini Josh terlihat simple dengan levi’s jeans dan red polo shirt, dipadu dengan black simple sandals by quicksilver. Destinasi pertama adalah Madame Tussaud’s museum, terdapat banyak replika wajah para selebriti dunia disini. to be honest, ini museum paling keren yang pernah aku datangi.

    Destinasi kita selanjutnya adalah The Empire State Building, this buiding is quit awesome guys! Josh sibuk mengabadikan bangunan tersebut.

    Perjalanan kami tidak sampai disitu. Kami melanjutkannya ke Bryant Park. Tidak memakan banyak waktu untuk sampai kesana. Mataku langsung tertuju ke segerumbulan orang yang sedang bermain ice skating. Sejujurnya aku gak pandai cara bermainnya tapi Josh bersedia mengajariku. *So sweet*. Tidak sah namanya kalau tidak mecicipi jajanan di sekitar Bryant Park. Aku mencicipi suchi di Cafe Zaiya. Cafe Zaiya ini terkenal dengan kelezatan sushinya dan harganya pun relative murah.

    Dari Bryant Park kami langsung tancap gas ke Soho! Kami belanja sepuasnya. Aku sibuk mencari baju yang lagi ngetrend di sana sedangkan Josh beli parfum pilihannya di toko Bvlgari.

    Tak terasa hari sudah semakin gelap. Josh memaksaku untuk pergi ke tempat lain. Sebenarnya aku masih berbelanja, tapi Josh meyakinkanku kalau tempat yang satu ini bagus banget. Ternyata Josh mengajakku dinner ke Central Park Boathouse.

    NYC is the most stunning place ever! and we will never forget this precious 24 hours. Thanks Josh, Thank God😀

    Jesika
    @Jesika_Y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s