J.P.V.F.K: Jakarta – Paris via French Kiss by Syahmedi Dean

JPVFK

Judul: J.P.V.F.K: Jakarta Paris Via French Kiss

(Judul di repackaged 2013: J’adore)

Penulis: Syahmedi Dean

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Genre: Metropop, Drama, Romance

Tebal: 355

Terbit: Juni 2005

Dari Jakarta, menuju Paris. Melalui Milan, bersama Alif. Novel ini adalah seri kedua dari tetralogi fashion yang bercerita tentang empat wartawan lifestyle: Alif, Didi, Raisa, Nisa. Keempat sahabat ini bekerja di dua majalah lifestyle berbeda yang masih berada dalam satu naungan grup media. Novel ini akan merunutkan bagaimana kisah mereka dalam pekerjaan mereka, juga intrik-intrik masalah di antara mereka berempat. Tokoh utama di dalam novel ini masih Alif, seperti seri pertamanya yaitu L.S.D.L.F. Apa saja yang dikisahkan dalam seri kedua ini? Mari simak ulasanku berikut ini…. :) 

Di seri pertama, kita akan berkenalan dengan Edna, karyawan baru di majalah File yang juga menjadi bawahan Alif. Di antara keduanya pun timbul hubungan cinta yang sayangnya tidak berlangsung lama. Hubungan yang singkat ini bukan hanya karena mereka menjalin cinta diam-diam – menyembunyikan dari lingkungan kerja mereka – tetapi juga karena umur Edna yang singkat. Di seri pertama Syahmedi Dean memutuskan untuk mematikan Edna. Tapi di saat Alif merasa mulai lepas dari bayang-bayang Edna, dia malah bertemu lagi dengan orang terdekat Edna di Milan. Dan pria tersebut adalah orang yang pernah hidup bersama dengan Edna, tanpa ikatan pernikahan. Masalah semakin pelik ketika Fransesco, nama pria ini, meminta Alif untuk mengenalkan buah cintanya dengan Edna kepada orangtua Edna di Jakarta.

Tidak hanya Alif yang bermasalah. Didi yang juga pergi ke Eropa untuk meliput fashion week pun memiliki problemanya sendiri. Didi, pencinta sesama jenis yang membatasi hubungan hanya sebatas french kiss, tak perlu dilabeli pacaran, pun bersenang-senang ketika di Italia dan Prancis. Sayangnya, saking terlalu bersenang-senangnya, dia sampai lupa akan pekerjaannya, alasan utamanya terbang jauh-jauh ke benua biru. Didi menjadi terlena dengan pria yang baru dikenalnya. Bahkan, dia sempat terjebak di sebuah sauna gay dan hampir mati gara-gara pria tersebut!

Lalu Raisa. Dia diam-diam mencintai Alif, bahkan dengan nekat menyusul sahabatnya itu ke Prancis. Raisa menggunakan cara-cara yang salah untuk dapat bertemu dengan Alif. Dia memanfaatkan pekerjaannya dengan menjual halaman kepada rekanannya yang memiliki butik, juga berbohong dan berkata pada orang kantor kalau ia sakit. Sayangnya, semua tak seperti harapannya. Tidak hanya Alif tak menyadari perasaannya, ia pun terancam kehilangan pekerjaan yang dicintainya.

Bagaimana dengan Nisa? Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan ketiga sahabatnya ini demi sebuah alasan: Nisa ingin merasakan lagi ciuman maut dari seorang pria Prancis menawan bernama Gavin. Yap, a fabulous kiss from a france guy, an original french kiss, isn’t it? Alasan yang mungkin terdengar, konyol. Tetapi, Nisa melakukannya dengan bebas, dengan uangnya sendiri, dan dengan memanfaatkan jatah cuti. Tak ada salahnya. Tetapi, pria yang dipuja-pujanya itu lantas menemuinya dengan wujud berbeda, dan seketika membuat Nisa menimbang ulang keputusannya tersebut.

Nah, demikian ringkasan cerita yang dapat saya bagi mengenai novel J.P.V.F.K ini. Sekarang, giliran saya memberikan kesan setelah membaca novel ini. Terus terang, saya membaca novel ini karena saya terpukau dengan seri pertama tetralogi fashion, sehingga ingin melanjutkan membaca. Namun ketika mulai membaca novel ini, saya merasa tidak dapat secepat saat membaca L.S.D.L.F. Terlalu banyak deskripsi, terlebih ketika menggambarkan nuansa seorang fashion editor saat menghadiri parade fashion show di Eropa sana. Awalnya menarik, bagaimana caranya masuk ke peragaan busana bergengsi baik dengan cara resmi maupun main sembunyi-sembunyi. Tapi lama kelamaan, bosan juga. Saya membacanya seperti membaca sebuah reportase. Konfliknya sendiri sebenarnya menarik. Tetapi, ketika problematika empat orang langsung ditumpahkan di satu novel, malah membuat jengah sendiri saat membaca. Ya memang tokoh utamanya masih Alif, sih, tetapi novel ini memakai sudut pandang campuran pula. Penuturannya diawali dan didominasi dengan ‘saya’ yang berarti Alif, tahu-tahu lari ke Didi, Raisa, Nisa, atau malah sudut pandang orang ketiga. Jujur saya sempat mengharap kalau tetralogi fashion ini akan membahas setiap tokoh secara khusus di tiap novelnya, karena terkecoh dengan sampul barunya di tahun ini yang masing-masing mewakili karakter empat sahabat ini. Nyatanya, tidak begitu.

Tapi pada akhirnya, saya masih tetap memberi tiga bintang (skala 1-5) untuk novel ini di Goodreads. Ya, bolehlah, meski sempat membuat bosan dan puyeng di beberapa bagian. Tidak sampai bisa dibilang jelek. Hanya, agak mengecewakan jika dibandingkan dengan seri pertamanya. Lalu, apakah hal ini akan membuat saya jera melanjutkan membaca seri ketiga dan keempat? Nggak bisa bilang begitu juga, sih, tapi saya mau move on ke bacaan lain dulu sebelum kembali ke tetrlogi fashion ini. Hehehe.🙂

2 thoughts on “J.P.V.F.K: Jakarta – Paris via French Kiss by Syahmedi Dean

  1. Pingback: And Life Must Go On… [P.G.D.P.C by Syahmedi Dean] | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s