Behind the Book: 4 Ways to Get a Wife by Hyun Go Wun

Close To You 13x19

Penulis: Hyun Go Wun

Penerbit: Haru

Terbit: Desember 2012

Genre: Fiksi, Korea terjemahan, Roman, Keluarga

Resensi:

https://dinoybooksreview.wordpress.com/2012/12/25/4-ways-to-get-a-wife-by-hyun-go-wun/

Profil Penulis:

Selain novel 4 Ways to Get a Wife, Hyun Go Wun juga menulis novel-novel berikut:

1% of Anything, All for Me, Lion’s Love, Love with a Witch, Ghost and Tomato, Love the Destiny, Spring’s Sunset, Creating Destiny, Ross Moss and I, Man from Heaven, Now on War, A Man about Town, Our Burning House.

Juga menulis skenario drama televisi: MBC Sunday Romance Drama 1% of Anything, Weekend Drama Creating Destiny.

Curhat Penulis

Proses pembuatan karya ini memakan waktu yang cukup lama. Karya ini sudah mulai dibuat sebelum Rose Moss and I selesai, namun karena ada sedikit masalah dengan Creating Destiny, kisah Jung Won dan Geon Hyeong ini terpaksa harus dikesampingkan dulu untuk sementara. Berkat penulisnya yang sibuk ini, kedua orang itu memang sudah menunggu cukup lama. Awal kisah Jung Won ini adalah ‘peraturan keluarga’. Jung Won adalah seorang perempuan yang sering mengomel, sayang kepada siapa pun, dan selalu berbuat baik kepada setiap mahluk hidup. Inti dari peraturan keluarga Jung Won yang sangat panjang itu tentu saja adalah keluarga. Lalu, yang ingin penulis tuangkan dalam novel ini pun adalah tentang ‘keluarga’. Keluarga mereka memang tidak sempurna, namun kata siapa mereka tidak bisa bahagia dengan sempurna?

Selama menulis karya ini, tanpa sadar isinya ternyata panjang sekali. Padahal, ini bukan karya berseri. Entah sejak kapan aku berubah menjadi penulis yang banyak bicara seperti ini. Rasanya aku hampir menangis melihat bagian yang diedit dan dibuang. Meskipun begitu, aku tetap berhasil menyelesaikan karya ini. Hebat, Hyun Go Wun! Aku selalu berpikir… mengapa kadang-kadang kita harus menulis suatu karangan? Bagi seorang Sagitarius yang berjiwa bebas, optimis, dan mandiri ini, menulis kadang menjadi sarana untuk menguji kesabaran diri sendiri. Meskipun cuaca di luar cerah, banyak hal yang harus dikerjakan, banyak yang ingin dilakukan, dan dunia luar terlihat begitu gemerlap, ada satu hal yang kupikirkan saat sedang menulis sendirian di pojok rumah seperti orang gila.

Bahwa meskipun begitu, berimajinasi merupakan sesuatu yang membahagiakan. Bahwa melihat kebahagiaan tokoh-tokoh dalam novel ini membuatku ikut merasa senang. Lalu, aku menyadari bahwa ada kalian yang senantiasa menunggu karya-karyaku. Aku ingin mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang selalu mendukungku selama ini. Aku harap kalian ikut merasa senang setelah membaca kisah dalam novel ini dan semoga kalian semua bahagia.

 Ketika musim gugur mulai datang menggantikan musim panas

yang terik,

Salam

Hyun Go Wun

(Dikutip dari Kesan Penulis di novel 4 Ways to Get a Wife halaman 351)

Curhat Penerjemah …

4 Ways to Get a Wife merupakan naskah Korea ketiga dari Penerbit Haru yang diterjemahkan oleh Putu Pramania. Putu mendapatkan tawaran untuk menerjemahkan 4 Ways to Get a Wife ini di sekitar bulan Juni 2012. Pada dasarnya, Putu memang suka menjadi penerjemah dan sebelumnya biasanya dia hanya menerjemahkan komik.

Novel pertama yang Putu terjemahkan adalah ‘So I married the Antifan’ (2012, Penerbit Haru) dan ternyata menurut Putu, menerjemahkan novel itu susah dan cukup bikin sakit kepala. Karena ia merasa kemampuannya masih sangat kurang, ada kesempatan untuk ‘latihan’ menerjemahkan novel dan saat itu juga lagi liburan, jadi ia pun menerima tawaran dari Penerbit Haru ini. Lagi pula dari judulnya kelihatannya cukup menarik. Putu pun sempat berpikir kalau tokoh utama di novel ini adalah cowok, secara judulnya saja ‘cara mencari istri’, jadi awalnya ia berpikir isinya berkisar seputar ‘panduan mencari istri’ atau ‘panduan menggaet wanita’ gitu…😀

Mengenai proses penerjemahan sendiri, waktu penerjemahannya adalah sekitar dua bulan, dan setelah Putu mengirim full draft terjemahan novel ini ke Haru, dari editor sempat bertanya dua kali ke Putu tentang keseluruhan isi novel. Pertanyannya berkisar seputar istilah Korea yang kurang familier di pembaca Indonesia, alur cerita, hubungan antartokoh di dalam novel, dan lain lain. Dan seingat Putu sendiri, novel ini mengalami pengeditan sebanyak 3 atau 4 kali.

Lalu, untuk cara menerjemahkannya, biasanya Putu membaca dulu satu kalimatnya dari awal sampai akhir, baru ia akan menyusunnya lagi dengan makna yang sepadan dengan naskah aslinya. Karena kalimat dalam bahasa Korea biasanya menyatakan makna negatif, dugaan, keinginan, dan lain-lain di ujung belakang kalimat (bagian akhir). Jadi sebelum menerjemahkannya ke bahasa Indonesia, setidaknya Putu harus tahu kalimat ini arahnya ke mana, supaya menerjemahkannya lebih mudah dan hasil terjemahannya juga enak dibaca. Lalu, setelah selesai menerjemahkan satu bab, biasanya Putu baca lagi dari awal sambil memperbaiki kalimat-kalimat yang rasanya terlalu kaku. Meskipun mungkin dari pembetulan yang kedua ini, menurut Putu gaya menulisnya jadi sedikit tertuang ke hasil terjemahan.

Untuk media-media yang digunakan oleh Putu saat proses penerjemahan, tentu saja kamus, biasanya dia menggunakan kamus Korea-Inggris di naver. Lalu untuk padanan bahasa Indonesianya, pakai KBBI online atau melihat novel-novel Indonesia yang lain. Putu justru tidak melihat contoh kalimatnya di novel terjemahan Korea. Alasan pertama, karena di sana (dormitory, Korea) Putu tidak punya buku atau novel terjemahan Korea yang bisa dilihat atau dijadikan acuan. Alasan kedua, karena menurutnya akan lebih bagus kalau melihat rangkaian kalimat dari novel-novel karya penulis Indonesia, toh novel terjemahan ini akan dibaca oleh pembaca Indonesia.  Jadi Putu bisa tahu seperti apa bahasa tulisan untuk novel di Indonesia dan kata-kata apa yang sering digunakan.

Bicara tentang kendala dalam proses penerjemahan, menurut Putu terjadi saat memulai menerjemahkan bagian awal novel. Saat Putu belum mengerti apa-apa tentang alur cerita dan tokohnya, ditambah kurangnya ‘insting’ untuk mengenali apakah nama si tokoh ini nama laki-laki atau perempuan. Entah kenapa, Putu selalu bingung setiap pertama kali melihat nama Korea yang muncul di novel, kadang nggak kebayang dia ini laki-laki atau perempuan. Waktu itu pernah ada salah satu tokoh yang awalnya Putu mengira laki-laki. Di pertengahan novel, baru ketahuan secara eksplisit kalau dia itu perempuan (duh!), untung Putu tidak salah sampai akhir cerita.

Kendala kedua, susahnya menemukan padanan kata yang pas di bahasa Indonesia. Biasanya yang sulit bagi Putu adalah mencari padanan untuk kata panggilan atau kata seruan, karena kalau diganti jadi bahasa Indonesia suka hilang ‘feel’nya. Jadi biasanya Putu tulis dulu saja dengan bahasa Korea (disertai footnote) dan kalau menurut editor dirasa kurang pas, baru diganti dengan bahasa Indonesia.

Kesan-kesan Putu sendiri mengenai novel ini secara keseluruhan, yaitu waktu tahu kalau isi ceritanya seputar ‘kawin kontrak’, sempat terbayang di benak Putu, ‘jangan-jangan ceritanya mirip drama Full House’. Sempat khawatir juga, apa pembaca Indonesia tidak bosan dengan cerita K-drama yang terlalu drama, hehe.. Seperti tipikal kebanyakan cerita drama Korea, tokoh perempuannya miskin (hidup susah), sementara tokoh laki-lakinya adalah pria serba sempurna. Tapi yang menjadi daya tarik dari cerita drama, termasuk novel ini, adalah adegan-adegan romantis kedua tokohnya yang bisa membuat pembaca mesem-mesem.

Mengenai sesuai atau tidaknya dengan selera pembaca Indonesia, karena ini adalah novel terjemahan Korea dan demam K-Pop juga sedang heboh di Indonesia, mungkin novel seperti ini cocok dan sesuai dengan selera orang-orang yang memang tertarik dengan Korea. Bagi orang yang tidak familier dengan drama Korea atau K-Pop, mungkin mereka akan langsung mengecap kalau novel terjemahan korea seperti ini ceritanya ‘full house banget’. Tapi tetap saja, cerita drama Korea (entah itu drama atau novel) tetap punya daya tarik tersendiri dari adegan-adegan romantisnya yang kadang-kadang menurut Putu, bahkan bikin dia sendiri senyum-senyum sambil nerjemahinnya, hihi… “Seandainya saja semua cowok itu seperti yang di novel-novel (curcol), kkkk!”

(Berdasarkan tanya-jawab dengan Putu Pramania via E-mail, yang juga dimuat di web Penerbit Haru: http://penerbit-haru.com/index.php/blog/39-haru-syndrome-s-waiting-room-dini-membaca-4-ways-to-get-a-wife-seperti-menemukan-petualangan-baru )

Curhat Penerbit

Hyun Go Wun adalah penulis naskah skenario K-drama 1% of Anything dan Creating Destiny. Informasi itulah yang pertama kali membuat Haru tertarik dengan karyanya. Apalagi di Korea sendiri namanya sudah cukup dikenal. Tapi tidak berhenti di situ saja, Haru juga mereview naskah 4 Ways to Get a Wife ini apakah sesuai dengan pembaca Indonesia atau tidak. Meski di negaranya sendiri novel ini bisa menjadi bestseller, tidak menutup kemungkinan bisa gagal di negara lain. Oleh karena itu, keputusan untuk menerjemahkan sebuah novel butuh proses yang cukup panjang.

Untuk proses pengurusan hak cipta penerjemahan dan penerbitan dengan pihak Korea, Penerbit Haru mengaku tidak mengalami kendala yang berarti. Juga dalam hal memilih Penerjemah (Putu Pramania) dan Editor (NyiBlo), mereka sudah beberapa kali bekerja sama dengan Haru jadi flow kerjanya pun enak.

Mengenai proses penerbitan novel terjemahan, ada perbedaan yang mendasar dengan novel lokal, menurut Penerbit Haru. Kalau novel lokal membutuhkan ketelitian di alur cerita. Di sini, yang bekerja sama adalah penulis dan editor. Sedangkan untuk novel terjemahan, pihak penerjemah dan editor-lah yang perlu bekerja keras. Tidak perlu pusing tentang alur karena sudah diurus oleh penerbit asal, tapi butuh kesabaran untuk memoles terjemahan menjadi karya yang lebih baik, juga sesuai dengan selera Indonesia.

Mengenai respons terhadap novel ini, sejujurnya, awalnya Haru tidak menyangka pembaca Indonesia akan (sangat) menyukai karya ini sehingga sampai tahun ini sudah mengalami cetak ulang beberapa kali. Ide tentang istri kontrak adalah hal yang sudah berkali-kali diaplikasikan ke dalam sebuah karya. Namun, kepiawaian Hyun Go Wun menyelipkan sebuah tema tentang keluarga yang sangat kuat ternyata ampuh sekali untuk memikat para pembaca.

(Berdasarkan tanya-jawab dengan Penerbit Haru via E-mail yang beberapa juga dimuat di web Penerbit Haru: http://penerbit-haru.com/index.php/blog/39-haru-syndrome-s-waiting-room-dini-membaca-4-ways-to-get-a-wife-seperti-menemukan-petualangan-baru).

 

Bagaimana menurut kalian tentang proses penerbitan novel Korea terjemahan ini? Hm, lumayan ribet ya proses penerjemahannya, terutama dalam mencari padanan kata yang sesuai dengan bahasa Indonesia. Syukurlah, Penerbit Haru dapat membuat pembaca menyukai novel ini. Kapan-kapan, kita mengulas proses di balik penerbitan buku lainnya, yuk!😀

One thought on “Behind the Book: 4 Ways to Get a Wife by Hyun Go Wun

  1. aku suka sama novel ini.. suka bangeett, lebih suka dari pada so, i married anti fans. Memang beda ya kak.. novel yg setting di korea yg ditulis sama penulis korea dengan novel setting korea yang ditulis sama penulis indonesia. Lebih terasa feelnya dan lebih asik. IMO. Habis, aku terkadang suka kecewa sama novel koreanya penulis indonesia *loh, kok malah curhat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s