[Haru’s Syndrome’s Waiting Room] Dini: Membaca 4 Ways to Get a Wife Seperti Menemukan ‘Petualangan’ Baru

Artikel ini merupakan tanya jawab Haru dengan saya dan sebaliknya, mengenai salah satu novel Korea terjemahan yang berjudul 4 Ways to Get a Wife yang ditulis oleh Hyun Go Wun. Artikel ini dimuat juga di notes facebook Haru dan juga di penerbit-haru.com. Happy reading! ^^

HaSyWaRo-dini

Haru Syndrome’s Waiting Room kali ini mengundang seorang blogger bernama Dini untuk membahas 4 Ways to Get a Wife karya Hyun Go Wun. Novelis yang juga penulis skenario K-drama 1% of Anything ini akan menerbitkan buku terbarunya di Haru bulan depan, lho. Penasaran dengan komen pembaca tentang novel ini, mari kita simak perbincangannya.

Profil singkat blogger:

Dini Novita Sari.Bisa dipanggil Dini. Atau Dinoy. ^^. Aku saat ini masih bekerja sebagai pegawai swasta, dari hari Senin sampai Jumat, dari pagi hingga jelang petang. Selainitu, sedang mulai freelance job jugasebagai proofreader, editor, dan book reviewer di 4 media berbeda. As described in my twitter bio, I’m atraveler, reader, blogger, and writer. Aku suka jalan-jalan, membaca buku ,menuliskan cerita perjalananku, dan mengulas buku-buku yang telah kubaca.

Blog bukuku beralamat di www.dinoybooksreview.wordpress.com dan akun twitterku: @dinoynovita.

Pertanyaan Haru untuk Dini

Sebenernya, ide cerita tentang kawin kontrak sudah sangat pasaran. Apa yang membuat kamu berpikir cerita ini menarik?

 Oke, mulai dari kenapa aku baca novel ‘4 Ways to Get a Wife’ dulu kali, yaaa… Pertama, aku belum pernah baca novel dengan tema kawin kontrak. Kalau toh aku lihat novel macam itu di toko buku, aku paling enggak akan tertarik untuk membelinya. Entahlah, masih ide yang terlalu aneh buatku, tentang kawin kontrak itu. Tapi, atau terlebih lagi, kawin kontrak yang dibahas di sini ala Korea, pastinya beda dong dengan kawin kontrak yang pernah kubaca beritanya di daerah-daerah perkampungan di Indonesia, yang biasanya dilakukan oleh pekerja asing yang memperistri (secara kontrak) perempuan-perempuan lugu yang tergiur karena uangnya. Eh maap, jadi melantur.

Let’s back! Jadi kenapa dong, aku mau aja pas disodorin temen untuk baca novel ini?? Ya, kupikir kenapa enggak untuk menambah referensi bacaanku? Novel tentang kawin kontrak, dari Korea pula, dan ada temenyang setidaknya bilang ini menarik. Dan apakah akhirnya menurutku novel ini beneran menarik? Ya. Karena sebab-sebab adanya perjanjian kawin kontrak inilah yang membawaku menelusuri rumitnya kehidupan keluarga di Korea, dengan segala tetek-bengek mengenai warisan dan sopan santun kepada orang tua dan leluhur. Seperti menemukan ‘petualangan’ baru dalam membaca buku.

Pada awal cerita, kamu menyebutkan kalau bingung membacanya. Kenapa? Dan ada saran untuk hal ini?

Hm…. *sebentar contek resensi di blog dulu, maklum udah lama ya bacanya, hihi*

 ‘Dari halaman-halaman pertama yang saya baca, otak saya sudah diberi beban untuk merunut tentang hubungan kekerabatan dalam keluarga Kim .Juga peralihan dialog antar tokoh, siapa yang sedang berbicara,panggilan-panggilan dalam percakapan, sampai pelibatan masa lalu yang menjadi penyebab konflik di masa kini.’

Nah ya itu, aku kutip dari resensiku. Yang bikin bingung adalah rumitnya hubungan kekerabatan di keluarga Korea. Jadi sedikit bocoran aja, di novel inikan ada adegan pembacaan warisan pasca pemakaman, di mana saat itu semua keluarga besar berkumpul jadi satu, lalu di narasi disebutkan siapa-siapa saja, belum lagi mereka juga satu per satu mulai bicara bergantian tapi nggak selaluada penjelasan di akhir dialog siapa yang ngomong, sempat bikin aku nggak mudeng. Terus juga dalam dialog itu seingetku ada hal yang mengungkit masa lalujuga, jadi mikir lagi kaitannya dengan masa kini. Nama-nama di Korea juga kansusah diingat kalau baru disebut sekali, hehe, apalagi mirip-mirip gitu. Itu sih tantangannya.

Saran, ya. Nah untuk diri sendiri sebagai pembaca, just keep reading. Nggak bisa dimungkiri kalau enggak semua buku bisa bikin kita tertarik sedari awal, well tergantung selera pribadi juga, sih. Tapi jangan buru-buru menutup buku itu, lanjut aja terus bacanya sampai kamu bener-bener ‘nyerah’. Dalam hal ini, aku masih menganggap kesulitan-kesulitan yang aku sebutkan di atas sebagai sebuah tantangan dan kepenasaranan yang perlu diurai. Lagian, nggak sampai berlarut-larut kok bingungnya, hehe, untungnya drama alias ceritanya selalu muncul dengan proporsi yang pas.

Saran untuk penerbit, hm… susah juga karena ini adalah naskah terjemahan yang nggak bisa diedit ‘seenaknya’ kan, nanti malah banyak menghilangkan gaya penulis asli. Mungkin lho yaa, kalau memang novelnya banyak menceritakan tentang keluarga – dan itu kan yang jadi kekhasan novel Korea – boleh juga dihalaman depan dikasih sisipan silsilah keluarganya gitu termasuk keterangan gender-nya. Eh tapi,, ini jadi bikin spoiler enggak sih, Haru?? Arrgh, bingung, belum terlalu ngerti akan hal ini, LOL!

Seandainya kamu sendiri melihat ada lowongan istri kontrak di koran, bagaimana reaksimu?

Just like what Jung Won did. Mengerutkan kening dan mikir, ini GILA. Atau bisa juga mikir, ini kerjaan siapa lagi bikin program jebakan? Maklum di televisi kan lagi marak acara gituan, ntar ternyata banyak yang datang ‘audisi’ dan malah dibodoh-bodohin di hadapan seluruh pemirsa televisi. Huahaha, yang jelas pasti mikir yang pasang iklan itu udah desperado banget kali, yaa… ._.

Menurut kamu, bagaimana sih gaya penulisan Hyun Go Wun? Kelebihan dan kekurangannya? Dan apakah kamu berminat membaca karyanya lagi?

Gaya penulisanHyun Go Wun: dari hasil baca novel ‘4 Ways to Get a Wife’, sedikit menyimpulkan kalau tipe-tipenya adalah tipe pemerhati pada detail, alurnya sebenarnya tidak bisa dibilang lambat juga, tapi banyaknya keterangan sering membuat kita ingin cepat beranjak, namun sebenarnya kunci untuk menikmati konfliknya ya pada keterangan-keterangan yang dia jabarkan itu. Jadi, bagaikan harus bersabar menggali tanah untuk menemukan harta karun terpendam. ^^.

Kelebihannya: Pengkarakteran yang kuat, deskripsi tempat mampu membuat pembaca merasa berada di sana langsung, juga ide ceritanya tidak simpel nan membuat penasaran.

Kekurangannya: sering menyelipkan flashback secara tiba-tiba yang membuat aku harus baca pelan lagi dari adegan atau paragrafsebelumnya. Lalu, seringnya setelah dialog nggak diberi penjelasan siapa yang ngomong, jadi ya harus perhatiin lagi dari atas, hehe.

Apakah berminat membaca karyanya lagi?? Enggak… akan nolak! Maksudnya, ya pasti mau dan enggak nolak dong, diajak bertualang melalui kisah romansa yang pelik oleh Hyun Go Wun lagi. Penerbit Haru mau nerbitin karya Hyun Go Wun lagi, kah?? *winks*

Bagaimana caramu menentukan buku mana yang wajib langsung dibeli atau yang hanya wajib baca aja (menunggu pinjaman atau menunggu diskon besar).

Buku yang wajib langsung beli: Keluaran penulis favorit tentunya, karena aku udah ngerti asyiknya baca tulisannya dan meski enggak sempurna dan beberapa kali mendapati kekurangan dikarya terbarunya, biasanya aku bakalan bisa lebih ‘toleran’ atau menganggap itu perubahan dari penulis yang perlu diikuti. Tapi, tetep aja sih meski penulis favorit kalau dari jenis bukunya nggak sesuai seleraku, bisa juga aku nggak beli. Misalnya, aku boleh sebut 3 nama yang jadi favoritku yaa, hehe… Dewi Lestari, Ika Natassa, dan Lia Indra Andriana. ^^. Beberapa waktu lalu, salahsatu penulis itu merilis buku fiksi yang diambil dari kumpulan twit gitu. Dan pas buka-buka di toko buku sih, tetep jadi kumpulan twit dengan sedikit modifikasi, tapi nggak diolah jadi novel. Dan aku nggak suka buku yang semacamitu, kayak ‘rugi’ aja belinya, jadi ya nggak beli deh, hehe.

 Buku hanya wajib baca aja (menunggu pinjaman atau menunggu diskon besar): Lol, kategori apaa.. ini? Wkwkwk, karena pada dasarnya aku suka random book shopping, sih. Asyik gitu, kalau lagi jalan-jalan di toko buku danlihat kemasan buku menarik, coba baca blurb/sinopsis dan intip isinya, lalu bawa pulang, deh. Tapi akhir-akhir ini sejak gabung di grup Blog Buku Indonesia, jadi sering dapat masukan tentang banyak buku, beberapa kali pulaterjadi transaksi pinjam-meminjam buku. Biasanya, aku bakalan pinjam buku yang banyak dibilang menarik, tapi sebenernya enggak masuk genre yang biasanya kubaca, atau mau beli tapi bujet lagi nggak ada :p. Misalnya, chicklit dari luar negeri yang harganya… ya gitu deh, mahal, hehe.

Atau, aku pernah juga lho sengaja beli buku yang di Goodreads banyak ‘dibantai’. Penasaran aja sih, bukuyang beberapa kali cetak ulang, difilm-in, tapi di Goodreads yang notabene reviewers-nya banyak jujur dan apa adanya kalau kasi komentar, malah kena bantai. Dan aku jadinya banyak belajar dari buku itu, terutama poin-poin kekurangannya, hehe. Untungnya sih buku itu emang enggak mahal, dan aku beli di toko buku online yang ada diskonnya. Huahahaha, semoga menjawab! ^^.

Terima kasih ya Penerbit Haru atas kesempatannya masuk ruang tunggu nan kece ini… *peluk si ayam galau*. Semoga Haru terus menghasilkan buku-buku ciamik dan makin terus disayang oleh banyak orang, yaaa… ^_^v

Pertanyaan Dini untuk Haru. 

Bagian ini akan dibagi menjadi dua, yaitu pertanyaan untuk Haru dan untuk Putu Pramania (penerjemah 4 Ways to Get a Wife, So, I Married theAnti-fan, Cheeky Romance, After D-100)

HARU

Novel ini kan merupakan karya pertama dari Hyun Go Wun yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Penerbit Haru, boleh diceritakan dong dulu alasannya kenapa memilih untuk membeli naskah ini, apa saja faktor-faktornya?

Hyun Go Wun adalah penulis naskah skenario K-drama 1% of Anything dan Creating Destiny. Informasi itulah yang pertama kali membuat Haru tertarik dengan karyanya. Apalagi di Korea sendiri namanya sudah cukup dikenal. Tapi tidak berhenti di situ saja, Haru juga mereview naskah 4 Ways to Get a Wife ini apakah sesuai dengan pembaca Indonesia atau tidak. Meski di negaranya sendiri novel ini bisa menjadi bestseller, tidak menutup kemungkinan bisa gagal di negara lain. Oleh karena itu, keputusan untuk menerjemahkan sebuah novel butuh proses yang cukup panjang.

Novel ini kan terbit di bulan Desember 2012, berarti udah hampir setahun nih. Bagaimana nih respons masyarakat terhadap novel ini? Apakah sudah mengalami cetak ulang, dan tanggapan-tanggapan pembaca terhadap novel ini bagaimana?

Sejujurnya, awalnya Haru tidak menyangka pembaca Indonesia akan (sangat) menyukai karya ini sehingga sampai tahun ini sudah mengalami cetak ulang beberapa kali. Ide tentang istri kontrak adalah hal yang sudah berkali-kali diaplikasikan ke dalam sebuah karya. Namun, kepiawaian Hyun Go Wun menyelipkan sebuah tema tentang keluarga yang sangat kuat ternyata ampuh sekali untuk memikat para pembaca.

PUTU PRAMANIA

Novel 4Ways to Get a Wife ini kan terbit di bulan Desember 2012, ya. Masih ingat nggak, kapan Putu diminta oleh Penerbit Haru untuk menerjemahkan naskah yang ditulis oleh Hyun Go Wun ini? Dan perasaannya gimana tuh saat itu?

Aku dapat tawaran untukmenerjemahkan 4 Ways to Get a Wife ini sekitar bulan Juni 2012. Ini adalahnovel ketiga dari Penerbit Haru yang aku terjemahkan. Kebetulan saat itusemesteran baru aja selesai, jadi aku pikir lumayan juga untuk mengisi waktu luang saat liburan. Selain itu juga sekalian mengasah kemampuan menerjemahkankarya sastra (seperti novel ini). Pada dasarnya aku memang suka menjadi penerjemah dan sebelumnya biasanya hanya menerjemahkan komik.

Novel pertama yang kuterjemahkan itu ‘So I married the Antifan’ dan ternyata menerjemahkan novel itu susah dan cukup bikin sakit kepala. Karena merasa kemampuan masih sangat kurang, ada kesempatan untuk ‘latihan’ menerjemahkan novel dan saat itu juga lagi liburan, jadi kuterima tawaran dari Haru. Lagipula dari judulnya kelihatannya cukup menarik. Sempat berpikir kalau tokoh utama di novel inia dalah cowok, secara judulnya ‘cara mencari istri’, jadi awalnya kupikir isinya berkisar seputar ‘panduan mencari istri’ atau ‘panduan menggaet wanita’ gituu:))

Lalu, boleh diceritakan dong proses penerjemahan ini berlangsung berapa lama, dan gimana aja tahapan-tahapannyasampai dengan dirapikan lagi oleh editor? Misalnya, mungkin mulai dari kamu menerjemahkan kata per kata lalu mengecek lagi rangkaian kalimatnya, lalu diserahkan ke editor dan mengalami pengeditan berapa kali?

Waktu penerjemahannya (kalau tidak salah) sekitar dua bulan, dan setelah aku kirim draft full terjemahan novel ini keHaru, dari editor sempat bertanya dua kali ke aku tentang keseluruhan isi novel. Pertanyannya berkisar seputar istilah Korea yang kurang familiar di pembaca Indonesia, alur cerita, hubungan antar tokoh di dalam novel (contoh:jadi si A ini siapanya si C?), dll.

Setahuku, novel ini di edit 3 atau 4 kali, karena file editan terakhir yang kuterima namanya ‘4waystogetawife_edit3’. Jadi mungkin 4 kali (?). Lalu, untuk cara menerjemahkannya, mm… aku biasanya nggak menerjemahkan per kata. Biasanya aku baca dulu satu kalimatnya dari awal sampai akhir, baru kususun lagi dengan makna yang sepadan dengan naskah aslinya. Kenapa dibaca dari awal sampai akhir sekaligus dulu? Karena kalimat dalam Bahasa Korea biasanya menyatakan makna negatif, dugaan, keinginan, dll di ujung belakang kalimat (bagian akhir). Jadi sebelum menerjemahkannya ke bahasa Indonesia, setidaknya aku harus tahu kalimat ini arahnya ke mana. Supaya menerjemahkannya lebih mudah dan hasil terjemahannya juga enak dibaca(mudah2an). Lalu, setelah selesai menerjemahkan satu bab, biasanya aku baca lagi dari awal sambil memperbaiki kalimat-kalimat yang rasanya terlalu kaku. Meskipun mungkin dari pembetulan yang kedua ini gaya menulisku jadi sedikit tertuang ke hasil terjemahan.😐

Nah, kendala dalam penerjemahan yang paling berarti apa saja tuh? Apakah kamu sering menjumpai kata-kata dalam bahasa Korea yang sulit kamu cari padanannya di bahasa Indonesia tanpa terdengar kaku? Jika ada, bagaimana kamu menyiasatinya?

Kendala waktu menerjemahkan adalah saat memulai menerjemahkan bagian awal novel. Saat aku belum mengerti apa-apa tentang alur cerita dan tokohnya, ditambah kurangnya ‘insting’ untuk mengenali apakah nama si tokoh ini nama laki-laki atau perempuan. Entah kenapa, aku selalu bingung setiap pertama kali melihat nama Korea yang muncul di novel, kadang nggak kebayang dia ini laki-laki atau perempuan. Waktu itu pernah ada tokoh bernama Manajer Kim (atau siapa gitu marganya, lupa). Awalnya kukira laki-laki.

Dipertengahan novel, baru ketahuan secara eksplisit kalau dia itu perempuan (duh!), untung gak salah sampai akhir cerita. Kendala kedua, susahnya menemukan padanan kata yang pas di bahasa Indonesia. Biasanya yang sulit itu mencari padanan untuk kata panggilan atau kata seruan, karena kalau diganti jadi Bahasa Indonesia suka hilang ‘feel’nya. Jadi biasanya aku tulis dulu saja dengan bahasa Korea (disertai footnote) dan kalau menurut editor dirasa kurang pas, baru diganti dengan Bahasa Indonesia.

Terakhir, jujur yaa, hehe… Bagaimana penilaian kamu sendiri tentang novel 4 Ways to Get a Wife setelah membaca dan menerjemahkan novel ini secara keseluruhan? Dan apakah menurutmu novel yang ditulis oleh Hyun Go Wun ini cocok dengan selera bacaan orang Indonesia? 

Waktu tahu kalau isi ceritanya seputar ‘kawin kontrak’, sempat terbayang ‘jangan-jangan ceritanya mirip drama Full House’. Sempat khawatir juga, apa pembaca Indonesia gak bosan dengan cerita K-drama yang terlalu drama, hehe.. Seperti tipikal kebanyakan cerita drama Korea, tokoh perempuannya miskin (hidup susah), sementara tokoh laki-lakinya adalah pria serba sempurna. Tapi yang menjadi daya tarik dari cerita drama, termasuk novel ini, adalah adegan-adegan romantis kedua tokohnya yang bisa membuat pembacamesem-mesem.

Mengenai sesuai atau nggaknya dengan selera pembaca Indonesia, karena ini adalah novel terjemahan Korea dan demam k-pop juga sedang heboh di Indonesia, mungkin novel seperti ini cocok dan sesuai dengan selera orang-orang yang memang tertarik dengan Korea. Bagi orang yang tidak familiar dengan drama korea atau k-pop, mungkin mereka akan langsung mengecap kalau novel terjemahan korea seperti ini ceritanya ‘full house banget’. hehe… Tapi tetap saja, cerita drama Korea (entah itu drama atau novel) tetap punya daya tarik tersendiri dari adegan-adegan romantisnya yang kadang-kadang bahkan bikin aku sendiri senyum2 sambil nerjemahinnya hihi… seandainya saja semua cowok itu seperti yang dinovel-novel (curcol). Hahaha ….

So, how was it? Interesting?? Kalau aku sih sedang menunggu karya Hyun Go Wun berikutnya, kan bocorannya bakalan terbit bulan depan sama Penerbit Haru. Can’t wait!! 🙂

3 thoughts on “[Haru’s Syndrome’s Waiting Room] Dini: Membaca 4 Ways to Get a Wife Seperti Menemukan ‘Petualangan’ Baru

  1. kak dinoy.. aq suka novelnya alesannya sih karena ditulis sama penulis asli korea (aku korean addict) jadi beda aja bacanya dengan novel indo setting korea.. (lebih pas aja) hihihi subjektif banget ya..

  2. Aq udh duga kak Dini psti ikutan waiting room haru dan trnya dugaanku bner.. hehe :p

    Proofreader itu apa ya kak?
    Kak Putu hebat yahh! Nerjemahin ‘so i married anti fan’ itu susah loh mnrut ku. Krna budaya koreanya bnyak. Tdi ktanya kak putu nerjemahin wktu libur smester. Kak putu msh kuliah? Hbat bgt klo gtu!!
    Mnrut kak Dini lbh bgusan ‘cheeky romance or 4 ways to get a wife?’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s