(Un)Broken Wings by Pia Devina

(Un)Broken Wings

Judul: (Un)Broken Wings

Penulis: Pia Devina

Penerbit: DIva Press

Genre: Remaja, Drama, Roman

Terbit: Juli 2013

Tebal: 304 Halaman

Harga: Rp 40.000

“Aku enggak mau jadi diri aku. Aku tertekan! Bahkan, dalam mimpi aku pun ingin jadi orang lain. Mungkin jadi seorang bidadari kecil yang bisa terbang bebas. Terbang ke tempat yang enggak pernah aku tau, yang bisa bikin aku ngerasa aman, ngerasa damai.” (hal. 273). Sandra memberontak. Dia sudah tak tahan lagi dengan kehidupannya selama ini, hal-hal yang senantiasa menyerangnya dan membuat perih. Dulu, dialah bidadari itu. Dulu, dialah gadis kecil yang membuat seorang anak laki-laki terpikat. Namun sayangnya, saat si Gadis Kecilย mulai menyandarkan hatinya pada sang Lelaki, dia pun harus kehilangan sosok kesayangannya itu. Membuatnya meratap sedih dan harus sendiri menghadapi semua kesakitan. Evan tak tahu, kepergiannya membuat Sandra membencinya. Dan saat ia tersadar, semua pun sudah tak lagi sama.

(Un)Broken Wings adalah karya solo kedua dari Pia Devina yang diterbitkan di tahun ini. Wow, selamat ya Pia, dua novel dalam setahun, merupakan pencapaian yang luar biasa menurut saya.๐Ÿ™‚ Saya akan mulai menceritakan pendapat saya tentang novel ini. Ringkasan ceritanya dulu, ya. Novel ini adalah tentang seorang gadis yang mengalami metamorfosis dalam kehidupannya, yang sayangnya bukan dalam konteks yang baik. Masalah demi masalah membuatnya memiliki hati yang keras, dan sebegitu mudah mencipta rasa benci kepada orang di sekitarnya. Gadis itu berpikir, bahwa hidup sudah tak adil baginya, kebaikan dan ketulusan tak lagi memiliki porsi untuknya, jadi kenapa harus repot-repot memberi rasa sayang kepada orang lain? Perubahan itu memberi efek pada orang di sekitarnya yang turut merasakan sakit karena dirinya. Anna, Evan, Sandra, Katya, dan Rion. Mereka akan memberitahumu lebih lanjut tentang apa yang telah saya ringkaskan tadi.

Saat mulai membaca novel ini, saya diceritakan tentang kisah masa lalu antara dua anak kecil yang bermain bersama, dua anak kecil yang saling sayang. Lalu beranjak ke masa kini, tentang kehidupan kakak-beradik yang saling akrab, dan bergulir kepada kisah sang adik dalam kesehariannya. Saya harus mengatakan, saya sedikit kebingungan dengan fokus cerita yang ingin disampaikan di novel ini. Apakah tentang Evan, Katya, atau malah Sandra? Hingga akhirnya saya memutuskan bahwa inti utamanya adalah tentang Sandra dan rasa sakitnya, sementara Katya adalah ‘kisah sampingan’ meski memiliki porsi cukup besar. Seperti yang saya bilang di atas, Sandra adalah seorang gadis yang mengalami rasa sakit luar biasa dalam hidupnya, sehingga ia menganggap orang-orang di sekitarnya pun harus mengalami hal yang serupa. Katya yang tidak tahu apa-apa pun harus menjadi salah satu dampaknya. Sementara Evan, hanya bisa merasa heran dan kecewa dengan perubahan yang dialami oleh bidadarinya itu.

Bicara alur, masih sama seperti novel Menjagamu, di sini Pia juga gemar bereksplorasi dengan timeline di setiap adegan cerita. Alur maju mundur, dengan penanggalan yang selalu dicantumkan, yang masih membuat saya belum merasa nyaman dengannya, hehe. Misalnya, jika dituliskan ‘tanggal 24 Oktober beberapa hari yang lalu’, maka patokannya ‘yang lalu’ itu dari kapan? Sementara di adegan sebelumnya sudah ada tanggal 24 November.๐Ÿ™‚ Tapi lagi-lagi, saya menikmati cara Pia bertutur. Ini adalah kisah remaja, kehidupan mereka di sekolah, yang jujur saja saya juga tidak terlalu related dengannya. Tapi percakapan-percakapan yang sederhana dan mudah dicerna, kaitannya satu sama lain pun tidak masalah bagi saya.

Satu hal lagi, masih seperti novel Menjagamu, Pia tampaknya juga suka menyisipkan masalah medis sebagai salah satu konflik dalam cerita. Di sini, diceritakan pula bahwa Sandra mengidap bulimia sebagai salah satu efek kepahitan dalam hidupnya. Apakah saya keberatan dengan hal itu? Hm, nggak juga sih, biasa saja, meski saya tak terlalu merasakan ‘keistimewaannya’, hehe.

Jadi, kalau diminta memberi alasan kenapa kalian harus membaca novel ini, saya akan bilang kalau kalian akan mendapati cerita yang sederhana namun bagaikan sebuah kotak Pandora. Ketika kamu merasa kamu sudah menemukan sesuatu, ternyata sedikit melangkah lagi kamu akan dibawa ke hal yang lain lagi yang menambah rasa kepenasaranmu. Deskripsi settingnya yang apik juga sepertinya menjadi kekhas-an Pia, dan meski menurut saya konfliknya bisa dibuat lebihย jleb lagi, tapi ide ceritanya layak diacungi jempol!๐Ÿ™‚

4 thoughts on “(Un)Broken Wings by Pia Devina

  1. Pingback: Curhatan Pia tentang (Un)Broken Wings… ~ Artikel tamu + Giveaway | Dinoy's Books Review

  2. Pingback: Mengulang Kenangan di Cologne [Love Lock by Pia Devina] | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s