Hai Moemoe!

moemoe's books

Ada yang sudah pernah baca novel-novel dengan tema Setiap Tempat Punya Cerita ? Kalau aku udah baca dua, dan salah satunya adalah Bangkok yang ditulis oleh Moemoe Rizal. Seperti yang kubilang di resensi novel Bangkok, aku suka penuturan yang disampaikan oleh Moemoe dalam ceritanya. Dengan alur yang lugas dan dinamis, juga pemaparan setting tempatnya melebur dengan ceritanya, sehingga nggak membosankan. Mari kita korek-korek ke penulisnya langsung tentang novel ini!!😀

Hai Moemoe! I love your newest novel, thanks for writing that! Kita ngobrol-ngobrol ya, tentang novel dan juga sedikit kehidupanmu.🙂 Pertanyaan pertama, Bangkok The Journal ini kan merupakan bagian dari proyek Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) dari Gagas Media dan Bukune. Boleh diceritakan nggak, jadi nulis Bangkok ini memang karena request dari Gagas, atau emang dari kamu udah punya naskah ini yang kebetulan pas dengan tema STPC ? Ceritakan juga gimana dapat ide awal ceritanya, ya.

Hmmm… saya ceritakan kronologinya aja, ya. Ketika pertama kali STPC dibentuk, saya mendapat lima kota pilihan, yaitu semua kota di STPC GagasMedia, kecuali Bangkok. (Yap, tidak ada Bangkok lho ketika STPC sedang digodok.) Dari lima kota yang ada, saya pilih Melbourne. Namun setelah melewati beberapa perundingan, Melbourne akhirnya diambil oleh Winna Efendi, dan saya diminta mencari satu kota di Thailand. Which means, bisa saja saya tulis tentang Phuket, Pattaya, maupun Chiang Mai. Pada akhirnya, saya dan editor in chief sepakat untuk menulis Bangkok saja, mengingat kota ini termasuk salah satu kota besar dunia, modern, dan saya bisa tetap mengeksplornya seperti menjelajahi kota lain di Thailand.

Ide awal Bangkok The Journal saya ambil secara harfiah dari frase Setiap Tempat Punya Cerita. Hehe… (saking nggak kreatifnya kali ya, saya ini…😛 ). Saya membayangkan setiap tempat di Bangkok memiliki cerita. Tempat A ceritanya ini, tempat B ceritanya itu. Ujung-ujungnya, eksekusi saya adalah, setiap tempat di Bangkok ada sebuah cerita yang diceritakan melalui jurnal. Dan dari situlah akhirnya lahir petualangan Edvan mencari jurnal.

Edvan di novel Bangkok nih tokoh yang songong, arogan, dan narsis paraahh…. Bikin gemes tapi kayaknya tipe cowok kayak gini juga tipe yang disukai sama cewek-cewek kalau di novel, haha. Kamu ada patokan tokoh tertentu nggak untuk menciptakan tokoh Edvan ini?

King Julian cr: blakemorekpjerold.blogspot.com

King Julian
cr: blakemorekpjerold.blogspot.com

Ada. Saya sendiri. Huahahahaha… Nggak denk. (Meskipun banyak teman saya yang bilang begitu, karena saya sama narsisnya kayak Edvan.) Tapi kalau ditanya patokan tokohnya siapa, sebenarnya sudah disebutkan kok di novel. Patokannya adalah King Julian, dari film dan serial kartun Madagascar. King Julian adalah tokoh yang arogan dan narsis, tapi sekaligus bikin gemes. Dia tokoh kartun favorit saya juga. Hehehe…

Nah kalau Edvin aka Edvina? Jujur ya, aku langsung inget sama mantan artis cilik cowok yang pas gedenya jadi transgender. Apa dasarmu menciptakan tokoh Edvina ini? Dan bisa diceritakan bagaimana observasi yang kamu lakukan tentang tokoh transgender (termasuk kesulitannya)?

Dasarnya adalah karena ketika pertama kali saya research soal Bangkok, yang muncul paling atas di google adalah transgender. (Nah, kan, makin nggak kreatif saya ini. Hihihi… ketahuan deh.😛 ) Transgender dan Bangkok adalah dua hal yang sudah sulit untuk dipisahkan. Berhubung ini adalah Setiap Tempat Punya Cerita, mengapa nggak saya jadikan saja transgender sebagai salah satu elemen novel saya? Toh transgender sesuatu yang umum di negara ini.

Soal observasi, saya menonton banyak sekali film tentang transgender dan mencoba memahami perasaan mereka. Saya juga punya teman-teman transgender dan mencoba meneliti apa sebenarnya yang mereka mau. Dari situlah saya mencoba menciptakan tokoh transgender, yang tentunya masih sesuai dengan koridor-koridor saya.

Bicara tentang menjadi penulis. Sejak kapan kamu mulai rutin menulis? Apa sih yang bikin kamu suka nulis dan manfaat dari menulis yang kamu rasakan tuh apa, sih?

Menulis dimulai sejak SMA. Saya mengawali menulis dari SD dalam bentuk gambar. Saya hobi menggambar. Saya gambar apa pun yang saya lihat, di papan tulis yang ada di rumah saya. Memasuki SMP, saya punya hasrat untuk menjadikan gambar-gambar saya bercerita. Maka dari itu, saya mulai menulis komik. Memasuki masa-masa SMA, saya mulai malas membuat cerita bergambar. Karena kadang ceritanya udah nguap, gambarnya belum selesai. Akhirnya saya beralih ke media tulis, karena saya bisa langsung mengungkapkan cerita-cerita di otak saya ke dalam sebuah media.

Yang membuat saya suka menulis adalah saya bisa mengungkapkan semua cerita khayalan yang ada di otak saya. Rasanya bebas dari beban. Rasanya lega bisa membagi pemikiran saya. Saya menganggap, menulis novel adalah berbohong yang dilegalkan. Saya bisa berdusta soal manusia bisa terbang, atau apel berwarna ungu dalam sebuah novel, tanpa orang-orang akan menganggap saya seorang pembohong. Toh, semua pembaca juga tahu kalau cerita-cerita itu fiktif.

Di cerita Bangkok ini Edvan melakukan perjalanan dan menemukan banyak hal mengejutkan di dalam perjalanannya, termasuk cinta. Kalau kamu sendiri pernah nggak melakukan perjalanan yang membawamu ke banyak hal seru dan mengejutkan? Ceritakan, ya…

Saya percaya, setiap perjalanan yang saya lakukan, pasti membawa saya ke banyak hal seru dan mengejutkan. Saking banyaknya, nggak bisa saya share. Hehe. Karena saya orangnya positive thinking mulu. Pergi naik angkot dari rumah ke tukang jahit aja bisa saya anggap perjalanan yang seru. Saya bisa anggap menguping pembicaraan seorang ibu-ibu yang menelepon sebagai sesuatu yang asyik, atau memperhatikan anak kecil memandangi bangunan-bangunan di pinggir jalan, sebagai sesuatu yang inspiratif. Saya nggak mau kehilangan momen-momen seperti itu. Jadi mungkin ini kembali ke personalnya masing-masing. Apakah perjalanan ke warung merupakan perjalanan yang seru? Buat saya, mostly jawabannya iya.

Kalau aku lihat profilmu di Goodreads, kamu udah nerbitin 6 buku, ya. Selama ini pasti pernah menerima kesan dan masukan dari pembaca, dong. Ada saran dan kritik yang paling berkesan nggak yang pernah kamu terima? Mungkin pujian yang paling bikin GR, atau malah kritik yang bikin kamu nggak bisa tidur, hehe.

Salah. Udah 12. Hehe. Cuma enam yang lain nggak pake nama Moemoe Rizal. Kalau masukan dari pembaca udah banyak bangeeeettt… mulai dari yang memuji sampai yang menghina. Which is normal, dan saya juga berharap seperti itu. Saya nggak mau muluk-muluk novel saya dipuji terus-menerus, karena dengan begitu saya nggak bisa berkembang. Entar yang saya tahu cuma bagus-bagusnya doang, yang jelek-jeleknya nggak. Dari mana saya bisa belajar?

Saya nggak akan bohong, semua kritik yang ditujukan ke saya, semuanya membuat frustrasi. Atau mungkin depresi. Karena saya juga manusia normal, yang bisa tersinggung dan sakit hati. Tapi apakah saya masukkan ke dalam hati? Nope. Saya musuhi dia? No way. Saya memutar bola mata sambil balas menghina dia? Hahaha… nggak mungkin, lah. Saya justru berterima kasih. Karena ada yang mau melihat saya dari sisi koin yang lain. Nggak kebayang kalau uang koin sisinya cuma satu, cuma pujian-pujian mulu. (Nggak bisa dibayangin, maksudnya.)

Oh ya masih dari Goodreads, nih. Aku baca kalau kamu terpengaruh sama Sophie Kinsella. Wah, unik juga baca cowok yg demen sama penulis yang nulis buku-buku cewek ini, hehe. Kenapa tuh suka sama Sophie Kinsella? Dan sejauh mana karyanya memengaruhi tulisanmu?

Saya nggak lihat gender-nya Sophie Kinsella. Yang saya lihat adalah skill menulisnya Sophie Kinsella. Beliau mengajarkan banyak hal, mulai dari menyusun plot, menentukan mana yang harus dinarasikan, mana yang harus diekspresikan, lalu pilihan-pilihan gesture untuk diterangkan, sampai membedakan karakter setiap tokoh. Yang membuat saya suka adalah Sophie menulisnya dengan jujur dan apa adanya. Dia nggak menulis seorang tokoh itu baik hati dan tidak sombong lalu rajin menabung, seperti stereotip karakter semua tokoh sinetron: kalo baik ya baiiiikkkk banget, kalo jahat ya jahaaaattt banget, nggak bisa gitu ya mengedukasi penonton bahwa nggak ada manusia yang 100% baik? Nah, Sophie Kinsella ini nggak. Dia mengambil jalur tengah, bahwa setiap manusia ada baik dan buruknya. Bahkan tokoh antagonisnya pun begitu, ada baik ada buruknya. Saya suka dengan kejujuran yang beliau angkat di sini. (Coba saya tanya, ada berapa sih novel Indonesia yang tokoh utamanya justru durhaka sama ibunya, udah gitu dia narsis dan sok banget? Hehehe…)

Sejauh mana beliau memengaruhi gaya tulisan saya? Jauuuuhhh banget! Saya malah nggak tahu, penulis mana lagi yang berhasil memengaruhi saya. Sejauh ini cuma Sophie Kinsella. Hehe. Oh, dulu pernah saya suka Cathy Hopkins. Tapi dulu banget, jaman SMA. Itu pun karena gaya tulisnya kurang lebih sama dengan Sophie Kinsella.

Pertanyaan terakhir, bocorin dong, kamu sedang nulis apa nih untuk karya berikutnya? Tokoh utamanya masih cowok atau ganti jadi cewek, nih? Hehehe…

Yang sedang saya tulis? Yah… seperti biasa, the next Gagas series, mudah-mudahan lancar. Hehe. Tokohnya mungkin untuk sementara waktu cowok dulu kali, ya. Mengingat novel ke 1, 2, 4, 6, 8, 9 saya cewek semua. Hehe.

Oke, thank you Moemoe udah sempatin jawab beberapa pertanyaanku untuk di blog. Nah sebagai penutup, aku mempersilakan kamu nulis apa pun untuk pengunjung blogku. Boleh promosi, salam buat pembaca, atau apa aja, go ahead

moemoe rizal

Moemoe lagi berpose di salah satu pantai di Bangka.
cr: Moemoe Rizal

Kirim-kirim salam aja buat semua pembaca di luar sana. Terus budayakan membaca, ya. Kita nggak pernah tahu inspirasi apa yang bisa kita dapat, bahkan dari novel seburuk apa pun itu. Tetap percaya bahwa selalu ada sesuatu di balik hal sekecil apa pun.

Hmm, as I expected, tokoh Edvan di Bangkok memang sepertinya mengambil beberapa karakter penulisnya langsung, terutama narsis *dikepruk Moemoe!* hehehe. Silakan kepo-kepo lebih lanjut ke cowok ini lewat akun twitternya @moemoerizal atau mengulik blognya di moemoerizal.tumblr.com. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s