BlogCrossing: Metropop Lover by Yuliyono

Hufffttt!!

Saat Selvi (‘korban’ BlogCrossing edisi kedua, hehe) meminta saya untuk mengulas blog ini, saya sudah membayangkan diri saya akan tersesat di dalamnya. Gimana nggak, tanpa diminta pun saya sudah pernah beberapa kali mengubek-ubek blog ini meski hanya sekilas, dan isinya memang novel-novel dengan genre yang saya sangat minati. Apalagi, sang empunya blog juga bukan nama yang asing bagi para pencinta novel terutama genre roman (punya akun twitter yang followersnya ribuan, bok!). Dan bener kaann… saat mulai banyak mengulik blog ini untuk keperluan BlogCrossing, saya pun merasa tersesat, juga terjerat. Buahahaha, saya mulai lebai, but seriously! Jadi daripada berlama-lama dengan pembukaan saya yang berbelit, here we go the third BlogCrossing:

Metropop Lover [www.metropop-lover.blogspot.com]

metropoplover1

Blog ini didominasi oleh novel-novel yang menyasar kaum urban lajang sebagai tokoh utama sekaligus segmen pembacanya. Kalau mendengar kata metropop, saya pasti teringat dengan genre novel yang dikeluarkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama, yang berisi cerita tentang kaum urban ibukota. Ya, chicklit-nya Indonesia gitu. Tapi di blog ini, nggak seratus persen berisi novel metropop dari GPU, kok, banyak juga novel-novel roman dari penerbit lainnya.

Iya, dulu maunya metropop aja, ternyata ada masa-masa nggak ada metropop yang terbit, jadinya bingung nggak bisa update blog. Jadinya ditambah novel romance apa pun …

(Penjelasan dari pemilik blog melalui Whatsapp tertanggal 22 Juli 2013.🙂 )

Funny. Smart. Single. Crunchy.

Empat kata itu adalah tagline dari blog ini. Dan apa yang bisa saya bilang tentang blog ini, ya… apa yang membuat saya merasa tersesat di dalamnya?? Hm, let me tell you, blog ini sangat ramai!!😀

Tidak hanya berisi resensi buku seperti konten standar yang ada dalam blog resensi buku, tapi blog ini banyak berisi artikel-artikel lain yang bikin saya betah berlama-lama di sana. Ada rubrik tentang ‘Buku yang Ditunggu’ yang ngasi spoiler novel-novel apa yang bakal terbit dari beberapa penerbit, dan bikin pencinta novel mupeng untuk segera memilikinya ….

metropoplover2

‘Book of the Month’ yaitu buku pilihan pemilik blog dalam satu bulan itu,

metropoplover3

juga artikel tentang ‘Buku diFilmkan’ yang membawa imajinasi kita akan novel-novel yang telah kita baca naik satu level dalam wujud visual.

Dalam hal meresensi, saya pun dibuat betah dengan cara Mas Ijul (yup, nggak salah baca, pemilik blog ini cowok! *grin*) merangkai tulisan saat mengulas sebuah novel. Meski ‘hanya’ menceritakan ulang, tetapi mas Ijul tetep lho memperhatikan dengan apik diksi yang dia pakai dalam resensi. Misalnya di resensi novel Coba Tunjuk Satu Bintang ini:

metropoplover4

Saya kutip ya, beberapa kalimat apik dari Mas Ijul:

  • Benar saja, saya mendapati nuansa itu dalam CTSB ini. Indah. Lembut. Santun. Mendayu. Menghanyutkan. Seolah setiap kepingan kata ditulis dengan segenap rasa. Tumpah dari kedalaman jiwa.
  • Hal lain yang juga menggiring saya untuk bertanya adalah dengan peristiwa sedahsyat itu kok saya kurang merasa ‘perih’ sebagaimana yang dialami Marsya, ya
  • Saya pemuja cinta sejati. Saya sering dibuat heran betapa cepatnya seseorang menautkan cinta pada satu hati ke hati yang lain.

Juga ketika mulai mengutarakan pendapatnya tentang novel itu, mas Ijul juga sangat detail. Misalnya saat mengatakan kenapa dia suka banget sama satu novel, saya sampai bener-bener merasa tertarik juga dan pengin ikut membacanya! (yup, saya nggak merasa dispoileri meski ulasannya cukup detail, dan itu bagus!). contohnya di resensi ini:

metropoplover5

Saya kutip ya kalimat-kalimat Mas Ijul yang bikin saya sangat tertarik membaca novel ‘Mencari Tepi Langit’:

  • Surprise adalah kesan pertama yang menyergap perasaan saya ketika membaca novel ini.
  • Iya sih, terkadang sang pengarang serasa sedang memperbarui laman wikipedia, tapi cara bertuturnya yang nikmat dengan diksi yang bagus membuat saya tetap bersemangat membaca lembar demi lembarnya hingga akhir…
  • … akhirnya saya bertemu lagi tokoh rekaan yang saya acungi jempol nuansa kelelakiannya. Yah, ini sih subjektif aja ya. Tapi, saya memang jarang menemukan nuansa tokoh laki-laki yang laki banget dalam novel-novel yang kebanyakan saya baca.

Lalu… satu lagi. Hehe. Mas Ijul ini bisa dibilang detail dan cukup bawel saat membaca novel. Well, bawel yang positif tentunya. Syukurlah, saya yang akhir-akhir ini cukup kesal dengan habit saya saat membaca novel suka mengomentari kesalahan teknis, ternyata bertemu juga dengan teman yang sejenis dan bahkan lebih parah… *uhuk* Well, lihat saja contohnya masih di resensi ‘Mencari Tepi Langit’:

metropoplover6

Tuh, Mas Ijul sampai merincikan daftar typonya lengkap dengan halamannya! Hihihi… Tapi itu juga punya dampak positif, kok, karena sifat detailnya ini Mas Ijul juga beberapa kali dapat orderan proofreading dari salah satu penerbit besar!! *mupeng, saya mauu!!* Huahaha..

Oke, mengulas tentang satu blog pasti tak lengkap jika tanpa berbincang dengan pemiliknya. Yuk ngobrol bareng Yuliyono alias Mas Ijul!

Halo, Mas Ijul! Seneng deh kali ini aku bisa ngubek-ubek blog Metropop Lover! Hehe. Mas, mau tanya ya, blog ini isinya metropop, chicklit dan novel-novel roman yang kebanyakan tokoh sentralnya tuh cewek. Heran juga lho ternyata ada cowok yang suka banget cerita kayak gini sampai serius mengulasnya… ^.^v Sejak kapan sih Mas Ijul suka baca novel bergenre seperti itu? Dan karena judulnya Metropop Lover, masih inget nggak novel metropop pertama yang Mas Ijul baca dan kenapa suka banget sama novel itu? Tolong ceritakan, ya…🙂

Hmm…agak lupa tepatnya, mungkin sekitaran tahun 2004-an. Antara teen lit dan metropop aku baca barengan. Paling ingat, makin bersemangat baca itu setelah ada lomba penulisan teen lit sama lomba penulisan metropop. Maafkan, agak lupa tahun berapa itu, ya. Sebenarnya, aku merasa termasuk yang telat punya hobi baca. Baru benar-benar membaca buku sekitaran tahun 2002-2003 pas booming Forum Lingkar Pena. Aku membaca (hampir) semua novel atau kumpulan cerpen bernapaskan Islam waktu itu. Asma Nadia dan Afifah Afra adalah salah dua pengarang favoritku. Namun, kemudian aku bosan karena cerita stuck di urusan itu-itu saja dan mencoba mencari bahan bacaan lain. Aku juga agak lupa kapan kali pertama terbit metropop, tapi buku yang jadi pelarianku adalah metropop Cewek Matre-nya Alberthiene Endah dan Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion-nya Syahmedi Dean.

Unsur utama yang membuatku suka pada metropop adalah setting kota besarnya. Hehehe. Cemen sih alasannya, tapi sampai umur segitu aku hanya tahu tinggal di kampung. Ngebayangin Jakarta dan segala perniknya yang diceritakan di novel metropop, aku jadi bersemangat. Bahkan, dulu sempat terobsesi tinggal di Jakarta gara-gara baca metropop. Alhamdulillah, sekarang kesampaian merasai tinggal di sini (Jakarta).

Mas Ijul tuh detail banget saat merincikan tentang typo yang ada di novel. Pastinya kan tiap nemu langsung dicatat tuh, ya. Pertanyaannya, hal kayak gitu apa nggak ganggu keasyikan Mas Ijul baca novel? Di pikiranku itu jadi kayak baca buku pelajaran gitu lho, hehe.

Awalnya mungkin agak aneh, ya. Tapi aku justru terganggu kalau itu aku abaikan. Aku lupa sejak kapan aku mulai gemar menandai typo, yang pasti sejak tahu bahwa buku yang mejeng manis di toko buku dan berharga mahal itu ternyata masih punya ‘cacat’ juga. Dari situ aku mulai bertekad untuk mendata kecacatan apa pun yang kutemukan untuk bisa kucantumkan di resensi yang kubuat. Well, ada dua tujuan sih. Yang pertama, untuk sesama pembaca, ya sebagai pengingat saja kalau buku itu memiliki kelemahan dari segi cetakan, jadi nanti jangan merasa rugi jika telanjur beli. Sedangkan tujuan kedua, untuk pelaku industri perbukuan, ya untuk perbaikan mereka ke depan lah, agar lebih memperhatikan produk yang mereka pasarkan. Itu dua tujuan sepihakku sih, hehehe…

Mas Ijul juga kayaknya dekat dengan beberapa penulis nih, bahkan sampai beberapa kali ketemu dan ngobrol bareng penulis. Biasanya kalau udah ketemu sama mereka, apa aja sih yang diobrolin sama Mas Ijul? Suka dapat bocoran tentang novel berikutnya dari mereka, nggak?

Dekat gimana, Din? Biasa saja kok. Bisa jadi karena (maaf, bukan bermaksud narsis) kepopuleran blog metropop atau akun @fiksimetropop, aku akhirnya bisa akrab dengan beberapa penulis yang kebetulan genre karyanya sama dengan yang kubaca dan kuresensi. Faktor lain, aku juga sempat aktif di komunitas Goodreads Indonesia yang membawaku berkenalan dengan banyak pelaku industri perbukuan sehingga secara tak langsung itu mempermudahku untuk bersosialisasi. Padahal, jujur saja, aku bukan orang yang gampang berteman. Soal obrolan bisa apa saja sih. Kalau dalam situasi santai, aku menghindari ngobrol buku melulu, biasanya ngepoin kesehariannya juga, hehehe. Tapi, benar seperti dugaan Dinoy, kabar terbaru dari penulis selalu menjadi topik yang nggak pernah lupa ditanyain🙂

Aku suka nyimak kicauan Mas Ijul juga. Waktu itu Mas Ijul pernah ngetwit soal habit beli-beli buku tapi dibaca belakangan. Pengakuan aib nih, timbunan bukunya ada berapa hayoo?? Kenapa sih suka nggak tahan beli novel baru padahal yang ada aja belum semua terbaca? Hehe…

Boleh langsung ke pertanyaan selanjutnya, ya? Hahaha. Dunno. Aku juga nggak tahu ini mulainya bagaimana. Tapi, aku nyalahin Jakarta dan toko buku besar you-know-what yang sering bikin event obralan, jadinya suka nggak tahan buat membeli buku-buku itu. Timbunan buku? Hmm…kasih tau nggak yaaaa?🙂 Hmm, sekitaran 14 kontainer baju ukuran 70 liter saja kok. 

Terakhir nih, aku pernah tahu juga Mas Ijul pernah bilang kalau punya impian menulis dan menerbitkan novel roman. Nah kalau diberi kesempatan nih untuk serius menulis novel dan dibimbing sama satu penulis, berandai-andai gitu…. Mas Ijul pengin dibimbing sama penulis siapa, kenapa, dan akan menulis novel dengan cerita seperti apa??

Aku selalu berangan-angan bisa dimentorin mbak Alberthiene Endah, my all-time favorite author. Aku selalu kagum bagaimana beliau dengan cerdas mengemas kata, merangkainya menjadi kalimat yang indah, namun kocak sekaligus galak (disertai kritikan). Penginnya sih nulis novel romance dengan bungkus ‘cinta’ dalam takaran yang pas yang disertai pesan sosial yang dekat dengan keseharian. Pokoknya yang bikin tubuh melayang tapi kaki tetap menjejak bumi. #apadeh

Okaay.. terima kasih ya atas waktunya. Nah untuk BlogCrossing edisi keempat, tolong bantu aku dong untuk nentuin blog yang diulas. Kasi saran blog resensi buku yang menurut Mas Ijul menarik dan konsepnya beda dengan punya Mas Ijul, yaa… ^,^ Thank you!

Hmm…blognya siapa, ya? Kalau usul karena ‘amazed’ sama yang punya boleh, ya, sembari ingin mengenalnya lebih jauh. Well, seharusnya aku nggak nge-judge berdasar umur ya, tapi dari awal gabung BBI aku selalu penasaran sama dia. Bacaannya pun tipe berat buatku, hehehe. Aku usulin blog-nya Ndari (http://bookinthebonnet.blogspot.com) ya, Din.

Oiya, terima kasih sudah diberikan kesempatan untuk blog metropop diulas di rubrik BlogCrossing yaa…terima kasih juga untuk Selvi🙂 yang ngusulin.

Tentang Yuliyono

ijul dan ika natassa

Ijul with Ika Natassa, one of metropop’s authors
(cr: Yuliyono)

Aku menyukai baca di sembarang tempat. Tak melulu sepi, disertai alunan melodi pun membaca tetap dapat kunikmati. Melahap hampir semua jenis buku asal berlabel fiksi, namun jatuh cinta pada kisah romansa kaum urban. Aku menghirup buku selayaknya udara untuk paru-paruku. (@fiksimetropop)

3 thoughts on “BlogCrossing: Metropop Lover by Yuliyono

  1. Nice article Din, bikin jadi makin kenal sosok ijul si raja metropop😀 yuk, kapan nih agenda kita ngubek timbunannya ijul? hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s