Hai Okke Sepatumerah!

okkesepatumerah

Hola! Selamat memasuki bulan Agustus, teman-teman…. Ada yang udah kangen ngobrol dengan penulis? Aku mau posting artikel obrolan terbaruku nih, bareng salah satu penulis cewek yang karyanya oke punya. Menilik dari arsip di goodreads, kak Okke ‘Sepatumerah’ sudah mengeluarkan 10 karya buku yang telah diterbitkan, ada yang ditulis rame-rame juga bareng penulis seru lainnya. Nah, tiga di antaranya sudah pernah kunikmati, yaitu Indonesian idle tentang cewek yang baru saja pindah ke Jakarta tapi malah kehilangan pekerjaannya, Heart Block tentang seorang penulis yang mengalami writer’s block, juga Istoria da Paz tentang perjalanan seorang editor ke tempat nun jauh demi mendapat banyak pelajaran hidup. Mau kenal kak Okke lebih dekat?

Hai kak Okke! Terima kasih ya sudah meluangkan waktunya untuk menjawab beberapa pertanyaanku. Jadi boleh perkenalan dulu deh. Selain jadi penulis, keseharian kak Okke ngapain aja sih?

Saya mengajar di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saya ngejalanin children activities organizer buat pesta ultah anak, saya juga ngejalanin usaha handmade jewelry

Biasanya ide cerita untuk novel, kak Okke dapat dari mana aja sih? Bisa diceritakan proses brainstormingnya?

Nggak cuma buat novel aja ya, tapi buat nulis secara umum. Ide datang lewat semua hal. Dari pengalaman pribadi, cerita orang, pengamatan terhadap sekitar. Setelah itu bikin riset kecil-kecilan, entah dari internet, buku atau interview ringan beberapa orang, eh sebut aja ngobrol. Setelah itu mulai nulis. Di tengah-tengah, masih ada riset lagi. Selesai, edit dan poles.

Kalau aku baca tiga novel kak Okke (Istoria da Paz, Indonesian Idle, dan Heart Block) aku menemukan satu benang merah, yaitu tokoh utama adalah seorang perempuan yang mandiri dan berjiwa bebas. Bebas dalam arti pemikiran juga cara hidupnya. Kenapa sih Kak, kok suka menggambarkan tokoh perempuan yang seperti ini? Ada alasan tertentu?

Dari dulu kalau ditanya kenapa bikin cerita begitu? Kenapa tokohnya begini, dan pertanyaan sejenis, saya selalu gatel pengin jawab ‘karena saya suka/pengin.’

Jadi…

Karena saya suka dan pengin. :))

Kalau di novel Heart Block, ide ceritanya adalah penulis yang mengalami kebuntuan ide alias writer’s block. Kalau kak Okke sendiri seberapa sering mengalami writer’s block, dan gimana ngatasinnya?

Nggak pernah. Semoga nggak pernah. Kalau dilihat dari definisinya kan writer’s block itu nggak bisa menulis sama sekali, buntu ide. Selama ini toh saya masih nulis, di beberapa blog yang saya punya, menulis artikel/jurnal.

Cuma saya punya masalah dengan menulis novel sih, panjang soalnya, butuh kesabaran dan ketelatenan. Sementara saya agak nggak bagus urusan itu. Tengah-tengah suka ilfil. Atau bosan😀

Solusi? Belakangan saya lagi melakukan disiplin nulis sejam-dua jam sehari atau bikin target berapa halaman per hari.

Kalau kak Okke sendiri apakah pernah mengalami seperti Senja (Heart Block), yaitu diharuskan menulis dengan tema yang sudah ditentukan sebelumnya oleh pihak lain. Enjoy nggak sih Kak, menulis seperti itu? Bisa diceritakan, ya.. :)

Pernah. Tapi kita kan selalu punya pilihan, terima tawaran atau nggak, atau milih tema yang disuka. Seneng-seneng aja sih, malah kadang saya pikir bagus buat saya, karena kalau project menulis seperti itu pasti ada deadline yg harus dipenuhi, jadi ya saya bisa membereskannya.

Untuk novel Istoria da Paz sendiri, settingnya kan di Timor Timur ya. Kalau enggak salah, kak Okke kan juga pernah lama di sana untuk kegiatan sosial ya. Jadi apakah novel ini terinspirasi dari perjalanan kak Okke sendiri? Boleh diceritakan proses awalnya?

Koreksi, setting di camp pengungsi warga Timor Leste di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ditulis jauh sebelum saya tinggal di Dili, Timor Leste.

Tapi sebelum-sebelumnya saya sudah Pernah ke Timor Leste dan beberapa kali ke NTT.

Iya, terinspirasi perjalanan saya, karena di sana saya bertemu dengan banyak orang yang mengalami hal lebih berat, sementara saya sudah menganggap — misalnya : nggak dapet cuti, dan hal-hal remeh lain sebagai first world problem.

Di sana saya mengalami perjalanan batin (bukan perjalanan fisik alias berpindah ke banyak tempat seperti yang diharapkan) dan menemukan banyak alasan untuk bersyukur.

Makanya saya beri judul ‘perjalanan’. Perjalanan itu nggak harus fisik dan berpindah sesering mungkin ke banyak tempat, ya kan? Lagian ini bukan buku kisah traveling juga kan. :))

Aaakh, maaf Kak salah nyebut settingnya, ntar aku ralat juga deh, di resensinya, hehe. Nah, di Istoria da Paz, Damai diceritakan sebagai seorang editor, yang sayangnya dia sering berseberangan pemikiran dengan penulis yang sedang ditanganinya. Kalau  kak Okke sendiri pernah nggak ‘berantem’ sama editor? Hehe, ya maksudnya mungkin beda pendapat sampai alot gitu. Bisa diceritakan dong hubungan kak Okke dengan editor selama ini… ^^

Nggak pernah. Komunikasi semacam diskusi kok, saya mendengar masukan, dan mereka mendengar maunya saya. Diskusi dengan editor itu semacam pencerahan kok, juga diskusi dengan banyak orang. Soalnya ketika kita nulis, kita jadi subjektif dan terlalu larut sama tulisan kita, itu kadang-kadang bikin kita mentok, adanya orang dari luar, terutama yang baca tulisan kita, bisa memecah kementokan kita. *’halah, kementokan*. Kalau saya nggak pas dengan masukan editor, saya selalu bisa mengajukan keberatan dengan alasan yang jelas. 

Last question. Jika diberi kesempatan untuk menuliskan cerita fiksi tentang seorang idola, boleh diceritakan siapakah orangnya dan cerita seperti apa yang akan kak Okke tuliskan?

Semua yang bekerja sosial/relawan. Semua yang peduli perdamaian dunia, semua yang mengalami sulitnya, sedihnya, bahagianya di lapangan saat membantu orang. Semua yang bekerja di bidang pendidikan. Dan semua harus perempuan. Kenapa? Karena saya suka dan pengin. Hihi.

Oke, terima kasih ya kak Okke untuk kesempatannya menjawab pertanyaanku…🙂 Nah, sekarang silakan kak Okke sampaikan apa aja sebagai penutup …

Hidup itu taman bermain yang harus dieksplorasi, bermain yuk!🙂

Seru nggak, obrolanku dengan kak Okke ‘Sepatumerah’ ?? Hehe… Yak, yang mau berbincang langsung dengan kak Okke, masih nggak puas dengan tanya-jawab ini, silakan mention kak Okke di twitter di akun @sepatumerah dan buka-buka blog kak Okke di blog.sepatumerah.net ^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s