Menjagamu by Pia Devina

Menjagamu-Pia2

Judul: Menjagamu

Penulis: Pia Devina

Penerbit: Laksana (DIVA Press)

Genre: Drama, Roman, Keluarga

Terbit: Juli 2013

Tebal: 256 Halaman

Harga: Rp 38.000

Kehidupan yang sempurna… itu tidak ada. Tapi kehidupan yang ideal, bisa dibilang Aretha memilikinya. Keluarga yang utuh dan harmonis, sahabat-sahabat yang akrab dan saling menjaga, juga seorang pria yang sedang dekat dan tampak sayang padanya. Tapi, seiring bumi yang terus berotasi, begitu pun kehidupan manusia berputar. Aretha tak lagi ada di masa-masa bahagianya. Yang ada tinggallah kelam, dan sukacita yang menguap. Masih adakah bintang di langit kehidupan Aretha??

Menjagamu adalah novel debut yang ditulis oleh Pia Devina, yang sebelumnya pernah dimuat karyanya lewat dua buku kumpulan cerpen. Menjagamu menceritakan tentang kehidupan Aretha, seorang gadis yang sebelumnya berwarna ceria dengan kehadiran orang-orang di sekitarnya yang selalu membahagiakannya. Sebagai seorang gadis yang tumbuh dewasa, dikelilingi keluarga yang harmonis, sahabat yang baik, serta seorang pria yang sedang dekat padanya, tentunya adalah sebuah anugerah. Namun, ada satu periode waktu ketika hal-hal itu tak lagi menjadi faktor pencetus senyumnya.

Papa Aretha yang bijak dan penyayang tiba-tiba menjadi sosok yang menakutkan. Kai, pria yang selama ini dekat dengannya dan sering membuatnya tersenyum, juga perlahan menjauh tepat ketika ia berhadapan dengan papa Aretha. Lalu Sheila, sahabat Aretha, ternyata diketahui menjadi penyebab kenapa Kai menjauh dari Aretha. Aretha merasa dunianya tak lagi secerah siang yang diterangi mentari, namun malam kelam tak berbintang. Aretha limbung, mencoba mencari pegangan, dan saat ia merasa hampir saja menyerah, ada setitik… setitik saja cahaya yang menawarkan menjadi penerang harinya. Siapakah dia? Apakah Aretha akan sebegitu mudahnya menerima cahaya itu masuk dan menuntun langkahnya??

Saat pertama mulai membaca novel ini, saya disuguhkan dengan keadaan Aretha yang berada di suatu ruangan, beserta deskripsi hal-hal yang ada di ruangan tersebut. Lalu saat saya meneruskan membaca, saya sempat heran dengan alur yang dipilih oleh Pia. Pia memilih alur mundur secara simultan. Maksud saya, suatu waktu saya akan dibawa ke kondisi di dua bulan sebelumnya, lalu beberapa halaman kemudian mundur ke beberapa tahun sebelumnya, demikian seterusnya sampai kemudian maju lagi pelan-pelan sampai ke kondisi masa kini. Saya awalnya tidak terbiasa dengan alur seperti ini, tapi toh saya tetap meneruskan membaca karena untungnya penuturan Pia enak dicerna dan tidak bertele-tele. Penuturan yang sederhana, sangat real dengan kondisi sehari-hari, tapi menyelipkan juga beberapa kata yang berunsur puitis. Diksi yang dia pilih tidak susah tapi variasinya juga lumayan baiki.

Alur mundur-maju ini kemudian menyadarkan saya, bahwa sepertinya Pia sedang berusaha menyusun potongan-potongan kejadian yang dialami oleh Aretha, yang membentuk konflik utama novel ini. Di novel ini juga menyisipkan istilah medis yang sebenarnya cukup rumit, sebutlah skizofrenia dan kanker empedu, tapi Pia menyelipkannya dengan baik di kehidupan sehari-hari Aretha. Pia tidak membahasnya terlalu dalam, sehingga tidak membuat pembaca bingung.

Kritik saya, penulisan setting waktunya menurut saya terlalu berlebihan, di tiap adegan berbeda selalu ditulis setting waktunya padahal hanya beda 1-2 hari dari adegan sebelumnya. Menurut saya ini tidak perlu, karena Pia sudah memilih alur mundur-maju yang sebenarnya sudah membuat pembaca berpikir, jadi penulisan setting yang terlalu sering seperti itu malah membuat pembaca bingung seolah sudah lompat waktu lagi, hehe. Lalu, untuk masalah teknis, saya masih menemukan beberapa typo dan juga penulisan tidak sesuai EYD seperti kemana, lagipula, siapapun, atau disekeliling. Tapi jika hanya dibaca secara keseluruhan menurut saya novel ini masih bisa dinikmati dengan baik karena seperti yang saya utarakan di atas, Pia menuturkan cerita dengan kalimat yang enak dicerna.

Pesan moral yang saya ambil dari novel Menjagamu adalah, tetaplah berpegang teguh pada pengharapan yang sebenarnya tak pernah pergi dari hidup kita, meski kelihatannya langit kelam membayangi. Bintang dan matahari tak pernah lenyap, seringnya hanya sudut pandang kita yang terhalang oleh masalah-masalah kita.🙂

34 thoughts on “Menjagamu by Pia Devina

  1. Biarkan aku menjagamu, Pep. Kubisikkan kata-kata lemahku pada Pep, anjingku yang sudah berumur 10 tahun. Bagi seekor anjing, usia itu adalah usia senja. Usia di mana kematian sudah terasa dekat. Penyakit yang tidak bisa dihindarkan, meskipun aku selalu merawatnya dengan penuh perhatian, tetap saja muncul. Penyakit itu adalah, tua.
    Matanya sudah terkena katarak, kakinya sudah pincang satu, bulunya semakin lama semakin kusut. Aku tak kuat melihat tatapannya. Kelam. Itulah yang terlihat dari sinar matanya. Sinar mata yang tak bisa melihat.
    Beberapa kali dia aku mencoba memeluknya. Menggendongnya, memijit lehernya, seperti yang biasa kita lakukan dahulu. Namun tetap saja, dia enggan melihatku. Mungkin dia merasa sudah tak punya harapan. Mungkin dia tak ingin aku melihatnya sedih. Mungkin.
    “Pep, biarkan aku menjagamu,” pintaku. Namun dia justru semakin takut. Dia seret kakinya, dengan kekuatan penuh, dia coba berjalan menjauh dariku. Aku mencoba memeluknya, namun percuma, dia berontak sekuat tenaga. Tenaga yang kecil tentunya.
    Ah, bahkan anjing pun tahu tentang rasa cinta.
    -Tamat-

    Buat mbak Pia, selamat ya sudah terbit novel pertamanya! ^^ Semoga ini menjadi awal untuk meraih mimpi2 di depan. Semoga semakin produktif setelah ini dalam menulis, dan semoga dapat berbagi lebih banyak lagi, hehe. Selamat selamat!😀

    Nama: Muhammad Agfian
    Twitter: @AgfianMuntaha

  2. Akuarium ini sudah kumantrai jampi-jampi pelindung untuk menjagamu, meskipun itu bukan perisai baja. Aku adalah air di dalamnya, jangan terlalu risau. Aku adalah air tawar. Dan kamu yang bergerak-gerak hidup di dalam akuarium ini. Kamu hidup, aku menghidupimu.
    Masih terdengar jelas dengung ceritamu yang lalu, tentang berbagai harapan yang kau sematkan pada air-air sebelumnya. Aku tak sepenuhnya menyalahkan, namun kamu juga tak seutuhnya membenarkan. Jelilah memilih air, bedakan antara air tawar dan air garam.
    Aku tak banyak menjanjikan, setidaknya jernih ini sudah mengganti hari kelam kemarin. Jangan pernah takut lagi lukamu perih karena tersiram air garam, rasa tawarku bisa menetralkan, membersihkanmu dari luka-luka, dan mendampingimu dalam penyembuhan.
    Ini bukan perkara tepat waktu dalam menemukan, namun waktu yang tepat dalam menemukan. Seperti halnya kita yang sekarang sepaket. Sudah sudah, ceritamu yang lalu itu kita sebut saja kenangan. Tak perlu menilik ataupun menengok ke belakang. Bukankah itu seperti bayang-bayang. Bayang memang tak terkejar. Sedang kita hidup untuk masa depan.
    Lupakan sobekan luka yang mungkin pernah mengenai sirip, tubuh, kening atau bahkan luka sesungguhnya di dalam hatimu. Lupakan!
    Di sini tak ada lagi yang menggaramimu, membuat lukamu semakin mengangga. Perih. Aku penawar dari air tawar.

    “Hey, mengapa kau berhenti bergerak. Kau tak mati kan, ikan?”
    ***

    Buat Kak Pia, selamat ya novelnya sudah mendarat di toko-toko buku. Semoga terancam bestseller, semakin produktif menulis dan tulisan-tulisannya bermanfaat untuk para pembaca…

    Nama: Utami Pratiwi
    Twitter: @WeePratiwii

  3. Tidurlah yang nyenyak, anakku. Mimpi bisa membahagiakanmu dan sejenak melupakan sakit yang menerjang tubuh mungilmu. Andai bisa menawar pada Tuhan mengganti nyawamu dengan nyawa perempuan tua ini. Sakitmu juga sakitku, anakku. Melihatmu terbaring lamanya di ruang ini rasanya remuk hati ibu ini. Sampai berani menggugat Tuhan, “Mengapa Engkau tidak adil pada anakku? Di usia belia harus melawan maut yang siap mengambilnya kapan pun juga. Ganti saja dengan nyawaku, Tuhan. Aku mohon selamatkan anakku”.
    Saat malam, ibu berusaha menjagamu dari kegelisahanmu, rasa sakitmu dan putus asamu. Ibu akan selalu di sampingmu, mendo’akanmu tiada henti. Biarkan pelukan ibu sedikit menyembuhkanmu, Sayang. Tidurlah, jika itu bisa menahanmu dari rasa sakit.

    Tahukah, dalam tidur lelapmu itu ibu selalu menyanyikan lagu-lagu terindah untukmu. Diiringi dengan petikan gitar berada di sampingmu, mengalunkan nada-nada yang membuatmu tersenyum. Dalam nyanyian itu terselip harapan agar kamu sembuh dan kembali tersenyum pada dunia, wahai anakku. Dengarkanlah alunan lagu ini. Dengarlah suara petikan gitar ini. Ibu tahu dalam mata yang terpejam kamu mampu mendengar semuanya.

    Hingga saat-saat yang paling tidak ingin ibu inginkan itu tiba. Hari yang kelam telah datang. Kamu meraung kesakitan. Kamu berjuang melawan kematian. Ibu masih bernyanyi untukmu, anakku. Sabarlah, Nak. Sabarlah… Selesai ibu menyanyikan sebuah lagu dan diakhiri petikan gitar pelan-pelan terdengar nafas pelanmu, semakin pelan dan pelan. Hingga akhirnya ibu tidak mendengar detak jantukmu lagi. Malaikat mau menjemputmu. Dan nyanyian ini adalah nyanyian terakhir untukmu, mengiringi kepergianmu menuju ke keabadian.
    “Selamat jalan anakku, pergilah dalam damai. Meski luka ini menusuk jantung ibu, remuknya hati ini”.

    Selamat ya mbak Pia atas lahirnya novel ini. Semoga semakin kreatif dan produktif melahirkan karya-karya yang selanjutnya. Ditunggu karya berikutnya, semangat🙂

    Arline Safitri
    @Arlin_WS

  4. Emmeline
    Sorot ketajaman mata gadis itu memudar. Aku tak menemukan harapan di dalam mata almond itu lagi. Semuanya seakan pudar dan berhamburan entah kemana.
    Gadis cantik itu hanya diam, tak bergerak sedikit pun. Menatap kosong lurus ke depan. Ah, aku merindukan setiap gelak tawa yang selalu meluncur dari bibir mungilnya. Kini bibirnya bahkan terkatup rapat. Kakinya terpatri dengan kuat di lantai bertegel dingin itu. Manik mata berwarna hitamnya semakin legam. Kelam.
    Ya, di sana jelas tersorot sebuah luka. Luka yang seharusnya tidak ia tanggung sendirian. Luka yang seharusnya menjadi milikku. Oh Tuhan… Inikah balasanmu untuk seorang yang picik sepertiku?
    Aku semakin memperhatikan setiap lekuk di wajahnya. Bibirnya yang selalu merah kini kering. Pecah-pecah dan datar. Tidak ada lengkung pelangi di sana. Pipinya kini tak lagi chubby. Dia kurus sekali sekarang.
    “Emmeline, kau tahu? Terkadang, untuk meraih kesuksesan dalam hidup kita harus melalui hal tersulit yang tak pernah kita bayangkan. Kau yakin jika Tuhan tidak tidur, bukan?”
    Aku takkan pernah lelah untuk membujuk gadisku ini untuk bicara. Dia harus tersenyum. Seperti dulu.
    “Meskipun Tuhan menguji kita seberat apapun, Dia tetap tahu kemampuan kita, Sayang. Dia tahu jika kita mampu melewatinya. Percayalah, Dia takkan pernah terpejam. Selalu memperhatikan kita.”
    Ini semua berawal ketika dua bulan lalu. Ketika segala hal buruk datang karena rencanaku. Ketika aku menyerahkannya kepada monster terbejat. Ketika mimpinya terenggut begitu saja. Ketika semua keluarga mengusirnya dari rumah. Menendangnya dan mengatai “kotor” dengan suara menggema. Ketika… Ah, aku memang salah.
    “Sayang, aku tahu kau gadis yang kuat. Aku yakin suatu saat kau akan kembali. Aku janji akan selalu menjagamu. Sekali pun takkan ada yang percaya lagi padaku…”
    Aku pergi meninggalkannya. Melangkah gontai melewati beberapa orang berpakaian biru dengan rambut acak-acakan dan menjerit-jerit tidak keruan.
    Emmeline, maafkan Ayah…
    *********************************************************************

    Nisa’ Maulan Shofa
    @Nisa_MS_

    *turut meramaikan* :))
    Mbak, Pia, nantikan aku menyusulmuuuuu :3

  5. Aku hanyalah seorang pria biasa yang sedang jatuh cinta. Ya.. cinta, perasaan itu yang sedang kurasakan saat ini. Wanita itu, wanita yang sedang duduk di taman. Ia adalah wanita yang telah menakhlukkan hatiku. Dengan kesederhanaannya, dia bisa memikatku. Hanya dengan tersenyum,dia seakan memberiku nyawa. Hatiku yang dulu membeku, kini terasa begitu hangat ketika ia mulai hadir di hari-hariku yang semu.

    Setelah setahun memendam perasaan ini, kuputuskan untuk menyatakannya hari ini. Walaupun hanya berbekal setangkai mawar merah dan keberanian. Kulangkahkan kakiku ke arahnya, kukumpulkan semua keberanianku. Saking gugupnya, saat ini aku ingin berteriak padanya. Aku ingin berteriak bahwa aku sangat mencintainya.

    Saat kami berhadapan pun tiba. Kini ia ada tepat di depanku. Kuberanikan diri mengatakan semua kalimat yang sudah aku siapkan sebelumnya. Aku genggam kedua tangannya lalu aku menatapnya. Berusaha untuk meyakinkannya bahwa aku adalah pria yang tepat untuknya. Ekspresi wajahnya begitu terkejut dan ia tersipu malu, namun wajah cantiknya tak pudar sedikitpun dengan ekspresi wajahnya saat itu. Cukup lama ia terdiam, memikirkan jawaban yang akan ia berikan padaku. “Tolong terima aku”, batinku dalam hati.

    Sedetik kemudian dia mulai berbicara. “Maaf, aku hanya menganggapmu sebagai teman. Aku sudah memiliki pacar”, katanya. Hatiku begitu remuk saat itu juga. Sedih dan perih, itulah perasaan hatiku kini. Aku mencoba tersenyum di hadapannya, mencoba terlihat tegar. “Semoga ia menjagamu dengan baik. Maaf aku telah mencintaimu” kataku dengan nada datar lalu aku pergi meninggalkannya. Aku pergi meninggalkan harapan yang sangat kuharapkan. Aku pun kini hidup dengan kehidupan yang kelam. Seakan nyawa yang pernah ia berikan, tercabut begitu saja.

    Buat kak Pia, selamat ya novelnya uda diterbitin😀 semoga novelnya laris dan jadi best seller, amien🙂
    semangat juga buat nulis project novel lainnya, semangat semangat semangat😀

    Nama : Ni Made Ayu Cynthianingrum
    Twitter : @Cynthianingrum1

  6. Dari sudut kamar hotel terlihat mendung dan langit tak membuat tubuh lebih semangat untuk beraktivitas, hujan kecil yang sudah membasahi jalanan ibukota, kendaraan berlalulalang, para wanita sedang berjalan cepat untuk mengejar waktu. Namun, tak jauh dari tiang lampu lalulintas terlihat seorang wanita muda yang menggendong anak berumur 3 tahunan sedang kebingungan mencari tempat berteduh, tak tega rasanya ketika melihatnya. Aku merasa hidupku sangat kelam, dalam hati berkata “akankah aku nanti juga seperti dia? Wanita muda yang seharusnya masih menikmati karirnya”. Akupun berbalik badan dan menghadap cermin yang seakan menggambarkan bentuk tubuhku sebenarnya, perutku terlihat membesar dan badanku pun sudah terlihat sedikit gemuk. Pelan-pelan aku mengelus perutku, terasa bingung apakah ini keikhlasan atau nikmat yang aku rasakan saat ini, harapan yang dulu selalu tergambar jelas dalam otakku, kini hanya menjadi puing-puing yang seakan jatuh ketika aku sedang berjalan diantara gedung yang menjulang tinggi.
    Seharusnya wanita itu bisa menjaga dirinya, tidak membiarkan begitu saja sehingga penyesalan tiba dan tidak waktu bisa diulang kembali. Aku tak bisa menyalahkan siapapun, ini memang kecerobohanku dan memang akulah yang harus bertanggungjawab. Padahal sejak dini aku selalu diingatkan oleh Ibu, “ Wanita itu harus pintar menjaga kecantikannya, baik cantik dalam hatinya ataupun tubuhnya”. Namun, biarkanlah saja sekarang menjadi seperti ini, hanya kepasrahan yang sekarang ada dalam hidupku.
    “Biarkanlah aku yang menjaga kamu dan peri kecil ini untuk hidup kita, Sayang. Maafkan aku ya..” tiba-tiba saja lelaki itu berjalan kearahku dan memelukku.

    Dewi Legowaty
    twitter: @dewillwy

    • selamat ya kak, udah terbit novelnya..semoga bisa sukses dan segera menulis novel yang keren2 lagi ya..^_^
      nb: maaf ngucapinnya gak sekalian sama fiksi mininya..:)

  7. Dulu, aku yakin… tak ada hal yang akan sia-sia di hidup ini. Tapi, kini aku malu menjaga tegak konsep itu. Segalanya benar-benar terasa percuma, jika aku hanya terdiam. Menjaga perasaan untukmu, seseorang yang semula pantas kutunggu.
    Mungkin, kau tak tahu. Konsep menunggu yang berlaku dalam hidupku. Lebih dari sekedar menjagamu untuk terasa ada. Dan mungkin, karena itu pula kau bertindak sesuka hatimu. Datang dan pergi. Tanpa jeda waktu berarti. Selalu menghadirkan nuansa kelam tak berujung.
    Tidakkah kau sadar itu, Enggar?
    ‘Srooot!!’
    Aku menyedot kembali cairan kental yang hampir jatuh dari lubang hidungku. Flu memang benar-benar mengganggu. Memecah konsentrasiku. Bahkan, tak ada satu pun desain baju yang berhasil kuselesaikan saat ini.
    “Jadi, mereka harus menunggu berapa lama lagi?” tanya Summa sambil menunjuk ke arah kerumunan pengunjung di butiknya. “Kalau seperti ini kerjamu, kita bisa kehilanggan pelanggan, Moy.”
    Selama ini, Summa tak pernah mengkritik cara kerjaku. Dia selalu mengunci mulutnya rapat-rapat, setiap melihat aku terduduk bersama tumpukan kertas.
    “Moy, please… bisa tidak, kau tidak mencampur-adukkan perasaanmu itu saat ini? This time to work! Don’t think anything else, termasuk tentang Enggarmu itu.”
    “Sorry, I’m just… I don’t know, how could this happen in me? Seperti, aku membutuhkan lebih banyak waktu untuk berfikir. Dan, sendiri,” balasku lemah.
    “Hey, aku sama sekali tidak melarangmu bersedih. Atau mengembangkan… apa itu? Galau. Ya, istilah gaul anak-anak zaman sekarang. Silahkan! Jika itu memang perlu,” ucap Summa, masih dengan nada kesal yang tersisa. “Tapi, bukan berarti kita harus berhenti berharap, kan? Menjaga impian kita… to grab a real something about our future live.”
    Aku tergugu, kemudian menyahut, “Apa aku masih pantas berharap?”
    Summa mengangguk cepat. “Hanya keyakinan. Dia akan menjagamu bertahan hingga harapan itu pun terjemput sempurna.”
    Summa tersenyum dalam. Aku pun tertular, membalas senyuman itu. Just for a new day, from a new heart.

    Nurul Fitriandari
    @gilagulasenja

    • Buat kak @piadevina.. congraltz ya..!! Semoga karyanya tidak hanya cukup sampai di sini. Tidak hanya pertama ini saja, harus ada untuk yang kedua, ketiga, dan ke- selanjutnya, sampai nggak kehitung lagi, deh. Sukses selalu..!!🙂 Aamiin…
      *sorry ucapannya menyusul gini, hehe.. peace ^_^v

  8. “Ketika sebuah nyawa sudah lepas dari raga, dia akan kemana?” tanya Elisa seraya berdiri di ambang jendela. Tak dilihatnya Jay yang beraut kelam di sebelahnya. Dia terus menatap lurus, tersenyum seolah ada sosok lain di luar padahal nyatanya tak ada siapa pun di sana.
    Jay mengernyit, kesuraman tersirat. “Dear, jangan berucap yang tidak-tidak. Pasti ada harapan untukmu sembuh! Aku pasti akan menjagamu!” Suara itu terdengar sendu. Dia berusaha menampik ketakutan yang sejak tadi mengerubungi hatinya.
    “Aku tak bertanya padamu,” Elisa menyahut. Senyum itu luruh beralih tatapan tajam ke arah Jay. Selanjutnya kembali menatap ke luar jendela dimana langit masih tampak terang. “Ke tempat yang damai? Benarkah?” ucapnya senang, entah bicara dengan siapa.
    Kecemasan Jay semakin menjadi. Serta merta dia menyentak, “ELISA! CUKUP!” Jay menurunkan volume suaranya, “Sebaiknya kamu istirahat sebelum operasimu dimulai.”

    Waktu berlalu lambat. Di luar ruang operasi, beberapa orang menunggu dengan cemas. Terlebih Jay yang tadi sempat menyaksikan keanehan Elisa. Kuharap firasatku salah! Pasti yang Elisa lakukan hanya wujud kecemasannya saja, batinnya.
    Dua orang berpakaian serba putih muncul dari dalam ruang operasi. Bukan dengan membuka pintu tapi menembusnya. Sosok dengan sayap terlipat di punggungnya menggandeng tangan Elisa menuju ke lorong seperti lubang angin yang berputar-putar.
    “Sebentar. Bolehkah aku menyentuhnya untuk yang terakhir kali?” pintanya seraya menatap sang Malaikat lekat-lekat.
    Malaikat mengangguk, alhasil senyum bahagia muncul dari bibir Elisa. Dia melepas genggaman tangannya melangkah ke arah Jay. Meski tak bisa merengkuh tubuhnya namun Elisa berusaha untuk membelainya. Dia mengecup singkat pipi Jay seraya menghirup kuat-kuat wangi tubuh kekasihnya. “Selamat tinggal, Jay. Terima kasih sudah menjagaku,” bisiknya.
    Seolah memang ada ikatan batin di antara mereka, Jay menoleh, merasakan kecupan Elisa. Tanpa sadar, air mata meleleh di pipinya. Meski matanya tak mampu menatap Elisa tapi degup jantungnya tak bisa berbohong. Dia tahu. Di dalam ruangan sana, Elisa sudah tak bernyawa lagi…
    ***

    Selamat buat Pia… Novel perdananya terbit dengan sukses. Aku tunggu karya-karyamu selanjutnya… Ayo terus menulis!^o^)9

    Hana Pratiwi
    Twitter: @HanaCuncun

  9. Kusandarkan tubuhku pada tiang penyangga gubuk tua yang berhadapan langsung denganmu. Sementara kubiarkan mesin-mesin besar itu membenamkanmu dalam tanah. Aku tahu kau sedih dan kecewa karena telah kutelantarkan demi segepok uang yang mereka janjikan padaku. Maafkan aku. Aku pun tak bisa banyak berbuat. Selama ini aku telah berusaha menjagamu dari waktu ke waktu, musim ke musim. Bahkan ketika terik mentari dengan garang menyerangmu hingga kau kering dan tak berdaya, dengan sabar kuberi kau berjuta kesegaran air sungai. Ketika hujan dengan kejam melumurimu hingga basah kuyup, aku rela datang untuk melindungimu. Membuat beberapa patahan di kedua sisimu agar kau tak terbenam dalam genangan rinai hujan. Kini harus kukorbankan dirimu. Meski berat untuk merelakanmu dibenam dalam gundukan besar tanah-tanah itu. Apa lagi yang kau harapkan dariku? Tentu, aku hanya mampu pasrah. Tak ada harapan dari seorang pria tua sepertiku. Tubuh rentaku tak lagi mampu merawatmu. Seperti yang kau tahu, hari ini segera menjadi hari yang kelam bagimu, tapi tidak bagiku.

    Kutatap sebuah amplop berwarna cokelat berisi segepok uang di tangan, kemudian kembali menatapmu. Kulihat kau merengek manja padaku. Memohon agar aku melindungimu dari timbunan ribuan ton tanah yang kini memenjarakanmu. Maaf, aku tak bisa. Hal ini telah kupikirkan matang-matang. Lebih baik kau disulap menjadi bangunan megah berjuluk apartemen daripada kau terlunta tak terawat, hingga tak mampu lagi menghasilkan ribuan bulir padi. Pahamilah, ini takdirmu.

    Petak demi petak, kau hilang ditelan gundukan tanah. Kulihat dedaunanmu melambai padaku. Ah, tarian perpisahan.

    ***

    Untuk Kak Pia congratulation atas launching novelnya. Semoga Novel ‘Menjagamu’ ini menjadi awal kesuksesan kak Pia, aamiin. Keep writing! ^^

    Nama : Dheean April
    Twitter : @Dhee_Pril

  10. Ngomongin masalah cinta memang tidak akan ada habisnya. Di dunia ini banyak cinta yang tercipta. Dari mulai cinta yang tulus hingga yang palsu, dari mulai yang menggunakan hati sampai yang hanya menggunakan nafsu saja. Manusia memang diciptakan untuk saling menyanyangi satu sama lain tanpa memandang status sosial. Awalnya aku berfikir cinta inilah yang terjadi kepadaku dan Ron pacarku, dia sangat baik dan perhatian. Dia selalu ada disaat aku membutuhkan nya. Sudah 2 tahun aku menjalani hubungan ini dengan nya. Dan dia selalu berkata “Aku akan selalu menjagamu apapun yang terjadi.” Aku sangat senang mendengarnya. “Terima kasih telah mau menjagaku, semoga kau bisa menepati ucapan mu itu.” bisikku. Tapi nyata nya?? Dia bohong padaku, dia tidak bisa menepati ucapan nya. Dia berkhianat!! Dia pergi meninggalkan ku demi gadis di masa lalunya, gadis yang sejak masa SMA di sayangi nya. Gadis yang bahkan baru mau menerimanya setelah 10 tahun berlalu. Sungguh aku tidak menyangka dia tega melakukan itu padaku. Aku sudah memberikan seluruh perasaan sayangku padanya, tapi ternyata dia lebih memilih gadis di masa lalunya itu dibandingkan aku yang sudah 2 tahun bersamanya. Hatiku sangat sakit, dan aku menyesal telah mengenal dia. Aku menyesal telah memberikan perasaan sayangku ini pada pria yang plinplan seperti dia!! Dan setelah semua yang kualami ini, aku hanya mempunyai satu harapan, harapan agar aku bisa bahagia. Bahagia karna dikelilingi oleh orang-orang yang kusayangi dan orang-orang yang menyanyagiku juga. Aku tak mau terjebak kembali kedalam masa masa yang kelam karna cinta. Cukup kali ini saja aku merasakannya. Ya, cukup kali ini saja.

    Dan buat mba Pia, selamat atas novel mba yang sudah terbit ini. Semoga setelah ini makin banyak lagi karya yang bisa mba ciptakan😉

    Nama : Linda Novianty
    Twitter : @NoviantyLinda

  11. Ketika titik hujan menyentuh tanah, ada aroma yang kuhafal. Membawaku menyelami kenangan. Teringat satu nama yang sering kurapal dalam setiap doa yang kupanjatkan. Satu nama yang memberi kisah sederhana. Nama yang menjadi warna pada garis kehidupanku. Kev.

    Kutatap arlojiku yang kuyup oleh hujan. Sudah pukul empat. Jika pulang terlambat aku akan dimarahi Dani karena tidak memasak nasi tepat waktu, dia akan mengomel sampai waktu tidur tiba. Terpaksa aku harus menerobos hujan sekali lagi.

    “Maaf, Ren ya?” suara berat laki-laki menahan langkahku.

    Aku kebingungan mencari suaraku. Tiba-tiba hilang terbawa hujan, entah ke mana. Dunia yang sedang hujan itu sekarang pindah ke dadaku. Syaraf-syarafku seakan rontok, dan enggan tersusun kembali. Kupandangi laki-laki di hadapanku ini dengan perasaan getir. Tidakkah Tuhan terlalu baik mempertemukanku kembali dengan seseorang yang ingin aku lupakan selama tiga tahun terakhir ini.

    “Kev?”

    Sekali lagi aku mencari-cari suaraku dan mengumpulkan keberanian untuk berbasa-basi dengannya lalu pergi.

    “Apa kabar?” tanyaku setelah menyeimbangkan tubuhku yang hampir tumbang.

    “Baik, kamu sendiri gimana. Kok agak kurusan sih?” katanya antusias dengan keadaanku. Dia tidak tahu aku mau ambruk setelah mendengar suaranya.

    “Kev?” aku memberanikan diri menginterupsinya dan akan mengatakan yang sejujurnya. Aku tak mau berpura-pura bahwa aku baik-baik saja. Aku yang tidak terluka jika harus bertemu lagi dengannya.

    “Kamu ke mana aja?” bibirku gemetar dan air mataku hampir tumpah.

    Tidak ada jawaban dari seberang.

    Tidak tahu, aku hanya ingin pergi sebentar lalu pulang ke rumahku. Kamu.

    “Jauh di relung hati ini. Aku seneng banget bisa ketemu sama kamu. Tapi keadaannya beda sama yang dulu.” Kataku lirih.

    Dahulu atau sekarang kenyataannya aku masih mencintaimu.

    “Aku udah nikah, Kev.” Seketika aku terguncang, pun kulihat ia juga merasakannya. Dia menangis.

    Setelah ini mungkin aku akan kesulitan menjalani hidup yang kadung kelam lebam karenanya. Harapanku dia mau mengerti dengan semua kenyataan.

    Aku akan menjagamu lewat doaku, Kev.

    Kak yang bener koment yang ini yah😀
    Oh ya selamat ya untuk Kak Pia, novelnya sudah terbit. Semoga aku cepat menyusul hehe. Entak kapan. Mungkin cuma mimpi😀

    Regards
    Julia Primadani

    @Juliaaprima

  12. “Aku tidak tahu kalau kau merokok.”

    Aku tertarik pada sebuah pemantik, dan satu pak bungkus rokok yang kau keluarkan dari saku celanamu malam itu saat kita bertengger di balkon seperti biasa.

    “Oh, ini,” jarimu menarik sebatang, lalu mengapitnya di bibir. Sebelum menjawab pertanyaanku, kau lebih dulu menyulut ujung lintingan tembakau tersebut, menghembuskan asapnya ke arah lain—jauh dariku. “Sudah lama kok, sejak kuliah mungkin. Keberatan?”

    Aku menggeleng pelan. “Walau itu bisa membuatku mati sesak, aku tidak keberatan.”

    “Kalau kau keberatan aku bisa berhenti, kok…” dan aku seperti tahu bahwa kau pasti akan mengucapkan itu. Jadi kulangkahkan kaki masuk ke dalam, mengambil sebuah asbak dari bawah meja berkaki pendek, dan kembali untukmu. Saat kusodorkan asbak tersebut, justru kau bingung.

    “Aku tidak keberatan dengan perokok,” ungkapku. “Belakangan setelah ibu meninggal, ayahku kembali dengan benda itu,” lalu ujung jariku menunjuk pada batang rokok yang terapit di jarimu. “Awalnya memang sesak, sampai sekarang juga aku tidak terbiasa dengan bau rokok. Asapnya menggangguku, tapi aku tidak keberatan.”

    Putih asapnya yang muncul dari ujung batang tersebut lalu bergerak pelan, ke atas, pada langit malam yang gelap. Walau tak suka baunya, aku suka bagaimana warna putih itu terus bergerak seakan menghapus kelam. Di pusat kota yang terlalu ramai seperti ini, bahkan langit tetap gelap, dan cahaya pijar lampu tak akan pernah bisa menghapus kelamnya.

    “Kalau kau bilang begitu, aku jadi tidak bisa berhenti,” lalu ucapmu dengan nada kecewa.

    “Aku kan tidak menyuruhmu berhenti.”

    Hela napasmu terdengar berat. “Padahal aku ingin berhenti.”

    “Buat apa?”

    “Menjagamu.”

    Aku ingin tertawa saat itu. “Kau mau aku berharap kalau kau berhenti?”

    “Aku hanya berharap bisa melakukan yang lebih baik.”

    “Dari merokok?”

    “Ya, dari merokok.”

    “Kalau begitu…” kukeluarkan sesuatu dari saku jaketku, “makan ini.” Sebungkus permen licorice. Pahit dan pedas. “Aku juga ingin menjagamu, tapi tak mau menuntut.”

    “Ini perintah?”

    “Bukan, ini harapan.”

    ***

    Selamat ya Mbak Pia Devina buat novel barunya, saya penasaran banget nih sama novel ini xD ditunggu juga karya-karya selanjutnya! Sukses selalu~

    Amanda Ghyna
    @amndbrnz

  13. Doa Untukmu
    Di keheningan malam yang penuh bintang dan ditemani angin yang berhembus malu-malu, kulantunkan doa untukmu. Ya, kamu yang selalu hadir di mimpiku. Kamu yang terukir indah di jiwaku. Kamu yang entah bagaimana, mencuri hatiku. Kamu yang terindah. Kamu, dan selalu kamu. Tak terbayangkan dunia tanpamu. Kenyataannya, kamu menghilang. Pergi jauh ke dunia yang tak tersentuh bagiku. Dunia fana. Hanya doaku ini yang dapat meraihmu. HARAPANku satu, kau mendengarnya.
    “Tuhan, hari ini adalah tepat satu tahun Kau memanggilnya. Walau aku sudah ikhlas tapi rindu ini terus mencengkeramku, menggerogoti hati dan menyayat pilu. Membuatku takut. Takut jika semakin lama rasa ini membuatku marah padaMu. Maka, kuatkanlah aku! Jagalah dia untukku. Tempatkanlah dia di dalam taman firdausMu. Hingga tiba saatku dapat bersamanya kembali. Saatku menggapai apa yang pernah menjadi milikku.
    Aku berjanji, akan mendekap rasa cinta ini selamanya. Membelenggu raut wajah itu di ingatanku. Akan terus MENJAGAMU dalam laraku. Dan menepis segala amarah yang semakin menggebu. Takkan kubiarkan benih-benih keKELAMan menghancurkanku, kesepian menjegalku hingga jatuh dan kemuraman menyelimutiku.
    Jadi Sayang, tunggulah aku. Temani aku bersama bayanganku. Genggam erat jemariku. Hiasilah hariku dengan senyummu di anganku. Pandanglah aku dari langit ketujuh. Kirimkan kecupmu di keningku. Tautkanlah cintamu selalu. Agar takkan pernah lepas oleh waktu”.

    Buat Pia Devina, congratz for your first novel! Semoga novel ini bisa menyemarakan dunia perbukuan Indonesia. Teruslah berkarya \\(^o^)//…..

    MiuMiu
    @MiuAlgorythmz

  14. SUNFLOWER

    Manakala matahari tertegun.
    Menyapa kami dengan ribuan sinarnya.
    Melihat setangkai bunga berdiri di kehijauan. Bisikkan itu mulai terngiang kembali di telingaku. “Maaf aku hanya bisa memberi itu. Habisnya aku nggak tau apa yang kamu pengin saat ini. Kamu sih nggak pernah bilang,” kata seorang pria dengan polosnya. Aku sampai menahan tawa mendengarnya.
    Sinar yang menyapa kini mulai meredup. Sudah berapa lama aku disini? Memandangi bunga itu. Bahkan aku tak sadar jika sang rembulan hampir menyembul menyapaku.
    Tolong jangan dulu, bunga itu masih perlu cahayamu, batinku sambil menengadah menatap warna gelap yang sudah menyelimuti. Bunga itu masih berdiri. Meski sesekali hempasan angin menderanya. Akupun segera masuk ke dalam.
    Ku curi pandangan keluar jendela. Masih ada. Rasa lega menyelimutiku. Namun, tetap saja, dalam hati meracau. “Aku akan tetap bersamamu.”
    Aku menutup jendela. “Selamat malam bungaku.”
    Benar-benar meninggalkannya berdiri sendiri disana. Ribuan angin malam yang berdesir kencang sudah menemaninya.
    *
    *
    *
    Akhirnya penjaga malam telah pergi.
    Senangnya, karena sinar itu kembali menyapakudan dirinya. Dan seperti biasa, setiap pagi aku menyiraminya sambil mengiringinya dengan harapan yang termuat di pelupuk hati.
    “Teruslah bersamaku sampai seterusnya.”
    “Tetaplah menjadi bunga yang menjadi sinarnya.”
    “Aku tak ingin kejadian itu terulang lagi. Aku tak ingin kehilangan lagi. Cukup aku kehilangannya. Aku tidak tahu apalagi yang harus aku perbuat, jika pemberinya hilang juga.”
    *
    *
    *
    AH TIDAK! Apa ini yang disebut badai? Ribuan angin menyerbu, seakan sedang berebut tempat. Menyapu bersih apa saja yang dihadapannya. Namun, kerena ulahnya itu, rumaku bisa diporak-porakndakan olehnya.
    “Bunga!” pekikku.
    Aku ingin keluar tapi— ada baiknya aku mengintip lewat jendela.
    “Astaga!” pekikku lagi. “Bungaku dimana?”
    Tak peduli badai atau apapun lagi namanya. Aku berlarian menuju tempat kehidupan bunga itu. Tidak ada! Tuhan mengambilnya lagi. kebahagianku terasa sirna sudah. Kau sudah mengambilnya? Sekarang kau ambil juga yang ia berikan padaku?

    Berharap badai datang membenamkanku.

    *Kak Pia!!!! Selamat yaa atas perjuangan kaka menulis novel ini, akhirnya sekarang novel ini sudah lahir…hehehe
    semoga para pembaca sangat menyukai novelnya, semoga bisa mejeng di rak best seller, semoga semua orang yang udah baca ga akan pernah nyesel. Terus berkarya! Keep writing!!!😀😀 *

    From: Nurdiani Soffa >> @SoffaKim9

  15. Hi kak Pia!😀
    Congratulation for your fist novel,
    Hope it’s not be last, write everything you can say to world, like you say to yourself, like diaries, hope the success follow you wherever you walk😀 congrratz!!

    Hari itu pertama kali kita bertemu, lewat potret lensaku aku mengabadikan gambarmu. Kamera adalah duniaku, karena aku mengabadikan moment-moment indah yang terlihat mata lewat lensanya. Tapi, semenjak kamu datang Re, kameraku selalu memilihmu menjadi fokus utama keindahan. Tentu, dengan cara yang kamu tau maupun tidak tahu. Kamera dengan baik menjaga rahasia hatiku.

    Aku pikir kamu juga menyukaiku, tapi aku terlalu ragu untuk mengatakannya padamu. Bahwa aku mencintaimu, aku takut harapan akan kita bisa bersama malah pupus dan berubah hilang. Jadi, disinilah aku. Menjagamu sebagai kenangan yang tersimpan dalam gambar-gambar.

    Kamu masih ingat tentang memberiku bibit mawar putih saat ada tugas biologi? Hari ini aku memberimu satu pohon bunga mawar putih, memberikan kembali apa yang telah kamu berikan. Mengembalikan. Menyatakan perasaan, itulah tujuan yg sebenarnya. Tapi entah kenapa aku mengatakan kalau bunga mawar itu hanyalah titipan dari temanku saja.

    Aku menyesal. Duniaku berubah kelam, ketika aku tahu temanku benar-benar menyukaimu re. Kenapa harus dia yang berada disampingmu? Kenapa harus dia yang menggendongmu ketika kamu sakit? Atau menggenggam tanganmu erat? “Aku ingin kamu menjadi pacarku,” bisakah kamu mendengar kata hatiku? Aku juga ingin menjagamu seperti dia menjagamu.. Tapi semuanya sudah terlambat kan?

    tapi lalu kamu datang menyatakan perasaan, tepat seminggu setelah aku baru saja jadian dengan yang lain.

    Nama: Sekar Ayu Kartika Sari
    Twitter: @Sekarayuree😀

  16. Aku masih tidak percaya akan sikapnya. Entah bagaimana bisa dia menyukai sahabatku sendiri. Awalnya, saat sahabatku memberitahuku, aku tidak percaya. Tapi ternyata itu benar. Meskipun pada awalnya dia menyangkal tidak menyukai sahabatku. Jika sahabatku tidak memberitahu, mungkin selamanya aku takkan pernah tahu. Aku pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya. Kepercayaanku sudah hilang. Dia sudah membohongiku terlalu jauh.

    ***

    Aku tercengang mendengarnya. Haruskah semua ini berakhir hanya karena perjodohan? Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak mau. Tapi percuma saja, penolakanku takkan mengubah keputusan orang tuanya. Meskipun aku laki-laki, bukan berarti aku tidak boleh galau, kan? Aku menyayanginya. Wajar jika aku galau kehilangannya. Apalagi, penyebab berakhirnya hubungan kami adalah karena sebuah perjodohan. Akhirnya aku pun memutuskan untuk pergi.

    ***

    Rindu, sedih, kesepian, sakit hati, semua perasaan itu masih bersarang di hatiku sampai akhirnya aku menemukanmu dari sebuah chatting. Seiring berjalannya waktu, aku mulai tertarik dengan chatting-chatting kita. Dan chatting itu pun berakhir pada pertemuan. Denganmu, aku bisa tertawa lepas tanpa beban. Denganmu, aku merasa nyaman. Meskipun awalnya aku takut kembali terluka. Tapi setelah pertemuan itu, rasanya aku menemukan harapan baru.

    ***

    Setelah terjebak dalam masa lalu yang kelam, akhirnya aku menemukanmu. Kamu seakan memberiku harapan baru. Perkenalan kita terasa sederhana. Tapi dari kesederhanaan itu akhirnya aku memilikimu. Awalnya aku takut untuk mengutarakannya padamu. Tapi tidak ada alasan untuk mundur. Jika aku tidak mencoba, aku takkan pernah tahu perasaanmu. Ternyata kamu pun punya rasa yang sama dan akhirnya menerimaku.
    Aku tahu masa lalumu berakhir menyedihkan. Kamu pun tahu masa laluku berakhir tragis. Kita sama-sama tahu bahwa masa lalu kita cukup kelam untuk diingat. Tapi, terima kasih akhirnya kamu memberiku kesempatan untuk menjagamu. Aku akan membuatmu bahagia semampuku. Setidaknya, aku takkan membuatmu menangis karenaku.

    Congrats ya Mbak Pia atas novel pertamanya! Sukses terus buat novel-novel selanjutnya.. Jangan lupa share ilmu2nya juga biar aku bisa belajar dari Mbak ya😉

    Dwi Sartikasari
    @dwi_sartikasari

  17. Sore itu mentari telah kembali ke peraduannya. Mengguratkan warna jingga yang menentramkan hati. Sepertinya hatiku telah nyaman menikmati panorama alam yang disuguhkan Tuhan. Semua ini membuat semangatku berkobar lagi. Semangat meneruskan perjalan hidup dan melangkah lebih jauh lagi. Mengayuh perahu menuju dermaga. Karena aku lelah terus mengarungi samudra. Bertemu ombak, bertemu badai, bertemu gelombang besar. Aku hanya tak ingin karam di tengah lautan.
    Rasanya tak sabar menunggu hari esok untuk bertemu lagi denganmu, Rif. Setelah empat tahun ini kita tak pernah bertegur sapa dan bersua. Hanya lewat doa aku menjagamu. Menyelipkan namamu agar Tuhan selalu menjagamu di seberang sana. Menjaga hatimu dan hatiku agar tetap teguh bersatu membentuk replika dunia yang indah.
    Kau tau Rif, aku selalu berharap kita bersatu lagi. Membentuk senyawa yang tak akan terpisah meskipun hujan menggerus kita. Aku berharap kita bersama lagi. Aku masih ingat ketika perpisahan itu menghempaskanku. Hari dimana engkau mengecup keningku sebelum akhirnya kau terbang menembus awan. Mengejar cita- citamu di negeri orang.

    “Semua yang aku cari, ini semua untuk dirimu. Semua yang aku impikan, ini mimpiku kepadamu. Ini untuk masa depan kita. Karena bersamamu, membuat aku bertahan.”

    Lalu, kau menghilang. Kau tak pernah ada kabar. Aku tak sanggup terus berpura- pura mengetahui keadaanmu. Karena sebenarnya aku tak tau apa- apa. Bagaimana mungkin kau bisa bertahan dengan masa kelam ini?

    Kak Pia, selamat ya, sukses terus dalam menulis. Ditunggu karya- karya yang “cetar” lagi. Semoga karya- karya kakak menginspirasi para pembaca.

    Retno Wahyuningsih
    @rereoree

  18. SENJAKU

    Kau ibarat senja di batasan langit yang mengguratkan keindahan. wujudmu sederhana, namun memberi warna. Memperhatikanmu membuatku selalu ingin memuji kebesaran Tuhan. Sepasang bola mata yang kelopaknya akan membentuk bulan sabit dengan sendirinya saat sedang tertawa riang, wajah yang memerah dengan mata yang berkaca-kaca saat sedang tergelak. Sepasang lesung pipit yang saat kau menyunggingkan seulas senyum, akan tertarik ke dalam bagai pusaran air yang siap menarik semua elemen yang ada di sekitarnya. Tak terkecuali aku.

    Namun manakala hati tenang saat memandang, kau meradang. Entah sudah berapa mentari yang terbit dan tenggelam. Entah sudah berapa kali aku dibuat terisak setiap melihat dirimu. Kecelakaan kala itu, benar-benar mengguncangku. Kini
    senjaku terbaring lemah tanpa daya.
    “Aku akan menjagamu, Raka. Cepatlah sadarkan diri…” ucapku sambil terisak. Dokter mengatakan bahwa kecelakaan itu sangat parah. Sangat kecil kemungkinanmu untuk sembuh. Tak apa, Raka. Aku tetap menggantung harapan setinggi mungkin untukmu. Memanjatkan doa agar kau diberikan waktu lebih untuk bersamaku.

    Detik demi detik berganti, namun kau belum juga sadarkan diri. Tanpamu, hari-hariku sekelam perasaanku. Kau sahabat terbaikku. Apa jadinya aku tanpa dirimu, Raka?

    Akhirnya hari itu tiba. Hari dimana dirimu tak kuat lagi menahan. Kini aku menyaksikannya. Menyaksikan pergerakan punggungmu yang kian menjauh, sehingga yang nampak hanyalah kabut tebal berbayang di kegelapan malam. Senjaku hilang ditelan temaram.
    (fin)

    Sebelumnya selamat ya, Kak Pia, atas terbitnya novel pertama kakak. Saya pernah baca entah di mana, bahwa cara untuk menjadi penulis hebat adalah dengan mulai menulis. Jika gagal, tetaplah menulis. Jika berhasil, tetaplah menulis. Jika bosan pun, tetaplah menulis. Karena semua karya akan selalu menjadi inspirasi bagi siapa saja yang menikmatinya. Contohnya karya Kak Pia ini. Sekali lagi, Selamat! :))

    Nama: Vanny Ayustia
    Username Twitter: @vanyayst

  19. Berkali-kali lelaki berkemeja biru laut itu melirik penunjuk waktu yang ada di tangannya. Kali ini, ia tak boleh terlambat. Disingkirkannya semua kertas laporan yang ada di hadapnya. Harusnya ia lembur. Namun khusus hari ini, tepat setahun yang lalu ketika Fina, sang istri tertidur di kursi makan dengan berbagai makanan yang telah dingin karena menunggunya. Dan ia, tak mau lagi kembali menggoreskan kekecewaan pada belahan hatinya tersebut.

    Dio bukanlah lelaki yang romantis. Menganggap kencan berdua adalah hal yang konyol dan tak pernah sekali pun ia mengucapkan kata cinta untuk Fina yang telah menemaninya hampir 10 tahun. Namun lagi-lagi, khusus hari ini ia bertekad akan menjelma menjadi lelaki yang teromantis di dunia. Berbekal sebuket anggrek biru -bunga favorit Fina- dan sepotong rainbow cake, ia ingin menghabiskan waktu berdua saja bersama Fina. Ya, hanya berdua.

    “Happy anniversary, sayang,” ucap Dio penuh haru. Matanya mengembun menatap pohon-pohon besar yang mengelilingi tempat kencan mereka berdua saat ini.

    Dio melayangkan senyumnya. “Kau pasti tak menyangka aku akan datang dengan kejutan ini, kan? Lelaki yang dulu sering kau protes karena sama sekali tak romantis. Lelaki yang dulu selalu sibuk dengan pekerjaannya.” Dio menghentikan ucapannya sejenak dan beralih pada awan jingga yang bergelayut di atasnya.

    “Aku janji akan berubah, sayang. Maka dari itu, masih adakah HARAPAN untukku kembali bersamamu?” tanya Dio. Namun, Fina bergeming. Tak memberi jawaban atas permintaannya. Lama.

    Dio nampak putus asa. Lelaki itu kemudian bersiap untuk meninggalkan Fina sendiri. “Inikah caramu menghukumku? Membiarkan hatiku KELAM dengan kebisuanmu? Baiklah, bila kau tak lagi mengijinkanku kembali bersamamu, namun setidaknya kumohon agar aku bisa tetap MENJAGAMU di sini,” Dio menunjuk letak jantungnya berdegup.

    Sebelum benar-benar pergi, Dio mengecup nisan Fina. “Aku mencintaimu. Selalu,” ujarnya sambil berlalu dan membiarkan sebuket anggrek biru dan rainbow cake itu tetap utuh di samping pembaringan terakhir sang istri.

    ***
    Hai kak Pia,
    Selamat ya atas debut novelnya. Moga makin sukses dan melahirkan banyak novel lainnya.. yeaay..!!
    Doakan aku bisa bikin novel juga ya, hihi..

    Arif Rizaldy >> @hajimemimi

  20. Beruang yang hidup di kutub saja busa tahan dengan cuacanya yang dingin. Unt pun sanggup berjalan di gersangnya gurun pasir.

    Gadis berambut panjang yang sedang berdiri di depan pintu kelas mau bertahan lama dari yang ku kira. Sudah tigapuluh menit dia berdiri tegak tanpa penopang apapun. Wajahnya yang kelam tertutup rambutnya yang menjuntai ke depan. Kepalanya selalu menunduk seakan takut tersentuh cahaya raja siang.

    Diantara murid yang lain, dia terlihat kontras. Semuanya sibuk bermain dengan teman-teman segeng. Pergi ke kantin. Bercengkrama di halaman. Sementara Gadis itu seakan sedang menyelami ubin di teras kelas dan semut bak ikan yang berenang diatasnya.

    Lonceng berbunyi, gadis itu menengadahkan kepalanya. Rambutnya yang sejak tadi menutupi wajahnya, kini tersibak ke belakang. Ada seuntai harapan yang ku dengar dari bunyi bel masuk. Aku bisa melihat wajahnya yang polos.

    Menyadari suara bel itu, gadis itu bergerak, berbalik ke arah pintu. Belum sempat melangkahkan kaki ke pintu, murid lain berbondong-bondong masuk lebih dulu, menyeret gadis itu hingga tertinggal di belakang. Tubuhnya yang ringkih, sempat goyah terkena dorongan anarkis murid-murid yang tidak sabar ingin masuk kelas duluan.

    Andai saja aku bisa masuk ke kelas yang sama denganmu. Aku ingin bisa menjagamu, menemanimu bermain di kala jam istirahat, mengajakmu belajar bersama.

    Tapi, apalah aku ini… Aku hanya bisa melihatmu tanpa bisa menghampiri. Aku hanya mampu memahami bahwa kau sehebat dan setegar beruang yang tinggal dalam kutub. Hidup seperti itu adalah hidup yang sesuai. Seperti aku yang selama ini berdiri tidak jauh darimu, karena tempatku memang disini. Dalam sebuah tenpat yang terbatas, tanah yang lembab, dan sinar matahari yang terik. Aku hanya daun bahagia yang hidup dalam pot.
    **

    Halo kak Pia. Selamat ya atas debut novelnya😀 yaayy!!
    semoga karyanya banyak digemari dan menjadi best seller. Untuk karirnya semoga sukses dan nama kak Pia sebagai penulis dikenal banyak orang.
    Terus buat novel yang produktif yang mampu menginspirasi semua orang dengan novel kakak😀
    Sekali lagi selamat, selamat ^^

    Nama: Irnalasari
    Twitter: @irnari

  21. Di hari ulang tahunnya yang ke 11, Betsy ingin mengucap harapan dihadapan kue dan lilin ulang tahunnya sembari menutup mata pada jam 11.11 siang teng. Tidak kurang, tidak lebih. Maka ia sudah menyiapkan segala sesuatunya agar keinginannya itu dapat terlaksana tepat waktu.
    Alarm telepon genggamnya berbunyi nyaring menandakan waktu yang telah ditunggu Betsy dan keluarganya tiba. Gadis kecil yang sudah sedari tadi duduk di kursi mungil miliknya segera saja menyunggingkan senyuman lebar lalu menundukkan kepalanya dan membuat permohonan,
    “Tuhan, aku sudah bosan dengan para bodyguard-ku yang menyebalkan itu. Aku ingin mendapat penjaga baru yang mengerti diriku seutuhnya, siapapun itu. Amin”
    Setelahnya Betsy langsung meniup lilin dan bertepuk tangan diikuti sorak sorai penghuni rumahnya yang ramai.
    Saat tengah hari alias jam 12 siang ketika Betsy sibuk menerima berbagai ucapan selamat ulang tahun juga kado-kado yang diberikan untuknya dari tamu undangan tiba-tiba Betsy tercenung di tempatnya. Pikirannya entah mengapa kali ini tidak dipenuhi keramaian suasana rumahnya, namun hanya terfokus pada titik terkelam dari dalam dirinya, yang bahkan berbisik,
    “Hai, Betsy. Kau butuh bodyguard baru? Nah, perkenalkan aku Bethany. Kau boleh memanggilku Beth. Aku akan menjagamu semampu kau menjaga diri sendiri.”
    Betsy sesaat kehilangan akal, ada apa dengan dirinya? Ia benar-benar dilanda kebingungan hingga hanya dapat berucap, “Apa?” dalam hatinya.
    Bethany menjawab, “Uh, maksudku, aku adalah sisi lain dirimu. Sisi lain yang akan menjadi penjagamu disaat kau sendiri tak mampu. Aku juga dirimu, namun dengan kepribadian berbeda. Aku terbentuk dari sudut terkelam pikiranmu yaitu ketakutan.”

    Eh, panjang gak sih? Smoga masih termasuk fiksimini hehe Congrats for you gurl, Pia Devina, you rock! Cie nelurin anak pertama, moga nambah yaa, eh klo bisa jangan KB lhoo xD

    @meliarawr

  22. Cuaca sore hari ini tampaknya memang sedang tak ingin bersahabat denganku, itu terbukti dengan derasnya guyuran hujan yang turun melalui genteng rumahku. Dengan pandangan menerawang, kusesap lagi green tea yang masih hangat dihadapanku ini. Secara perlahan, aku mencoba memejamkan kedua mataku, seraya menghirup aroma khas dari green tea ini. Aromanya begitu pas, hingga mampu menenangkan kembali fikiranku.

    Dalam pejaman mataku, aku mengingat kembali kebersamaan kita dulu, kekompakan yang selalu ada ditengah canda tawa kita. Saat-saat kita masih mengenakan seragam putih abu-abu, adalah saat yang begitu berharga bagiku. Dulu, kelakuan kita masih sama seperti murid SD, terutama menyontek. Namun, ada kalanya jati diri kita yang sesungguhnya muncul, yaitu disaat kita bersikap dewasa, saling berbagi dan mengatasi masalah dengan hati yang hangat.
    Hah..sungguh sebuah kenangan yang begitu indah. Kenangan itu tak akan pernah kelam dan akan terbingkai rapi dalam memori ingatanku. Disini, dihatiku, aku selalu mengingat pesan yang pernah kalian sampaikan untukku.
    “Walaupun kita udah pisah, bukan berarti kita gak bisa bersama-sama lagi. Kita semua akan tetap menjadi sahabat. Kami semua akan selalu menjagamu, ingat itu.”
    Kata-kata itu kembali menyadarkanku. Aku membuka kembali pejaman mataku ini. Sebuah senyuman muncul disudut bibirku, melihat torehan pelangi yang muncul begitu indah.
    Harapanku hanya ada satu, yang selalu kusampaikan bersama dengan iringan do’a.
    “Semoga kelak, kita semua akan bertemu kembali, tentunya disaat buah kesuksesan itu telah berhasil kita raih…semoga.” Ucapku lirih.
    -Tamat-

    Terima kasih telah memberikan ‘ruang’ untukku berkarya. Kayaknya aku orang yang terakhir ikutan komen disini, deh hehehe:D.
    Oh, ya buat kak Pia, selamat ya atas novel karya kakak ini. Semoga selalu sukses kedepannya, menjadi penulis yang akan selalu menulis, dan tak akan pernah bosan untuk menulis:). Jangan pernah menyerah kak Pia untuk terus berkarya. Ini adalah awal yang sangat bagus untuk kakak. Sekali lagi, selamat:)
    terima kasih juga untuk kak Dini, sukses terus:D
    from Rulia, @Lia_nded19

  23. Terima kasiih buat semua yang udah berkarya lewa fiksi mini untuk Giveaway novel Menjagamu ini…Kuis aku tutup, tunggu tanggal 05 Agustus 2013 ya untuk pengumuman 2 pemenangnya, akan dipilih sendiri oleh Pia Devina, sang Penulis, untuk dapat novelnya yang bertandatangan. Good luck! ^^.

  24. Pingback: (Un)Broken Wings by Pia Devina | Dinoy's Books Review

  25. Pingback: Mengulang Kenangan di Cologne [Love Lock by Pia Devina] | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s