Bangkok by Moemoe Rizal

Bangkok

Judul: Bangkok

Penulis: Moemoe Rizal

Penerbit: Gagas Media

Genre: Drama, Travel Fiction, Roman, Keluarga

Terbit: 2013

Tebal: 436 Halaman

Harga: Rp 57.000

Sebuah warisan bagi orang yang ditinggalkan, selayaknya menjadi suatu amanat yang tidak boleh disia-siakan. Tapi, Edvan tidak antusias ketika menerima warisan dari Ibu yang telah sepuluh tahun tidak ditemuinya, dan tahu-tahu menyisakan kabar duka melalui sebuah nisan. Terlebih, warisan yang diberikan oleh Artika, nama ibu Edvan, bukanlah benda atau harta yang berharga, melainkan sebuah pencarian yang akan memakan waktu, tenaga, dan uang yang tak sedikit. Lalu, kenapa akhirnya Edvan tetap melakukan amanat dari ibunya??

Saya membaca novel ini dari rekomendasi sekaligus pinjaman seorang teman, saat dia tahu saya sedang mengerjakan naskah bergenre fiksi perjalanan. Katanya, novel ini menarik dan detail-detail tentang tempatnya tidak membosankan atau terkesan seperti sebuah artikel travel guide. Benar saja, saya mulai melahap halaman demi halaman dan menikmatinya! Kesimpulannya, saya suka cara Moemoe Rizal bertutur, ingatkan saya untuk mencari karya dia yang lainnya, lugas dengan alur yang dinamis. Di bab awal, kita akan dikenalkan dengan sosok Edvan yang arogan dan narsis luar biasa. Dia adalah seorang pemuda Indonesia yang telah menjadi arsitek hebat di Singapura. Dijelaskan kebanggan yang tersirat dari dirinya akan kesuksesannya mengerjakan proyek yang megah.

Novel ini mengambil sudut pandang orang pertama, yaitu Edvan yang bertutur. Dan novel ini mengobati kebosanan saya dengan membaca alur cerita yang lambat. Syukurlah pria yang bertutur di sini bukanlah pria yang melankolis, haha, kalau boleh saya menyimpulkan, di sini Edvan memiliki karakter kholeris. Keras kepala, semaunya, dan apa yang menjadi keinginannya harus terkabulkan. Diceritakan bahwa Edvan pulang ke Bandung setelah sepuluh tahun lamanya karena sebuah kabar duka tentang ibunya yang meninggal. Lalu, Edvan bertemu dengan saudara kandung satu-satunya yang seharusnya menjadi tandem yang mengasyikkan sebagai sesama pria, yaitu Edvin. Kenyataannya, Edvin yang ditemuinya berbeda 180 derajat dengan Edvin yang ada di bayangan Edvan. Melalui Edvin pula warisan untuk Edvan disampaikan, warisan yang akhirnya membawa mereka berdua terbang ke Bangkok untuk menemukan jurnal demi jurnal yang dititipkan oleh ibu mereka.

Sebuah pencarian yang seru. Setiap tempat diceritakan dengan detail dengan kesan kuat yang dituturkan oleh Edvan. Hadir pula Charm sebagai gadis Thailand yang mengiringi kisah petualangan Edvan di negeri gajah putih ini. Dan bisa ditebak, sepasang pemuda dan pemudi yang terlalu sering bersama akhirnya akan menimbulkan percik-percik roman di antara keduanya. Meski sulit dan terlalu arogan untuk mengakui, tapi akhirnya Edvan mengatakan kalau dia jatuh cinta kepada Charm. Sayangnya, Charm terlalu misterius dan tidak semudah itu untuk dijangkau. Belum lagi ada Max, adik Charm yang ikut membantu Edvan yang awalnya hanyalah sebuah side dish, tapi ternyata memberikan kisah yang tak terlupakan pula bagi Edvan.

Sebuah pencarian. Sebuah petualangan. Sebuah kisah yang seru dan mengajak kita untuk turut serta dalam setiap langkah kaki Edvan. Saya senang dengan cara bertutur Edvan yang cuek dan ceplas-ceplos. Banyak umpatan spontan, haha, tapi justru menjadikan novel ini semakin hidup. Hei Moemoe, apakah Edvan ini adalah penggambaran dari diri kamu sebenarnya?? *winks* hehehe. Pesan-pesan moral yang disampaikan dalam novel ini tentang hubungan keluarga juga sangat dalam. Edvin yang awalnya dibenci oleh Edvan karena keputusannya yang sensasional (betapa perubahan satu huruf saja dari nama Edvin telah menjungkirbalikkan kehidupannya), akhirnya malah membuat Edvan menyadari arti sebuah keluarga yang walau ia benci bagaimanapun juga, tapi senantiasa ada di hatinya.

Thailand dikenal sebagai negara yang murah senyum, dan gambaran ini mudah didapatkan dari seorang Charm. Thailand juga dikenal sebagai negara yang menghalalkan transgender, maka jangan heran kalau isu transgender di sini lumayan sering dibahas. Hal ini pula yang akhirnya membuat Edvan sadar, bahwa pada akhirnya bukan masalah sebuah keputusan itu benar atau salah, tapi walau bagaimanapun juga keluarga itu haruslah saling mendukung dan menjaga.

Bagaimana, apakah uraian saya ini cukup menarik minat kamu untuk membacanya?? Jika ya, saya ucapkan selamat bertualang ke negeri gajah putih bersama Edvan yang tampan, Charm yang memesona, Edvin yang manis, serta Max yang tulus.🙂

6 thoughts on “Bangkok by Moemoe Rizal

  1. Yes, setuju dengan reviewmu. Soal transgender, masih banyak yang berpikiran picik dengan menghujat mereka. Bahkan temanku sendiri begitu, dengan mengatasnamakan kitab suci.
    Kalo FPI cs baca buku ini bisa mengutuk-ngutuk ya, hehehe, kebayang.
    Setuju juga dengan pendapatmu ttg writing style penulisnya. Buku ini keren dan bikin kangen Bangkok.

  2. Pingback: Wishful Wednesday [1]: Boxset of Tetralogi Fashion by Syahmedi Dean | Dinoy's Books Review

  3. Pingback: Hai Moemoe! | Dinoy's Books Review

  4. Pingback: Melbourne – rewind by Winna Efendi | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s