Hai Andry!

Andry's books

Andry Setiawan adalah penulis yang memulai debutnya dengan merilis novel berjudul ‘Then I Hate You, So’ di tahun 2012 di bawah naungan Penerbit Haru. Yang menjadikan novel ini unik, adalah mengambil setting 2 negara: Jepang dan Korea, dan ditulis ketika dia sedang bermukim di negara Jepang. Cowok yang mengaku gila kopi (coffee-holic, I mean :p) dan juga berkarakter melankolis ini, saat ini sudah kembali berada di Indonesia. Kira-kira, gimana sih proses Andry dalam menulis novel dan sekelumit kehidupannya sebagai penulis?

Hai Andry! Jadi, sejak kapan sih kamu mulai suka menulis? Masih ingat buku pertama yang kamu baca yang begitu menginspirasi kamu untuk menulis juga? Ceritakan, ya!

Sejak kapan ya? Ingat pertama kali menulis waktu masih SD dan seneng banget waktu ada orang yang mau baca tulisan enggak keruan yang sudah saya bikin. Saya lupa buku pertama yang saya baca, tapi dulu sempat keranjingan serial Goosebumps dan Fear Street. Untuk buku yang menginspirasi untuk menulis adalah Frankenstein-nya Mary Shelley. Dulu sempat ‘menjiplak’ karya itu dengan menuliskan cerita dengan alur yang sama persis. Wkwkwkwk. Untung komputer keburu rusak sebelum sempat publish di mana-mana.

Novel pertamamu yang berjudul ‘Then I Hate You So’ (Maret 2012), berlatar dua negara: Jepang dan Korea. Dan jujur saat baca, aku sempat nggak nyangka cerita seperti ini ditulis oleh seorang pria, haha! ^.^v I mean, tokoh utamanya cewek dan lumayan detail pula printilan tentang cewek ini. Bisa diceritakan proses penulisannya, mulai dari ide cerita juga pengkarakterannya?

Tentu saja saya enggak sendirian menulis novel itu. Ada banyak orang di belakang layar yang membantu saya untuk membaca draf naskah, tentu saja kebanyakan cewek. Mulai menulis pas ada di dalam kereta, terpikir untuk menulis tentang bencana tsunami, dan akhirnya setelah diskusi dengan Lia Indra Andriana (Awalnya mau nulis duet bareng dia, tapi karena satu dan lain hal…) alurnya semakin lama semakin terbentuk dan mulailah menulis.

Katanya, kan, cerita di ‘Then I Hate You So’ idenya dari pengalamanmu sendiri saat bencana tsunami melanda Jepang. Memang seperti apa, sih, suasananya waktu itu yang kamu rasakan sendiri? Dan, bisa disebutkan bagian-bagian mana dalam novel yang berkaitan langsung dengan pengalaman pribadimu, saat berada di Jepang dan ada tsunami saat itu?

Tsunami di Jepang terjadi pada tanggal 11 Maret 2011. Dan setelah itu, suasananya kacau. Semua acara TV membahas lokasi, rumor-rumor juga berkembang pesat, termasuk air yang terkontaminasi dan makanan yang juga semakin berbahaya. Rumor itu membuat orang kalap.

Terutama ibu-ibu yang bikin sebel. Masa mereka memborong air minum, beras dan makanan instan di supermarket? Bahkan tissu toilet juga ludes diserang ibu-ibu kalap. Saya yang tidak tahu apa-apa waktu mau belanja sore harinya kehabisan beras dan terpaksa makan roti tawar sisa kemarin. Untungnya kertas toilet masih ada… *sorry jorok.

Buat ibu-ibu, jangan suka kalap ya, yang tenang dikit, ya…

Untuk novel kedua yang baru terbit bulan Februari 2013, yaitu ‘Ojou!’. Menurutmu, apa tantangan terbesarmu saat menulis cerita tentang dua anak kuliahan yang berbeda negara?

Untuk membangun suasana anak kuliahan berbeda negara tidak ada tantangan yang berarti sih. Waktu itu saya baru saja lulus kuliah, sekitar setahun, dan suasana di kampus juga internasional, banyak orang-orang asing, tidak melulu orang Jepang.

Kalau di luar itu, saya kesulitan menciptakan alur, karena lain dengan Then I Hate You So, kisah ini lebih realistis. Kisah sehari-hari yang malah membuat saya bingung karena saya harus fokus ke perasaan setiap tokohnya. Dan akhirnya, rekan-rekan penulis menyarankan untuk membuat satu event yang bisa menjadi patokan di sepanjang naskah, jadilah WFF yang memberikan saya satu patokan untuk menggulirkan setiap konflik dan perasaan yang ada.

Apa inspirasimu saat menciptakan tokoh Jeong dan Lydia di ‘Ojou!’ ini? Adakah semacam tokoh dalam film, buku lain, atau murni kamu menciptakan sendiri karakter mereka dalam pikiranmu?

Saya ingin menulis tentang orang-orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Jeong sudah terlihat jelas tidak bisa berkomunikasi dengan baik, karena canggung, sedangkan Lydia, meskipun cablak tapi tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan jujur, menutupinya dengan sikap cerianya.

Setelah 8 tahun berada di Jepang, dan kamu sekarang kembali ke Indonesia. Ada, nggak, perbedaannya dalam hal kegiatan menulismu?

Untuk kegiatan menulis tidak ada banyak perbedaan. Hanya di Indonesia lebih sulit, karena ada keluarga. Konsentrasi jadi terpecah, apalagi kalau tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Kalau di Jepang, saya bisa mendekam di dalam apartemen seorang diri, atau ke kafe seorang diri jauh dari orang yang mengajak saya ngobrol.

Menurutmu, apa sih ciri khasmu dalam menulis? Dan, hal-hal apa yang menjadi kelebihan dan kekuranganmu saat menulis novel?

Apa ya… saya suka misteri, mungkin karena dulu kebanyakan baca Goosebumps dan Fear Street. Jadi mungkin ada unsur misteri di setiap tulisan saya.

Untuk kekurangan, saya tidak bisa berkonsentrasi dalam menulis. Ada suara sedikit saja sudah membuat konsentrasi buyar dan mood tulisan jadi ikut buyar. Juga dalam menentukan alur, saya sukar mengerti perasaan-perasaan tokoh yang saya buat, padahal perasaan setiap tokoh bisa menjadi trigger suatu keputusan dan kejadian di dalam cerita.

Untuk kelebihan, saya serahkan saja pada pembaca ^^

Setelah menulis dua novel dan menerbitkannya, boleh dibagikan, ya, komentar-komentar yang masuk ke kamu selama ini dan yang paling berkesan. Bisa disebutkan 2: komentar yang paling disukai dan juga komentar yang paling bikin ‘jleb!’. Hahaha..😀

Hahahaha. Ada yang komentar gaya bahasanya seperti membaca koran, seperti rangkuman kejadian yang sama sekali enggak seru. Itu yang masih saya ingat sampai sekarang. Satu lagi ada yang bilang penokohan dan emosi setiap tokoh di dalam novel tidak begitu terasa.

Untuk yang kedua, saya akui, saya lemah untuk mengerti perasaan tokoh. Masih harus banyak belajar nih!

Okay, makasih ya, Andry, sudah menyempatkan menjawab 8 pertanyaan untuk blog-ku. Sekarang, giliran kamu bisa menuliskan apa pun untuk dibaca sama pembaca blogku. Terserah mau ngomong apa aja, promo, salam, kesan-pesan bagi pembaca, or anything . . .

Thank you buat kak Dini sudah memberikan saya kesempatan untuk menjawab pertanyaan ini! Sempat bikin bingung juga, mau jawab apa. Jangan bosan membaca karya saya dan komentarnya selalu saya tunggu loh!

Hm, sedikit banyak jadi tahu deh, gimana kalau seorang cowok menulis fiksi dengan genre drama…🙂 Kalau masih merasa tanya jawab dengan Andry ini kurang, silakan hubungi dia di akun twitter: @konstantin0609 atau ubek-ubek web page-nya di: Andry Setiawan Writer.

Sayonara !! ^,^

2 thoughts on “Hai Andry!

  1. Kyyaaa~ ini blogny kak @dinoynovita yahh?? Aigoo~ aku smpek slah sngka dikira blog haru (-__-) abisnya kak dini bruntung bgtt bisa dpet wawancara pnulisny Haru yg uda famous ituuu T.T
    Trus aku suka prtanyaannya kak dini ke kak andry yg mnurut aku btul2 mnjurus bgt ke bgian mnulisnya🙂 *great* sering2 buat interview-an gni yah kak ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s