Aku Tanpamu by Rudy Efendy

AkuTanpamu

Judul: Aku Tanpamu

Penulis: Rudy Efendy

Penerbit: Bhuana Ilmu Populer

Genre: Drama, Romance, Dewasa-Muda

Tebal: 459 Halaman

Terbit: Februari 2013

Harga: Rp 66.000

Kegetiran hidup yang mendera Saskia seolah tak ada habisnya. Ditinggalkan oleh ibu kandung yang pergi bersama pria lain, lalu ayahnya pun meninggal dunia. Ia terpaksa hidup bersama keluarga om-nya dan tidak bisa hidup bebas, karena sang tante selalu mengatur hidupnya. Belum lagi ketika didekati oleh seorang pria yang baik hati dan rupawan bernama Davian , Saskia harus rela melepaskannya demi sepupunya, Alena, yang semua keinginannya harus selalu dituruti. Masihkah ada seporsi kebahagiaan tersisa bagi Saskia?

Ini adalah pengalaman pertama saya membaca novel karya Rudy Efendy. Saya jarang membaca novel yang ditulis oleh penulis pria, dan kesan pertama saat mulai membaca halaman-halaman awal novel ini membuat saya tertarik. Gaya bahasanya rapi, dengan penggunaan kata-kata baku yang akhir-akhir ini sedang saya sukai. Tetapi, penggunaan kata dan gaya bahasa yang baku ini juga akhirnya menurut saya menjadi sebuah bumerang. Bagaimana tidak, saya bisa mengatakan bahwa 99% narasi dan dialog yang digunakan adalah ala formal. Padahal, segmennya dewasa-muda. Tokoh-tokohnya juga masih kuliah. Lama kelamaan jika dibaca, terutama dialognya, menjadi terasa hambar karena gaya bahasa formal itu.

Padahal, banyak sekali konflik yang memicu emosional dan membuat saya tercengang. Seperti yang saya tulis sebagai pembuka. Tokoh utama novel ini adalah Saskia. Seorang gadis baik, tapi entah kenapa di sini penulis menggariskan takdir yang ‘mengenaskan’ bagi Saskia. Kehilangan demi kehilangan, disusul dengan sebuah rasa sakit yang tak terperi karena seorang pria yang bertindak kejam padanya. Kadang saya berpikir, salah apa ya si Saskia ini sama penulis? Kayaknya porsi dia untuk bisa tersenyum dan bahagia akhirnya segera tertutup dengan berbagai kekecewaan, hehe.

Lalu ada satu lagi yang menggemaskan. Ketika akhirnya tidak bisa bersatu dengan Davian, atau pun hidup bersama dengan Zidan yang seharusnya bertanggung jawab akan lukanya, Saskia pun dekat dengan Rafael. Rafael adalah sosok pria yang tulus dan penuh kasih, dia rela menggantikan tugas Zidan untuk merawat Saskia dan buah hatinya. Bukan, mereka tidak menikah, status mereka masih sebatas teman, karena meski Rafael hampir setiap hari datang untuk menemui Saskia dan menimang Gibran, tetapi Rafael tidak pernah menyatakan perasaannya. Entah apa yang dia tunggu-tunggu, tapi rasanya penulis terlalu lama bermain-main di hubungan tanpa status ini, membuat Rafael menjadi sosok yang bimbang. Ya kalau saya sebagai Saskia, memangnya saya hanya bisa diam saja melihat setiap perbuatan baik Rafael yang selalu mencurahkan perhatian kepadanya dan Gibran? Gemas sekali rasanya dengan sikap Saskia yang Cuma bisa pasrah ini, hehe.

Tapi di sekitar seratus halaman terakhir novel ini menunjukkan keseruannya. Davian kembali, Saskia berseri, Rafael cemburu, Alena berontak. Meski saya akhirnya membacanya sambil sekadar lalu karena harus bersabar dengan setiap penulisan formalnya – jadi berasa baca buku pelajaran, haha – tapi sebenarnya novel ini bagus kok. Kalau kata seorang teman, novel ini seperti novel-novelnya Mira W. Saya cuma baca sekali sih novelnya Mira W, yang Karmila, punya mama saya dulu, hehe. Jadi buat yang suka novel ala-ala klasik seperti itu, novel ‘Aku Tanpamu’ ini bagus, kok. Dramanya dapet banget, hehe.🙂

4 thoughts on “Aku Tanpamu by Rudy Efendy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s