Hai Fei!

FEIBOOKS

Fei adalah salah satu dari mereka yang berani mengambil langkah besar dalam hidupnya, berkaitan dengan passion. Meski melalui jalan yang panjang dan tidak sebentar, namun Fei tidak berhenti berupaya menjadi seorang penulis. Such an inspiring humble story that makes me think, it is never too late to live up our passion! Dari sejak belasan tahun lalu mulai menulis, hingga akhirnya satu setengah tahun lalu Fei mewujudkan impiannya untuk menulis dalam media buku. Gimana sih cerita Fei untuk bisa mewujudkan mimpinya?

Hai, Fei! Aku mau tanya-tanya ya, tentang prosesmu menjadi penulis buku. Jadi kalau enggak salah, background pendidikan kamu tuh Sistem Informasi ya, Fei? Terus, mulai kapan jadi penulis? Kenapa tuh? Ceritain juga ya prosesnya..

Yes. Haha. I got my S. Kom degree but end up being a writer.

Dulu saya masih terlalu immature, belum tahu selesai sekolah inginnya kerja apa, passion saya di mana pun saya masih belum mengenali jelas. Saya cuma tahu saya mau sekolah di mana, dan itu pun karena alasan yang setelah saya pikir sekarang agak konyol juga (alasannya apa, rahasia, for the sake of saving my pride =P). Dari hasil bujuk rayu konsultasi dengan staf marketing kampus tersebut, dia menyarankan saya ambil jurusan Information System dan saya setuju. Ya singkatnya, saya kuliah di situ sampai lulus sarjana.

No regret, though. Soalnya ilmunya juga masih bisa diterapkan kok untuk pekerjaan yang sekarang. Sebagai penunjang, juga bisa sebagai bahan tulisan. ^.~

You know, one of the funnest yet also the hardest part of being a fiction writer, is the need to always learn many things to enrich the writing.

Nah, kalau sejak kapan jadi penulis? Well, tergantung definisi ‘penulis’ di sini apa. Kalau ‘penulis’ di sini sama dengan orang yang menulis cerita, sepertinya sejak awal masuk SMP. Sejak kecil saya suka membaca, tapi nggak pernah kepikiran untuk menulis.

Kelas 1 SMP, saya dikenalkan dengan novel “Harry Potter” oleh salah seorang sepupu. Sepertinya itu novel memang ada ‘magic’-nya, karena habis baca novel itu ide-ide di kepala jadi liar, perasaan terasa meluap-luap dan merasa perlu ditumpahkan dalam bentuk tulisan. Sejak itu, entah kenapa selalu ada keinginan untuk terus menulis.

Namun, kalau jadi ‘penulis’ di sini dalam artian sudah menghasilkan karya yang dilempar ke pasaran dan dibayar, berarti saya jadi penulis sejak tahun 2007, dan diawali jadi penulis skenario.

Waktu itu saya pernah jadi ghostwriter (maksudnya saya membantu menuliskan skrip, namun hanya nama bos saya yang muncul di credit title) untuk seorang penulis skrip FTV. Awalnya dulu saya suka nonton FTV, eh, terus di credit-title lihat nama salah satu penulis novel yang saya suka dan saya juga pernah kontak beliau lewat email. Iseng, saya kontak beliau lagi dan malah ditawarkan pekerjaan menjadi ghostwriter itu. Pekerjaan yang singkat, hanya bertahan beberapa bulan karena kemudian bos saya itu berhenti jadi penulis skenario dan konon mau fokus di novel. Tapi, pengalaman itu justru membuat saya semakin jatuh cinta dengan dunia film dan per-skenario-an. Tahun 2010 saya belajar penulisan skenario di Serunya Scriptwriting. Kemudian, sejak Agustus 2011 saya mulai kembali menekuni pekerjaan sebagai penulis skenario bersama teman-teman saya di Zonk Sisters.

Kebetulan, Agustus 2011 itu juga bersamaan dengan waktu terbitnya novel pertama saya yang berjudul Bubble Love, hasil kolaborasi dengan Lia Indra Andriana. ^^

So… kembali ke pertanyaan sejak kapan jadi penulis, I’d answer that I start writing fiction since I was in 7th grade, but I start writing as career since 2011.🙂

Novel pertamamu adalah sebuah karya duet, yaitu Bubble Love bersama Lia Indra Andriana, disusul Love Storm juga duet bareng Clara Canceriana, dan 1 nonfiksi malah karya trio bareng Lia Indra Andriana dan Andry Setiawan [(not) Alone in Otherland]. Kenapa kok harus kerjasama dengan penulis lain? Sori, apakah kamu masih enggak pede, atau ada hal lainnya?🙂

Kenapa harus kerjasama dengan penulis lain? Well, sebenarnya tidak ada  yang mengharuskan. Tapi kalau ditanya kenapa urutan keluarnya begitu, kalau menurut saya, karena urutan kesempatannya memang sudah digariskan begitu. (Eh, dipikir lagi, ini berarti yang ‘mengharuskan’ itu ‘takdir’, ya? Haha…) Selain itu, juga karena faktor keberuntungan dan kecepatan menulis. Tulisan-tulisan yang kolaborasi dengan penulis lain biasanya lebih cepat jadi. Dan kebetulan juga, tulisan-tulisan yang itu lebih cepat diterima penerbit. Hehe… ^^v

Di awal tahun 2013 ini akhirnya terbit juga karya pertamamu yang solo: novel berjudul Bi!. Nah, gimana sekarang rasanya, akhirnya bisa berkarya sendirian? Apa perbedaan yang paling mencolok dari 2 novelmu sebelumnya yang duet?

Feels good, of course. Haha.

Menulis sendiri itu menyenangkan karena bisa lebih ‘egois’ dan karya yang dihasilkan bisa jadi lebih personal.

Menulis kolaborasi dengan penulis lain juga sama menyenangkannya, kok, hanya privilege-nya saja yang berbeda. Saya cukup beruntung mendapat partner-partner yang bisa langsung cocok sehingga prosesnya cukup lancar dan terasa fun saja. Ada teman diskusi, jadi kalau ada kesulitan dalam proses menulisnya nggak pusing sendiri dan bisa saling koreksi satu sama lain. Lalu dalam prosesnya saya juga bisa belajar dari teman-teman yang sekaligus senior-senior saya itu.

Kalau perbedaannya paling mencolok hasil karya kolaborasi dan karya sendiri, harusnya novel yang seutuhnya hasil tulisan sendiri ini lebih terlihat gaya menulis saya seutuhnya. Selain itu, karena ini karya pribadi, tentunya lebih banyak idealisme, perenungan (dan juga curcolan =p) saya yang tertuang di dalamnya.

Butuh berapa lama biasanya untuk menyelesaikan naskah, dari sejak kamu mulai tercetus ide sampai selesai? Boleh dibagiin dong,rangkaian prosesmu saat menulis naskah buku, misal bikin outline, riset, dll..🙂

Pertanyaan sulit. Masih belum bisa mencetuskan berapa lama ‘biasanya’ ini. Buat saya, naskah saya diawali ketika saya menemukan ide dan baru ‘selesai’ ketika sudah cukup layak untuk diajukan ke penerbit dengan revisi minor. Jadi kalau sudah diajukan ke penerbit dan ditolak atau diminta revisi banyak, itu saya anggap belum selesai. Sejauh ini, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan naskah beda-beda, bahkan bisa dibilang perbedaannya cukup jauh (ekstrim) antara yang tercepat dan terlama.

Yang tercepat sampai saat ini, Love Storm yang selesai dalam waktu sekitar 2 minggu penulisan draf dan 1 minggu self-editing. Setelah diputuskan untuk terbit, Love Storm tidak memerlukan banyak revisi jadi ya, prosesnya sekitar 3 minggu itu. Yang terlama… uhm, yah, bertahun-tahun. Banyak naskah saya masih setengah jadi karena saya bosan dan meninggalkannya di tengah jalan, atau karena saya tidak fokus mengerjakannya dan sering diselingi ini-itu jadi lama terlantar.

Untuk rangkaian proses menulis buku…

Kalau menulis naskah non-fiksi, karena sejauh ini non-fiksi yang saya tulis berdasarkan pengalaman, jadi tidak ada proses khusus selain mencoba menggali memori dan menuangkannya dalam tulisan.

Sedangkan untuk menulis naskah fiksi, proses saya masih terus berevolusi.

Dulu saya menulis hanya berbekal sebuah bayangan adegan menarik, nama unik, atau gambaran mengenai satu sosok karakter yang saya suka dan kemudian menulis dengan prinsip go-with-the-flow. Riset baru saya lakukan ketika saya merasa butuh. Mungkin itu sebabnya naskah saya jadi sering ditolak karena alurnya juga melebar ke mana-mana, tidak konsisten, dan berbagai masalah lainnya.

Sejak belajar penulisan skenario, saya jadi tahu yang namanya premis, pembentukan karakter, juga pentingnya plot yang utuh. Dari situ, lama-lama saya mengadaptasi apa yang saya pelajari di kursus penulisan skenario untuk menulis novel. Banyak teori untuk pembentukan karakter dan plot, dan sampai sekarang saya masih suka bereksperimen dengan coba menerapkan teori-teori yang saya baca. Tapi garis besarnya sih dimulai dari menentukan premis cerita, membentuk karakter, kemudian membuat plot dari awal sampai akhir, baru mulai menulis dengan menggunakan plot sebagai panduan. Riset awal dilakukan sambil membuat plot, dan riset yang lebih mendetail bisa dilakukan sebelum atau sembari menulis, tergantung kebutuhan.

Di novelmu yang Bi! ini kamu banyak memasukkan unsur yang enggak lazim dijumpai sehari-hari. Ya namanya juga drama-fantasy sih, hehe. Misalnya tentang makhluk gaib yg bisa nyamar jadi manusia, tentang reinkarnasi, atau tentang mudang. Pas lagi proses nulis dan riset, kamu pernah enggak merasa hal-hal itu bertentangan dengan keyakinanmu dan sempat bikin kamu kesusahan nulisnya? Ceritain, ya …

Enggak, tuh. Biasa saja. Sejak dulu saya memang tertarik cerita fantasi, jadi malah fun banget ngerjainnya. Semacam cita-cita lama yang akhirnya tercapai.

Yang bikin saya susah nulis itu, justru saya sering lost-vocab. Maksudnya, saya sering tidak tahu bagaimana kata-kata yang tepat untuk menggambarkan adegan yang terputar di bayangan saya. (Weird, isn’t it? A writer but not that good with words =p)

Enggak cuma untuk Bi!, ini juga kesulitan terbesar saya di dalam mengerjakan naskah saya lainnya. Kalau sudah begitu, biasanya saya akan berhenti menulis dan kemudian membaca novel-novel lain untuk mencari inspirasi kata-kata yang tepat. Atau kalau lagi rajin, saya baca buku sambil membuat catatan kosakata yang menurut saya menarik, kemudian catatan itu saya gunakan sebagai ‘contekan’ ketika sindrom lost-vocab saya kambuh lagi.

Kayaknya kamu mendalami banget ya karakter Min Jeong di Bi! ini. Cerita kehidupan dan perjuangannya terasa nyata banget. Hm, aku mencium aroma-aroma curcol di sini… ada enggak sih, Fei? Hehehe …

Masa, sih? Syukurlah kalau bisa terasa nyata, berarti nulisnya sukses. Hehe… =p

Ada memang bagian curcol di naskah. Enggak cuma di karakter Min Jeong, beberapa karakter lain juga dipakai sebagai sarana curcol, kok. Beberapa emosi yang pernah saya rasakan, idealisme dan  pemikiran yang enggak bisa saya ungkapkan langsung, atau memori yang takut saya lupakan, biasanya suka saya sisipkan dalam tulisan karena memang menulis adalah salah satu bentuk self-therapy saya.

Percaya atau enggak, salah satu alasan saya menulis adalah biar enggak gila karena menampung begitu banyak emosi dan pikiran yang kadang bisa meluap-luap.

Berandai-andai nih, kamu ketemu dokkaebi beneran – yang tentunya bisa nyamar dalam wujud cowok cakep ya – dan bisa mewujudkan keinginan kamu dengan bangmanginya. Kamu dikasi waktu seharian jalan-jalan sama si dokkaebi ini, mau ngapain aja tuh?

Pertama-tama… pingsan dulu beberapa jam? Atau mungkin kabur karena ngira dia orang gila? Haha…

Tapi kalau misal saya enggak pingsan atau kabur dan bisa terbiasa dengan dokkaebi itu, mungkin saya akan bersenang-senang saja dengan dokkaebi itu. Pergi ke taman hiburan, makan enak, atau sekadar ngopi-ngopi sambil ngobrol sana-sini sama dia, siapa tahu hasil obrolannya bisa jadi bahan tulisan kelanjutan kisah ‘Bi!’. Hehe…

Masih berandai-andai lagi, kali ini kamu dikasi kesempatan pergi seharian bareng dengan orang yang menginspirasi hidup kamu. Kira-kira sama siapa tuh dan kamu mau tanya apa aja atau ngapain aja sama dia? (boleh penulis, artis idola, atau siapa saja deh terserah kamu. ^^)

Wah, bingung nih jawabnya. Haha. Soalnya orang yang menginspirasi hidup saya ada banyak. Apa piknik rame-rame aja, ya? Hehe…

Buat saya, kehidupan itu terlalu luas untuk hanya terinspirasikan (eh, apa sih istilah tepatnya, ya?) oleh satu-dua orang saja. Kehidupan manusia itu selalu mengalir, dia berkembang, berevolusi, dan karena itu butuh banyak inspirasi untuk menjalaninya.

Keluarga, teman-teman, artis idola, tokoh fiktif di novel yang saya baca atau film yang saya tonton, bahkan sampai orang enggak kenal yang asal sekilas lihat di jalan bisa menginspirasi hidup saya. Hidup itu punya banyak aspek, dan setiap hal di dunia ini bisa menginspirasi untuk melengkapi banyak aspek yang berbeda itu. Saya bisa belajar tentang kerja keras dari si A yang tidak kenal menyerah, tergerak untuk menjadi lebih tulus karena melihat si B tidak pernah memikirkan pamrih, ingin jadi lebih ceria karena melihat si C yang selalu berpikir positif, diremehkan si D membuat saya ingin membuktikan kalau dia salah, melihat si E yang bisa menggapai mimpi besarnya membuat saya tidak takut bermimpi, dan lain sebagainya.

Yah, kira-kiranya begitu sih menurut saya soal inspirasi hidup. Bingung juga jelasinnya gimana. *garuk-garuk keyboard*

Tapi kalau misal harus sebut satu nama saja ‘orang jauh’ yang ingin saya gapai sekarang, saya pilih SuJu’s Lee Donghae aja deh. I’d like to have a date with him. Hihi… *^^*

Haha, setelah ngalor-ngidul akhirnya keluar juga nama cowok gebetannya, LOL! But, nice! Terima kasih ya Fei sudah jawab beberapa pertanyaanku.. Sekarang silakan kamu mau nulis apa pun sebagai penutup untuk dibaca temen-temen yang main ke blogku, hehe …

Makasih buat Kak Dini yang sudah memberikan pertanyaan-pertanyaan yang cukup bikin mikir (dan merenung) ketika ngejawabnya *phew, akhirnya selesai juga* ^^;

Buat yang sudah baca (semacam) interview (dengan jawaban yang mungkin melenceng ke mana-mana) ini, juga terima kasih untuk kalian. Dadahhh!

p.s. Yang belum punya “Bi!”, yuk diborong novelnyaaa… ^^ *tetep usaha promosi*

Regards,

Fei

Enggak nyangka pertanyaan iseng-isengnya jadi berbuntut curhat dari Fei, haha! Tapi seneng dan seru banget bacanya! For more chat with Fei, you can reach her at twitter: @feikassy

See you in another talks with other Author..!! ^^.

eh.. eh.. lagi ada kuis interaksi bareng Fei nih, buat dapat bukunya bertandatangan. Coba cek ini deh: https://dinoybooksreview.wordpress.com/2013/08/09/ask-pick-interaction-with-fei/

75 thoughts on “Hai Fei!

  1. Waahhh… bikin sequelnya Bi! bisa donggg??? seru banget !!! Kebetulan aku suka sm eunhyuk ^^ di novel Bi! kan ada hyuk walau bukan “eunhyuk” atau “Hyukjae”, tapi “Jo Hyuk”. wahaha… johyuk juga sifatnya jorok, kayak eunhyuk ^^ pokoknya sequeeell!! #gubrak . Well, thanks for sharing😀 thanks a lot ^^

    • Halo…

      Terima kasih sudah baca Bi! dan juga interview ini. Buat sekuelnya Bi! belum ada rencana untuk sekarang😉

  2. Hai ka fei! Aku mau tanya… Susah gak sih buat novel dengan banyak campur tangan(?), maksudnya.. Kan di novel not alone in other land ka fei berkolaborasi dengan penulis lain.. Gimana rasanya menngapreaiasikan fikiran ttg kisah tersebut dengan fikiran dari penulis lain.. Maaf ya ka fei pertanyaan ku berbelit-belit.. Hehe😀

    aku mau novel Bi! Dong ka fei jgn lupa di ttd’in okay.. Itu juga kalo menang ya..?!#nyengirgaring soalnya aku mau banget novel itu.. Karena ceritanya yg fantasy itu lebih seru menurutku…🙂

    Makasih atas waktunya..:)

    usriyah @1004_usriyah

    • Hai Usriyah!

      Pertama-tama, (Not) Alone in Otherland itu bukan novel, itu sebuah buku non-fiksi, isinya catatan pengalaman kami bertiga (saya, Lia, dan Andry) sewaktu kami masing-masing belajar bahasa di luar negeri. Karena itu pengalaman pribadi, dan ceritanya juga nggak nyampur (hanya saja memang dijadikan satu buku), jadi ya nggak ada campur tangan penulis lain di tulisan masing-masing penulis.

  3. Wah wah, seru juga liat obrolan mba Dini sama Fei. Oh iya, mau tanya dalam menulis novel bagaimana cara menggambarkan suasana dalam scene. Supaya pembaca dpt mmbayangkan dengan jelas?
    Gimana bikin konflik, supaya ga bercabang?
    Apa kesulitan kakak membuat novel bersetting luar negeri?
    *maaf kebanyakan

    Aku mau novel Bi! + ttd ya kak🙂
    lagi pengen baca novel bersetting korea, mau banget novel Bi!…
    Inspirasi kita kok sama ya kak, Prince Fishy >.<
    Lee Donghae SJ🙂
    terimakasih semuanya..

    By : Hanifah
    twitter : @haenifah

    • Hai Hanifah!

      Untuk menggambarkan suasana, coba tuliskan apa yang dirasakan oleh panca indera si tokoh. Tulis apa yang dilihat, diraba, dicium, dirasa, dan didengar si tokoh.

      Nah kalau untuk konflik, sebenarnya bukan nggak boleh bercabang, tapi memang harus ada satu konflik utama yang menyatukan semua isi cerita. Kalau maksudnya biar ceritanya nggak jadi melebar ke mana-mana, biasanya cara paling ampuh (paling nggak buat saya) adalah dengan bikin kerangka plotnya dulu, jadi waktu mulai nulis ada semacam peta atau tuntunannya.

  4. Hai kak Fei! Selamat ya atas terbitnya Bi!🙂 Aku mau tanya, menjadi penulis itu semacam hobi, cita-cita atau keinginan kakak?

    Dan ada gak sih kak yang melarang kakak jadi penulis hanya karena menulis itu tuh gak menghasilkan uang banyak, atau menjadi penulis itu tuh pekerjaan yang gak kyk pekerjaan lain yg gajinya menetap. Intinya, ada gak sih yang bikin kakak patah semangat saat jadi penulis? Dan kalau misalnya ada, apa yang kakak lakuin untuk menumbuhkan semangat lagi?

    Satu lagi, jaman sekarang kan banyak nih kak penulis-penulis yang udah kondang yang novelnya menembus bestseller, apa upaya kakak untuk bisa bersaing dengan mereka?😀 itu aja, makasih ya kak🙂

    Aku pengen banget baca novel kakak yang bikinnya trio! (Not) alone in otherland🙂 dari judulnya udah bikin penasaran xD

    Thanks a lot!
    Sekar Ayu Kartika Sari
    @Sekarayuree

    • Hai Sekar!

      Terima kasih ya.

      Jadi penulis itu ya 3-3nya buat saya: hobi, cita-cita, keinginan juga.

      Kalau sampai dilarang nulis sih enggak, cuma orang tua awalnya terus-terusan nyuruh saya cari kerjaan tetap (ngantor atau buka toko) untuk kerjaan full-time, dan menulis sebaiknya dijadikan kerjaan sampingan aja. Alasannya, ya seperti yang kamu bilang. Jadi penulis full-time itu pendapatannya tidak tetap, dan nggak ada jaminan kaya (kecuali kalau novelnya udah best-seller macam JK Rowling gitu, udah nggak perlu khawatir masalah duit sampai pensiun, tuh =p).

      Yang bikin patah semangat tentu saja ada banget. Naskah yang ditolak berkali-kali, tulisan yang nggak kelar-kelar, orang-orang di sekeliling yang terus-terusan nggak percaya (mungkin bisa dibilang underestimate) kalau penulis itu bisa dijadikan sebagai suatu ‘pekerjaan’ dan bukan cuma hobi, lalu juga situasi keuangan yang sempat bikin agak kegencet tapi ternyata royalti yang sudah dinanti-nantikan hasilnya nggak seberapa. Banyak lah tantangannya.

      Terus yang dilakuin biar semangat lagi… apa ya? Tidur, mungkin. Haha. Kalau lagi stres gitu, tidur itu obat yang paling mujarab buat saya. Sama mandi. Entah kenapa, kalau di kamar mandi pikiran biasanya jadi lebih jernih. Mungkin karena saat kepala sudah terasa lebih segar dan dingin, otak saya bisa lebih mikir sebenernya masalah yang bikin saya stres itu apa dan gimana pemecahannya.
      Or maybe simply just because I’m a simple minded and stubborn person, jadi biar banyak cobaannya, tapi karena tahunya jalannya cuma itu ya balik-baliknya ke situ lagi. Nggak perlu pakai cara apa pun buat nyemangatin diri lagi, emang udah instingnya ke situ, jadi kalau otaknya udah seger ya maunya nulis lagi.
      (Bingung, ya? Saya juga… =P)

      Nah kalau soal saingan best-seller, saya nggak terlalu mikirin soal itu. Saya nggak minat saingan, dan menurut saya ini juga bukan semacam perlombaan sih.
      Saya cuma mikirnya sampai tahap gimana cara bikin novel saya laku. Nerbitin novel kan juga pakai duit, saya nggak mau juga kalau penerbit saya sampai nggak balik modal gara-gara buku saya nggak laku. Saya juga nggak mau munafik, saya mengharapkan royalti yang kalau bisa sebanyak-banyaknya dari novel saya.Tapi saya nggak mikirin kalau saya harus bisa meraih peringkat berapa dalam daftar best-seller atau apalah, yang penting novelnya laku, penerbit untung, saya juga dapet royalti lumayan.

      Dan ini, menurut saya kuncinya ada dua: menulis sebaik-baiknya, dan mencari penerbit yang tepat.

      Penerbit yang bagus, biasanya selain tahu menyeleksi naskah (sampai saat ini saya percaya, konten tulisan itu faktor utama yang paling menentukan), tahu juga bagaimana membaca tren dan selera pasar. Mereka juga tahu beberapa cara-cara marketing untuk mempromosikan novel supaya lebih laku. Karena itu, saya selain mencoba menulis lebih baik lagi, saya juga nyari penerbit yang kira-kira bisa diajak diskusi soal ini.

  5. Hallo kak Fei, salam kenal ya kak:)..
    Ini dia pertanyaan2 aku:
    1. Apa sih kendala terbesar yg kakak alami selama proses menulis novel Bi!? Secara novel Bi! itukan novel bergenre fantasi.
    2. Setelah aku baca interview kakak bersama kak Dini diatas, ternyata kak Fei dulu pernah terjun kedunia penulisan skenario. Susahan mana sih antara menulis skenario atau menulis naskah novel? Alasannya jg, ya kak😉
    3. Novel (Not) Alone In Otherland adalah novel yg kakak tulis bersama dengan 2 org penulis lainnya, dan didlmnya menceritakan 3 kisah perjalanan di 3 negara yg berbeda jg. Nah, sejujurnya kakak paling suka bagian cerita siapa, sih? Atau malah suka dibagian cerita kakak sendiri, hehehe. Alasannya jg , ya kak;)
    4. Untuk target selanjutnya, apa kakak masih ingin terus menulis novel? Kalau iya, dengan genre apa?
    5. Dan yg terakhir, menurut kakak pribadi, menulis itu susah gak sih kak? Terus, pernah tidak kakak merasa minder kalo tulisan kak itu jelek atau sbgnya?
    Udah segitu aja pertanyaan dari aku, semoga kak Fei mau menjawab semuanya, ya;)

    Aku pingin bgt punya dan baca novel Bi!, karena dari awal aku udah tertarik sm covernya dengan nuansa fantasi2 gitu, ceritanya yg unik dan tentunya beda dari novel2 yg lain, penasaran gimana sih cerita fantasi dikisahkan melalui sebuah tulisan, dan yg terakhir aku blm pernah sebelumnya punya novel yg bergenre fantasi, apalagi bertanda tgn penulisnya;) hehehe..
    Thx ya kak..
    Rulia @Lia_nded19

    • Halo Rulia!

      1) Kendala terbesar saya waktu nulis Bi! , seperti yang saya bilang di atas, itu hampir sama seperti ketika saya nulis novel saya lain: saya suka lost-vocab kalau lagi nulis. Nggak ada hubungannya sama genre fantasi atau bukan, sih

      2) Hmmm. Susah jawabnya nih. Menulis novel dan skenario ada tantangan masing-masing, dan menurut saya mana yang lebih susah itu relatif bagi masing-masing orang. Buat saya, (sampai saat ini) menulis novel lebih susah karena kendala sering lost-vocab itu. Novel butuh kata-kata yang lebih beragam, kalimat yang lebih tertata, dan gaya bahasa yang lebih bagus. Sedangkan kalau di skenario, saya bisa pakai gaya bahasa sehari-hari, gaya bahasa yang masih pas-pasan buat jelasin adegannya; nggak perlu cari kata-kata yang susah, yang penting scene-nya tergambar jelas dan bisa dimengerti oleh semua yang butuh baca skenario saya itu.

      3) Cerita sendiri, dong. Soalnya bikin kangen sama temen-temen waktu di Shanghai. Lewat tulisan itu, saya jadi bisa mengenang waktu-waktu saya bersama mereka.

      4) Iya, dong. Nulis novel jalan terus, skenario juga. Hehe… Soal genre, mungkin sementara masih sekitar romance-fantasy-comedy-thriller. Mulai dari yang saya suka aja dulu, baru coba eksplor yang lain.

      5) Buat saya, menulis itu gampang-gampang susah. Sebenarnya yang susah itu lebih soal tata bahasanya, sih.(teteupp… =p). Minder pernah lahh… tapi cuek aja. Keep learning, keep writing. Kalau tulisannya dibilang jelek, atau sendirinya ngerasa masih jelek, ya dicari yang bikin jelek bagian mananya, terus direvisi lagi, deh. Hehe. ^^

  6. Pertama-tama izinkan aku utk pingsan berjam2 dlu
    deh kak *plakk*
    I’M SHOCK!! Why? Kisahnya kak Fei mirip bgt dgn
    aku! Mulai dr msa skolah yg gak tau mau lanjut ke
    mana, gak tau cita2 sndiri apa, and the last we’ve same idol. I love Lee Donghae too~ he’s my inspiration ^^. Maybe, she’s my twins kkkk~
    But, it’s fact! Dlm segi pnulisan aku jga pnya bnyak ksamaan ama kak Fei, aku jga nglami ksulitan ungkapin adegan2 yg trbyang dkpala ku dgn tlisan.
    Waw! Aku gk nyangka bgt ksahny kak Fei ssok
    pnulis yg aku suka sama kek aku *curcol*
    Okeh prtanyaan ku ama kak Fei dkit aja kok brhbung durasi brjlan kkk~
    1. Hal ini yg trmsuk bgian trsulit klo lg nulis. Gmana
    sih kak cra ngebuat prtmuan antar tkoh utama dlm
    novel itu trksan unik (ssah ngejalsinnya ..) mksdnya
    gak klise gak kyk sintron2 di TV yg uda jadul gy
    prtmuannya sprti itu lah~

    2. Karir kakak kn mlejit brkat novel fantasy ‘Bi!’
    nah aku mau tanya kan Bi! It mkhluk gaib yah
    gmana/dmana sih kakak bsa dpetin info sedetail it
    ttg Bi! Pdhal gak byak (bsa di blg kecil prsentse ..)
    blog/buku ngbhas detail ttg mkhluk itu.

    Segitu ajah prtanyaan ku buat my twins (it’s real
    that we’re twins, we’ve same experience for
    writing kk~)
    Aku pengen novel ‘(Not) Alone in Otherland’ coz,
    aku trtarik buat baca kisah prjalanan para senior di
    negeri orang lain dan bsa menjadi bhan ku utk menulis ke depannya and actually, coz I already
    have novel ‘Bi!’

    Twitter : @childishae

    • Hai Dwi!

      Udah sadar dari pingsannya belum? Hehe…

      Saya coba jawab pertanyaannya, ya.

      1) Menurut kamu, adegan yang klise itu yang kaya apa? Kalau kamu tahu itu klise, harusnya bisa sebutin contohnya yang mana aja, dong? Coba deh di-list dulu. Nah, kalau sudah, coba kamu pikirkan adegan alternatif di luar adegan-adegan yang ada di daftar yang menurut kamu klise itu, Idenya bisa dicari dengan banyak cara, kok. Try to use ‘what-if’ question, atau coba pikirin hal-hal yang berlawanan dengan yang ‘normalnya’. (hope it helps)

      2) Err… thank you for the compliment (walau saya nggak ngerasa ada semacam jenjang karir dalam dunia kepenulisan yang saya jalani, dan saya juga belum merasa ‘melejit’ sih. Hehe…).
      Anyway, detail info yang mana nih yang dimaksud? Hampir semua rata-rata saya dapet dari googling, kok. Kalau nggak dari googling ya dari ngarang =p

  7. 안녕하새요 ka Fei!!

    Ehm.. langsung aja kali ya..
    1) Tadi kan ka Fei bilang,banyak naskah yang terlantar karena kesibukan akan ini-itu.Nah,apa yang ka Fei perbuat akan naskah itu nantinya? Ditelantarin gitu aja? Dibuang? Atau dilanjutin lagi? *Give the reason please!* ^^V
    2) Setelah menulis novel dengan genre drama-fantasy,menurut ka Fei,novel dengan genre apa sih yang menantang ka Fei untuk membuatnya?
    3) Di novel non-fiksi Not Alone In Other Land,ka Fei menulis tentang negara China.Kenapa ka Fei memilih China? Dan bukannya Korea atau Jepang? Apa karena tuntutan(?) pekerjaan? Atau karena kemauan ka Fei sendiri?😀
    4) This is the last of my questions.
    Adakah sesuatu yang berubah dalam hidup ka Fei dari sebelum dan sesudah menjadi penulis? Jelasin yoo!🙂

    Setelah membaca novel by Ka Lia -Seoulmate – yg serunya minta ampun!! Aku jadi pengen baca novel Bi! by Ka Fei… *penasaran*
    Kisah cinta dua dunia. #eeaaa

    감사합니다..
    Ku tunggu jawabannya yaaa~ ^^

    rizki oktavia @rizKorea

    • Annyeonghaseyo, Rizki!

      1) Naskah-naskah yang masih terlantar itu ada beberapa rencana. Ada yang mau dilanjutin (walau entah kapan, tapi the ones that keep haunting me, I will try my best to finish them, biar ga kepikiran terus), ada beberapa ide yang mungkin bakal digabung (karena ngerasa cocok aja), dan beberapa yang idenya berasa masih kurang untuk dikembangkan mungkin akan tetap disimpen di pojokan sampai ketemu cara untuk ngolahnya jadi lebih oke.

      2) (sampai saat ini) yang paling menantang buat saya adalah genre romance, karena titik beratnya adalah tentang perasaan dan pemikiran tokoh-tokohnya. It’s not easy to explore human’s feeling and thought. It’s not something you can just google or read from any text-book.

      3) Yang pertama, (Not) Alone in Otherland itu bukan novel, itu cerita pengalaman kami bertiga. Dan kenapa saya nulis tentang China, karena saya pernah sekolahnya di sana. Lia pernah sekolah di Korea. Andry pernah sekolah di Jepang. Jadi nggak pakai milih, kami hanya menuliskan pengalaman masing-masing.

      4) Maksudnya sesudah jadi penulis itu di tahap yang mana dulu, nih? Kalau tolok ukurnya sebelum dan sesudah nerbitin novel, yang paling berubah mungkin soal tingkat percaya diri dalam menulis. Dulu pas sebelum novelnya diterbitin dan naskahnya ditolak-tolak terus, rasanya hampir hopeless, mikirnya ‘duh, kayaknya nerbitin novel itu impian yang jauh banget, bahkan mungkin hampir impossible’. Tapi setelah satu berhasil nembus penerbit, jadi mikirnya ‘oh, apparently it’s not impossible for my work to get published. i just need to learn how to write better’

  8. Hei kak fei, aku mau tanya nih kalo orang nulis novelkan butuh wawasan yg luas nah kak fei dpt wawasan itu dari internet atau secara lansung? Misal kak fei memasukkan makanan khas korea di novel kak fei itu kak fei tau dri internet atau kak fei pernah ke korea secara langsung? Itu saja prtanyaanku aku pengin novel (not) alohttp://t.co/tKbIbeuK8pne in otherland yg di kasih tanda tangan kak fei🙂
    Ranny
    twitter : @rkdewwi

    • Hei Ranny,

      Saya biasa menulis dari yang dasarnya saya tahu dulu, yang saya kira-kira bisa dapet feel-nya. Nah, kalau butuh informasi tambahan, baru saya googling.

      Soal kebudayaan Korea, makanan, dan lain sebagainya, saya dapat dari banyak nonton drama Korea. Lalu sewaktu tinggal di Shanghai, teman-teman saya itu kebanyakan orang Korea jadi saya kira-kira tahu gimana sih cara bergaulnya mereka, adatnya, makanannya, dan sebagainya. Selanjutnya ketika butuh informasi tambahan yang lebih detail, ya saya googling. Saya sendiri belum pernah ke Korea soalnya.

  9. Hallo, aku mau nanya nih. Ada nggak sih hal-hal yang memotivasi Kakak dalam membuat naskah Bi? Oh ya nama Bi dalam cerita tersebut punya arti khusus nggak?
    Sumpah pengin banget novel Bi itu, setelah stalk twitter penerbitnya tentang komentar-komentar bukunya pada bagus-bagus aku jadi penasaran sama novelnya, Kak🙂

    Julia Primadani
    @Juliaaprima

    • Halo Julia,

      Motivasi… ummm, apa ya? Nggak ada motivasi apa-apa, sih. Saya cuma tertarik nulis cerita itu setelah baca satu artikel yang nyebut soal dokkaebi itu sebenarnya kalau ditilik sifat-sifatnya itu seperti cerminan sifat manusia, dan kadang yang bukan manusia itu justru lebih manusia dari manusia itu sendiri. Itu yang saya coba jadikan sebagai dasar, inti ceritanya. Entah deh pembaca bisa nangkep maksudnya atau enggak.

      Kalau namanya sih nggak ada arti khusus. Dalam bahasa Korea, ‘bi’ itu artinya ‘hujan’, tapi Bi di novel itu bukan dari kata itu, cuma ambil suku kata terakhirnya ‘dokkaebi’ aja, biar gampang manggilnya. Hehe…

  10. Annyeong eonnie, semuanya ^_^
    Untuk Fei Eonnie, aku mau tanya dong:
    1. Aku pengen banget jadi penulis, tapi aku gak tau harus mulai begimana dan darimana (?)*walaupun aku pernah nulis cerpen dan hasilnya lumayan* aku harus begimana biar tulisanku bagus ><,
    Sukses selalu ya buat kak Dini dan Fei ^-^ ditunggu loh buku Bi! bagian 2-nya😀

    salam hangat dari @tia_meliyanti (adeknya Kyupil tercinta :* )
    Ehya, aku mau buku Not (Alone in Otherland) ^_^ *semoga aku menang,😉

    • Annyeong Tia!

      Kalau mau jadi penulis ya mulai dari menulis, dong. Selain itu banyakin juga baca buku biar kamu tambah-tambah referensi tulisan kamu. Dan kalau pengen tulisan lebih bagus, nggak ada jalan lain selain berlatih menulis dan perbanyak membaca (iya, jawaban standar banget, tapi emang begitulah adanya…)

  11. itu kenapa postingan cuman setengah? maaf kak. Ini lanjutannya:
    2. Kak gimana sih cara ngembangin (atau meracik istilahnya) cerita yang gak absurd, menarik, indah, dan istimewa. Kan namanya novel itu pasti tebel. Biar gak bosen saat proses menyelesaikan novel, dan dengan semangat yang selalu berkobar-kobar?
    3. Ohya, 1 hal yang mendasar bagi seorang penulis saat menulis sebuah novel/tulisan itu apa sih?

    • 2) Bikin plot. Dengan begitu ketika kamu lagi agak jenuh dan berhenti sebentar, ketika kamu mulai lagi, ada tuntunannya. Bosen dan jenuh ketika nulis novel panjang sih menurut saya normal. TInggal istirahat aja dulu, ngerjain hal lain dulu sampai pikiran fresh lagi, terus balik nulis lagi. Tapi kalau jenuhnya sampai kamu ogah sama naskahmu sendiri, berarti ada yang salah dari awalnya. Kalau sudah begitu, biasa saya bongkar lagi dan ulang dari awal.

      3) Hmmm… hal mendasar bagi penulis itu menurut saya bisa beda-beda bagi tiap orangnya. Kalau buat saya sih, yang paling mendasar adalah ‘alasan’ kenapa saya memilih menulis itu, itu yang nantinya akan menentukan bagaimana nasib tulisan itu ke depannya.

  12. Hallow kak fei..
    Lgsg aja y kak..
    bku prtma smpe ktiga, dr duet ke trio hgga solo.. smuanya berbau Asia Timur, khususnya Korsel..
    nah prtanyaannya..
    Tertarik g kak bkin novel yg settingnya di lain negara2 tsb?? Mgkn Brazil, Denmark atw Portugal gt?? *kok mlah kyk mw Piala Dunia ya?hehe*
    Klo trtarik, pginnya ngmbil setting negara mn??trs alasannya apa mlih negara tsb??

    Q mw novel Bi! dong.. Pnasaran krn beberapa resensi yg aku bca ttg novel ini smuanya blg bagus..

    thanks ka fei jg ka dini
    wish me luck.. *berdoa*

    Ryuuta >> @hajimemimi

    • Halo, Ryuuta!

      Tertarik kok nulis dengan setting lain. So far yang kepikiran baru Finland (walau belum kepikiran ceritanya). Alasannya karena saya punya teman orang Finland, dan konon Santa Claus juga tinggal di sana. Oh, satu lagi. Saya suka denger dialek bahasa mereka.

  13. Halo kak fei !

    1. Kadang aku pas udah di pertengahan halaman , merasa bosen. Menurut kak fei , gimana cara ngatasinya ?
    2. Cara riset yang membuat novel ini kerasa banget , gimana ?
    3. Kalau kakak , ngirim naskah novel ke penerbit. Pertimbangannya kakak apa aja u/ memilih penerbit ? Kan skrg ada penerbit yg php penulis
    4. Penulis favoritnya kakak siapa ?
    5. Apa tipsnya supaya novel kita gak ngebosenin ?
    6. Cara membuat tokoh itu menarik gimana ?

    Aku mau novel BI ! Soalnya blm pernah baca novel fantasi sih
    makasih buat kak dini & fei

    Lita @Litaa_FAN

    • Halo Lita!

      1. Istirahat dulu. Kalau capek dan jenuhnya sudah hilang, baru dibaca lagi tulisannya. dan dilanjutin.

      2. Yang kerasa banget itu bagian mananya dulu dari novel apa, nih?

      3. Pertimbangannya: cari penerbit yang punya reputasi oke dan buku-buku yang diterbitinnya kira-kira tipe dan genrenya sama dengan tulisan kita. Gimana cara nilainya? Lihat aja buku-buku terbitan mereka.

      4. JK Rowling

      5. Mesti dibikin dulu nggak ngebosenin buat kita sendiri. You should know what makes you bored and what you think is fun, then just write what you think is fun and interesting to read.

      6. Bikin tokohnya punya kelebihan dan kekurangan

  14. Pertanyaan lanjutan ..

    7. Apa suka duka jadi penulis ?
    8. Cara kakak buat mahami bahasa mandarin gimana ? terutama untuk tulisannya
    9. kalau tanya lewat email kakak , boleh gak ? Kalau boleh minta email nya ..

    • 7. Bisa curcol dalam tulisan biar nggak jadi gila, tapi bisa juga hampir gila kalau lagi stres sama tulisan sendiri.

      8. Ini… agak susah dijelasin lewat tulisan. Huruf mandarin itu unik, karena asalnya dari gambar. Selain itu dia juga sistematis. Kamu bisa tebak-tebak cara baca dan artinya dari bentuknya. ‘radikal’nya itu biasa nunjukin kata itu berhubungan dengan apa, dan ‘derivative’nya, biasa nunjukin cara bacanya. Semakin banyak baca, lama-lama bakal inget beberapa bentuk dan jadi semakin paham sendiri kok.

      9. Silakan kirim email ke feikassy(at)gmail(dot)com.

  15. Hai Fei ^^ obrolan kalian diatas seru banget, dan juga mengispirasi🙂 jadinya pengen berkarya juga nih hihihi
    Ada beberapa pertanyaan yang pengen aku sampaikan, agar berbagai pikiran mengganjal ini segera terbasmi hehehe😀

    1. Sebelum jadi penulis, kamu kan sempet icip-icip dunia scripwriting tuh. Ada nggak sih perbedaan signifikan antara menulis skrip dengan menulis novel? Tolong jelaskan🙂

    2. Pengembangan karakter itu seperti apa sih menurut kamu, Fei ?? Terus penerapannya gimana? Aku liat disini perkembangan karakter tokoh Bi! yang paling terlihat🙂

    Udah cukup segitu aja pertanyaan yang paling mengganjal otakku hahaha
    anyway, aku belum punya novel personal literature kamu Fei alias si Not Alone in Otherland. Sekalian pengen tahu gimana pengalaman trio ini dikala merantau di negeri orang. Mungkin bisa jadi knowledge disaat aku pergi ke 3 negara tsb hohoho😀

    Mega R. @cloudixie

    • Hai, Mega!

      1. Perbedaan paling signifikan, kalau dari tulisannya sendiri sudah jelas benda bentuk dan formatnya. Di novel tulisan itu nggak harus bisa divisualisasikan (contohnya waktu mengeksplor tentang pikiran dan perasan si tokoh, inner conflict yang terjadi dalam dirinya), tapi di skrip, tiap scene harus bisa divisualisasikan (ada adegan yang jelas si tokoh sedang apa, atau benda apa yang harus disorot kamera, untuk menggambarkan suasana yang diinginkan). Jadi cara berpikirnya ketika menulis tentu sudah sedikit beda.

      Selain itu, soal kerjasamanya dengan orang lain pun beda. Dalam skrip, ada lebih banyak orang yang campur tangan dalam tulisan kita (sutradara, produser, editor), juga banyak aspek yang perlu dipikirin (misalnya budget, waktu syuting, adegan yang nggak boleh ditampilkan, dll — apalagi kalau nulis skrip buat televisi, batasannya jauh lebih banyak). Kalau nulis novel, lebih sedikit orang yang campur tangan, juga lebih bebas berimajinasi.

      2. Pengembangan karakter itu adalah akibat dari sebuah sebab; biasanya yang jadi sebab itu adalah sebuah konflik atau keadaan yang tiba-tiba berubah.

      Penerapannya tentu dengan cara membuat si tokoh dulu. Tokoh ini mesti coba dipahami si penulis dengan baik, luar dalam. Si penulis harus ngerti gimana cara berpikirnya dan tindakan apa yang akan dilakukan si tokoh ketika dia dihadapkan dengan sebuah ‘benturan’.

      Tempatkan tokoh pada sebuah keadaan di awal cerita. Lalu kasih dia konflik, atau tempatkan dia dalam satu keadaan yang beda dari biasanya, keluarkan dia dari zona nyamannya. Kalau menghadapi keadaan yang beda dari biasanya, si tokoh ini pasti bereaksi, dong. Dia bakal ambil tindakan atau buat sebuah keputusan tertentu. Nantinya, tindakan atau keputusan apa yang diambil si tokoh itu pasti akan menyebabkan hal lain juga, dan lagi-lagi itu akan memengaruhi si tokoh untuk mengambil tindakan atau keputusan selanjutnya. Rangkaian dari sebab-akibat semacam ini yang perlahan-lahan membuat karakter berkembang. Kira-kira begitu…

  16. Semua pertanyaan udah diborong,jadi bingung mau nanya apa -_- nanya ini aja deh: kaka puas gak sih sm keberhasilan kk yg skrg? Trus kalo blm puas, kaka prnh punya keinginan buat jadi orang lain gak? Siapa dan apa alesannya?

    Aku mau novel Bi! Soalnya diliat dr tanya jawab yg dilakukan sm ka dini jadi bikin penasaran sebenernya dinovel itu jalan ceritanya ky gimana dan td kaka bilang yuk diborong novelnya,pastikan ada cerita yg menarik sampe kk bilang begitu. Makanya aku pengen punya novel itu🙂

    Nama: Linda Novianty
    Twitter: @NoviantyLinda

    • Halo, Linda!

      Untuk sekarang, tentu saja belum puas. Masih jauh dari puas. Tapi bukan berarti nggak bersyukur loh ya, dan karena itu saya nggak kepikiran juga buat jadi orang lain. Saya cukup percaya diri kok kalau saya bisa jadi lebih baik dari saya yang sekarang, jadi ya saya mau jadi saya aja, yang setiap saat terus berusaha belajar untuk jadi saya yang lebih baik.

  17. Hai, Kak Fei! Aku mau beri dua pertanyaan aja deh..🙂

    Kak, untuk seorang penulis, harus nggak sih pakai nama samaran? Apa Kakak pakai nama samaran juga?
    Dalam proses penulisan itu kan butuh perjuangan ya kak, gimana kalau saat kita udah usaha maksimal untuk menulis, tiba-tiba media penulisan kita malah bermasalah. Misalnya tulisannya terhapus, atau media tulisnya rusak dalam waktu yang lama. Perasaan kita pasti kesal banget kan.. kalau kakak pernah ngalamin itu, gimana sih cara penyelesaiannya? cara biar nggak stres sama kejadian itu bagaimana?

    Aku tertarik sama novel Bi! Waktu pertama kali melihat novel itu di beberapa sumber dan membaca banyak resensinya, aku jadi penasaran banget sama ceritanya. Banyak yang bilang novel ini juga lucu dan unik karna tokoh lawab jenisnya adalah Dokkaebi, makhluk yang banyak terdapat di cerita dongeng Korea. Ditambah konflik tentang balas dendam si Dokkaebi ini dari sinopsisnya yang bikin tambah geregetan. Aku penasaran dengan ceritanya! Sayang, aku sudah mencari novel ini di beberapa toko buku Jakarta, tapi katanya buku itu sudah jarang ada. Bahkan aku sempat hampir mencoret judul bukunya di daftar target buku yang ingin kubaca karna susah sekali mencarinya. Tapi ternyata ada “Ask & Pick : Interaction With Fei !” ini, dan kebetulan bisa tanya-tanya dan interaksi sama kak Fei-nya. Jadi bisa sekalian dapat ‘ilmu’ deh😀

    Thanks Kak Dini & Kak Fei…

    Fannyda Allya @fannydaa

    • Hai, Fannyda!

      Sebutannya itu bukan nama samaran, tapi nama pena, dan nggak semua harus pakai nama pena, kok. Pilihan masing-masing aja. Kalau untuk kasus saya, iya, Fei itu bukan nama saya yang tercantum di KTP.

      Pernah, karena itu selalu sedia back-up. Saya biasanya setelah nulis berapa lama suka kirim ke email sendiri, jadi kalau komputernya bermasalah masih ada back-up di email. Tapi kalau worst-case nya sampai nggak bisa diselamatkan lagi ya apa boleh buat, tulis ulang. Good stories will not be beaten just like that. Saya percaya, cerita yang bagus itu idenya nggak akan pernah hilang dan selalu menghantui kita. Selama ide itu masih ada, pasti bisa ditulis ulang, walau mungkin nggak persis sama dengan yang pernah ditulis. Anggep aja dikasih semacam kesempatan kedua untuk bikin tulisannya jadi lebih bagus dari yang sudah hilang itu.

  18. *udah cek pertanyaan-pertanyaan yang lain, semoga pertanyaan saya ini belum ditanyakan*
    Halo kak Fei, saya cuma mau tanya satu pertanyaan aja (kasian nanti kak Fei kelabakan jawabnya kalo nanya banyak-banyak xD):

    Ada nggak lagu/film/drama/serial tv yang menginspirasi satu tokoh atau suatu adegan tertentu di salah satu(atau lebih) buku(-buku) karya kak Fei?

    eh, saya nanya satu lagi deh, boleh kan kak?😉 *maafkan kelabilan saya xD*

    ada nggak lagu soundtrack menulis yang wajib didengar ketika kak Fei sedang melakukan ritual menulis?

    terima kasih sebelumnya ya kak :))

    untuk hadiah, (kalo menang) saya mau Bi! aja sebagai hadiahnya, mau nyoba baca buku fantasi karya penulis asli Indonesia.

    Ariansyah (@ariansyahABO)

    • Halo Ariansyah!

      Ada banget. Pastinya tulisan-tulisan saya kepengaruh dari apa yang saya tonton / baca / dengar.

      Kalau soundtrack wajib nggak ada. Saya suka random shuffle music player saya. Tapi biasanya kalau pas lagi nulis dan berasa denger lagu yang kira-kira cocok banget sama satu tokoh atau adegan, biasanya suka saya puter berulang-ulang sampai bosen, atau sampai bagian yang cocok sama lagu itu selesai ditulis.

  19. Hai Fei! Aku mau tanya, semoga belum ada yang nanya ya abisan bingung mau tanya apa udah di borong semua .__.
    oke langsung aja ya, menurut Kak fei lebih seru dan asyik mana antara menulis Fiksi atau non fiksi? Lebih Sulitan yang mana?
    Lebih pilih nulis Novel atau skenario?
    suatu saat nanti, kepikiran enggak sih buat bikin novel yang temanya yang ada kaitannya tentang sistem informasi gitu? ._.
    kak fei tertarik bikin novel dengan cerita yang bagaimana lagi setelah Bi! kasih bocoran dong :p hihi
    Genre novel yang kak fei impikan untuk di buat yang seperti bagaimana? misal horor gitu xD
    oh iya terakhir nih, tempat favorite ka fei kalau buat nulis dimana? dan waktu menulisnya bagaimana?
    oke, segitu aja ya kak fei~~
    Kalo menang aku mau Not Alone In Others Land ya ^ ^
    soalnya aku lagi tertarik sama cerita-cerita ala-ala travelling gitu hihi lagi pengen sok-sok-an jadi bolang akunya xD

    Terima Kasih
    Salam
    @Scarenia

    • Hai, Mita!

      1) Karena sampai sekarang non-fiksi yang saya tulis baru yang berdasarkan pengalaman saya aja (dan itu pengalaman yang menyenangkan buat saya), jadi semuanya asyik, baik fiksi maupun non-fiksi. Tapi jelas lebih sulit nulis yang fiksi.

      2) Mau nulis dua-duanya, novel dan skenario.

      3) Belum kepikiran nulis yang ada hubungannya dengan sistem informasi, tapi nggak menutup kemungkinan (selama saya masih inget apa yang saya pelajari waktu kuliah)

      4) Bocoran: beberapa waktu lalu baru nyelesaiin draf untuk proyek series bareng beberapa temen, tokoh utamanya cowok. Temanya… masih belum bisa dibocorin.

      5) I’d like to try various genre, tapi kalau dalam waktu dekat sih masih bakal eksplor sekitaran genre yang saya cukup tertarik dan familiar: romance-fantasy-comedy-thriller-drama

      6) Di meja kecil di pojok kamar saya, atau di depan TV sambil nonton. Nggak ada waktu khusus buat saya nulis, semaunya aja.

  20. Untuk novel (not) Alone in Otherland kan nonfiksi. Berarti kak Fei beneran pergi ke China kan? Di sinopsis yang aku baca, kak Fei dan teman2 menjadi siswa bahasa disana? Maksudnya gimana ya? Sekolah gitu? Nah kak Fei ke China itu sengaja untuk nulis novel atau memang sebelumnya udah kesana?

    Duh maaf pertanyaannya banyak. Aku mau novel (not) Alone in Otherland kalo kak Fei berkenan ngasih hehehe😀
    @zoellula

    • Hai Zulfa!

      Iya, itu pengalaman saya belajar bahasa di China, tepatnya di kota Shanghai. Jadi di China banyak universitas yang menyediakan juga kelas bahasa mandarin untuk orang-orang asing yang ingin belajar di sana. Saya sudah ke sana sebelumnya untuk belajar bahasa, bukan sengaja untuk proyek ini.

  21. Hai Kak Fei! aku udah baca novel Bi!-nya,, keren bnget! sukses terus ya kak ^^

    aku ada beberapa pertanyaan ni..
    1. novel Bi! itu kan settingnya di Korea,nah.. ada kesulitan ngga sewaktu kakak nyari informasi yang berkaitan sama Korea? kalau ada, cara kakak mengatasi kesulitan itu gimana?
    2. kakak dapat ide buat novel tentang dokkaebi itu dari mana sih? penasaran ni ^^
    3. di novel nonfiksi kakak, Kak Fei belajar bahasa di Shanghai. Nah, ada keinginan buat novel dengan latar Shanghai enggak?
    4. Apa Kak Fei pernah punya pengalaman yang enggak mengenakkan selama menjalani profesi menulis? Kalau ada cerita sedikit dong.
    5. di antara novel yang sudah kakak buat, ada ngga yang sangat berkesan buat kakak? kenapa?
    6. kakak ada keinginan nggak buat coba nulis dengan genre yang beda? seperti thriller mungkin? ^^
    Dan terakhir,, ada waktu-waktu tertentu nggak buat kakak menulis sebuah cerita? kenapa?

    Itu pertanyaanku buat Kak Fei,maaf ya kalau banyak^^ Kalau berkenan, aku mau (not) Alone in Other Land ya. Jgn lupa TTD-nya. Hehe.
    Terima kasih.🙂

    @ResitaPutri_07

    • Hai, Resita!

      Terima kasih ya!

      Oke, jawab pertanyaan

      1. Kebetulan nggak terlalu sulit cari informasi soal Korea yang saya butuhkan untuk novel Bi! ini. Kebanyakan hasil googling

      2. Karena sudah banyak cerita tentang gumiho, bikin aja yang dokkaebi, lebih jarang. Hehe.

      3. Ada. Sudah ada draf-nya, tapi masih perlu dirombak lagi.

      4. Buat sebagian besar orang, ‘penulis’ itu bukan profesi, Jadi ya kalau ditanya orang kerjaannya apa dan dijawab penulis, orangnya suka cengo gitu, dan kadang dari cara bicaranya kelihatan ada yang ragu atau cenderung mengasihani karena saya nggak punya ‘real-job’. Tapi cuek ajalah. It’s my life, not theirs.

      5. Bi! Karena lebih personal aja, kan baru satu novel ini yang isinya full saya tulis sendiri, nggak berkolaborasi dengan teman lain.

      6. Ada banget. Saya pengen nyoba nulis macam-macam genre. Thriller saya juga sudah pernah nulis loh, tapi skenario sih, bukan novel.

      7. Nggak ada waktu khusus.

  22. O, iya.. alasanku pilih buku (not) Alone in Other Land itu, karena penasaran sama cerita perjalanannya Kak Fei dan penulis lainnya. juga mau lebih tahu tentang cara belajar di Korea, Tokyo juga Shanghai.^^

  23. Wow, saya jadi makin penasaran sama Bi! >< Pertanyaan saya utk kak Fei: waktu bikin Bi! ada kesulitan gak? Dibagian mananya? Apa pernah merasa putus asa ditengah2 pembuatan Bi! ini?

    Saya pgn novel Bi! berttd kak Fei ya!😄 pnsrn bgt sm ceritanya. T__T *moga beruntung ε(˘ʃƪ˘)з *

    Terimakasih banyak! ^^~
    @deetokki9

  24. Hai Kak Fei😀

    Aku tanya nih, mungkin terdapat beberapa pertanyaan.

    1) Kak Fei, bagaimana sih cara biar suatu alur cerita tidak ngalor ngidul (tidak nyambung, nyambung kemana tau)?
    2) Kakak kan sudah membuat beberapa novel nih, dan kebanyakkan duet bersama author lain. Nah, menurut kakak lebih enak duet bersama orang lain atau menulis karya atas nama sendiri (maksudnya single author)?
    3) Dari pengalaman Kak Fei menulis, kak Fei paling suka novel apa dari karya yang kakak tulis itu?
    4) Kalau boleh tau penulis kesukaan kakak siapa?
    5) Dan terakhir, kakak punya tips gak buat penulis baru. Supaya konflik sebuah cerita tidak klise dan endingnya tidak mudah tertebak?

    Maaf ya Kak sebelumnya, pertanyaanku bisa dibilang banyak. Aku ingin sekali buku Bi! Karena dari sinopsis aja udah menarik, apalagi di tambah tanda tangan Kak Fei. Makin keren dan kece nih^^. Hwaiting buatku hehe. Hwaiting juga buat kak Fei!! Akan aku tunggu karya selanjutnya yang unik seperti Bi! ya kak🙂

    Terima Kasih

    Chiara Tania
    @chiarataniaa

    • Hai, Chiara!

      1) Bikin plot!

      2) Jawabannya sudah ada di interview sama Kak Dini di atas

      3) So far Bi!

      4) JK Rowling

      5) Bikin daftar apa aja yang menurut kamu klise dan mudah ditebak. Nah, kalau sudah, pikirin apa yang nggak ada di daftar itu, itu jawabannya. But actually, menurut saya nggak ada yang salah dengan ‘klise’ atau ‘mudan ditebak’, semua balik lagi ke cara kamu nulisnya, cara kamu menceritakan sesuatu yang sudah ‘biasa’ dengan cara yang ‘luar biasa’.

  25. Hallo kak fei , inget sama saya? dulu pernah titip salam sama Bi! , udah disampaiin dong😀
    Yang lain pertanyaan pada banyak gitu , saya malah bingung gini mau nanya apa ._.v
    Baiklah-baiklah, saya mau tanya satu pertanyaan aja deh buat kak fei :

    1 and only : Menurut kakak, apa yang bikin naskah ditolak penerbit ? Alur yang melebar kemana-mana itu yg kyk gimana misalnya kak ?

    Berhubung sudah punya Bi! dan sumpah! itu saya suka banget sama Bi! pengen ketemu tapi takut T.T
    Jadi, saya pengen (not) Alone in otherland yang ada tanda tangannya. Jarang-jarang juga baca non fiksi, jadi sekalian pengen coba-coba nulis non fiksi (kalau ada ide).

    Oya, salam cubit buat Bi kakak >< !

    Dayu Ledys
    @dayuledys

    • Hai, Dayu!

      Yea, i remember ur twitter account. Sudah disampein, tapi biasalah Bi suka cuek, entah didengerin atau enggak saya ngomong.

      1) Ada berbagai alasan kenapa naskah ditolak penerbit. Bisa karena genrenya nggak sesuai sama yang diterbitin penerbit itu, karena gaya bahasa yang masih kurang smooth, masalah alur, dan lain-lain. Banyak lah.

      2) Alur yang melebar ke mana-mana itu ya yang melenceng jauh dari konflik utamanya. Contohnya cerita tentang perjuangan seorang cowok mau nembak cewek. Si cowok pas mau beli bunga buat si cewek, ternyata malah ngeliat tukang bunganya kecelakaan. Lalu si cowok nolongin si tukang bunga, bawa dia ke rumah sakit, dan ngurusin biaya pengobatannya. padahal bagian ini nggak ada hubungan sama cerita tentang kisah cinta cowok dan cewek tadi. Itu namanya alurnya jadi melebar ke mana-mana.

      • ooowww, baru bisa nilai sekarang , sepertinya di naskah aku ada yg melebar nih kak X_X , harus di TEBAS part yang nggak penting inii …

        Ternyata ngirim naskahpun mesti pinter-pinter juga milih penerbit nihh …

        Sippp, makasi ya kakak atas jawabannya😀
        WML xD

  26. Hai Fei!
    Aku pengen seperti kamu, berkarya dan optimis menjalankannya sampe bisa spt ini.
    Aku juga pengen kaya kamu, tapi tiap ngetik file mentahnya itu kadang2 terbengkalai sama waktulah, inilah itulah. Jadinya pas mau lanjutin ngetik ceritanya, idenya ga muncul kembali (?)
    Apa sih yang bisa bikin kamu untuk bisa ngebagi rata waktu untuk berkarya dan melakukan hal penting agar tidak terbengkalai dan yang mungkin bisa menambah ide untuk penulisan?

    Aku pengen nih novelnya Fei yang Bi!
    Sepertinya menginspiratif+bikin penasaran😀
    @MaknaeOfBTS

    • Hai, Hesa!

      Actually, I still can’t. Saya masih kadang keteteran perihal ngatur waktu ini. Hidup saya masih nggak beraturan tanpa jadwal, but I try to prioritize what I need to do. Yang deadline-nya mepet atau emang penting banget, dikerjain duluan, yang masih bisa santai dikerjain belakangan.

  27. Hai Kak Fei! Hai juga Kak Dini!🙂
    Senang rasanya punya kesempatan untuk tanya-tanya ke author favoritku satu ini. Yep, i’ve read Bi! and do really love it! Jadi sebelumnya mau kasih 4 acungan jempol dulu buat novel itu. Great Job!😀

    Dan aku mau tanya-tanya dikit, Kak. Here is the questions 😀

    1. Pembaca tentunya punya peranan penting buat penulis, apa arti pembaca buat Kak Fei?
    2. Once again. I do really love Bi! kak! Jadi apakah ada rencana membuat sequel Bi! ? Kalau ada kapan? Secepatnya ya Kak~
    3. Kak aku juga penggemar Harry Potter nih! Hehe, selain HP, novel fantasy apalagi yang kakak suka?
    4. Kalau suatu hari kakak diberi kesempatan ngebuat novel berlatar luar negeri dan riset langsung disana, negara mana yang pengen kakak datangi? Dan kenapa?
    5. Aku dulu sempat baca kalau novel Bi! itu terinspirasi dari sebuah drama korea yang kakak lihat. Kalau boleh tahu judul dramanya apa kak? Soalnya aku suka nonton drama, barangkali bisa jadi referensi. Hihihi..😀
    6. Kak, game online yang biasa Bi mainin itu yang judulnya apa? Hehe, penasaran, soalnya aku juga suka game online lo! Siapa tahu bisa main bareng Bi😀
    7. The last nih kak, Ada gak sih harapan atau target ke depan dalam karir menulis kakak? Kalau ada, kasih tahu dong!

    Well, that’s all Kak. Oh, ya ada lagi! Nggak tahu ini termasuk pertanyaan atau bukan, FTV yang tayang kemarin yang Kak Fei retweet di twitter dan genrenya agak serem itu yang nulis Kakak ya? Wih kerenn… Siapa tahu suatu hari salah satu novel Kak Fei bisa difilmkan. Aminn…
    Salam buat Bi! , MinJeong dan kawan-kawan ya kak! Sampein juga ke MinJeong, kapan-kapan aku pengen nyobain bungeo-ppang nya dia. kekeke😀

    Aku pengen banget punya novel Not Alone In Other Land. Pengen tahu perjuangan anak-anak muda itu waktu menempuh pendidikan di negeri orang. Siapa tahu bisa buat motivasi, karena cita-citaku suatu hari juga ingin belajar di negeri orang. Dan… yang bikin mupeng banget itu tanda tangannya! Aku suka karya Kak Fei, plus tanda tangan, itu akan jadi kebahagiaan tersendiri buat aku!🙂 Ditunggu jawabannya ya, dan semoga aku bisa dapat bukunya! Amin… (Kalau gak dapet ngadu ke Bi :D) Well, terima kasih banyak Kak Dini buat kesempatannya.🙂

    Rizma
    @NoonaHyunRa

    • Hai, Rizma!

      Thank you sudah baca Bi!

      1. Pembaca itu orang yang saya dongengin secara nggak langsung, orang yang saya curcolin secara nggak langsung, orang yang secara nggak langsung juga mengasah kemampuan saya menulis dengan berbagai kritik dan saran yang mereka kasih terhadap karya saya. So… readers are some kind of indirect friends? Saya nggak tahu sebutan apa yang tepat.

      2. Belum kepikiran soal sekuel. Hehe…

      3. Belakangan agak tertarik Percy Jackson.

      4. Kalau pergi ke luar negeri buat risetnya dibayarin, saya mau keliling duniaa. Hahaha… Salah-satu cita-cita saya pengen keliling dunia.

      5. Lupa. Sepertinya waktu itu lagi jaman-jamannya saya Rooftop Prince, Queen In Hyun’s Man, Faith, dan beberapa drama lain yang nyangkut-nyangkut soal time-travel, fantasy, reinkarnasi

      6. Walah, nggak tahu saya saking sering gonta-ganti. Yang terakhir lihat dia main Ragnarok 2 kayaknya…

      7. Pengen nulis skrip film layar lebar juga selain novel dan skrip ftv

      Iya. Hehe. Nonton kah?
      Amin…

    • Hai, Dee!

      Kalau dari novel-novel yang sudah terbit sampai sekarang, saya pilih jadi Minnie Chen di Bubble Love aja. Dibanding yang lain sepertinya hidupnya dia yang paling ‘smooth’, ga terlalu banyak masalah, and she’s a very bright and positive girl. Hehe…

  28. Maaf! Lupa pilihan bukunya.Aku pilih Bi!
    Alasannya, yang pertama memang sejak lama aku penasaran sama buku ini. Trus beberapa waktu lalu sempat beli online, tapi buku second (biasa, kantong tipis) sayangnya, buku g pernah sampai. Katanya mau di kirim lagi, tapi belum sampai-sampai juga (maaf curhat)😀 Jadi, biar aku nggak penasaran lagi, sekaligus ngobatin kekecewaanku, aku pilih buku ini saja.

    Twitter : @DeeLaluna

  29. Hallo kak Fei, salam kenal…
    Dalam menulis, khususnya fantasi, ada nggak batasan atau hal yg diharamkan untuk dijadikan sebagai bagian dari cerita yg sedang ditulis (misalnya adegan ranjang)? Jika ada kenapa?
    Dan pernah ada niat nggak untuk menulis pengalaman hidup sendiri secara utuh (jadi seperti biografi dalam bentuk novel😀 )?
    Terimakasih kesempatan bertanyanya. Saya mau banget novel Bi! Karna sinopsisnya bikin penasaran.
    Rati @ratipramita

    • Halo, Rati!

      Kalau yang dimaksud diharamkan itu sesuatu seperti adegan ranjang, sepertinya itu lebih berkaitan ke masalah umur target pembacanya. Sejauh ini saya nggak pernah mencoba membatasi cerita saya, tapi kalau ada hal-hal yang berkaitan dengan masalah moral yang nggak saya tulis, itu hanya karena kesadaran sendiri aja.

      Sejauh ini belum ada. Nulis diary aja enggak, apalagi bikin semacam biografi.
      Penggalan pengalaman hidup saya yang pernah saya tulis secara gamblang, ya yang ada di buku (Not) Alone in Otherland itu doang, dan belum berniat menulis yang semacam itu lagi.

  30. Menarik banget nih hasil interview kak din dengan fei. Bagaimana cara Fei memaintain mood nulis? ada aturan tertentu sehari harus sekian halaman gitu? atau gimana hehe.

    Aku pengen novel Bi ya + ttd nya cap jmpol juga oke hehehe karena ini beneran novel Fei yg perdana tanpa kolaborasi.

    @aikawd (ika)

    • Hai, Ika!

      Kalau saya, cara menjaga mood-nya dengan setiap kali menulis, saya coba berakting (walau cuma dalam pikiran) sebagai tokoh-tokoh saya. Ketika saya sudah bisa meresapi karakter mereka, biasanya lebih gampang larut ke dalam cerita. Kalau sudah begitu, mood menulis akan mengalir dengan sendirinya.

      Nggak. Saya nggak ada aturan tertentu sehari harus sekian halaman. Dulu pernah nyoba, tapi cuma beberapa hari menyerah. Saya nggak suka hasil tulisan saya ketika memaksakan jumlah hitungan seperti itu, karena saya jadi lebih fokus ngeliatin jumlah halamannya daripada mencoba larut dalam cerita itu sendiri

  31. Halo Kk… Menarik sekali bincang-bincangnya, ternyata Ghost Writer itu ADA ya.. Kok kk mau ya? Padahal kan, karya kakak cuma yang dapat nama orang lain, gak Jleb gt rasanya? Apa karena dapat pengalaman yang sesduatu dari situ?🙂
    Trus soal novel Bi! Judulnya unik, kalau boleh tau Bi! itu punya arti apa ya?
    Pilihan novel: Love Storm (suka Genre cinta) Thank u… ^^,

    • Halo Chi!

      Ada banget. Banyak kok ghost writer, emang nggak terekspos aja. Kalau terekspos, namanya udah bukan ghost writer lagi, dong. Hehe.

      Pertama, ada hal yang perlu saya luruskan dulu di sini. Jadi ghostwriter itu bukan berarti karya kita dicolong terus diakuin jadi karya orang lain lho. Jadi ghostwriter, berarti orang itu sudah setuju, tahu dan sadar semua konsekuensinya, termasuk namanya tidak akan tercantum. BIasanya orang yang menggunakan jasa ghostwriter ini, orang-orang yang terlalu sibuk jadi tidak bisa menulis sendiri, atau orang yang punya ide besar tapi tidak bisa bertutur dengan baik.

      Kalau kasusnya saya, waktu saya jadi ghost writer itu, lebih tepat disebut asisten penulis sebenernya, yang saya tulis bukan sepenuhnya karya saya, kok. Jadi waktu itu sistem kerjanya bos saya yang kasih ide cerita untuk naskah FTV (kadang sampai plot utuh), lalu saya yang mengembangkan dan menulis detail deksripsi action, dialog, dll. Ibarat kalau bikin baju, bos saya itu designernya, saya tukang jahitnya. Gitu. Jadi saya ya fine-fine aja kalau nama dia yang dicantumin karena afterall, dia yang ‘headwriter’-nya.

      Dan ya, saya juga belajar dari dia. Dulu kan saya nggak tahu apa-apa soal nulis skenario, apalagi cara masukin tulisan ke PH atau TV. Paling enggak, dari pengalaman itu saya jadi tahu gimana caranya menulis skenario, dan dari situ akhirnya saya jatuh cinta sama dunia penulisan skenario dan lanjut sampai sekarang.

  32. Hai Ka Fei!!!
    Aku ikutan kuisnya ya😀

    Ini dia pertanyaanku ^_^
    1. Kakak bilang tertarik dengan novel fantasi. Memang untuk kaka sendiri novel fantasi itu memiki arti apa? Bagi kaka, perbedaan menulis novel fantasi dengan novel yg berbau romance apa? Dan Menurut kaka lebih sulit memakai genre yg mana?
    2. Pengalaman apa yg tak bisa terlupakan saat menulis novel? Pengalamannya sedih, senang atau yg lainnya.
    3. Cara untuk memperhalus bahasa dalam novel bagaimana ya? Cara yg tepat untuk mencari kata yg halus agar bisa menarik dan mudah di pahami gimana ya kak?
    4. Bagaimana cara kaka mencocokkan serta menyeimbangkan karakter utama dengan lawan tokoh yg lain?

    Oh iya, aku mau novel Bi!
    Ya ampun!! aku ke pengen banget novel itu. Novel fantasi yg satu ini, seketika udh membiusku pas aku baca review-nya di blog orang…heheha. Soalnya aku lagi suka banget ama novel fantasi. Apalagi kalo menang dapet ttd nya jga. Wah~ kesenanganku jdi dobel deh🙂
    Waktu itu pernah ikutan kuis yg hadiahnya Bi!, tapi belum menang. *curcol*

    From: Nurdiani Soffa >> @SoffaKim9

    • Hai, Nurdiani!

      1. Buat saya novel fantasi itu semacam sebuah kebebasan. Kebebasan berpikir dan berkretifitas seliar-liarnya, nggak terbatas dengan hal-hal yang hanya bisa dicerna nalar secara umum. Sebenernya novel fantasy pun bisa dikolaborasikan dengan romance. Banyak tulisan dengan genre yang dicampur-campur, bahkan mungkin lebih sedikit tulisan yang hanya mengusung satu genre tertentu tanpa dicampur genre lain, jadi nggak bisa dipisahkan dan dibandingkan gitu aja menurut saya.

      2. Sakit punggung karena kelamaan duduk. Tiap kali pasti terulang, jadi nggak bakal pernah lupa =p

      3. Kalau saya biasanya dengan baca novel-novel yang menurut saya gaya bahasanya bagus, dari situ saya belajar dan saya jadikan referensi.

      4. Maksudnya gimana, ya?

  33. Annyeong Hasaeyo!!
    Thanks a lot buat kak Dini who give us chance utk tnya2 sma author Fei♥
    Stlah bca interview diatas smgatku buat nulis ngibar lagi.. hehe pas bgt lgi 17’an..
    Oya kak kita sma loh,aq jga sring lost- vocab dan nulis cttan kata2 dri novel lain atau quotes lagu2.. aq cukup terkejut liat statement kk tdi.. aq kirain cma aq doank ya gitu ^^. Dan pertanyaanku adalah:
    1. Kakak buat novel brlatar blkang korea knapa? Apa krna k-popers
    , kpop lgi booming atau krna terinspirasi dri ssuatu brbau Korea?
    2.Kakak tw ga haru100day writing romance competition ? Aq tuh udh buat hmpir stgh naskah buat ikut tuh contes,cma malas ngelanjutin krna ga pede sma tulisan sndiri. Malah aq ngelarang tmen aku bca,pdhal klo buat novel smua org hruz bca.. kkak pernah ngerasain hal yg sma gak? Ga pede sma tulisan sndri.. kasih aq kata-kata motivasi biar smgat donk ka.. aq pasti bkal ingat selamanya♥
    3.Uda brpa karya kk yg ditolak? Dan gmna prasaan kk wktu itu? Apa kryanya diperbaiki lgi ato diganti?
    4.Dinovel kk yg berlatar korea ada gak tmpat yg mrupakan fantasi. Alias ga ada di korea , tempat buatan kk sendiri.
    5.Kakak suka Donghae kan?? Prnah gak nonton Super Show dan ktmu Donghae.?? Hehe😛

    Aq mau buku (not) alone in another land. Krna dri pertama x liat sinopsisnya di tabloid aq lgsung ngebett bgt pengen bca.. apalgi itu pengalaman lgsung author2 daebak di Haru..
    ‘Hnya dengan kta halo bsa mmulai sbuah prcakapan, 3 org di negara yg brbeda, yg blum fasih brbhasa d negara tsbut’..
    Dlm hti aq brtekat ‘hrus punya tuh bku’ tpi blum smpat beli dan aq brhrap bsa dapetin bku itu pluss ttd kakak..
    Gmna sih rsanya ke negara lain tpi ga fasih bhsa dsna? Suerrr aq kepo bgt !! Hehe.. krna aq jga pengen nerusin skolah maupun kerja di korea.. smoga kta bsa ktmu idola ya kak.. kakak ma Donghae , aq ma Yesung.. hehe

    Nama : Irna Ametha Ginting
    Twitter : @irnaametha

    Gomawo buat kesempatannya..
    Aq excited bgt wktu tau event ini..
    Pdhal udh detik2 trakhir..
    Hehe ♥

    • Annyeonghaseyo!

      1. Alasannya karena ketiga hal yang kamu sebutin, ditambah lagi saya punya beberapa teman baik orang Korea

      2. Yup, tahu. Pernah banget. Sampai sekarang juga kadang masih nggak pede sama tulisan sendiri, tapi kalau udah tahu yang bikin jelek di mana, ya coba diperbaiki biar jadi lebih bagus dan jadi lebih pede sama tulisan sendiri.
      Walah, saya bukan motivator. Kamu minta kata-kata motivasi ke Om Mario Teguh aja.

      3. Banyak, nggak ngitung. Awalnya ngerasa marah, sedih, pengen balas dendam sama editornya yang nolak, pengen buktiin kalau dia salah dan rugi udah nolak saya. Hakaka… Tapi pas udah tenang emosinya, dan dibaca lagi secara objektif, ternyata emang masih jelek, dan akhirnya jadi malu sendiri. Beberapa naskah masih saya anggurin karena belum tahu mau diapain. Beberapa ada yang dibenerin, ditulis ulang.

      4. Ada lah. Rumah-rumah tokoh-tokoh saya, alamatnya kalau dicari juga nggak bakal ketemu tuh.

      5. Iya, suka. Pernah nonton Music Bank Jakarta doang.

  34. Wahh udh bnyk yg ikutan..
    Pertanyaan saya cuma dua thor..

    Penulisan novelnya langsung diketik di PC atau ditulis dlu dikertas atau buku2? Truss kakak nyeritain gak ke temen2 mlo lagi nulis novel? Atau dirahasiain dari merka?
    Pernah gak nulis novel ato cerpen dri kehidupan nyata author sendiri?

    Itu aja..
    Semoga dijawab..

    Aq mau (not) alone in another land, krna itu pgalaman langsung,bkan krngan . Lbh real,ditulis lgsung sma org yg prnah ksna,tpi bkan untuk mnetap dan org itu blm fasih bhasa ngra trsbut sblumnya. Hnya bermodal keberanian dan tekat… pgen tw gmna khdupan di negara itu ..

    Nama : agnes sallidessy
    Twitter : @waitingteukie

    Makasiii

    • hai, Agnes!

      Saya kalau nulis langsung ngetik di PC. Yang di kertas paling kalau lagi corat-coret plot. Pegel kalau tulis tangan panjang-panjang. =p

      Saya nggak pengumuman ke semua orang kalau saya lagi nulis, tapi nggak dirahasiain juga. Kalau ada yang nanya ya dijawab.

      Kadang, saya suka menyisipkan beberapa penggalan pengalaman atau pandangan saya tentang sesuatu lewat tokoh-tokoh di novel saya, kok. Beberapa detail kecil, yang mungkin orang nggak bakal ngeh.😉

    • Hore kelar jawabnyaaa. Hahaha… Pilihan pemenangnya besok aku kabarin kalau sudah diputusin ya, kak. Hehe…
      Thank you for hosting this interaction event. ^^

  35. Dan pemenang dari kuis ini sudah dipilih sendiri oleh Fei dan ditwit tgl 27 Agustus 2013, maaf baru sempat posting di sini, hehe. Selamaat yaa buat @NoonaHyunRa alias Rizma. Hadiah juga udah dikirim, selamat menikmati!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s