Hai Bey!

BeyBooks

Carolina Betty Tobing atau akrab dipanggil Bey Tobing, adalah seorang novelis yang salah satu novelnya yang berjudul 4 Dozen Roses telah memukau saya. Novel tersebut mengisahkan tentang cinta tanpa syarat antara sepasang suami-istri, yang telah melalui berbagai cobaan untuk cinta dan kehidupan rumah tangga mereka. Saya berteman baik dengan Bey sejak beberapa bulan lalu, sering ngobrol dengannya juga, dan saya mendapatkan hal-hal menarik tentang profesinya sebagai penulis dan juga prosesnya menulis dan menerbitkan novel. Jadi saya pikir, tidak ada salahnya saya bertanya beberapa hal kepadanya, siapa tahu kan jawaban-jawabannya akan menginspirasi kalian juga..🙂

Hai Bey! Jadi kamu sudah jadi penulis sejak kapan sih? Ceritain dong prosesnya, alasannya dan juga bagaimana perjuanganmu untuk akhirnya bisa jadi penulis profesional …

Agak panjang nih😀.

Aku suka nulis sejak SD. Waktu SMP, aku mulai mengirim tulisan-tulisanku ke beberapa majalah, tapi selalu ditolak hehe… Di titik ini aku menyadari kalau orangtuaku enggak mendukung hobiku. Mamaku selalu bertanya dengan agak dingin setiap naskahku dikembalikan , “apa sih yang kamu cari dari menulis?”.  Aku enggak bisa menjawab. Aku kemudian memilih untuk tidak ketahuan jika sedang menulis. Sampai aku SMA, aku masih rajin mengirim naskah (dan tanpa hasil).

Saat kuliah di Trisakti jurusan Ekonomi (yang terpaksa aku pilih karena orangtuaku enggak memberikan izin untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta), aku tetap meluangkan waktu untuk menulis, terus belajar dan mencari tahu kenapa tulisanku selalu dikembalikan. Aku mencari komunitas-komunitas penulis, pergi sendirian mendatangi teater, tempat di mana aku bisa melihat orang-orang yang mempunyai kilatan semangat di matanya. Aku menjaga agar mimpiku tidak padam, karena aku tidak punya seseorang yang mendukungku. Aku juga sempat berkenalan dengan seorang tokoh perfilman dan meminta “pekerjaan” agar bisa dapat banyak ilmu. Beliau mengijinkan dengan syarat, aku tidak mendapatkan bayaran apa-apa dan dianggap sebagai “kacung”. Aku menyanggupinya.

Tahun 2010, aku drop karena 5 penerbit sekaligus menolak naskahku. Saat aku sudah mau menyerah, aku mendengar ada sebuah lomba menulis yang diadakan oleh salah satu penerbit. Aku lalu memasang taruhan dengan diriku sendiri : aku akan mencoba ikut. Jika gagal, maka aku akan berhenti bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Jika berhasil, maka  itu adalah jawaban untuk penantianku selama bertahun-tahun.

Dan, aku menang. Masuk 20 besar dari sekitar 300 tulisan.

Orangtuaku membuka mata. Mereka bahkan mendukung ketika aku kemudian mendaftarkan diri untuk ikut kelas filmmaking dengan sutradara Rudi Soedjarwo.

Tahun 2012, aku menerbitkan 2 buku (satu novel lagi adalah ‘Tentang Sebuah Nama, Natasha’). Buku yang aku anggap sebagai “anak”, lahir dari proses persalinan yang panjang. 🙂

Saat sedang menulis, biasanya kamu tuh termasuk tipe yang mengikuti imajinasi yang ada di kepala aja, atau perlu bikin outline yang rapi dari awal-akhir?

Keduanya😀

Ada pengalaman menarik saat berhadapan dengan pihak penerbit? Kamu termasuk yang pilih-pilih masukin naskah ke penerbit atau hajar aja siapa yang terima naskahmu duluan? Hehee …

Ada.

Saat bukuku’ 4 Dozen Roses’ ditaksir untuk diterbitkan oleh salah satu penerbit yang punya nama besar, jelas saja aku senang. Tapi kemudian editor meminta revisi hampir 50%, dan aku mulai bimbang. Di satu sisi aku sadar kalau editor lebih paham pasar, itulah sebabnya mereka memintaku merevisi beberapa bagian. Tapi di sisi lain, aku merasa bahwa ‘4 Dozen Roses’ adalah tulisan yang aku tulis dengan emosi yang sarat, dan aku terseret di dalamnya. Rasanya tidak rela jika harus mengubahnya, sekalipun itu untuk tujuan yang lebih baik (setidaknya di mata editor).

Setelah berpikir panjang, aku mundur dari penerbit itu, dan beralih ke penerbit lain yang tidak terlalu besar, namun mereka hanya meminta revisi sekitar 20%.

Kemudian aku sadar, aku adalah tipe yang idealis.

Atau keras kepala?😀

Saat lagi di tengah proses menulis, belum kelar nih, tapi tiba-tiba kamu ngalemin writer’s block padahal udah deket deadline.. Ngatasinnya gimana tuh buat balikin mood nulis?

Tutup laptop. Mengosongkan wadah. Menetralkan pikiran. 🙂

Sekarang bahas tentang salah satu novelmu ya: 4 Dozen Roses. Ceritain deh ide awalnya gimana, ini kan tentang kehidupan pernikahan sementara kamu sendiri, ehm, masih jomblo.. Kenapa tertarik menulis tentang kehidupan pernikahan? Hehehe …

4 Dozen Roses itu aku tulis setelah aku enggak jadi nikah (uhuk), dan dari situ aku menangkap, bahwa banyak konflik menarik yang bisa diangkat dari kehidupan percintaan dewasa. Bukan melulu tentang yang indah-indah, tapi juga banyak yang menyakitkan.

Aku ingin mengemas makna dalam sebuah cerita, tanpa berkesan menggurui.

Saat sedang menulis 4 Dozen Roses, risetmu gimana? Tanya-tanya langsung ke orang yang sudah menikah, baca-baca, atau…. ?? Tolong dibagi, ya …

Enggak.

Aku hanya memikirkan : “karakter seperti mereka, akan bertindak seperti apa jika dihadapkan dengan masalah-masalah yang aku angkat?” Dan aku ingin mereka menjadi tokoh yang manusiawi, masuk akal.

Tapi tentang saluran tuba yang tersumbat, iya aku melakukan riset. Membaca dan cari tahu ke dokter kandungan.

Di novel itu kamu juga banyak menyisipi beberapa baris puisi romantis. Uhuy, so sweet!😀 Kenapa sih pake masukin puisi segala? Apa ini bakal jadi ciri khasmu untuk setiap novelmu?

Karena aku suka menulis puisi😀

Aku enggak ingin menjadikan puisi sebagai ciri khas novelku, tapi kalau memang ceritanya masih pantas untuk disisipi puisi, ya aku akan menulis puisi

Pertanyaan terakhir, gimana pendapatmu dengan akhir-akhir ini makin banyak penulis baru yang sepertinyaa.. jalannya tuh mulus dan enggak seberat perjuanganmu dulu .. Apakah kamu menganggap makin mudahnya jalan untuk jadi penulis sekarang adalah suatu hal yang baik, atau ada sisi lain?

Hm. Aku cuma bisa komentar, jalan setiap orang beda. Pun keberuntungannya.

Thank you yah Bey sudah mau berbagi.. Dan sebagai penutup, silakan menulis apa pun untuk dikenang bagi teman-teman pembaca blog ini ..

.. Buat yang punya mimpi, tetap genggam mimpi kalian meskipun banyak halangannya! :) …

@haris

Sampai saat ini, Bey masih terus menulis, karena baginya menulis adalah sebagai bentuk kemerdekaan imaji ..

Bagi kamu yang ingin mengenal perempuan ini lebih dekat, silakan simak bicaranya di akun twitter: @Beyt_

Juga, blog tentang bukunya ada di The Journey dan coretan-coretannya yang lain ada di Ordinary Bey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s