Seven Days by Rhein Fathia

?????

Judul: Seven Days

Penulis: Rhein Fathia

Penerbit: Qanita (Mizan)

Genre: Roman, Fiksi Perjalanan

Tebal: 296 Halaman

Terbit: Februari 2013

Harga: Rp 45.000

Sebuah perjalanan kerap kali memaparkan kita akan kenyataan dan hal-hal yang selama ini terlupa di kehidupan kita sehari-hari. Demikian pula yang dialami oleh Nilam dan Shen. Persahabatan yang telah mendarah daging, sejak kanak-kanak hingga kini umur mereka seperempat abad, mulai menyiratkan perasaan yang selama ini tak pernah mereka duga. Perjalanan yang diawali dengan keriangan, berakhir dengan mereka menjadi layaknya dua orang asing yang tak perlu saling berakrab. Apakah ada yang salah di antara mereka berdua?

Siapa sih yang sanggup menolak pesona Pulau Dewata? Bali yang sempurna. Melukiskan pesona alam karya Sang Pencipta, yang sanggup menjadi magnet bagi para wisatawan dari seluruh dunia. Tujuh hari dua sahabat ini menghabiskan liburannya. Mulai dari Kuta yang ingar bingar, Ubud yang tenang, maupun Padang Padang yang menjadi saksi terkuaknya perasaan yang terpendam selama ini. Seharusnya cerita dapat bergulir dengan mudah. Dua sahabat yang akhirnya menyadari bahwa ternyata mereka saling mencintai. Tapi kan ada Reza di antara mereka, pacar Nilam yang telah meminangnya dan menunggu perempuan itu memberikan hatinya utuh padanya. Kenyataan yang tak dapat dipungkiri oleh Nilam maupun Shen, yang akhirnya menempatkan mereka pada situasi yang canggung. Adakah yang salah dengan perjalanan ini?

Saya membaca novel ini atas rekomendasi seorang kawan, karena dia tahu bahwa saya juga tengah berusaha menulis dengan genre ini, genre fiksi berbalut perjalanan. Dan di novel ini, saya seolah berkaca dengan naskah yang sedang saya perjuangkan untuk lahir. Dalam novel ini, pendetailan setiap tempat berpadu dengan gesture dua tokoh utamanya yang membentuk konflik perasaan di antara mereka. Saya suka dan secara keseluruhan, saya nyaman membaca novel ini. Membuat saya kangen untuk kembali ke Pulau Bali. Mungkin jika ada sedikit kekurangan, novel ini ditulis dalam sudut pandang pertama dan Nilam adalah penceritanya. Sempat merasa sedikit bosan, karena di novel ini Nilam seolah sedang curhat pada kita dengan begitu panjangnya. Mungkin jika alur ditulis dari dua sisi, Shen pun diberi kesempatan untuk bercerita dan mengijinkan pembaca mengetahui perasaannya tanpa perlu membocorkan jalan akhir ceritanya, sepertinya akan lebih menarik.🙂

Lalu karena sebenarnya unsur ceritanya adalah roman, bahasa tubuh yang ditunjukkan oleh Shen kepada Nilam juga sudah banyak menunjukkannya. Tapi memang unsur perjalanannya kuat sekali, terlebih tentang keterangan tempat-tempat yang dikunjungi. Mungkin jika unsur romannya ditambah sedikit lagi, novel ini juga akan semakin kuat. Karena itu juga sih yang sempat saya gumulkan. Ketika saya sedang mencoba menulis cerita fiksi-perjalanan, harusnya memang ada yang diutamakan. Apakah fiksinya ataukah perjalanannya? Syukur-syukur jika keduanya dapat berpadu dengan manis tanpa harus ada salah satu unsur yang menjatuhkan unsur lainnya.

Well anyway terima kasih Rhein, karena novel kamu sudah menambah satu lagi referensi pembelajaran saya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s