4 Dozen Roses by Bey Tobing

4dozenroses

Judul: 4 Dozen Roses

Penulis: Bey Tobing

Penerbit: Sunray Books

Genre: Drama, Romance

Terbit: Juni 2012

Tebal: 164 halaman

Harga: Rp 32.000

Odilia ingin mempunyai esensi pernikahan yang indah, bahwa setiap masalah-masalah yang ada dalam pernikahan mucul untuk mendewasakan pribadi masingmasing. Dan masalah ada untuk diselesaikan, bukan ditinggalkan dengan bercerai.

Keterbukaan dan kepercayaan adalah kunci utama di dalam sebuah rumah tangga. Karena jika ada yang disembunyikan, untuk apa dua pribadi yang berbeda perlu mengikat diri di dalam satu komitmen suci? Hal inilah yang dipertanyakan oleh Odilia, ia geram saat Alan, suaminya, menyembunyikan sesuatu yang krusial darinya. Odilia tahu kondisi Alan sebagai tulang punggung keluarganya, bagi ayah, ibu, dan juga adik perempuannya. Tapi Odilia ingin menyadarkan bahwa prioritas utama Alan adalah sebagai kepala keluarganya sendiri saat ini, meski yang dipimpinnya barulah seorang istri. Belum ada anak.

Tidak ada anak yang membuat perhatian Alan sepenuhnya tercurah pada keluarga barunya – bukan lagi keluarga yang membesarkannya. Odilia berpikir, anak akan menjadi jawaban bagi masalah mereka, membuat Alan sadar akan prioritasnya. Dan ketika Odilia menjadi terobsesi untuk mendapatkan jawaban itu, masalah lain pun muncul dalam pernikahan mereka. Lalu di mana dasar itu berada sekarang? Di manakah alasan utama yang membuat mereka bersedia hidup bersama sampai mati? Cinta, bukankah itu yang terutama?

Membaca novel ini dari halaman awal, saya dibuat terkesima dengan cara bertutur Bey yang nyaman dan puitis. Puitis dalam artian, Bey meramu setiap kata dengan tidak biasa, menyisipkan beberapa baris sajak yang sesuai dengan masalah yang sedang terjadi. Membuat kalimat-kalimatnya tidak membosankan saat dibaca, meski tidak perlu memberati kepala dengan kata-kata yang susah juga. Setiap konflik yang disajikan juga mampu mencabik-cabik perasaan saya. Bagaimana mengibaratkannya, ya? Ketika terjadi satu masalah karena ketidakterusterangan Alan, konflik meruncing, lalu ditutup dengan manis dengan sikap romantis Alan. Keadaan membaik, sebelum kemudian muncul masalah selanjutnya yang tak kalah seru. Membuka mata saya terhadap masalah-masalah yang lazim terjadi di dalam rumah tangga. Ehm, mengingat kalau penulisnya ini masih single – terlalu  kasar untuk bilang jomblo ^^ – saya jadi terpukau karena dia bisa melukiskan konflik-konflik seperti ini,

Meski demikian novel ini juga bukannya tanpa cela. Halamannya memang tidak tebal, dan konfliknya pun tidak banyak cing cong, tapi saya sempat merasa  kalau alurnya lambat dan sebenarnya bisa lebih dipercepat. Untungnya sih, Bey sering memberikan kalimat-kalimat atau penyelesaian pamungkas yang … jleb! Pas dan menusuk rasa. (pardon my cheesy words, affected by this melancholic novel ^^). Lalu kritik selanjutnya tertuju kepada penulisan-penulisan yang banyak tidak sesuai ejaan yang disempurnakan, banyak sekali penggunaan di- sebagai awalan dan kata kerja yang tidak tepat (lirik tajam kepada editor).

Setelah itu… hm, apalagi ya? ada satu lagi sebenarnya, tapi ini cenderung spoiler, karena berkaitan dengan akhir cerita.😀 Judul novel ini ternyata punya makna sendiri, empat lusin mawar merah adalah perlambang cinta tanpa syarat. Diberikan Odilia kepada Alan. Kok cowok dikasi bunga sih, harusnya terbalik ya? Haha, tapi ya sudahlah, buat saya tidak masalah setelah mengarungi riak masalahnya yang apik. Keren Bey, saya jadi pengin baca novel-novel kamu yang lain! ^^

One thought on “4 Dozen Roses by Bey Tobing

  1. Pingback: Hai Bey! |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s