(Not) Alone In Otherland – Lia Indra Andriana, Fei, Andry Setiawan

 

Judul : (Not) Alone in Otherland

Penulis: Lia Indra Andriana, Fei, dan Andry Setiawan

Penerbit: Haru (@penerbitharu)

Kategori: non fiksi

Genre : personal literature, language, traveling

Tebal :  272 halaman

Harga : Rp. 45.000

Terbit: November 2012

Buku ini merupakan buku non fiksi yang berkisah tentang perjalanan tiga penulis dalam rangka belajar bahasa di tiga negara berbeda, yaitu Korea, China, dan Jepang. Saya baru mendapatkannya dari penerbitnya langsung dua hari lalu, dan langsung membaca habis bagian pertama tentang Korea (Seoul) dalam waktu sehari. Jadi resensi ini akan bersambung dan membahas bagian pertama dulu ya, biar saya nggak lupa, hehe..

Oh, pertama, saya mau komen dulu ah tentang penampilan fisik bukunya. Warna kovernya, hijau muda segar yang saya sukaa! Ini pasti sengaja deh, milih warna kesukaan saya *ge er deh, plak!* heheu.. Terus, di kover depannya ditampilkan tiga baju daerah dari tiga negara, dan juga tiga topeng berbeda yang setelah saya google, memang mewakili topeng khas dari Korea, China, dan Jepang. Lalu ada akuarium kecil berisi satu ikan, yang menurut saya, kayaknya analogi tentang kata ‘alone’ itu sendiri, deh. Yang agak mengganggu buat saya di kover depan ini terus terang adalah pemasangan tiga topeng berbeda itu, karena jadi  terlalu rame, hehe..

Oke, mari kita mulai isi ceritanya. Di bagian pertama, diberi judul ‘Annyeonghaseyo, Seoul!’. Yap, kata annyeonghaseyo adalah sapaan khas untuk warga negeri ginseng tersebut. Bagian pertama ini berisi 14 bab (termasuk prolog+epilog), dan saya merasa nyaman membaca halaman demi halaman yang penuturannya terasa mengalir dan enak dibaca ini. Mungkin, karena saya sudah terbiasa membaca tulisan-tulisannya Lia. Atau mungkin, karena memang cerita tentang seratus harinya di Seoul ini terasa seru untuk disimak. Tidak ada bahasa yang ‘kembang-kembang’ alias melankolis berlebihan, pun juga tidak kaku.

Lia mengawali sharingnya dengan memberitahu proses dia meng-apply ke kursus bahasa di salah satu universitas di Seoul, yaitu Sungkyunkwan University. Tak lupa dia mendaftar beberapa nama universitas di Seoul lainnya yang dapat digunakan sebagai pertimbangan, juga biayanya. Lanjut di bab selanjutnya, Lia menceritakan secara singkat persiapannya pergi ke Korea, bagaimana ia menuju goshiwon –rumah kos- nya, tes penempatan level belajar bahasa, dan seterusnya berlanjut bagaimana kisah sehari-harinya.

Belajar bahasa tidak melulu tentang membuka buku, melafalkan kalimat demi kalimat asing, atau mengerjakan tugas yang membuat kening berkerut. Belajar bahasa juga bicara tentang guru yang menyenangkan, suasana kelas yang unik, hingga mengaitkan artis idola ke dalam setiap percakapan dengan teman-teman baru. Di sini ada kisah yang menarik tentang bagaimana Lia yang pendiam namun penuh rasa ingin tahu, akhirnya malah berhasil menjadi pemicu suasana aktif di dalam kelas. Ada cerita tentang hal-hal unik di lingkungan sekitar Lia menghabiskan hari-harinya, bahwa kedai ramalan Tarot sangat umum ditemukan berjejer di jalanan, juga coffee shop dipenuhi dengan warga lokal dari berbagai segmen usia yang suka menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang bersama. Warga Korea sangat suka dengan kebersamaan, dan hal inilah yang juga memicu kebersamaan Lia bersama teman-teman kelasnya dari berbagai negara: Jepang, China, Prancis, Ceko, Mongol, juga teman dari bangsa sendiri.

Dari bagian pertama ini, yang saya dapatkan adalah bahwa belajar bahasa di negara asalnya itu sangat seru untuk dilakukan, terutama jika kita mau membuka diri dengan teman-teman baru dan budaya-budaya baru yang ada di sekitar kita. Penuturannya yang terasa nyaman akhirnya membentuk setiap bab demi bab hingga merangkai jalinan utuh tentang persahabatan lintas negara dan bahasa. Bisa dibilang, dari sini bukan hanya bahasa Korea yang Lia pelajari, namun juga pelajaran baru untuk mengenal kepribadian berbagai karakter. Daebak, Lia!🙂

Nah, sekarang saya sedang melanjutkan membaca bagian kedua tentang China (Shanghai). Jujur saja kalau tadi saya agak dimanjakan dengan penuturan yang nyaman dari Lia, sekarang kening saya harus mulai berkerut memikirkan setiap detail yang diceritakan oleh Fei, hehe. Will share you later, so this review is to be continued!😉

Back! (Dec 05th, 2012)

Beranjak ke Cerita Fei saat ia belajar bahasa Mandarin di Shanghai, China selama dua tahun. Cerita ini diawali dengan prolog kenapa harus belajar bahasa Mandarin, dan universitas mana saja yang bisa menjadi pilihan untuk belajar bahasa di sana. Lalu dimulailah kisah Fei selama berada di Shanghai, sejak pertama kali ia mendarat di Pudong International Airport bersama sepupunya. Oh ya, kehidupan Fei di Shanghai dibagi menjadi dua bagian: saat pertama ia datang bersama sepupunya yang juga belajar di sana, dan saat Fei sempat pulang dan kembali lagi untuk kemudian menjalani hari-harinya di Shanghai dengan tinggal sendirian saja.

Saat pertama datang, Fei banyak menjelaskan tentang deskripsi tempat tinggalnya, apartemen sepupunya yang dari luar persis dengan apartemen-apartemen yang sering dilihat di film-film Hongkong, juga kondisi fisik di dalamnya. Di sinilah yang saya katakan kening saya mulai berkerut-kerut saat membacanya. Terlalu banyak penjelasan sehingga saya kesusahan memvisualisasikannya di kepala saya, dan sayangnya tidak didukung dengan foto-foto yang memadai, sehingga penjelasan itu tampak berlalu begitu saja. Lalu berlanjut juga dengan sistem-sistem pembayaran di Shanghai, sistem pembelajaran di kelas bahasa juga. Kritik saya untuk cerita ini adalah terlalu banyaknya penjelasan yang menurut saya malah mengurangi porsi cerita menarik itu sendiri. Well yeah, sebenarnya penjelasan itu juga berguna kok, terlebih untuk yang mau tinggal di Shanghai dalam kurun waktu tahunan. Tapi untuk porsi 1/3 buku, seharusnya porsi detail itu bisa digunakan untuk porsi cerita serunya. Tapi tenang saja, cerita-cerita menariknya masih tetap banyak, kok.

Salah satu cerita menarik itu, adalah tentang kendala bahasa. Saya tergelitik saat Fei bercerita bahwa ia kesulitan berkomunikasi dengan penduduk lokal yang terus merepet dengan bahasa mereka, mengira kalau Fei dengan wajah orientalnya juga adalah bagian dari mereka sendiri. Ada kalimat yang menarik saat Fei mengatakan bahwa ‘adakalanya, tidak mengerti justru lebih baik’, karena menghindari konflik atau emosi yang tidak seharusnya. Di kelasnya, Fei berinteraksi dengan kawan-kawan lintas negara, dari Jepang, Korea, Prancis, Saudi Arabia, Kazakhstan, dan Finlandia. Hal yang mendorong Fei untuk meriset hal-hal dari negara tersebut untuk berinteraksi dengan mereka, dan dimulai dengan belajar sapaan dari berbagai negara tersebut. Sebuah catatan menarik jika kita ingin berteman dengan orang-orang asing.🙂

Di akhir cerita Shanghai ini, kita juga akan disuguhkan tentang traveling singkat Fei ke Shaoxing di hari Natal. Menyimak cerita serunya bersama Emily menyusuri kota di luar Shanghai yang unik, dan mengunjungi kawasan tempat tinggal Luxun, sastrawan terkenal. Di tempat ini juga Fei mengambil refleksi diri berkaitan dengan passionnya di bidang kepenulisan, dan berakhir dengan suatu ikrar untuk lebih serius di bidang tersebut. Cerita-cerita yang disuguhkan Fei adalah cerita yang penuh dengan refleksi diri. Ia menjalani kehidupannya di Shanghai bukan hanya untuk belajar bahasa, melainkan juga untuk mengambil rehat dari kehidupannya di Indonesia. Dari ceritanya, bolehlah saya mengambil hikmah, bahwa lingkungan barulah yang akhirnya akan menunjukkan siapa kita sesungguhnya, dan sejauh mana kita memiliki ketangguhan untuk bertahan hidup. Sebuah perenungan yang dalam dan menarik.🙂

Terakhir saya akan melanjutkan bagian Jepang milik Andry Setiawan, sekaligus kesimpulan seluruh isi buku. Tunggu saya selesai membaca, ya!🙂

Okay, lets finish the last part of this book, still in the same date: Dec 05th, 2012

Setelah membaca penuturan tentang Korea yang asyik dari Lia, petualangan yang seru tentang bertahan hidup di China oleh Fei, bagian terakhir adalah membahas cerita Jepang (Tokyo) milik Andry Setiawan. Silakan rilekskan tubuh, kendurkan urat syaraf, dan bersiap dibawa kepada nuansa cerita melankolis oleh satu-satunya penulis cowok ini…🙂

Berbeda dengan Lia yang hanya 100 hari di Korea dan Fei yang sekitar 2 tahun di China, Andry menghabiskan masa jauh lebih lama, yaitu 8 tahun tinggal di Jepang. Hal ini dikarenakan ia memperoleh beasiswa kuliah di Jepang dan dilanjutkan dengan bekerja di sana. Kenapa saya bilang nuansa ceritanya melankolis? Ya karena saya menemukan beberapa analogi dan kata-kata kiasan yang dipakai untuk menceritakan kegiatan sehari-hari. Bahkan dari awal cerita pun, pembaca diajak untuk menyelami perasaan Andry yang seperti ‘hampa tak terdefinisikan’ saat berangkat ke Jepang -yang notabene adalah keinginannya sendiri. Kamu bisa tahu alasannya dengan membaca sendiri di buku ini.🙂

Ah, ini adalah salah satu kritik yang ingin saya sampaikan kepada penulis, bahwa ini adalah cerita non-fiksi, sebaiknya penulis bisa memilah bagian mana dia bisa ‘bermain-main’ dengan kata-kata melankolis dan bahasa kiasan. Jika masih menceritakan tentang kegiatan sehari-hari saja, mungkin bisa menggunakan bahasa yang lebih praktis.🙂 Misalnya, saat berkumpul untuk makan bersama teman-teman, Andry menguraikan perenungan tentang rasa diterima dan kenyamanan, padahal sebelumnya saya belum melihat konflik di mana dia merasa susah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sama seperti kedua penulis sebelumnya, cerita Andry sarat dengan berbagi hal-hal unik yang ada di Jepang. Tentang sistem toilet mereka yang canggih, tradisi buah semangka, atau budaya tak tertulis saat berada di dalam lift. Pembelajaran bahasa di sini juga lebih ditekankan saat mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagian tentang Jepang ini juga dibagi lagi ke dalam dua bagian: bagian pertama adalah saat Andry menjadi pelajar, dan kedua saat Andry melakukan traveling saat sudah berstatus sebagai karyawan.

Silakan bersiap-siap juga dibawa ke nuansa melankolis nan dramatis saat Andry berpetualang ke bagian lain di negara Jepang. Bagaimana ia berusaha menantang diri sendiri untuk berkenalan dan berkomunikasi dengan orang-orang baru – dengan sifat dasar pendiamnya, atau perasaan sedih saat harus berpisah dengan dua teman baru yang telah menjadi nyaman (Andry menulis ‘jantung saya serasa diremas berulang kali’ saat mengingat pertemuannya dengan dua orang kakak-beradik). Well, menurut saya cerita-cerita tersebut akan memotivasi bagi orang tertutup untuk lebih membuka diri bagi dunia yang luas. Not to mention the using of the melancholic words, tapi saya rasa cerita-ceritanya memiliki poin tersendiri tentang arti membuka diri.

Dan akhirnya, kesimpulan yang saya dapat mengenai keseluruhan buku ini adalah: Bahasa adalah salah satu alat komunikasi yang membuat kita saling mengenal satu sama lain. Keterbatasan dan perbedaan bahasa adalah kendala bagi pertemanan, tapi tak akan selamanya menjadi kendala jika kita mau membuka diri bagi orang-orang baru tersebut. Bahasa mengandung banyak hal, tidak sekadar kata-kata  yang memiliki makna khusus, tapi juga bermakna tentang budaya dan sejarah. Jika kita tertarik mempelajari suatu bahasa, adalah tidak mungkin bagi kita menghindari pengenalan akan negara pemilik bahasa tersebut. Dan yang kedua, tentang pertemanan. Semakin lebar kita mengijinkan teman-teman masuk dan mengenal pribadi kita, semakin dalam pula kita akan mengenal siapa diri kita sendiri, dan semakin mudah kita menjalin hubungan yang harmonis dengan teman-teman, meski lintas negara dan bahasa.

Such a nice book about life experience! Congratz to Lia Indra Andriana, Fei, and Andry Setiawan.🙂

Dinoy

2 thoughts on “(Not) Alone In Otherland – Lia Indra Andriana, Fei, Andry Setiawan

  1. Pingback: Hai Fei! |

  2. Pingback: Good Memories by Lia Indra Andriana | Dinoy's Books Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s