Perahu Kertas – Dee

Jalan yang berputar. Itu adalah judul bab pembuka dari novel setebal 440 halaman ini. Saya adalah penggemar karya-karya Dee. Dari Supernova-Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh sampai buku terbarunya, Madre, saya hanya melewatkan Filosofi Kopi (next time sure i’ll read that). Di setiap bukunya, Dee selalu meracik ramuan istimewa tentang makna hidup dan seringnya dibungkus dalam kisah yang tak biasa. Sebut saja, Supernova-Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh, tentang kisah wanita yang sudah bersuami, jatuh cinta kepada pria lain. Atau Supernova-Petir, tentang kehidupan Elektra si gadis setrum. Tapi di Perahu Kertas ini, Dee tampak membumi dengan menampilkan genre cerita kehidupan anak kampus yang berusaha menggapai passion nya dengan jalan yang berputar.

Mungkin ceritanya sekilas standar saja, ada Keenan yang berjiwa pelukis tapi diharuskan kuliah Manajemen oleh ayahnya, dan Kugy yang bercita-cita ingin menjadi penulis dongeng anak tapi malah sibuk mencari pembuktian lewat menulis cerpen cinta. Tentang anak-anak muda yang mempertanyakan hasrat mereka sendiri lewat jalan hidup yang seolah nggak nyambung, rasanya tema itu bukan pertama kalinya diangkat dalam sebuah cerita. Tapi bukan Dee namanya kalau nggak mengemas konflik dengan apik. Di tangan Dee, cerita tentang remaja dan cita-citanya menjadi isu yang maha penting. Tergambar dari perjuangan Keenan untuk terus melukis dan membuktikan pada ayahnya kalau hasil karya nya bisa laku juga. Kepercayaan diri membumbung pada diri Keenan saat Wanda mengabarkan beberapa lukisan Keenan yang dipamerkan di galeri untuk pertama kalinya, laku terjual semuanya. Saat itulah darah muda Keenan berdesir dan merasa ia bisa mematahkan pandangan remeh ayahnya. Keenan langsung ambil keputusan untuk meninggalkan bangku kuliah dan fokus pada hasratnya untuk menjadi seorang pelukis profesional. Keenan nggak tahu bahwa apa yang ia putuskan justru membawanya pada jalan yang lebih berliku: Hubungan dengan keluarganya merenggang, ia tak lagi sedekat dulu dengan sahabat-sahabatnya, pun ia kehilangan Kugy yang diam-diam sangat disayanginya.

Kugy, gambaran seorang gadis yang penuh bara semangat, namun diam-diam menyimpan keraguan akan mimpinya sendiri. Tidak seperti Keenan, Kugy memiliki keluarga yang tidak perlu memaksakan pilihan atas jalan hidupnya. Namun Kugy tetap resah, ia merasa perlu meneguhkan dirinya sendiri akan passion nya. Meski tetap berada di jalur menulis, tapi Kugy bukan menulis tentang dongeng anak-anak, tapi tentang yang lain. Tulisan-tulisan yang ia buat dan dipublikasikan, tidak menggambarkan dirinya sendiri, Keenan yang menilai itu dari cerpen Kugy yang dimuat di majalah. Di saat Kugy memiliki celah untuk melakukan apa yang berarti bagi hidupnya dan orang sekitarnya, ternyata itu harus mengorbankan hubungan nya dengan Ojos, pria yang dipacarinya bertahun-tahun. Kugy lebih memilih berada bersama Pasukan Alit nya (anak-anak kecil yang ia ajar bersama teman-teman nya), daripada menggubris ajakan Ojos untuk berlibur.

Di novel ini kita disadarkan bahwa kebahagiaan yang kita inginkan ternyata mau tak mau harus bersinggungan dengan kebahagiaan orang lain juga. Untuk menjadi diri sendiri pun seolah kita harus menempuh jalan yang berputar dan menjadi pribadi yang bukan diri kita. Untuk mendapatkan cinta sejati yang jelas-jelas di depan mata, kita juga harus mengalami kisah percintaan dengan orang lain dan menemukan refleksi disana, sebelum akhirnya kembali pada kekasih yang sesungguhnya. Always loves Dee’s writing. Tiga kata tentang novel ini: Tebal. Ringan. Bermakna.🙂

“Jadi… kamu ingin menjadi sesuatu yang bukan diri kamu dulu, untuk akhirnya menjadi diri kamu yang asli, begitu? ” (Keenan. page 37)

~dinoy~

Penulis: Dee

Penerbit: Bentang Pustaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s